Articles

Eksploitasi Perusahaan terhadap Lahan Gambut Milik Masyarakat Lokal


27 August 2014

Oleh: Nurina Ayuwardhani

 photo 590076c2-5603-41a2-873b-69912d481037.jpg

Desa Sungai Tohor, Kabupaten Tebing Tinggi, Kepulauan meranti

 

Indonesia kembali mengalami bencana kebakaran hutan di Riau. Sejak Januari 2014 hingga Maret 2014, ratusan titik api muncul mengakibatkan kebakaran pada lahan gambut seluas 21.768 ha. Kebakaran tersebut juga terjadi di perkebunan sagu milik rakyat Desa Sungai Tohor, Kepulauan Meranti seluas 250 hektar. Sumber api berasal dari lahan sagu milik PT Nasional Sagu Prima (PT NSP). Salah satu penyebab api cepat menyebar ialah penggunaan sistem kanalisasi oleh PT NSP yang mengakibatkan lahan gambut kering dan mudah terbakar.

Padahal sistem Kanalisasi hanya membuat PT NSP mampu mengolah sejumlah sagu basah dan 2000 tual sagu perhari sementara jumlah minimum standar pengelolaan yaitu 5000 tual sagu untuk dijadikan tepung sagu. Tepung sagu kemudian diekspor dalam jumlah besar ke Jepang, Malaysia, dan ke pasar domestik, Cirebon. Meski jumlah pekerja PT NSP mencapai 200 orang yang sebagian besar ialah masyarakat desa sekitar, namun para pekerja ialah masyarakat yang lahan gambutnya sudah dikuasai oleh perusahaan dan habis terbakar.

Menurut masyarakat Desa Sungai Tohor, kebakaran hutan dan kekeringan terjadi kembali sejak pemerintah memberikan izin konsesi kepada perusahaan atau pengusaha untuk mengelola tanaman sagu. Dan kesalahan terbesar yang dilakukan oleh perusahaan dalam mengelola tanaman sagu ialah merubah tanah gambut menjadi kanal. Hal itu kemudian menjadi penyebab utama dari berkurangnya jumlah air di tanah gambut sehingga rentan terhadap kebakaran.

 photo bc92d818-99e1-4be2-939f-8ad8d04ced03.jpg

 photo ae0bed40-efdb-4393-9bbe-930d0d767830.jpg

Kebakaran tersebut memberikan kerugian bagi masyarakat Desa Sungai Tohor yang mengklaim lebih berhasil membudidayakan sagu secara lestari. Masyarakat memahami bahwa tanaman sagu merupakan salah satu tanaman yang memerlukan banyak air. Oleh karena itu mereka tidak menggunakan sistem kanalisasi karena dapat mengurangi kelembaban lahan gambut.

Keberhasilan dalam mengelola sagu telah memberikan kesejahteraan terhadap masyarakat secara turun temurun. Hampir 90% dari jumlah masyarakat di Desa Sungai Tohor menggantungkan kehidupan mereka dari budidaya sagu. Hasil tanaman sagu Desa Sungai Tohor menjadi salah satu komoditas ekspor ke Malaysia dan beberapa negara lainnya. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat adat dan masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan mengetahui secara pasti pengelolaan lahan hutan secara lestari sehingga kualitas sagu yang dihasilkan oleh masyarakat lebih baik dibandingkan sagu yang dihasilkan oleh perusahaan dan tetap menjaga kelembapan tanah gambut.

Masyarakat Desa Sungai Tohor tidak ingin lahan mereka perlahan-lahan habis karena dilahap oleh api dan tidak ingin lahan mereka dikuasai oleh perusahaan seperti desa-desa yang lain. Dengan tujuan berbagi informasi kepada media dan menunjukkan perbedaan antara cara pengelolaan lahan gambut dan tanaman sagu yang dilakukan oleh masyarakat lokal dan perusahaan, Yayasan Perspektif Baru mengajak media-media nasional mengunjungi Desa Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi, Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

 photo 8e5411b9-91bd-48dc-96ae-ba3f6fa36631.jpg

Kegiatan kunjungan media berlangsung pada 19 – 21 Agustus 2014. Diharapkan setelah melihat secara langsung perbandingan hasil kelola industri dan masyarakat lokal, media dapat menyebarluaskan kepada masyarakat umum mengenai peran penting masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian hutan dan kesalahan-kesalahan saat mengelola tanaman sagu yang berdampak negatif terhadap lahan gambut.

Informasi-informasi yang diperoleh juga diharapkan dapat mendorong pemerintah agar lebih memperhatikan peran masyarakat adat dan menyadari kemampuan masyarakat lokal dalam mengelola gambut sehingga pemerintah tidak lagi terlalu memberikan kebebasan kepada perusahaan untuk mengelola gambut.

Print article only

0 Comments:

« Home