Articles

Melihat dunia pendidikan diluar klise standard


14 October 2013

 

oleh: Nurina Ayuwardhani Perspektif Online

Setiap orang membahas dunia pendidikan Indonesia, kita bosan mendengar keluhan standard. Kurang anggaran, mutu guru rendah, gedung tidak memenuhi syarat, tantangan berat dan segalanya. Sebagian besar benar, tapi membuat kita malas menanggapinya. Ini pandangan ''óut of the box'' yang disampaikan Wimar pada Australian International Education Conference (AIEC) di Canberra 10-11 Oktober 2013

Bisakah Indonesia menjadi lebih baik dari saat ini?
Mungkin  pertanyaan tersebut pernah terbesit di kepala para pembaca Perspektif Online. Jawabannya, bisa.


 

Dalam jangka panjang, perekonomian Indonesia semakin bergerak kearah positif. Apabila hal ini terus dipertahankan, maka masyarakat dapat memandang masa depan cerah Indonesia. Kini yang dibutuhkan Indonesia ialah pengembangan sumber daya manusia melalui edukasi. Edukasi memiliki peran krusial dalam mengembangkan human capital dan menciptakan pemikiran yang kritis dan kreatif. Lebih dari sekedar kegiatan menghafal, berhitung, dan ujian.

Terdapat dua pola pendidikan di Asia saat ini. Pertama, yang menghasilkan lulusan kelas dunia sementara sebgian besar rakyat susah menyelesaikan sekolah dasar. Kedua, yang menghasilkan tenaga profesional trampil kelas dunia tapi dengan pengorbanan biaya tinggi dan tingkat stres yang berbahaya... Bagaimana dengan pola pendidikan Indonesia?  Mari kita telaah.

Berawal dari rendahnya angka kualitas sumber daya manusia, di tahun 1970 Indonesia mulai meningkatkan pendidikan dasar secara besar-besaran, dibantu pula oleh melonjaknya harga ekspor minyak pada tahun 1973. . Hingga era 1990, jumlah lulusan pendidikan dasar baru mencapai 66%. Pertumbuhan ekonomi dan permintaan kemampuan level menengah seperti perdagangan, administrasi, dan jasa sosial memacu kebutuhan pendidikan tingkat menengah dan tingkat atas sebagai jembatan menuju pendidikan lebih tinggi. Setiap tahun, jumlah pendaftar pendidikan terus meningkat untuk tingkat perguruan tinggi.

Namun tantangan yang lebih mendasar ialah menjadikan nilai edukasi di Indonesia lebih dari sekedar taat dan loyal. Dunia pendidikan tidak menjadi pembawa arus perubahan, bahkan sebaliknya perubahan sosial terjadi di masyarakat diluar pengaruh sistem pendidikan.


Daya saing global Indonesia berdasarkan hasil laporan tahun 2013-2014 meningkat dari posisi 50 ke posisi 38 dari 148 negara. Dari segi kreatifitas, hasil survey BBC di bulan Mei 2013 dari 24 negara, menempatkan Indonesia sebagai negara paling ramah inovasi dibanding Amerika, India, Cina, dan Australia.

Menjadi penting bagi Indonesia untuk terus memperbaharui dan meningkatkan sistem edukasi Indonesia dalam menekankan daya saing dan kreatifitas. Perbaikan kualitatif terjadi karena dinamika politik mengundang orang muda mencapai hasil yang lebih baik. Berarti dunia pendidikan harus melakukan pendidikan politik sebagai prioritas utama guna memperkuat civil society yang ternyata sanggup melakukan perubahan.

Pemilu 2014 tidak bisa dipandang secara skeptis dan malas. Justru ini  saatnya bagi pemuda menggunakan hak milik untuk  memilih pemimpin yang terbaik. Pilih orang  yang mengerti issue masa depan, membawanya berkekuatan politik dan menjadikan masa depan Indonesia lebih dari sekedar baik. From Good To Great.

 

Print article only

3 Comments:

  1. From Riri on 15 October 2013 21:37:28 WIB
    Optimis pendidikan di Indonesia bisa mencapai kemajuan di masa sekarang dan mendatang
  2. From dwipo on 16 October 2013 10:07:34 WIB
    Nice article
  3. From wireless components on 25 March 2014 10:28:26 WIB
    Semoga pendidikan di indonesia lebih maju lagi dari tahun sebelumnya
    amin.....

« Home