Articles

Mencari Pemimpin Pro Lingkungan


27 January 2014

Sumber: Jendela ed. 26, 2013

Sebagai Pendiri Yayasan Perspektif Baru (YPB) Wimar Witoelar dikenal aktif dalam mengampanyekan lingkungan hidup. YPB juga sangat getol memberikan pengetahuan kepada mahasiswa mengenai bagaimana mencari sosok pemimpin yang pro lingkungan.

Di sela-sela kesibukannya memimpin sejumlah perusahaan konsultasi komunikasi, menjadi pembicara sejumlah seminar dan acara televisi, Yus Ade, Dony, Narso dari JENDELA berkesempatan mewawancarai pria kelahiran Padalarangan, Bandung, Juli 1945 ini. Berikut cukilannya:

 photo 9cd9e63e-6d6e-40ae-acd5-e1daa1a48538.jpg

YPB sangat getol kampanye untuk memberikan pengetahuan kepada mahasiswa mengenai dukungan kepada pemimpin yang pro lingkungan. Alasan mendasarnya apa?

Kalau Anda melihat penampilan perspektif baru sejak berdirinya di tahun 1995 melalui website perspektif online, sebenarnya komitmen kami cuma satu, yaitu mendukung orang baik, lebih luasnya untuk mendukung pemerintahan yang baik, good governance, jadi kami mendukung isu-isu yang bermanfaat bagi masyarakat. Itu yang dari awal. Sekarang isu-isu itu sudah semrawut di dalam wacana masyarakat sehingga public susah sekali untuk memilih isu mana yang penting dan tidak. Di samping itu, si pembawa isu-isu juga tidak semua itikadnya untuk kebaikan publik. Karena tahun politik, ada yang motifnya untuk memenangkan pemilihan kekuasaan politik, yang tidak ada salahnya. Tapi kalau kekuatan hitam itu memperjuangkan kepentingannya, kekuatan putih juga harus memberikannya kekuatannya.

Mengapa roadshow ini pilihannya pada kampus-kampus, tidak di parpol?

Percuma. Seperti menawarkan vaksin hepatitis ke sarang narkoba. Ya, tidak mungkin ada perhatian di sana. Parpol itu didesain untuk memenangkan kekuasaan. Makanya, KPU-nya diatur untuk tidak mengijinkan partai baru. Lima partai itu bukan partai baru itu, itu perpanjangan. Jadi, partai itu sudah lost cause, sudah perjuangan yang sudah tidak bisa dimenangkan.

Banyak yang senang ikut kampanye karena biar nanti dapat gift merchandise dan sebagainya. Sekarang tuh banyak yang kampanyenya semangat, tapi nanti pilihnya lain. Bisa jadi kalau dia sendiri yang jadi calon.

Dan kampanye kami ini tidak perlu uang karena kampanye ini harus menang dari hati. Asal pemilih tahu, pemilih yang tidak memilih partai itu ada 43 persen dari pemilih seluruhnya. Kalau yang lalu pemilih terbesar itu ada 30 persen pemilih. Jadi pemenang partai kemarin itu adalah partai golput.

Bolehlah buat partai namanya golput, tapi terus jangan benar-benar nggak milih, karena itu berarti memberikan kesempatan kepada salah satu dari kedua itu menang. Kami hanya membantu masyarakat untuk bisa memilih calon yang baik.

Ada yang menilai demokrasi kita perlu dikoreksi, karena yang beruang yang bisa berkuasa, komentar Anda?

Kami berpendapat bahwa pemilu Indonesia ini pelan-pelan berlangsung demokratis dan semakin bagus, semua orang bisa menjadi calon dan semua orang bisa dicalonkan, dan medannya kelihatan fair. Namun ada satu variable yang membuat itu menjadi tidak fair, yaitu kekuatan uang dan akses media.  Katakanlah di Yogyakarta ada pertandingan bola yang beda level. Yang satu menggunakan sepatu yang bisa mencakar rumput, tetapi tim yang lain baru bis amenggunakan sepatu yang justru mencocok kaki para penggunanya sendiri.

Jadi, medan politik Indonesia ini jadi tidak level sama, karena ada bias oligarki dan kekuasaan. Di jaman Soeharto semua berawal dari Soeharto, meskipun dia lahirnya dari orang miskin, tidak punya uang, meninggalnya kaya. Ada 25 miliar Dolar Amerika karena bagi dia kekuasaan itu melahirkan uang. Anda bisa bandingkan kontrasnya. Jaman Pak Harto, kekuasaan menjadi uang, sekarang uang menjadi kekuasaan. Jadi kalau dikatakan demokrasi sekarang adil karena tidak mementingkan pemegang jabatan, tapi jangan lupa bahwa ternyata yang punya uang itu diuntungkan. Dengan uang dia bisa beli media, dan media tidak mendapat kontrol yang seharusnya dari kekuasaan. Jadi system demokrasi kita maju tapi beberapa features-nya dimatikan.

Nah, bagaimana kita melakukan edukasi publik, edukasi pemilih, supaya orang bisa menjadi pemilih yang baik?

Nah, dalam rangka ini Yayasan Perspektif Baru selalu membuat acara-acara di kampus, sejak tahun 2001. Dulu temanya adalah edukasi pemilih. Terus temanya adalah pendidikan demokrasi. Apa saja temanya, isunya, yang penting orang mengerti. Dalam ekspose itu saya juga cerita contoh-contoh yang seperti ini. Yang penting orang tuh jangan ikut kesimpulan saya, tapi coba menghayati jalan pikiran orang yang mengerti.

Sekarang, ada suatu isu yang menyusul semuanya di Indonesia ini, yaitu isu dunia mengenai pemanasan global, perubahan iklim. Itu banyak yang tidak mengerti, padahal situasinya begini, pemanasan global di Indonesia 70 persen diakibatkan dari meningkatnya emisi karbon dari hutan. Bukan dari gas pabrik atau dari kota.

Jadi, hutan adalah betul-betul asset penyelamat kita dari segi karbon. Makin susut hutan itu makin celakalah kita. Hutan kita susut karena dijadikan bahan jual beli oleh Negara, oleh pemerintah sering untuk bernasib baik untuk mensejahterakan rakyat, sering juga untuk maksud korup. Yang paling bagus untuk menjaga hutan adalah masyarakat adat.

 photo 1e0b8b7c-0958-4e6a-911b-61c8c3759e92.jpg

Mengapa harus masyarakat adat?

Karena jika mereka merusak hutan, berarti mereka merusak tubuh mereka sendiri. Misalnya, jika dia perajin rotan, maka dia tidak akan mengambil rotan lebih dari apa yang dia butuh. Nah, jadi penguasaan lahan hutan oleh masyarakat adat itu sebenarnya strategis di Indonesia.

Tetapi sejak Orde Baru, sejak Orde Lama, sejak Pemerintah Belanda, sejak dulu itu sudah merampas hak masyarakat adat, diserahkan kepada Negara dan dikelola oleh Negara. Jadi, yang memberikan lisensi untuk kelapa sawit, untuk kertas, untuk batubara, untuk karet, gula, segala macam adalah pemerintah.

Jadi, kalau menggerakkan masyarakat untuk tidak membuang sampah seenaknya, ya okelah. Tanam seribu pohon setiap hari, ok. Tapi yang penting itu menyelamatkan hutan. Nah, jadi pemanasan global, hutan dan masyarakat adat, itu sangat penting. Dan disitu tercakup macam-macam.

Upaya atau strategi apa yang akan dilakukan YPB agar masyarakat tidak salah memilih caleg maupun capres dalam pemilu nanti. Paling tidak, yang mereka pilih adalah capres atau caleg pro lingkungan?

Yang kita lancarkan kepada masyarakat adalah isu strategis nasional apa saja, kamudian nanti dengan pihak-pihak tertentu bikin buku raport untuk tiap caleg atau capres bagaimana sikapnya terhadap masing-masing isu, sebab itu semua tersedia. Kami sudah bekerja sama dengan civil society/LSM dan organisasi untuk mengumpulkan data mengenai hal itu. Jadi, masyarakat ketika akan memilih dia (Capres dan Caleg, red) sebelumnya sudah bisa lihat siapa calon pemimpinnya sebelum masuk bilik TPS. Ini pro lingkungan atau nonlingkungan. Ini membutuhkan kerja sama yang luas sekali. Karena itu, YPB aktif sekali disini dengan bantuan dari berbagai pihak.

Data Formappi, lebih dari 50 persen dari 6607 caleg tingkat nasional adalah pengusaha. Ada kekhawatiran bila para pengusaha itu masuk parlemen yang diperjuangkan nanti adalah kepentingan bisnis bukan kepentingan rakyat. Komentar Anda?

Kalau 50 persen pengusaha right, ya nggak apa-apa. Kalau mereka pengusaha organic, bolehlah. Kalau mereka pengusaha sepatu, fashion, ya nggak apa-apa. Jadi, nggak ada definisi pengusaha itu tidak bagus.

Bagaimana menjadi pemilih cerdas dalam pemilu nanti?

Terbuka, setiap hari kita bisa menangkap butir-butir kecerdasan. Kalau kita bisa menangkap butir kecerdasan itu maka kita akan cerdas. Bersyukurlah orang-orang yang bisa hidup dari butir-butir kecerdasan itu. Ya, kami berusaha membuat lingkungan-lingkungan yang ada butir-butir kecerdasan itu dan mengajak orang untuk terbuka. Karena tidak ada kecerdasan yang dari lahir tapi hasil dari sosialisasi.

Terkait tadi cara memilih pemimpin yang cerdas, empat tahun lalu, saya belum tahu issue pemanasan global. Kami baru tahu ketika rame-rame nonton film In Uncompinion Truth dari Al Gore. Kok kayak begini. Kita bicara bahkan kita undang orang-orang untuk bicara, dan lama-lama orang disini ngerti. Lama-lama saya diundang pada pertemuan Al Gore. Jadi lama-lama saya dianggap ngerti. Nanti generasi pelan-pelan akan mengambil butiran kecerdasan itu yang akan diambil. Dan tim melanjutkannya melalui social media segala.

 photo 954be4d7-1134-4d0f-bccf-7a03c583c62a.jpg

Print article only

0 Comments:

« Home