Articles

Golkar, PDIP, Prabowo dalam Pilpres: TRANS TV dengan Wimar


24 February 2014

TRANS TV

Terkait strategi Golkar yang menyuruh Caleg-caleg di daerah untuk mengaitkan romantisme antara Golkar dengan Orde Baru dengan Suharto, bagaimana komentar Pak Wimar? Apakah ini strategi yang tepat?


WIMAR
Itu sesuai dengan kebiasaan Golkar untuk menang, ingin menang, asal menang saja. Bukan menang untuk menawarkan sesuatu perbaikan atau untuk memberi harapan. Asal menang aja. Dan Golkar ini sudah kehabisan akal, desperate. Tidak bisa menang dengan issue yang benar, dia membangkitkan issue yang sama sekali ngawur. Membangkitkan Soeharto, dimana dari tahun 1998 sampoai sekarang kita sudah berkorban banyak, justru untuk menghilangkan jejak Suharto dari Indonesia. Karena Suharto yang merusak Indonesia pada sepuluh tahun terakhir sebelum 1998. Jadi kalau Golkar membangkitkan citra Suharto, itu tanda dia betul-betul ingin menang. Sudah panik, takut sama Prabowo, takut sama Jokowi, takut sama bayangannya sendiri. 

TRANS TV
Menurut WW sendiri, kalau di masyarakat, kesan adanya rindu Suharto itu nyata atau dibuat-buat?

WIMAR
Saya bukan pollster. Ini demokrasi. Kalau orang mau percaya itu, silakan. Saya sih tidak. Ical silakan boroskan uangnya berapa puluh milyar untuk kampanye yang isunya samar-samar sekali. Badan Kemenangan Pemilu Golkar Rully Ch Azwar tidak pernah bisa menang Pemilu, kecuali zaman Suharto. Pasti dia nostalgia.

TRANS TV
ketawa-ketawa

WIMAR
Bagaimana bisa menang, dengan issue itu. Come on, move on. Masa orang masih rindu Suharto? Orang justru mau orang yang tidak terkait dengan Suharto. 

TRANS TV
Oke deh. Ini sekarang. Kalau di Golkar ada Suharto, di PDIP tetap memakai jargon Sukarno. Kalau menurut WW, memakai jargon lama, simbol-simbol lama Sukarno, bagaimana?

WIMAR
Kalau hanya jargon sih nggak apa-apa. Pakai simbol Ken Arok, Gajah Mada, nggak apa-apa. Tapi kalau Suharto itu uangnya masih ada, jaringannya masih ada, prakteknya masih ada, hasil korupsinya masih ada. Ketua Umum Golkar saja menggunakan hasil korupsi zaman Suharto. Suharto berbuat baik selama 20 tahun dan berbuat buruk selama 10 tahun. Jadi silakan menilai. Penilaiannya berdasarkan posisi masing-masing. Orang yang ikut untung tentu bilang dia bagus. Orang yang tertindas tentu bilang dia tidak bagus. Lebih banyak yang tertindas daripada yang untung. Yang untung itu semuanya ngumpoul di Golkar. Jadi DPP.

TRANS TV
Oke. Sebagai magnit elektoral menurut WW strategi Golkar memakai Suharto untuk kampanye itu efektif tidak?

WIMAR
Efektif untuk kalah. Jadi silahkan saja. Saya senang kalau dia pakai kampanye itu. Kalau Golkar bisa menang dengan issue Suharto, silahkan. Dia bisa jadi Presiden, tapi Presiden atas dasar pretensi yang sinikal. Berdasarkan iktikad yang buruk. Karena ingin mempertahankan kekayaan. Ingin mengembalikan anak-anak Suharto ke tahta kekuasaan.

TRANS TV
Kalau Golkar Suharto, PDIP Sukarno, bagaimana?

WIMAR
Sukarno itu sudah lebih lama, sudah sirna dalam sejarah. Orang tidak ingat dia, dan kalau ingat juga hanya yang bagus2. Sukarno sama merusaknya dengan Suharto, dengan cara yang lain. Tetapi romantisme Sukarno lebih mudah dijual, karena orang tidak mengerti. Di twitter ada orang-orang marah pada Suharto karena dulu mengirim marinir menyerang Singapura sampai dihukum mati. Padahal yang mengirim orang untuk konfrontasi itu Sukarno, justru Suharto mengakhiri konfrontasi. Suharto banyak salahnya, tapi konfrontasi itu Sukarno. Inflasi sampai 6000 persen itu Sukarno. Totaliterisme, Presiden Seumur Hidup itu Sukarno. Kalau orang2 pemilih itu hanya bisa dibangkitkan dengan simbolisme masa lalu, ya begitulah. "The people deserve the leaders they get." Kalkau orang di-bodoh2-i akan tetap bodoh.

TRANS TV
jadi buat WW sama aja strategi romantisme masa lalu, Sukarno atau Suharto. 

WIMAR
Saya tidak bicara strategi. Strategi kan untuk menang. Megawati pernah menang. Ical pernah menang di Golkar. Itu dengan strategi mereka. Secara strategis saya tidak terlibat. Saya hanya menyuarakan keyakinan saya sebagai warga negara yang tidak suka dibodohi.

TRANS TV
Oke. Kita beralih ke topik lain, Capres dan HAM. Sekarang ini issue HAM agak jarang diangkat ke permukaan. Kemarin Hasyim Djojohadikusumo, adik Prabowo, mengatakan bahwa issue HAM sudah kita singkirkan dari percakapan. Itu cuman omongan elit yang tidak diperhatikan rakyat. Hasyim mengatakan bahwa “kalian media massa, masyarakat, jangan pilih kasih ke Prabowo. Bukan hanya Prabowo yang di-ban oleh Amerika. Wiranto juga. Bahkan Pramono Edhie Wibowo juga. “

 

WIMAR

Ya, banyak. Pembunuh berantai juga di-ban. Al Qaedah juga. Banyak orang yang di-ban oleh Amerika. Tapi kenapa kita harus pilih Presiden yang tidak disukai oleh Negara kemana tiap tahun kita kirim anak sekolah, yang kite berdagang. Kenapa kita harus sengaja pilih orang yang tidak boleh masuk ke Negara itu?

 

TRANS TV

Kalau masyarakat sendiri, terkait issue HAM. Apa yang WW inginkan? 

WIMAR

Saya hanya ingin mengajak masyarakat untuk berpikir saja, kesempatan memilih Presiden ini kesempatan yang langka diberikan kepada rakyat dimanapun. Di dunia hanya Indonesia yang mempunyai sistem pemilihan Presiden pada skala yang begitu besar. Jadi kalau itu dipakai untuk mengikuti cerita2 yang membohongi seperti pro Golkar, pro melupakan HAM, nanti menyesal. Jangan sampai menyesal. Kita sekarang memilih pemimpin yang bisa bicara dengan rakyat. Jangan yang hanya bicara melalui mesin kampanye.  Sadarlah.

Print article only

0 Comments:

« Home