Articles

INDC Indonesia menjanjikan langkah melawan perubahan Iklim


21 September 2015

Oleh : Panji Kharisma Jaya

[transkrip lengkap wawancara Metro TV]

 

SEGMEN I

 

Ya, selamat pagi pemirsa. Perubahan iklim saat ini merupakan isu penting baik internasional mau pun nasional. Dan pada akhir tahun ini masyarakat internasional akan membahas kesepakatan universal untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dalam konferensi yang disebut Conference of Parties, atau COP ke-21 di Paris, Prancis. Dan di COP ke-21 Paris nanti setiap negara akan menyampaikan langkah-langkah yang diambil untuk menangani perubahan iklim dalam negerinya sendiri dalam draf INDC, atau Intended Nationally Determined Contribution. Dan Indonesia yang menjadi salah satu peserta COP juga sudah menyiapkan draf INDC yang dibuat oleh Dewan Pengarah Perubahan Iklim dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Nah, apa saja yang ingin dikomunikasikan Indonesia kepada dunia internasional dalam hal perubahan iklim? Bersama saya Lucia Saharui, kembali hadir dalam perbincangan khas 8-11 dan saat ini sudah hadir di studio, bapak Sarwono Kusumaatmadja, ketua Dewan Pengarah Perubahan Iklim dan bapak Wimar Witoelar, pendiri Yayasan Perspektif Baru.

Selamat pagi, Pak Sarwono dan Pak Wimar. Terima kasih sudah hadir di studio Metro.

Pak Sarwono mungkin bisa jelaskan terlebih dahulu, apa sih yang dimaksud dengan INDC ini?

 

Itu adalah pernyataan niat, ya, dari para peserta konferensi, atau para pihak, untuk menyatakan apa yang bisa dilakukan untuk ikut melakukan pengendalian terhadap perubahan iklim. Nah karena seluruh dunia ini harus beramai-ramai berusaha supaya iklim di dunia ini tidak melebihi rata-rata 2 derajat celcius dibandingkan dengan jaman sebelum industrialisasi. Karena diperkirakan kalau sudah lewat itu, ini akan kacau saja dunia ini. Banyak sekali malapetaka yang akan terjadi, dan ini sekarang juga sudah mulai kita rasakan.

 

Kita bisa rasakan ya. Nah, dalam setiap COP ini memang apakah selalu ada pernyataan langkah-langkah dari setiap negara?

 

Ini pertama kalinya.

 

Oh ini pertama kalinya?

 

Kalau dulunya itu, yang diputuskan oleh COP adalah, misalnya, negara-negara industri maju itu diwajibkan menurunkan emisi sekian persen, misalnya. Tiap-tiap negara ada jatahnya gitu. Nah kemudian ada negara berkembang, seperti kita, itu hanya diwajibkan melapor dan ikut serta dalam programnya tapi nggak ada ikatan apa-apa. Tapi sekarang nggak.

 

Dibalik sistemnya gitu ya?

 

Sekarang dibikin kaya bottom up gitu. Tiap negara dipersilahkan menyatakan kesanggupannya, kemudian nanti berdasarkan pernyataan kesanggupan itu ada usaha untuk mengagregasikan semua pernyataan niat itu untuk dilihat. Kalau akumulasi dari semua pernyataan dan niat ini dilaksanakan, tercapai nggak targetnya. Nah kemudian kalau sudah tercapai, tentunya dipersilahkan nanti tiap pihak merumuskan kembali.

 

Jadi bisa di-review lagi, ya?         

 

Bisa di-review, iya.

 

Nah kalau pak Wimar sendiri melihat bagaimana? Apakah gagasan INDC ini baik, pak?

 

Tentu sangat baik, karena pada intinya membuat proses ini lebih demokratis karena perubahan iklim sendiri demokratis. Dia kena pada miskin dan kaya, tua dan muda, lepas dari etnis agama dan sebagainya. Karena dia itu, akan, telah melandas semua orang, jadi tengah atasannya, atau mitigasi dan adaptasinya harus juga berdasar dari semua orang. Jadi, penting, ya.

 

Kalau dilihat, pak, seberapa parah sih, saat ini, efek dari perubahan iklim ini, pak, sehingga harus jadi perhatian dunia, begitu?

Semua orang sudah tahu, sudah merasakan perubahan iklim, tapi tidak tahu bahwa itu labelnya perubahan iklim. Kalau kita lihat, misalnya, banjir-banjir di pesisir, itu sangat besar kemungkinannya disebabkan, satu, oleh peningkatan berkala dari air, dan juga perubahan arus laut, gitu. Kalau di kutub utara, es itu meleleh itu bukan hanya meninggikan level permukaan, tapi juga mengubah arus laut yang biasanya rutin tiap tahun. Arus teluk Meksiko yang biasanya memanaskan pantai timur Amerika, mungkin jadi bergeser. Makanya New York, Washington, Boston tahun lalu itu winter-nya sangat dingin. Yang disana merasakan dingin, tapi nggak tahu itu perubahan iklim.

 

Okay. Jadi ini hal-hal yang seharusnya sudah mulai menjadi perhatian masyarakat dunia, ya pak, ya. Nah, pak Sarwono, siapa yang menggagas INDC ini kalau dari Indonesia?

 

Itu, putusan itu kalau nggak salah ya, diambil dalam konferensi yang di Polandia. Waktu itu kan udah mentok nih, buntu nih, dengan rigim yang top down dan ada beberapa negara yang keluar dari Protokol Kyoto itu karena dianggap ini nggak berhasil. Sehingga ada gagasan, kita balik saja, kita minta tiap-tiap pihak, ya, bikin kesanggupannya, begitu.

 

Nah dari Indonesia sendiri sudah disiapkan draf INDC ini ya.

 

Sudah.

 

Siapa saja yang turut menyiapkan draf ini, pak?

 

Kami di Dewan Pengarah yang menyiapkannya. Dewan Pengarah itu isinya, ya, adalah pejabat pemerintah yang pekerjaan sehari-harinya itu ada urusannya dengan perubahan iklim. Misalnya Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, BMKG ya. Dan dari Kementerian Luar Negeri misalnya karena mereka yang jadi juru runding, Kemudian para ilmuwan, seperti Profesor Murdiarso, Profesor Rizaldi Bur, kemudian juga dari LSM atau jaman sekarang disebutnya apa ya, CSO. Bukan CPO ya. Kalau CPO lain lagi. Dan juga para penggiat ya, lingkungan, seperti Bu Emi Hafidz, Ali Muhammad, semuanya ada di situ. Jadi nih, dari Kadin juga ada perwakilannya.

 

Okay.

 

Dan kemudian kami dibagi dalam apa yang disebut working groups. Ada working group satu sampai lima untuk membahas hal-hal yang khusus di dalam  perubahan iklimnya. Nah sebagai usaha bersama ini keluarlah draf INDC. Nah setelah ada konsensus di dalam, dilaporkan ke bu Menteri, bu Menteri ada penyesuaikan dikit-dikit, lalu dilaporkan ke pak Presiden.

 

Apa sih pak, isi dari draf INDC ini, pak?

 

Isinya begini, pertama, kita bagi periodesasi ya. Antara sekarang dan tahun 2020 itu yang dalam bahasa asingnya disebut the period of enhance enabling actions, jadi kaya persiapan, ancang-ancanglah. Dan kemudian INDC nya sendiri, programnya sendiri, itu adalah untuk 2020 dan seterusnya. Itu segmennya dua yang besar itu. Dan kemudian di dalam dokumen itu dijelaskan apa yang akan kita lakukan dalam segmen satu ini sampai tahun 2020 itu banyak sekali ya. Pertama, harmonisasi dari Undang-Undang yang berhubungan dengan perubahan iklim. Nah kemudian juga meningkatkan kemampuan dari pemerintah daerah, atau dalam bahasa asingnya itu disebut sebagai sub-national jurisdictions, untuk menangani masalah-masalah lingkungan, perhitungan emisi, kemudian juga untuk melakukan management dari tapak, apakah itu industri, pertanian, segala macam. Dan berikutnya adalah menciptakan suatu sistem pemantauan emisi yang bisa dipercaya. Dan ada lagi misalnya.

 

Banyak ya pak, ya. Lebih lanjut tentang gagasan ini kita akan bahas nanti. Pemirsa, jangan beranjak dulu. Kami masih akan kembali dengan perbincangan terkait bentuk komitmen Indonesia terhadap perubahan iklim, sesaat lagi setelah pariwara.

 

METRO TV – Komitmen atas Perubahan Iklim (WW & SKA)

15 September 2015

 

 

Segmen 2

Kami masih membas tentang INDC sebagai bentuk komitmen Indonesia dalam mengatasi perubahan iklim, bersama Bapak Sarwono Kusumaatmaja dan Bapak Wimar Witoelar. Pak Sarwono tadi sudah menjelaskan sedikit gagasan dari Indonesia dalam daft INDC, kira-kira tema besarnya apa, Pak?

 Tema besarnya adalah menumbuhkan ketahanan terhadap iklim, dari orang-orangnya, infrastrukturnya, cara bekerja, untuk menjamin ketersediaan energy, pangan, dan sumber daya air. Karena itu merupakan penyangga kehidupan yang strategic untuk kita, untuk umat manusia pada umumnya. Untuk mencapai itu, kita menjelaskan apa yang akan kita lakukan. Kemudian ternayata sebagai negara berkembang, kebutuhan kita yang sangat menonjol adalah kebutuhan untuk beradaptasi. Kemudian juga dari diskusi itu, ada temuan bahwa dalam banyak hal Indonesia ini bisa melalukan adaptasi dan mitigasi sekaligus karena karakter geografi kita begitu. Dan yang berikut adalah Indonesia sangat rentan terhadap perubahan iklim, karena kita terdiri dari pulau-pulau kecil dan juga pantianya panjang sekali. Dan juga karena 60% dari penduduk kita dan juga 60% dari kegiatan ekonomi kita itu ada di dataran rendah. Jadi kalau ada bencana alam atau bencana yang disebabkan perubahan iklim, yang kena itu banyak sekali. Dan yang paling susah nasibnya yaitu kalangna miskin. Oleh karena itu kami mengadopsi seluruhnya, program yang dinamakan SDG (Sustainable Development Goals) post 2015 yang sudah ditetapkan oleh PBB.

Sektor-sektor apa yang menjadi fokus, Pak?

Misalnya begini, kalau management lahan kita di pertanian dan kehutanan itu mengalami perbaikan-perbaikan yang signifikan, itu nanti emisi kita pindah, ke energi. Tapi sekali lagi kalau management hutan kita baik, emisi yang terjadi di energi bisa diserap oleh hutan kita, sehingga totalnya emisi kita relative rendah. Itu challengnya.

Apalagi terakait kabut asap yang sekarang terjadi ya Pak.

Nah itu menjadi cotoh dimana akibat perbuatan manusia yang dulunya dampaknya kecil, karena iklimnya masih teratur, sekarang menyebabkan malapetaka karena iklim sudah berubah, kebiasaan kita tidak berubah.

Jadi mungkin ada gagasan penanggulanagan kabut asap ini, Pak?

Yang sekarang sangat bagus karena kita sudah serius menangani asap itu dengan mengerahkan segala macem kemampuan kita untuk menangani, baik kebakaran maupun asapnya. Tapi di masa yang akan datang, yang harus kita kembangkan adalah kemampuan pencegahan, mitigasi. Supaya tidak terjadi lagi. Dan ini ada berbagai hal yang harus kita tinjau ulang. Pertama misalnya, laha n gambut itu tidak boleh dieksploitasi, karena mayoritas kebakaran yang terjadi sekarang di lahan gambut yang tereksploitasi. Kedua, kita punya prediksi kalau mau buka lahan itu, kita bakar, karena itu yang paling murah. Dulu itu tidak apa-apa, malah diatur itu.

Tidak ada masalah ya?

Tidak ada masalah karena dulu iklimnya masih teratur. Tapi sekarang jadi problem besar, sehingga perlu lebih di masyarakatkan lagi kebijakan PLTB (Persiapan Lahan Tanpa Bakar).

Jadi perlu edukasi ya.

Iya, perlu edukasi dan juga apa sih alternatifnya yang bagus kita laksanakan daripada membakar gitu. 

Pak Wimar, mendegar gagasan-gagasan yang ada dalam draft INDC ini, karakter apa yang seharusnya disampaikan Indoneisa dalam INDC?

Saya kira menonjolkan dan itu sudah dilakukan oleh Dewan Pengarah umumnya, menunjukkan bahwa Indoensia itu memang negara yang sangat rentan terhadap climate change tapi juga negara sangat potensial mengatasinya. Sebab dalam masyarakat kita, sudah ada sebetulnya mekanisme untuk adaptasi bahkan mitigasi. Misalnya masyarakat adat yang sudah bergenerasi hidup di hutan, sebetulnya tahu bagaimana bergaul di hutan, bagaimana mememiliharanya. Mereka juga membakar dan mengekploitasinya, tapi dengan wawasan lingkungan. Setelah masyarakat adat bergeser ke kepentingan-kepentingan lain, dan negara tidak mencegahnya maka keberadaan masyarakat adat yang puluhan juta jumlahnya  tergeser. Untunglah sekarang dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi 2 tahun yang lalu dan pemerintah yang sangat mendukung, hal itu sudah berbalik. Hal-hal semacam itu sebaiknya diketahui oleh dunia karena itu adalah cara Indonesia secara alami menghadapi perubahan iklim.

Jadi menurut anda peran masyarakat adat ini harus dikembalikan lagi?

Iya betul. Tentu yang lain banyak, tapi yang saya tonjolkan yang unik Indonesia. Seluruh dunia aliansi masyarakat adat itu yang paling, efektif, terkenal dan dihargai. Dan sekarang didukung pemerintah, itu yang berbeda dari tahun-tahun lalu. Tahun lalu didukung juga tapi tahun ini lebih keras lagi dukungannya, dari presiden dan menteri.

Ada nilai plus apalagi dari INDC Indonesia ini?

Bahwa dengan besarnya Indoensia dan kegawatan masalahanya, jika Indonesia berubah, itu anyak yang untung. Juga Indonesia dengan garis terpanjang di dunia, kecuali Kanada, Kanada berbeda. Kita bisa kasih contoh untuk pulau-pulau kecil, negara-negara pulau kecil, banyak kekhasan kita jadi.

Dan kalau di kit amembaik, tentunya akan berefek ke negara-negara tetangga ya?

Kita harus ingat, kita jangan tidak mau urusan atau tergantung dengan urusan luar negeri. Semua itu saling tergantung. Jadi kalau Indonesia membaik, dunia terbantu. Tapi karna Indonesia besar, efeknya lebih besar dari Singapur, maaf ya. Jadi ini negara besar.

Seperti kabut kita yang sekarang jadinya kemana-mana ya.

Betul, itu kan kabut masalah 18 tahun, jadi berbagai pemerintah jadi agak kurang fokus. Sekarang fokus tapi baru satu tahun jadi berat sekali mengatasinya. Tapi seperti dikatakan Pak Sarwono, pendekatannya sudah bagus, semua daya sudah digunakan.

 

Segmen 3 

 

Ya kembali lagi dalam perbincangan mengenai bentuk komitmen Indonesia dalam menangani perubahan iklim bersama Bapak Sarwono Kusumaatmaja dan juga Bapak Wimar WItoelar. Pak Wimar mungkin bisa Anda dijelaskan bagaimana upaya sosialisasi yang dilakukan supaya masyarakat umum ini bisa memahami pentingnya INDC ini?

WW : Ya kami selama 20-30 tahun memang bergerak dalam sosialisasi dan public relations ya, jadi juru bicara sana-sini. Jadi kalau kami lihat ada suatu issue yang perlu diketahui oleh masyarakat dan masyarakat belum mengerti dan masyarakat itu rumit. Kami secara sukarela atau kadang-kadang ditugaskan ikut membantu menyambung rantai pengertian itu. Kira-kira 4-5 tahun yang lalu, kami Yayasan Perspektif Baru mulai sangat serius memperhatikan climate change, dari mulai tidak ngerti jadi ngerti, tidak semengerti Pak Sarwono yang mantan Menteri Lingkungan, tapi mengerti lah. Cukup mengerti untuk bicara dengan masyarakat, cukup mengerti ungkapan para ahli. Jadi sebagai jembatan kami sangat menikmati, usaha kami  kemana-mana roadshow di kampus tiap minggu, kami ada wawancaara mingguan juga tapi bukan saingan metro tv ya.

 

Kenapa Perspektif Baru tertarik dengan mengatasi perubahan iklim?

WW : Segala isu yang penting dan positif itu menarik kami, apalagi sekarang terlalu banyak isu yang negative yang tidak berdasar, yang hendak memojokkan orang-orang yang berbuat baik jadi kami ingin secara total mendukung orang yang berbuat baik, dengan atau tanpa penugasan.

 

Pak Sarwono, sejauh mana gagasan draft INDC Indonesia ini?

SKA : Pertama sudah dilaporkan ke Presiden, dan Presiden menyambut dengan baik dan kelihatannya gembira melihat isinya. Kemudian beliau tentunya ada usul supaya formulasinya bisa dipadatkan. Dan kemudian Ibu Menteri, dia memutuskan untuk mengundang komentar dari publik, sehingga kemudian naskah itu yang dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia itu dimasukkan ke website Kementerian Kehutanan.

WW : Kita ada page khusus mengenai climate change dan COP Paris.

SKA : Siapapun boleh menulis kepada kami untuk mengusulkan.

WW : Dan saya jamin dibaca, saya lihat sendiri Pak Sarwono membaca satu-satu masukan itu.

SKA : Dan kami bikin tim untuk mengulas massukan-masukan itu, prinsipnya setiap masukan itu harus dijawab. Jadi nanti setelah submisi baru nanti kita akan jawab

 

Ditunggu sampai kapan Pak?

SKA : Sampai tanggal 17 September

 

Rencana submit INDC ini kapan Pak?

SKA : Tanggal 20an lah.

WW : 2 hari lagi untuk mengajukan usul.

SKA : Dan kemudian masukan ini ada yang berhubungan dengan INDCnya, ada juga bahan-bahan yang berguna untuk tahapan selanjutnya. Jadi ini bukan barang mati yang kita terima ini, yang kedua yang kita lakukan adalah kami menelusuri setiap pernyataan yang kami muat di INDC ini.  Sumbernya harus jelas darimana. Kalau misalnya sumbernya di pemerintah, itu harus diukur sampai ketemu dasar hukumnya, ketemu mata anggarannya. Kalau dari badan-badan riset sama, ini metodologinya bagaimana, apakah reliable atau tidak.

 

Bagaimana Indonesia akan memperjuangkan INDC ini dalam COP nanti Pak?

SKA : Kami sudah menyerahkan semuanya, ini tentunya dari pihak kami ya. Ada suatu titik dimana tugasnya sudah selesai dengan menyusun INDC, selebihnya panglima perangnya adalah Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, jadi ini amunisinya yang dipersiapkan. Kami barusan sudah dapat undangan dari beliau untuk membahas persiapan ke Paris. Tapi pada pokoknya kita sudah punya tema, sudah punya program. Lantas kita harus baca lapangan, harus menentukan apa yang ingin kita capai, siapa yang mendukung kita, siapa yang kira-kira lawan, kemudian cara apa yang terbaik, siapa yang harus bicara, arsitektur delegasinya bagaimana, protokol komunikasinya bagaimana, follow upnya bagaimana, itu ruwet sekali.

 

Supaya ini tidak sekedar sebagai gagasan saja ya, tapi nanti menjadi tindak lanjut Indonesia. Terimakasih Pak Sarwono dan Pak Wimar untuk informasinya semoga bermanfaat bagi pemirsa di rumah. Ya pemirsa demikian pembicaraan kami dalam 8 11. 8 11masih akan kembali dalam sejumlah informasi menarik lainnya, jangan kemana-mana saya Lucia Saharui akan undur diri. Sampai jumpa.

Below are the YouTube's link:

September, 15 2015

http://video.metrotvnews.com/play/2015/09/15/431256/indc-sebagai-bentuk-komitmen-indonesia-atasi-perubahan-iklim

https://www.youtube.com/watch?v=EdFjhyks70g&feature=youtu.be 

 

Print article only

0 Comments:

« Home