Articles

Langkah Awal Selamatkan Lahan Gambut dan Hutan Sebelum Terlambat


17 November 2014

By : Rahayu Wulansari

Jakarta, 14 November 2014 -- Organisasi-organisasi civil society beserta masyarakat kembali menyuarakan permintaan kepada Pak Joko Widodo untuk blusukan asap ke Riau melalui acara Kongkow Ijo. Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Perspektif Baru (YPB), Walhi, dan Greenpeace Indonesia pada Jumat (14/11) di Jakarta.

 

Dalam acara Kongkow Ijo ini digelar diskusi bertema Mendorong Solusi Kebakaran Lahan Gambut dan Hutan Indonesia. Dilanjutkan dengan pemutaran film berjudul Years of Living Dangerously yang merupakan film dokumenter yang dibintangi Harrison Ford saat mengunjungi hutan di Indonesia. Kemudian digelar juga Simulasi Asap, sehingga para peserta yang hadir dapat merasakan langsung bagaimana sulitnya beraktivitas dalam keadaan yang dipenuhi asap seperti yang dialami masyarakat di lokasi kebakaran hutan di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

 

Hadir dalam acara tersebut pendiri Yayasan Perspektif Baru Wimar Witoelar, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Abetnego Tarigan, Kepala Greenpeace Indonesia Longgena Ginting, CEO The Body Shop® Indonesia Suzy Hutomo, serta perwakilan masyarakat korban kebakaran lahan gambut dan hutan Riau Rachmi Carolina dari Riau.

Kongkow Ijo ini diawali dengan pemaparan oleh Rahmi Carolina tentang bagaimana sulitnya hidup dan bernapas di ruang yang penuh asap. "Kalau pada umumnya saat anak-anak berangkat sekolah, orang tuanya mengingatkan agar tidak lupa membawa dasi atau bekal, kami tidak! Orang tua kami selalu mengingatkan jangan lupa membawa masker," ujarnya.

 

"Saya adalah satu-satunya yang mempunyai masalah dengan asap diantara keluarga saya yaitu alergi terhadap asap. Tapi mau gimana lagi, kami tidak mau pindah karena kami Cinta Riau". Begitulah yang diungkapkan oleh Rahmi menunjukkan kecintaannya terhadap Riau. Walaupun dia mempunyai alergi terhadap asap, tapi dia memilih tetap bertahan di ruang yang penuh asap itu.

 

Selanjutnya dalam kesempatan tersebut Wimar Witoelar mengatakan bahwa surat resmi YPB, Walhi, Greenpeace Indonesia yang dikirim pada 29 Oktober 2014 untuk mengajak dan bersedia memandu Presiden Jokowi blusukan asap telah mendapat respon positif.

 

“Pada Kamis pagi (13/11) kami telah bertemu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya membahas mengenai rencana Presiden untuk Blusukan Asap,” kata beliau.

Menurut Longgena Ginting, “Kita berkejaran dengan waktu untuk menyelamatkan lahan gambut dan hutan kita yang tersisa. Bila kita gagal menyelamatkannya maka kita akan kalah dalam melawan perubahan iklim. Kita harus menyelamatkan lahan gambut dan hutan sebelum terlambat.”

 

Abetnego juga turut mengatakan, dengan dukungan publik yang sangat besar "blusukan asap" menjadi momentum terobosan Jokowi dalam penyelesaian akar masalah kebakaran hutan dan bencana asap di Indonesia.

 

"Jokowi tidak boleh ragu untuk melakukan penegakan hukum terhadap perusahaan yang terbukti melakukan pembakaran dan pengerusakan lahan gambut dan hutan yang telah menyebabkan bencana asap," ucap Abet. Pencabutan izin perusahaan yang 'nakal' adalah bentuk ketegasan negara dalam menjamin hak masyarakat atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

 

Suzy Hutomo sebagai CEO The Body Shop Indonesia memberikan perspektifnya sebagai pelaku bisnis, penanganan ini juga seharusnya merupakan perhatian pemerintah dan dunia bisnis. Selain berdampak terhadap keragaman hayati, ekspansi kelapa sawit juga mempengaruhi kondisi kehidupan masyarakat di sekitar perkebunan sehingga sering menimbulkan konflik atas lahan, kabut asap dan pelanggaran hak asasi manusia. Inilah sebabnya mengapa The Body Shop telah membuat komitmen untuk terus menjamin bahwa minyak kelapa sawitnya berasal dari sumber yang tersertifikasi RSPO.

 

Selain Organisasi-organisasi civil society diatas, permintaan agar Presiden Jokowi Blusukan Asap sebagai langkah awal upaya mengatasi kebakaran lahan gambut dan hutan juga banyak disuarakan oleh publik. Hal tersebut terlihat dari terus bertambahnya dukungan pada petisi di www.change.org/blusukanasap. Hingga Jumat siang (14/11) petisi yang diluncurkan pada Selasa, 28 Oktober 2014 tersebut telah mendapat dukungan 26.162 orang.

 

Mereka yang ada di ruangan saat itu tidak ada kepentingan pribadi untuk meraih keuntungan, melainkan menaruh dukungan dan perhatian bagi suara rakyat Riau. Bersama dukung blusukan asap agar saudara-saudari kita yang di Riau hidup sehat dan bersih dari asap.

Print article only

0 Comments:

« Home