Articles

Gunakan Hak Pilihmu Untuk Menghindari Bencana Pemanasan Global


27 March 2014

 photo 1530copy.jpg

Surabaya, 19 Maret 2014

Menjelang PILEG dan PILPRES juga, banyak anak-anak muda yang di khawatirkan mereka tidak akan aktif terlibat dan mereka hanya sebagai bayangan saja karena menganggap tidak ada urusannya bagi mereka. Bagaimana menurut Anda? 

Mungkin anak muda itu sudah terbiasa nonton bola, jadi apakah dia misalnya nonton ManU begitu, jadi dia enggak main dia hanya tinggal menyerah kalo menang senang, kalau kalah marah-marah gitu ya. Padahal kita ini semua ikut main bola dalam satu tim, jadi setiap kita ini akan dapat giliran bermain. Sehingga menurut saya, anak muda itu harus fit untuk tampil setiap saat dan tampilnya tidak usah sebagai anggota DPR atau penjabat, tapi justru menjadi orang paling penting pada tahun ini yaitu menjadi pemilih.

Pemilih itu sangat penting, jadi orang kalau ada yang tidak memilih itu kali perlu diajak berfikir, mengapa tidak mau? Sebel sama keadaan? Justru kalo sebel sama keadaan harus ikut memilih biar ada perubahan. Kalau dia senang pada keadaan dan yang jadi calon itu yang membuat keadaan ya dia diam aja, ya itu menjadi satu hal yang terdengarnya rumit. Tapi singkatnya, tahun ini bedanya dengan tahun depan, orang itu bisa menyatakan pendapatnya tanpa demo, sebab demo yang paling efektif dan paling dahsyat paling langsung hasilnya adalah suara kita di TPS.

 

Jadi ada ajakan untuk anak muda jangan sampai golput dong? 

Iya, tapi betul-betul ajakan bukan paksaan. Harus datang dari dia sendiri untuk memilih. Kalau dipaksa, nanti dia bilang “oke saya milih tapi harus milih siapa,  kamu suruh saya pilih siapa?” akan di giring terus gitu. Tapi kalau dia sendiri atas kesadarannya sendiri, saya memilih sebab saya ingin bersuara. Maka dia akan mencari sendiri, suaranya diberikan kepada siapa. Itu pemilih yang sehat. Saya misalnya, bisa memberikan rekomendasi sangat bisa siapa yang harus dipilih. Tapi kalau ditanya, saya tidak akan jawab karena itu mematikan kebebasan  orang itu.

 

Bagaimana agar mereka benar-benar sadar akan hal itu Wimar ? 

Ya, harus datang dari dirinya sendiri. Saya misalnya sekarang diet nih sudah turun 20kg dengan cara yang baik selama 8 bulan, karena sadar. Padahal seumur hidup saya disuruh diet itu gagal terus, atau kalau berhasil itu naik lagi. Karena dulu kalau saya diet “hore berhasil mari kita makan-makan”. Sekarang, saya pelihara karena datang dari kesadaran. Mengapa? karena saya takut kalau saya tidak diet, kesehatan saya berkurang, saya nggak bisa aktif, nggak bisa ke radio, bikin show, apalagi nanti, ya meninggal di tangan Tuhan. Tapi kalau kita di rumah sakit, kita hanya exit kalau orang berkunjung. Jadi saya sangat ingin melihara kesehatan saya, karena itu saya tahu almarhum istri saya juga dokter, teman-teman banyak dari dulu orang udah ngasih tahu tinggal menjalankannya aja. Kesadaran itu datang karena saya takut sakit lah takut mati.

Saya kira kemudian juga baru akan sadar kalau dia takut kehilangan kebebasan dia. Sebab kalau orang berusia 17, 30 tahun dia tidak tahu bahwa keadaan seperti ini tidak selalu ada. Waktu saya jangankan berusia 20 tahun, waktu saya berusia 50 tahun aja nggak ada pemilu. Jadi saya tinggal nonton aja, pak harto mau apa tiap 5 tahun. Tapi sekarang, saya dulu golput selama 5 kali PEMILU jaman Soeharto ga pernah milih, saya mulai milih waktu setelah tahun 1998. Karena saya yakin suara saya berarti. Tidak akan bilang Habibie terpilih karena Wimar, Megawati terpilih karena si A. Saya merasa punya kontribusi dan saya merasa kalau pilihan saya nanti itu tidak betul, saya harus memberikan kritik.

 

Tanggal 20 Maret, ada seminar gunakan hak pilih mu, untuk menghindari bencana pemanasan global. Berarti ini ada ajakan untuk membawa pemuda-pemuda itu mencintai lingkungannya ?

Betul. Mencintai lebih dari cinta laki terhadap perempuan, atau perempuan terhadap laki. Karena mencintai karena terpaksa. Kalau kita memang orang yang falling in love juga suka merasa terpaksa, katanya I have not an option to falling in love, ada yang begitu ya. Tapi dalam hal lingkungan sih bukan kita bicara melihara lingkungan supaya bunga-bunga nya terawat dan taman-tamannya bagus. Tapi supaya dunia itu tidak hancur tidak kiamat oleh perubahan iklim, karena yang kita tahu badai-badai, keganjilan cuaca yang ada setiap bulan itu yang ada di seluruh tiap bagian bumi, asal-usulnya adalah dari terlalu banyak emisi karbon di dunia, karbon yang lepas dari muka bumi. Dan karbon itu kalau di Indonesia paling banyak tersimpan di hutan, jadi kalau hutan itu ditebang habis atau jangankan habis, hutan yang ragam diganti dengan hutan yang satu tanaman. Itu dibuang sumber daya kita, hutan itu jadi hutan di Kalimantan itu berguna untuk kita di pulau Jawa, hutan di Kalimantan itu berguna baik bagi orang di Thailand, di Islandia, dan untuk seluruh dunia.

 

Pak Ramadhan :

Pihak oposisi yang ada di Indonesia itu terlalu banyak, sedangkan kalau di Amerika, saya pernah tinggal di Amerika selama 15 tahun disana. Disana cuma ada dua partai demokrat dan partai oposisi. Jadi ada dua, jadi kalau partai democrat nya tidak benar jadi pihak opisisi ini selalu akan mengoreksi mereka mana yang tidak benar. Walaupun dia jadi presiden, dia pasti akan di salahkan juga begitu. Tapi ini tidak terjadi di Indonesia. Jadi saya sama kayak bapak Wimar Witoelar selama 15 tahun, saya golput. Saya ga pernah pergi ke TPS untuk mencoblos siapa presiden, ga pernah. Apalagi sejak ada PPP, PDI dan juga Golkar, itu kayak mainan gitu lho.Yang ada di pikiran saya senang melihat ulasa-ulasan pak Wimar Witoelar dulu di televisi. Ada Andi Malarangen, saya sering menyaksikan ulasan-ulasan itu. Tapi di sini pikiran saya, buat apa itu loh mereka bicarakan itu semua. Toh, Keadaan ga pernah berubah tapi malah tambah parah gitu lho. Jadi sampai Anwar Ibrahim berkata, kalau Indoensia ingin menjadi Negara maju, Indonesia harus tegas mengurasi korupsi yang ada di Indonesia. Harus tegas benar-benar tegas. Sampai Anwar Ibrahim aja ngomong begitu.

Pak Sidarta :

Saya pengagum pak Wimar. Kita semua sebagian besar adalah pengagum Gusdur. Kalau kita ingin masyarakat ikut sadar memilih dalam hal ini, parameter apa yang dipakai masyarakat luas minimal bisa mendapat calon presiden yang tidak salah pilih dengan paramater seperti Gusdur. Dalam arti nasionalisnya tuh kita ngukur dari mana. Sementara masyarakat kita ini banyak yang secara dangkal memilih pemimpin hanya blusukan dan sebgainya. Hal kedua adalah bagaimana pandangan dari pak Wimar Witoelar mengenai, saya memandang bahwa demokrasi yang ada di Indonesia ini tidak layak untuk di teruskan. Karena demokrasi berdasarkan suara terbanyak itu mendidik bagi bangsa kita. Apakah kita bisa menjadi bagaimana caranya mengkondisikan masyarakat kita, dimana demokrasi itu adalah berdasarkan pilihan kayak ormatur dari para pimpinan Negara yang penonjol seperti pak Wimar dan lain sebagainya. Kemudian menentukan pemimpin itu siapa saja calonnya, apakah mungkin untuk memimpin di Indonesia.

 

Ya, pak Sidarta, kalau ditanya mungkin, ya mungkin, kalau Anda berusaha menyebarkan pikiran Anda kepada orang lain, sehingga orang lain bisa mendukung. Kemudian kalau pendapat pak Rahmadan sebelumnya, itu yang banyak kekecewaan, saya hanya bisa mengatakan Anda itu benar karena tulus. Jadi yang jadi pertanyaan setelah jadi kekecewaan tuh bagaimana kita melanjutkannya? sekarang kelanjutannya, kita ada di pemilu untuk memberi suara kita dimana hati kita berada. Kalau kita itu tidak aktif dalam pemilu, maka ucapan kita itu adalah pelampiasan, yang berguna untuk terapi anda sendiri, tetapi tidak berguna untuk terapi masyarakat. Masyarakat perlu keputusan yang tadi tidak ada ketegasan dalam masyarakat, karena pemilih tidak tegas memilih.

Sekarang kita harus mulai, namanya juga mulai tidak langsung berhasil. Kalau pada Anwar Ibrahim, ya saya persilahkan dia beresin dulu Malaysia, itu kan lebih tidak beres dari kita. Sekarang apalagi pesawat aja ga ketemu ya, dan Anwar Ibrahim sendiri karya politiknya tidak sukses, banyak di Bantu oleh Gusdur. Waktu itu saya pernah ketemu istrinya waktu Anwar Ibrahim dibuang, bukan dibuang, mau di kirim ke Jerman, Jadi dia tersendat-sendat. Saya rasa di Indonesia kita perlu Anwar yang lain, Anwar suroboyo atau muncul dari daerah sendiri. Lepas dari dia itu, blusukan atau punya hak sendiri tapi didukung oleh masyarakat. Anda yang pilih. Nah, tidak ada pemilu yang memberikan tempat pilihan negatif, yang ada hanya pilihan positif. Jadi kalau ada si A yang Anda tidak senang, pilihlah si B. Amerika punya dua partai, sekarang. Tapi dulunya partainya banyak, bahkan dulunya sekali mereka di jajah Inggris, Tapi mereka tuh berontak bikin konstitusi, bikin pemilu.

Tahun 1776 mereka bikin konstitusi, sekarang sudah lebih dari 200 tahun, ada suatu keadaan yang tidak ideal. Tapi katanya lebih baik dari Indonesia, tapi menurut saya Indonesia didalam demokrasi sudah sangat dewasa. Indonesia itu sudah lebih sangat maju dari Malaysia, Singapore, Vietnam, dari China, dan Rusia. Indonesia itu sangat maju, sebab kedua pendapat tadi bisa tampil di satu radio yang terhormat bersama dengan suara-suara dari orang-orang yang sudah sangat dikenal. Itu suatu kebahagiaan bahwa kita bisa bernafas di udara bebas, itu membuat kita menghargai bahwa kita tidak hidup dalam ruangan gas racun.

 

Print article only

0 Comments:

« Home