Articles

Pimpinan Masa Depan Indonesia

Perspektif Online
10 May 2014

oleh Wimar Witoelar

Wawancara Wimar baru-baru ini dengan The New York Times berpusat pada tema ‘Pemimpin Masa Depan Indonesia. Pertanyaannya, apakah munculnya Jokowi dan nama-nama seperti Risma dan Ridwan Kamil menandakan bahwa pemimpin Indonesia sedang beralih generasi?

Pasti ini suatu tonggak sejarah, apalagi kalau Jokowi memang menang dengan pasangan yang muda pula. Tetapi tidak serta merta dapat disimpulkan, bahwa Jokowi menjadi pemimpin masa depan

 Tidak juga bisa dikatakan bahwa tokoh-tokoh muda seperti Tri Rismaharini, Ridwan Kamil, dan nama-nama yang muncul di pemilu 2014 itu merupakan angkatan pemimpin Indonesia masa depan.

Lebih tepat kita melihat bahwa kemenangan Jokowi, jika itu memang terjadi, merupakan penutupan pasal politik orde baru. Apakah kita menemukan keadilan tentang peristiwa 1998? Apakah Orde Baru sudah hilang? Belum tentu. Tetapi jika Jokowi terpilih bersama pasangan orang baru, maka artinya kita sudah move on. 

Yang pasti ada kecairan baru dalam evolusi kepempimpinan bangsa. Jokowi menjadi katalisator yang mencairkan kebekuan politik. Dengan cairnya kebekuan politik itu, tokoh-tokoh lain akan muncul. Potensi terbaik belum tercatat dalam daftar nama politik 2014.

Sumber pemimpin bisa dicari di beberapa tempat. Yang pasti, dalam sistem kepartaian. Tokoh-tokoh muda dan berpikiran terbuka ada di beberapa partai. Yang nyata di PDIP ada Rieke Diah Pitaloka, Teten Masduki, Ganjar Pranowo, Budiman Sudjatmiko bahkan Pramono Anung yang lebih senior dan Maruawar Sirait. Megawati dan  rekan se angkatannya tidak akan bertahan lama sebagai kekuatan nyata. Itu baik untuk PDIP, baik untuk negara.

Tokoh muda lain ada di Partai Demokrat diluar koruptor-koruptor muda yang sangat terkenal. Ada Rachland Nashidik, Ulil Abshar-Abdalla, Anies Baswedan dan sebagainya.  Golkar lebih susah diharapkan karena Golkar justru adalah pusat kebekuan status quo politik. Nasdem memberikan harapan dengan adanya Taufik Basari dan ex-Golkar moderat. 

Kita bisa lihat partai per partai, tapi nyata bahwa partai-partai yang tidak banyak menyumbang pada pembaruan politik selama ini, sebetulnya berisi individu-individu yang bisa tampil sebagai pemimpin baru pasca Jokowi. Jokowi sendiri belum tentu bertahan sampai dua periode, karena kemenangannya berdasarkan kharisma, spontanitas dan keinginan pembaruan. Dalam hal kompetensi,visi, sofistikasi, banyak orang muda yang lebih punya kualifikasi daripada Jokowi.

Tapi partai adalah sumber utama pemimpin bary, karena paling tidak melalui partai diperolreh pengalaman politik. Kemunculan pemimpin niscaya terjadi melalui proses politik jika demokrasi kita berkembang.

Tetapi kita tidak berhenti disitu. Kita harus melihat orang-orang baik yang tidak muncul ke permukaan politik karena tersendatnya proses recruitment politik oleh kekuatan lama. Dalam lima tahun kedepan, kita akan terbebaskan dari hubungan itu. Berarti kita bisa lebih banyak melihat tokoh-tokoh lepas yang tadinya harus maju sebagai calon independen sekarang bisa memperkuat partai yang sudah ada.


Membuat partai baru tentu mungkin, partai semacam SRI, partai buruh, partai hijau, itu bisa saja. Karena kita sudah punya pemilihan presiden langsung maka tidak penting kalau calon presiden itu sendiri berasal dari partai. 
Partai Demokrat menunjukkan bahwa mereka bisa mencalonkan orang yang bukan aktivis partai, bahkan bukan anggota partai. Itu suatu hal baru secara tidak sengaja bisa menjadi tradisi politik. Sumber pemimpin lain, bisa datang dari universitas, sejauh orang itu bisa bergabung dalam sistem kepartaian.

Akan tetapi yang paling menarik dan potensial adalah kemungkinan munculnya, pimpinan nasional baru dari LSM.

Menjelang Pemilu 2014 Abetnego Tarigan, Direktur Eksekutif WALHI Pusat, dan kawan-kawan membuka tradisi keterlibatan politik gaya baru. Melihat sejarah LSM semenjak tahun 1970-an dalam Orde Baru, ruang gerak mereka terbatas tapi kaderisasi individual itu kuat karena otomatis semua aktivis LSM digodok di kawah Chandradimuka menghadapi hambatan yang menekan dari rezim. Bahaya nyata politis dan fisik yang merupakan ciri represi rezim, menambah kemampuan dan daya survival individu-individu pimpinan LSM yang lebih kuat dari kader partai politik.


Jika selama ini tokoh LSM tidak muncul sebagai pimpinan nasional, itu karena mereka secara sukarela melepaskan kepeloporannya dan mengizinkan partai politik mengambil alih hasil perjuangan mahasiswa dan LSM yang menjatuhkan Soeharto.

Kesalahan itu rupanya disadari oleh pimpinan LSM sekarang. Karena mereka tidak melakukan engagement politik, maka yang maju dalam 15 tahun ini hanyalah civil society. LSM mampu melakukan tindakan, lebih mendapat dukungan nasional maupun internasional, dan lebih mengenal peta politik. Tetapi politiknya sendiri masih diserahkan kepada oligarkhi politik lama. Abetnego beserta kawan-kawan berusaha mengubah ini dan kelihatannya akan mempunyai hasil.

 
Banyak aktivis sadar, percuma berbuat baik dalam wadah LSM kalau lingkungan politik nasional tetap tidak sehat. Mengapa kekuatan LSM itu tidak juga dipakai untuk menyehatkan lingkungan politik? Dengan demikian akan terbuka masa depan baru bagi Indonesia.

LSM seperti AMAN, WALHI, dan ICW sudah mulai mengizinkan atau menganjurkan anggotanya untuk tampil sebagai calon legislatif di beberapa daerah, dan kelihatannya ada hasilnya.


Dalam lima tahun yang akan dating ini mudah-mudahan ada orang yang bisa tampil menjadi anggota  legislatif nasional atau bahkan calon presiden. Sangat menarik jika kita melihat nama-nama seperti Abdon Nababan, Abetnego Tarigan, Teten Masduki, mendampingi politisi muda yang lahir dari pergerakan reformis sebelumnya, seperti Budiman Sujatmiko, Rieke Diah Pitaloka, Faisol Reza, dan sederetan nama yang sudah matang, sudah mampu, tapi belum membuka pintu politik nasional.

Kemunculan Jokowi bisa menjadi katalisator untuk membuka akses politik pada orang-orang yang paling diharapkan untuk menuju Indonesia yang lebih baik.

 

 

Print article only

0 Comments:

« Home