Articles

Presiden harus “move on”, korbankan apa yang sudah tidak bisa diselamatkan.


29 January 2015

Wawancara Trans TV dengan Wimar Witoelar

 transkrip oleh 

Rahel Irianti

 


Melihat kisruh perseteruan antara KPK dan POLRI saat ini, sikap seperti apa yang diperlukan oleh Jokowi untuk menghadapi situasi ini?

 

Saya kira Presiden Jokowi harus sadar betul bahwa segala harapan orang-orang pada waktu terpilihnya, hampir terhapus semuanya sekarang. Kalau pun dia bisa bertahan, dia harus mulai dari nol dan dia harus kehilangan banyak sekali dukungan dari orang-orang baik hanya karena dia melayani orang-orang yang kurang baik.

 

Bagaimana dengan rekomendasi tim 9 yang intinya mengharuskan Presiden tidak melantik Komisaris Jenderal Budi Gunawan, apa ini rekomendasi yang tepat ? Dan apa konsekuensinya bagi Presiden ?

 

Rekomendasi tim 9 harus diikuti oleh Presiden dengan tidak melantik Budi Gunawan, masa tidak tahu pada waktu melantik tim 9 bahwa rekomendasinya akan keluar seperti itu? Kalau tidak dikabulkan, maka Jokowi seperti memberikan harapan palsu (PHP), itu sangat kejam bagi pendukungnya.

 

 

Apa konsekuensi politik bagi Presiden kalau tidak mengabulkan, maksudnya tetap melantik Budi Gunawan ?

 

Kalau tetap melantik, maka Jokowi terbakar jembatannya ke masyarakat sipil, relawan, orang baik, orang independen yang mendukungnya, dan menggantikannya dengan jembatan ke PDIP yang sebenarnya sudah sangat keropos. Jika Jokowi tidak cepat-cepat membebaskan diri dari PDIP, maka dia akan kehilangan mandatnya. Di kabinetnya banyak sekali orang baik. Coba lihat saja ada Siti Nurbaya, Susi Pujiastuti, Andi Wijayanto dengan tim Seskab. Banyak orang baik tapi mereka akan ikut kena banjir bandang oleh arus kejahatan yang berputar sekitar Nasdem, PDIP dan orang-orang lama itu.

 

Misalnya Presiden akhirnya mengikuti rekomendasi tim 9 untuk tidak melantik Budi Gunawan, maka dia akan menghadapi partai pengusung, menghadapi kekuatan parlemen, gimana ?

 

Karena awalnya sudah tidak jelas maka makin lama makin kepepet. Kalau kata orang sekarang harus “move on”, korbankan apa yang sudah tidak bisa diselamatkan. Dukungan tulus dari PDIP dan NasDem tidak bisa diselamatkan, itu hanya mengganggu. Jadi harus berani ambil resiko dengan melepaskan diri dari dua partai tersebut dan membangun dukungan baru dari masyarakat umum dan orang-orang parpol yang sekarang mendukung Jokowi. Tidak usah memikirkan partai dulu karena pemilu masih lama, tetapi pikirkanlah suatu basis kekuatan baru untuk tahun 2019 dengan maju sebagai partai baru. Banyak kok, partai Golkar, unsur masyarakat sipil termasuk menteri-menteri anggota kabinet, Di Nasdem banyak orang baik, ada Taufik Basari, Siti Nurbaya. Sekarang di Golkar banyak yang baik, yang menyingkirkan Aburizal Bakrie. Unsur-unsur baik di Indonesia itu banyak, hanya belum terorganisir. Nah bangunlah politik baru dengan orang-orang yang diluar struktur politik.

 

Menurut WW, situasi polemik atau buah simalakama seperti kondisi sekarang ini  mempengaruhi kualitas kekuatan kabinet saat ini?

 

Dalam kabinet banyak orang yang loyal ke satu pihak atau pihak lain. Orang yang tidak berloyalitas buta mendukung Jokowi tapi tidak secara buta. Ini pertama kali saya bicara didepan umum mengkritik secara terbuka. Jokowi, please jangan teruskan menyetir kendaraan mabok ini, tapi berhentilah untuk parkir, turunkan penumpang yang tidak baik dan jalan lagi dengan orang yang baik.

 

Menurut WW apa yang membuat Jokowi begitu sulit memutuskan padahal masalahnya sudah terang benderang?

 

Pasti karena ada hal-hal yang bagi kita tidak jelas, tetapi bagi mereka itu ada sejarahnya yaitu hubungan Budi Gunawan, bukan saja dengan Megawati tetapi juga dengan lainnya. Saya yakin bukan Jokowi yang buat deal, tetapi Jokowi tahu ada deal antara Megawati dan Budi Gunawan. Secara keliru Jokowi mengira dia harus ikut Megawati. Padahal Megawati sudah tidak absah lagi kepemiminannya.

 

Menurut WW ini kriminalisasi terhadap pimpinan KPK saat ini, apakah ada peran dari Istana gak?

 

Menurut saya tidak, tetapi itu jelas peran dari PDIP, Megawati dan Polisi. Istana sebenarnya bingung tidak berani berbuat. Coba, di Istana itu ada siapa ? Jokowi ternyata betul naïf soal politif, Andi Wijayanto orang baik, Pratikno orang baik, gak ada orang Istana yang jahat, yang jahat itu orang diluar semua.

 

Konsekuensi yang akan di terima Jokowi jika tetap melantik Budi Gunawan?

 

Akan kehilangan dukungan rakyat. Itu bukan abstrak..kehilangan  dukungan media dan dukungan luar negeri, dan akan menjadi bahan tertawaan, baik Jokowi maupun Indonesia. Orang akan bilang benar juga ternyata benar juga Jokowi alatnya Megawati. Saya rasa Jokowi bukan alatnya Megawati, he’s much better than that. Dia itu orang baik, ksatria, dia masih bisa menyelamatakan diri dari cengkraman kekuatan orang-orang lama.

 

Cengkraman kekuatan lama yang terus membekap dia membuatnya dalam situasi sulit ini, bagaimana Presiden bisa melalui  aliran sungai seperti ini?

 

Harus benar-benar tegas. Gus Dur mengambil sikap yang tegas tetapi dia dijatuhkan. Jokowi mengambil sikap yang tegas, tidak bisa dijatuhkan karena dukungan rakyat kuat sekali. Dukungan rakyat terhadap Gus Dur sudah dilarutkan oleh press, oleh kepentingan komersial. Kalau Jokowi tidak, dia didukung oleh bisnis, pers, rakyat, polisi-polisi yang orang baik. Banyak dukungannya. Just believe in it.

 

Ini tim 9 rekomendasinya lebih baik diikuti oleh Presiden?

 

Harus diikuti, konsekuensi dia membentuk tim 9 harus diikuti. Tim 9 tidak mungkin keluar dengan rekomendasi yang lain kan? Itu sudah diperhitungkan, semua good guy ya keluarnya good.

 

100 hari kerja Jokowi, banyak masyarakat yang optimis. Bagaimana rapornya?

 

Selalu ada ukuran semu karena raport saja ada 26 nilai, kesimpulannya apa? Kalau evaluasi  100 hari itu pasti ada 1000 nilai, kesimpulannya yang mana? Yang saya tahu dalam bidang lingkungan dan hutan itu prestasinya gemilang. Dalam perikanan, dia membuat terobosan terbaik sejak kementerian itu dibangun. Dalam soal Lumpur Lapindo, dia akhirnya memberi ganjaran yang setimpal dengan kriminalitas yang menggenangkan desa-desa itu menjadi danau. Dalam banyak hal dia punya prestasi. Tapi secara terangkum belum disiapkan karena belum pembagian rapor. Pembagian rapor itu 5 tahun lagi. Nilainya saat ini seperti harga saham yang sedang turun. Tapi fundamentalnya kuat yaitu mandat rakyat. Dia pasti akan dapat nilai 8, mungkin bukan sekarang tapi tahun depan. Dia adalah asset terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini.

 

Masalahnya orang yang menilai rapor itu bukan guru, jadi dia tidak tahu bahwa Jokowi menghasilkan banyak hal bagus. Bad guys itu musuh Jokowi nomor dua, nomor 1 itu kebodohan.

 

Pemerintah kan baru memperpanjang kontrak Freeport untuk bisa mengekspor . Banyak aktivis yang mencemooh langkah pemerintah ini dan menganggap bahwa kebijakan pemerintah ini berpihak kepada asing.

 

Dalam masyarakat dengan inteligensi rendah di Indonesia, sering isu modal asing itu membangun kebodohan, seakan-akan kita harus hidup terpisah dari asing. Seakan-akan kita harus melarang modal asing masuk ke internet padahal justru kita harus mengundang modal asing masuk. Jadi kalau sudah bicara soal asing, orang itu tidak bisa berfikir. Mungkin dia mengira bahwa tidak ada manfaat dari asing tapi ujung-ujungnya masyarakat kita mendapat manfaat dari asing mulai dengan memakai twitter sampai pada pasar ekspor. Kita ini sukses karena kerjasama internasional, kekuatan Jokowi justru dukungan dunia. Kita ini bagian dari masyarakat internasional.

 

Print article only

0 Comments:

« Home