Articles

Perlindungan bagi para TKI


25 November 2013

Oleh: Meastari Ibrahim

 Fakta bahwa banyaknya kejadian naas yang menimpa sejumlah TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang dikirim ke luar negeri tidak menutup kemungkinan bahwa hal tersebut akan terulang kembali. Hal-hal berupa perlakuan kasar hingga hukuman mati pun tidak kunjung berkurang porsinya.

 Dengan berbekal tekad ingin memberikan nafkah yang terbaik untuk keluarga yang menunggu di tanah air, para TKI tersebut sering sudah mudah dianggap mendapatkan cukup persiapan untuk bekerja di ranah asing. Namun ternyata persiapan itu belum cukup matang. Hal tersebut diakibatkan oleh keterburu-buruan pihak PPTKIS (Pelaksanaan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta) dalam memberikan persiapan dalam bentuk edukasi maupun mental.

 

 Dalam bincang-bincang Radio Perspektif Baru bersama Miftah Farid, Ketua Umum GARDA BMI (Gabungan Aliansi Rakyat Daerah Buruh Migran Indonesia), pada tanggal 15 november 2013, dibahaslah secara tuntas mengapa TKI bisa diperlakukan secara tidak manusiawi dan bagaimana cara mencegah tindakan-tindakan tersebut terulang kembali. Miftah Farid berulang kali mengungkapkan bahwa majikan menganggap para TKI sebagai orang yang tidak berpendidikan.

 Namun kesalahan tidak terletak hanya di pihak majikan asing akan tetapi juga berada di pihak PPTKIS. Berdasarkan UU nomor 39 tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia, masih berperspektif pada penjualan manusia sehingga sangat bertentangan dengan UU 21 tahun 2007. Secara kasat mata pun TKI dipandang sebagai ‘komoditi’.

 “Akar masalahnya sebenarnya adalah saat di Indonesia yang bisa disebut juga sebagai pre-departure, akarnya berasal dari persiapan-persiapan sebelum keberangkatan. Mereka berpikir semakin banyak orang yang dikirim semakin untung. Tidak peduli dengan berapa lama persiapannya atau keadaan psikis yang bermasalah ataupun tidak yang penting cepat diberangkatkan,” ujar Miftah Farid.

 Penting bagi Indonesia untuk melihat betapa seriusnya konflik ini serta memperbaiki permasalahan ini dengan segera karena ini bukan menyangkut benda mati melainkan benda hidup yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Dengan menanggapi secara serius kita bisa menyelamatkan teman-teman kita diluar sana yang masih berjuang mebanting tulang demi menafkahi keluarga dan sanak saudara.

 

Print article only

0 Comments:

« Home