Articles

Menyelamatkan hutan bersama pemerintah baru


16 April 2014

Edit singkat dari Bincang Khusus Pontianak TV dengan Wimar Witoelar, 15 April 2014 

Apa kabar pemirsa? Kembali lagi bersama saya dalam program bincang khusus. Kali ini saya sedang bersama seorang tokoh yang sebenarnya tidak asing bagi masyarakat termasuk di Kalimantan Barat, apalagi sepak terjang beliau cukup banyak tentunya dan kita ingat ketika di zaman pemerintahan Abdurrahman Wahid ketika Gusdur menjadi presiden. Sosok satu ini pernah menjadi salah satu orang yang penting yaitu juru bicara presiden. Sekarang sudah bersama saya Wimar Witoelar. Beliau lebih senang dipanggil Abang dalamperbincangan ini.

1.  Apa Kabar Bang Wimar ?

Baik-baik , terima kasih.

2.  Datang ke Pontianak, dalam rangka?

Ada maksud khusus, tapi diluar maksud khusus juga senang untuk bertemu kembali dengan kawan-kawan di Pontianak yang saya sudah kenal sejak lama. Urusan khusus saya adalah mendampingi rekan-rekan LSM Kalimantan Barat bertemu dengan media untuk berbagi perspektif, untuk mencari sinergi bagaimana membawakan kesadaran masyarakat terhadap masalah hutan.

3.  Bang Wimar belakangan cukup aktif di gerakan lingkungan. Padahal dulu kan Bang Wimar juga ktif dalam kegiatan pro demokrasi dan hak asasi manusia juga aktif?

Sebetulnya aktivisme saya semenjak mahasiswa adalah untuk mencari masyarkat yang lebih baik. Halangannya dari dulu sampai sekarang adalah kekerasan dan korupsi. Mulai dari zaman orde baru sampai sekarang ini kekerasan dan korupsi itu sangat mempengaruhi kelangsungan kehidupan hutan dan kehidupan masyarakat adat di hutan.

Kebetulan sekali perubahan iklim dan pemanasan global yang dipengharuhi hutan menjadi penentu kehidupan orang di planet ini. Bukan hanya di Indonesia yang banyak menyumbang polusi. Tapi Indonesia juga bisa menawarkan solusi karena kita punya hutan.

Degradasi hutan adalah pembuat masalah dan penanggulangannya  menjadi solusi.

4.  Bang Wimar bicara iklim dan  masalah lingkungan kan sering jadi pembicaraan orang. Bahkan  kita merasakan ketika di Pontianak terjadi kabut asap, Jakarta banjir, Riau juga begitu tapi kenyataannya lingkungan juga sering abai bagi kita bahkan juga bagi pemerintah tentunya.

 

Kalau kita bicara abainya masyarakat, kadang-kadang itu karena masyarakat tidak bisa mengenal masalah kalau masalahnya terlalu besar. Kalau dia hidup di kaki gunung sehari-hari dia tidak sadar itu adalah gunung dengan segala masalah dan potensinya. Jadi, kalau satu hari gunung meletus dia kaget, begitu ya.

 

Kalau orang berhadapan dengan kemiskinan tiap hari, dia tidak sadar bahwa kemiskinan adalah bom waktu yang bisa merusak.

 

Kita sudah hidup dengan krisis lingkungan yang lama dan masyarakat harus dibantu oleh media, oleh televisi, koran, dengan program sosialisasi.

Tapi pada tingkat pimpinan, mereka sering abai terhadap masalah lingkungan. Bukan karena tidak tahu, tapi karena ingin meraup keuntungan secepat-cepatnya dari hutan dengan mengorbankan kelestarian lingkungan itu sendiri.

 

5.  Itu fakta?

Fakta. Dulu pembalakan liar sudah diatasi, sudah tidak terlalu terjadi, tetapi kemudian terjadi konversi lahan dari hutan yang ragam menjadi perkebunan kelapa sawit, dimana pemerintah mengatakan itu bagus, karena meningkatkan export dan perekonomian. Betul, tetapi yang ditingkatkan itu export saja, bukan perekonomian rakyat karena perusahaan-perusahaan kelapa sawit itu yang besar-besar dikuasai oleh kapitalis.

Jarang rakyat bias mengambil manfaat. Dipekerjakan saja belum tentu. Bahkan rakyat yang dianggap mengganggu operasi kebun kelapa sawit  itu sering dihadapi oleh alat-alat keamanan yang bersifat keras.

Jadi, di hutan-hutan yang begitu ada pelanggaran hak asasi dan ada korupsi. Pimpinan pemerintah sering mengizinkan itu, karena dengan mengizinkan itu tentu dia dapat bagian keuntungan, kompensasi dari perusahaan. Jarang ada pimpinan yang melihat lebih dari lima tahun karena dia pikir, dia jadi pejabat juga paling lama 5-10 tahun. Yang akan hidup 30 tahun itu masyarakat yang turun temurun ada di hutan., masyarakat  yang ada di Pontianak.

Jadi susah mempertemukan masyarakat umum  yang tidak terlalu kuatir  terhadap masalah dengan pimpinan yang sengaja menyembunyikan kedalaman masalah itu.  

6.  Artinya kalau seperti ini Bang Wimar melihat masalah lingkungan lebih ke problem system?

Ya, banyak sekali masalah yang kelihatannya masalah alam sebetulnya bukan masalah alam saja.

Misalnya, letusan gunung berapi yaitu masalah alam, tapi penyelamatannya, peringatannya, penanggulangannya itu kan masalah system. Masalah bagaimana mempersiapkan tindakan penyelamatan.

Hutan juga memang masalah alam tapi yang memperburuk masalah alam itu adalah politik, politik yang melindungi pengambil keputusan yang bisa memanfaatkan kerusakan hutan. Kalau hutan rusak, tidak semua orang merasakan kerusakannya. Semua  orang rusak dalam jangka panjang, tapi dalam jangka 5 tahun ada yang rusak ada yang tidak. Yang rusak itu adalah rakyat kecil yang hidup di hutan, rakyat kecil yang menjalani hidup sehari-hari. Yang untung dalam jangka pendek itu orang yang mengelola perusahaan-perusahaan yang menggunakan lahan hutan itu.

Tapi dalam jangka panjangnya semua akan rugi karena kalau hutannya habis, sudah terlambat.

7.  Kalau kita boleh mengevaluasi, menurut pandangan Bang Wimar tentang komitmen pemerintah terhadap lingkungan, concern terhadap lingkungan seperti apa? 

Yang penting tentunya adalah pemerintah baru yang akan memerintah dari 2014 kedepan. Kalau kita tetap ingin mengevaluasi pemerintah yang sekarang, kita harus katakan bahwa pemerintah sekarang itu banyak plusnya banyak juga minusnya dalam bidang lingkungan.

Plusnya karena Indonesia adalah negaramenyatakan keprihatinannya terhadap pemanasan global secara gamblang. Presiden Indonesia memberikan dukungan bagi program REDD yaitu mengatasi efek karbon dari kerusakan hutan. Karena kekuatan dari inisiatifnya itu maka Indonesia mendapatkan komitmen dari pemerintahan Norwegia sebanyak 1 Miliar dolar untuk program yang sukses mengatasi itu. itu plusnya. Minusnya bahwa setelah ada pernyataan awal itu follow up nya itu tidak banyak, tidak ada dari presiden dari pemerintahnya kuat. Pemerintahnya menjalankan komitmennya melalui Kementrian UKP4, Pak Kuntoro dan kawan-kawan, dan itu sangat tegar jalannya sangat diakui oleh pemerintah manapun tapi tanpa dukungan presiden, dampaknya terbatas.

Kalau pertandingan itu berakhir dengan 1-1 dalam bidang climate change, perpanjangannya sudah hampir tidak ada karena September kita punya pemerintah baru. Jadi kita akan lihat pemerintah depan bagaimana, apakah mereka akan punya komitmen pada perubahan iklim. Harusnya ada, karena perubahan iklim ini bukan hobi, bukan suatu topik yang hanya boleh dimengerti oleh orang-orang yang ahli lingkungan, tapi juga orang yang ingin mempertahankan kehidupan dengan hilangnya hutan. Dalam waktu satu generasi, alam akan berubah. Kalimantan saja sekarang beda dengan satu generasi yang lalu, 30 tahun yang lalu Bapak tahu sendiri berapa persen dari yang tersisa, Kualitas hidupnya berubah, suhunya berubah, badainya sudah tidak dikenal. Jadi 30 tahun lagi Indonesia tidak seperti kita ketahui kecuali ada tindakan-tindakan yang dilakukan sebelumnya. Ini bukan tindakan rakyat banyak yang mengumpulkan sampah di tempat yang benar atau menanam pohon. Itu bagus, tapi yang penting adalah menghentikan perusakan hutan oleh keserakahan bisnis perusak ekonomi.

8.  Dalam hal ini, pemerintah menjadi kunci?

Kunci, karena perizinan untuk membuka kelapa sawit ada di pemerintah, terutama pemerintah pusat. Pemerintah daerah kabupaten provinsi tentu juga mempunyai peran tapi mereka tidak bisa berbuat menyimpang dari pemerintah pusat. Kalau pemerintah pusat saja, dari mulai Kementrian Kehutanan dan sebagainya tidak memberikan isyarat yang kuat untuk mengembalikan hak kelola hutan kepada masyarakat yang ada di hutan, sukar diharapkan akan ada perbaikan.

Itu bukan catatan yang pesimis sebab ada kesempatan untuk mempunyai pemerintah yang bisa bereaksi baik terhadap krisis lingkungan. Kita harus pilih presiden yang tidak  cenderung kekerasan dan tidak cenderung korupsi. Presidennya biasa-biasa saja tapi bisa memanfaatkan dukungan rakyat, dukungan professional dan juga dukungan luar negeri untuk ramai-ramai menyelamatkan hutan Indonesia.

 

BERLANJUT......

Print article only

1 Comments:

  1. From Stef Tokan on 24 April 2014 10:01:17 WIB
    Setuju dengan Bang Wimar soal minimnya perhatian pemerintah terhadap masalah lingkungan dan climate change. Belum banyak kebijakan pemerintah di bidang ini, maka kita perlu mendorongnya selalu. Bukan apa-apa, kayaknya pemerintah kita masih terjebak pada pembangunan berorientasi ekonomi. Hutan hanya dilihat sebagai sumber potensial ekonomi, bukan sebuah ekosistem yang menghidupkan manusia. Tapi, bahaya climate change itu sudah di depan mata. Ini seperti kapal Titanik saja, yang akhirnya karam juga (Bdk. Buku Bang Wimar, Partai Orang Biasa).

« Home