Articles

Hilangnya Hijau Mengarah Bencana


03 February 2014

Oleh: Devita Naftalia

Perubahan iklim dan cuaca ekstrim sedang melanda dunia. Terbukti kasus Polar Vortex, seperti kasus yang digambarkan dalam film The Day After Tomorrow, bukanlah sebuah kisah fiksi. Terjadinya Polar Vortex di sejumlah kota di Amerika, baru-baru ini, menyebabkan badai salju dan penurunan suhu yang cukup ekstrim, hingga minus 50 derajat celcius. Sedangkan suhu di Kutub Selatan hanya mencapai minus 30 derajat celcius.

Indonesia memang tidak mengalami badai salju, namun Indonesia juga merasakan dampak perubahan cuaca yang buruk. Curah hujan yang terus meningkat di awal tahun, menyebabkan banjir bandang hingga ketinggian 3 meter di Kota Manado. Banyak warga menangis karena terpisah dari sanak saudara dan kehilangan seluruh harta benda mereka.

 photo 582f5a50-6bec-4aa0-a580-f226740bcdc1.jpg

Selain Kota Manado, Jakarta pun digenangi banjir hampir sepekan lamanya. Meski pemerintah telah berupaya mengurangi banjir di Jakarta, seperti mencegah dan melarang pembangunan villa di daerah-daerah resapan air dan membangun waduk, namun upaya tersebut tidak disertakan dukungan dari masyarakat. Masih banyak warga yang merusak waduk secara sengaja, membangun villa tanpa izin, dan membangun rumah di bantaran kali.

Dalam rangka mewujudkan kesejahteraan, tidak dapat hanya mengandalkan satu sisi saja. Semua pihak harus saling bahu-membahu menjaga daerah resapan dan menyediakan ruang untuk penghijauan. Rasa memiliki kota yang bersih dan sehat harus terus ditanamkan dalam diri masing-masing setiap orang. Namun perlu diingat, bencana yang terjadi terutama adalah akibat dari perubahan iklim yang disebabkan minimnya penghijauan.

 photo 03fc347f-11bd-486f-8269-a329ce9ba028.jpg

Print article only

0 Comments:

« Home