Articles

Politik Gembira bersama Jokowi


21 August 2014

oleh: Rahel Irianti

Jokowi berceritera: "17 Agustusan kemarin, maunya lomba krupuk.  Tapi tidak diizinkan security. Mau panjat pinang, takut ngga bisa.  Jadinya ikut main karung. Lompat-lompat hampir jatuh, akhirnya kalah. Bayangkan dari 10 peserta saya ada di nomor urut 10. Tapi nggak apa2, masyarakat gembira, saya gembira. Saya tahu bahwa saya kalah, tapi saya tidak menuntut ke Panitia

 

 

Begitulah Presiden Terpilih Joko Widodo memulai pidatonya, dan aku mendengarkan langsung! Inilah cerita aku mengalami sendiri apa yang orang sebut ‘Politik Gembira’ yang kini menggantikan budaya politik kaku yang sebelum ini menjadi realitas kita.

Selasa, 19 Agustus 2014 adalah hari dimana aku menjalani kehidupanku seperti biasa, kerja, makan, kerja lagi, menghadiri undangan. Sebagai Personal Assistant aku mendampingi kemana ‘dia’ diundang. 

Subuh ini seperti biasa setelah melakukan ritual pagi aku mengontrol agenda harian miliknya, dan ‘dia’ terjadwalkan untuk menghadiri suatu acara yang sedikit berbau politik malam ini.vPukul 17.38 kami tiba di suatu gedung pertemuan di Jakarta beserta teman-teman Intermatrix. Kami pun memasuki ruang acara dan aha!..hari baik ini makin lengkap lagi sewaktu kami bertemu dengan seorang wanita muda yang cantik baik paras maupun pengetahuannya yaitu Elkana Lewerissa.


 

Sudah lama kami tidak bertemu dengan Elkana, wanita muda yang antusias dalam bidang politik. Semangatnya yang tinggi mendukung “good guys” membuat dirinya tertarik untuk menjadi relawan pendukung salah satu calon Presiden Indonesia 2014.

You know who I mean? The “good guy”, salam dua jari.

Harus diakui, kehadiran kami malam itu adalah untuk menemui beliau. Namun kali ini ekspektasiku tidak begitu tinggi bila dibandingkan dengan undangan-undangan sebelumnya yang katanya ‘Jokowi akan hadir’. Hahaha aku belajar dari pengalaman.

Aku duduk berdampingan dengan Wimar Witoelar, yang umum dikenal sebagai tokoh nasional. Ketika host Fadjroel Rachman membuka pidatonya dengan menyebut beberapa nama hadirin, WW disambut hadirin dengan tepuk tangan meriah. Meski tidak aktif lagi didunia politik praktis, peran beliau tidak dilupakan sebagai juru bicara presiden Gus Dur periode 2000 – 2001, apalagi beliau aktif sebagai pembicara di berbagai event dan sering menulis dan diminta wawancara oleh media nasional dan international, radio, cetak, serta media televisi seperti acara mingguan The Indonesia Channel yang hingga saat ini masih berlangsung. 


 

Point penting yang mau aku bagi adalah karena duduk disamping WW, aku pun kecipratan untuk berjabat tangan dan foto bersama dengan tokoh-tokoh penting Indonesia yang juga adalah rekan-rekan WW. Selagi duduk bercerita bersama WW, Elkana Lewerisa, Melda Sitompul, dan Liya Sitompul banyak tokoh-tokoh penting yang hadir seperti Anies Baswedan, Hermawan (Kiki) Sulistio, Sarwono Kusumaatmadja, Pramono Anung, datang menghampiri WW dan berbincang singkat yang terdengar sangat hangat dan akrab. Banyak juga sejumlah media yang turut hadir lengkap dengan reporter serta crew. Tetap ini tidak menambah ekspektasiku bahwa Jokowi akan hadir, lho.



Jam menunjukkan pukul 19.50. Sinar lampu serta kamera mulai menyinari ruangan, bukan diarahkan pada Fadjroel Rachman selaku Direktur Utama dari Soegeng Sarjadi School Government yang tengah itu sedang memberikan speech dari panggung ruangan, melainkan diarahkan pada pintu masuk. Para hadirin berdiri dan membalikkan badan 180 derajat, menyiapkan handphone, kamera stand-by, dan senyum lebar. Untuk apa? 
Untuk take a 'selfie' with Joko Widodo, the next Indonesian President.

Huaaaa.. honestly I was speechless but I must stay cool.

Perlahan Jokowi berjalan dalam penuhnya sorotan kamera itu… tiba-tiba ia berhenti di hadapan kami, khusus untuk menyapa WW dengan hangat. Wow how lucky we are. Ini momen berharga tentu harus di abadikan, dan kami mengajak beliau untuk foto bersama.

Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaanku saat itu. Sulit mencari kata yang tepat… sekarang saja masih berasa deg-degan. Bukan ingin hiperbola, tapi jika Anda ada diposisiku dan mengalami hal yang sama, mungkin saja aku menyebut Anda salah satu anggota dari kaum “alayers”.


 

Hari semakin malam tapi keinginan untuk pulang, masih kalah dengan antusiasku menikmati speech dari Jokowi. Bukan topik yang berat, tidak ada sifat penguasa atau juga tidak menjanjikan jabatan menteri,  melainkan membuka mata kami para kaum muda bahwa Indonesia memiliki kesempatan yang besar untuk lebih maju dan berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Begitulah ceritanya sampai Jokowi menceritakan kisahnya mengikuti lomba 17 Agustus kemarin sebagai peserta lomba balap karung, “bayangkan dari 10 peserta saya ada di nomor urut 10” katanya diiringi tawa dari semua hadirin, “saya tahu bahwa saya kalah, tapi saya tidak menuntut ke dewan juri” lanjut beliau dan semua hadirin tertawa bersorak.

Namun aku diam. Aku diam bukan karena apa-apa, tetapi aku diam atas rasa salut pada beliau yang masih enjoy the real life. Waktu itu semua orang masih tegang,  menghadapi gugatan terhadap KPU di Mahkamah Konstitusi yang konon katanya karena tidak ada kejujuran dan keadilan pada Pemilihan Umum Presiden Indonesia 2014. Seorang “good guy”  tidak perlu takut kalah, just do what's best in your way and everyone will know your quality.


 

To close my day and this story I would like to say thanks to God karena bisa bertemu orang-orang cerdas, punya antusias yang tinggi, semangat, serta berintegritas. Jokowi bukan orang berketurunan darah biru ataupun lahir dari keluarga yang berkelebihan, tetapi beliau mampu meraih mimpi serta tujuan hidupnya dengan cara kerja bersih dan dengan niat yang sungguh.

 
Kalau Jokowi bisa, kenapa kita tidak ?

 

 

Print article only

1 Comments:

  1. From Dian Marco Oetomo on 22 August 2014 13:23:36 WIB
    Hay Rahel,for me this story of yours is a good story cause you succeed to tell the audience of the real atmosfer at that time and I think its very subjective too.
    I love it..keep on going,I will always support you.

« Home