Articles

Penilaian akhir tahun terhadap blusukan asap Jokowi

Perspektif Online
12 December 2014

 

Chellsa Ayu dan team Perspektif Baru
Habis Blusukan Asap, Tumbuhlah Kelestarian Hutan
Jakarta, 10 Desember 2014 – Di awal pemerintahannya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah melakukan satu langkah konkrit untuk menyelesaikan permasalahan kebakaran lahan gambut dan hutan dalam Blusukan Asap ke Riau. Jokowi berkomitmen untuk melanjutkan moratorium yang penting untuk memperbaiki praktik tata kelola hutan dan perlindungan terhadap masyarakat di dalam dan sekitar hutan.
 
Yayasan Perspektif Baru (YPB) menyelenggarakan Diskusi Catatan Akhir Tahun berjudul “Habis Blusukan Asap, Tumbuhlah Kelestarian Hutan” yang merujuk pada komitmen Jokowi saat Blusukan Asap. Dalam acara ini hadir Wimar Witoelar(Pendiri YPB) sebagai moderator dan sebagai pembicara adalah Martua Sirait(Dewan Kehutanan Nasional), Haris Gunawan (Direktur Pusat Studi Bencana Universitas Riau), Nurdiana Darus (Deputi Teknologi Sistem dan Monitoring BP REDD+), dan San Afri Awang (Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan).
Martua Sirait mengatakan bahwa penyebab kerusakan hutan adalah lemahnya perencanaan atau pengelolaan lingkungan (termasuk hutan), dimana ketidakadilan distribusi hutan sehingga konsensi mendapat lahan yang lebih banyak daripada masyarakat. Pada pemerintahan sebelumnya telah dilakukan berbagai upaya untuk menanggulangi kerusakan hutan seperti penanaman seribu pohon. Namun kita perlu mengoreksi pengelolaan lingkungan yang salah bukan sekedar merehabilitasi. “Aksi penanaman pohon belum cukup menolong hilangnya jutaan hektar untuk HTI, tetapi dengan tugas pemerintah baru dalam melanjutkan moratorium dapat memberikan dampak besar bagi kelestarian hutan” ujarnya.
Menurut Nurdiana Darus, Blusukan Asap yang dilakukan Jokowi di sungai Tohor menjadi langkah baik untuk membenahi One Map. One Map adalah mengacu pada satu referensi, satu standar, satu basis data, dan satu geoportal untuk lebih tertata dalam perencanaan dan kelola tata ruang. BP REDD+ akan terus meningkatkan sistem sehingga kebakaran bisa dideteksi beberapa bulan sebelumnya dan data tersebut akan dikirim kepada pemerintah di daerah tersebut untuk ditindak lanjuti pencegahannya.
Haris Gunawan mengatakan bahwa saat ini kita berkejaran dengan waktu untuk menyelamatkan gambut. Kita juga harus mulai melakukan sekat kanal seperti yang dilakukan Jokowi untuk membahasi gambut sehingga mengurangi kebakaran lahan gambut.
Masalah kebakaran hutan dan lahan gambut telah terjadi selama 17 tahun berturut-turut sehingga banyaka orang yang telah terenggut hak kesehatannya dengan terserang infeksi saluran pernapasan (ISPA) terutama anak-anak. “Kami memiliki mimpi bukan lagi ISPA tetapi membuat SPA Air Gambut,” tambahnya.
San Afri Awang menyatakan bahwa hanya tiga hal yang perlu kita lakukan untuk mewujudkan hutan lestari. Yang pertama adalah memantapkan kawasan termasuk mereview perizinan konsesi dan pengukuhan lahan. Kedua, jangan pernah mengambil hasil alam melebihi daya dukung alam. Ketiga, jika terjadi kerusakan hutan, kita harus melakukan replanting. Jika tiga hal ini dilakukan, maka hutan lestari akan terwujud.
Blusukan Asap yang dilakukan Jokowi merupakan langkah awal untuk kita melakukan aksi nyata dalam menyelamatkan lahan gambut dan hutan dari kebakaran. Kita harus melindungi gambut supaya tetap dalam kondisi basah agar tidak mudah terbakar dan membenahi izin-izin konsesi yang berada di kawasan tersebut. Kelestarian hutan tidak hanya berhenti sampai di Blusukan Asap saja namun kita harus mewujudkannya dalam aksi nyata kita.
 

 

 

Print article only

0 Comments:

« Home