Articles

Mencari Kesepakatan Baru Penyelesaian Perubahan Iklim Global di Paris


24 November 2015

Oleh : Doddy S. Sukadri

 

Tanggal 13 Nopember 2015 lalu, komunitas dunia baru saja dikejutkan oleh peledakan bom dan penembakan sadis yang terjadi di Paris, padahal dua minggu lagi di sana akan  dilangsungkan perhelatan akbar yang akan mengusung isu perubahan iklim global. Conference of the Parties (COP) United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang ke 21 (COP-21) yang akan diselenggarakan di Paris sebenarnya merupakan pertemuan puncak yang diselenggaran secara rutin setiap tahun, dan kali ini akan diselenggarakan di Paris. Tahun 2007 yang lalu Indonesia pernah kebagian menjadi tuan rumah COP-13 di Bali dan  menghasilkan Bali Action Plan (BAP).

 

Menurut informasi yang tersedia, sekitar 40 ribu peserta yang mewakili hampir 200 negara, termasuk beberapa Kepala Negara, akan berkumpul di Paris selama dua minggu, yaitu pada minggu pertama dan kedua bulan Desember 2015. Mereka akan bekerja keras untuk terus mencari penyelesaian menyeluruh tentang isu pemanasan global dan perubahan iklim, yang tidak kunjung selesai sejak lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Pertemuan di Paris diharapkan akan menghasilkan kesepakatan global yang adil antara  Negara maju dan Negara berkembang melalui penerapan prinsip Common But Different Reponsibilities and Respective Capabilities (CBDR & RC). Prinsip lainnya adalah apa yang disebut dengan “applicable to all”, artinya kewajiban penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) akan diberlakukan mulai tahun 2020 untuk setiap negara, baik Negara maju maupun Negara berkembang. Karena itu, sebelum bulan Nopember 2015 ini, setiap Negara diminta untuk menyampaikan kontribusi penurunan emisi GRK Nasionalnya yang disebut dengan Intended National Determined Contribution (INDC). Indonesia, melalui focal point UNFCCC, dhi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), telah menyampaikan INDC kepada Sekretariat UNFCCC pada tanggal 24 September 2015 yang lalu.

 

Kesepakatan Paris pada dasarnya akan menggantikan kesepakatan global sebelumnya yaitu Kyoto Protocol (KP), yang lebih menuntut kewajiban penurunan emisi GRK negara-negara maju yang pada saat revolusi industry dahulu banyak menggunakan bahan bakar fosil yang banyak mengeluarkan emisi GRK, dan menyebabkan pemanasan global.

 

Sejak tahun 2011, para negosiator perubahan iklim telah bekerja keras untuk menyusun draft kesepakatan yang akan mengikat (legally binding) tentang hak dan kewajiban setiap negara. Sampai saat ini, kesepakatan yang ada hanyalah Kyoto Protocol, dimana Indonesia telah meratifikasinya sejak tahun 2004.

 

Kesepakatan Paris akan memberikan dampak yang luar biasa terhadap mekanisme dan cara-cara bagaimana pembangunan ekonomi dunia harus dilaksanakan  dengan rendah emisi. Masyarakat dunia modern yang selama ini di nina bobokan oleh penggunaan bahan  bakar fosil, harus  merubah  kebiasaannya dengan penggunaan energy baru dan terbaharukan, walaupun penggunaan bahan bakar fosil mungkin hanya dikurangi saja.Tugas COP 21 adalah tetap berusaha untuk memperoleh komitmen para Pihak guna mengikis emisi GRK yang sebagian besar disebabkan karena penggunaan bahan  bakar  fosil.

 

Apa Urgensi Pertemuan Paris COP-21?

 

Kecepatan pertumbuhan ekonomi di beberapa Negara berkembang dalam beberapa tahun terakhir ini sebenarnya cukup merisaukan dari sudut pandang perubahan iklim. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan salah satu variable emisi GRK. Semakin tinggi GDP suatu negara, maka semakin tinggi pula emisi GRKnya. Menurut informasi dari para akhli perubahan iklim, tahun 2013 tercatat sebagai tahun tertinggi emisi GRK-nya, dan ini terjadi khususnya karena pembakaran bahan bakar fosil untuk energi, industri, dan transportasi. Konsentrasi emisi gas CO2 di atmosfir telah melewati ambang batas psikologis 400 parts per million (ppm) sejak dimulainya pengukuran di Mauna Loa Observatory Hawaii pada tahun 1958.

 

Tahun 2014 tercatat sebagai tahun terpanas di dunia, namun rata-rata temperature tahun 2015 diduga lebih panas lagi dibandingkan dengan tahun 2014. Kenaikan temperatur yang terus terjadi akan berdampak buruk terhadap sektor-sektor pertanian, kesehatan, perikanan dan kelautan. Kenaikan temperatur global akan mempercepat melelehnya lapisan es di wilayah kutub, sehingga menyebabkan kenaikan permukaan air laut. Kenaikan permukaan air laut akan mengancam tenggelamnya pulau-pulau kecil di seluruh dunia. Menurut para ahli, kenaikan permukaan air laut akan mencapai satu meter pada tahun 2100. Bagi Indonesia, ini merupakan ancaman serius mengingat Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia. Di sector pertanian, produk-produk pertanian akan mengalami penurunan akibat musim panas yang ekstrim. Selain itu, musim hujan yang singkat dengan intensitas curah hujan yang tinggi akan menimbulkan banjir dan erosi di berbagai belahan dunia.

 

Belajar dari COP-15 tahun 2009 di Kopenhagen yang kurang memperoleh dukungan dari negara-negara berkembang, COP-21 di Paris diharapkan dapat menyatukan harapan bersama antara Negara maju dan Negara berkembang. Apabila ini terwujud, maka kesepakatan perubahan iklim global yang akan berlaku mulai 2020 akan merubah paradigm pertumbuhan ekonomi, politik, dan  social komunitas global dengan cukup signifikan.

 

Struktur Ekonomi

 

Ekonomi hijau akan berubah dari hanya sekedar konsep dan atau hipotesis menjadi implementasi. Penggunaan “energy hijau“akan menyediakan berbagai alternative pemanfaatan energy baru dan terbaharukan yang rendah atau bebas emisi karbon dengan biaya yang relative murah.  Pada  awal tahun ini, mantan Menteri Perubahan Iklim Inggris, Greg Barker, menyampaikan keyakinannya bahwa hal ini segera akan menjadi kenyataan. Sebagai contoh, biaya pembangkit energi yang berasal dari sinar matahari (solar energy) telah turun sebesar 80% dalam sepuluh tahun terakhir. Bila pada tahun 2009, energi solar hanya menyumbang 23 giga watts of capacity (GW), maka pada saat ini telah jauh melejit menjadi177 GW, dengan tambahan 40 GW dalam tahun 2014. Selanjutnya, investasi dalam energy terbaharukan dan biofuels naik sebesar USD 270 milyard, atau17% dalam tahun2014 dibandingkan dengan tahun 2013. Yang cukup mengagetkan adalah kenyataan bahwa Cina yang selama ini dianggap sebagai penyumbang emisi GRK terbesar, telah menyisihkan investasi untuk pembangunan energy terbaharukan sebesar 31% pada tahun 2014 yang lalu, seiring dengan penurunan energinya yang berasal dari batu bara. Kecenderungan pergeseran global dalam peningkatan penggunaan energy terbaharukan ini dituangkan dalam laporan studi yang dilakukan International Energy Agencytahun 2014 yang menyampaikan sembilan kata kunci sebagai simpulan apa yang terjadi saat ini: “Fossil fuels still dominate, but alternatives are now emerging”.

 

Struktur Politik

 

Dua Negara raksasa penyumbang emisi GRK terbesar, Amerika Serikat dan Cina, sejak bulan Nopember tahun lalu telah bertemu dan menunjukkan niat baiknya untuk menyelesaikan isu perubahan iklim. Cina menyampaikan akan menurunkan emisi puncaknya (peak emission rate) pada tahun 2030; sementara AS menetapkan target reduksi emisinya sebesar26-28% dibandingkan tingkat emisinya pada tahun 2005. Walaupun masih jauh dari harapan, kedua Negara tersebut sudah menunjukkan niat baiknya untuk memberikan perhatian terhadap masalah perubahan iklim global. Selanjutnya, pada bulan Juni tahun ini, EU dan Cina telah bersepakat untuk  mencapai target penurunan  emisi bersama melalui mekanisme perdagangan karbon dan teknologi hijau. Kemudian melalui pertemuan G7, Kanada dan Jepang  sepakat untuk tidak menggunakan bahan bakar fosil paling lambat pada tahun 2100. Pertemuan G20 yang tinggal menghitung hari, diharapkan juga akan menyinggung resiko financial berkenaan dengan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil. Diharapkan Saudi Arabia, AS, Rusia, India, Australia, dan Cina akan mengambil bagian dalam  pertemuan ini.

 

Prognosa

 

Nampaknya COP-21 Paris akan berakhir dengan kesepakatan baru tentang arsitektur penanganan perubahan iklim pasca 2020.  Namun demikian  pertanyaannya adalah bagaimana ambisi untuk mereduksi emisi tersebut akan dicapai? Kelompok pesimistik mengkhawatirkan perdebatan panjang yang tiada berujung antara para negosiator, sementara para pengambil kebijakan sering kali berada di luar arena negosiasi. Maka kesimpulannya adalah jangan terlalu berharap bahwa kesepakatan Paris menjadi satu-satunya solusi perubahan iklim. Paris hanyalah salah satu upaya global. Upaya ini akan memakan waktu lama untuk mencapai apa yang diharapkan kita semua. Yang terpenting adalah bagaimana membuat semua pihak terus bergerak maju pada arah yang sama. Inilah yang akan menjadi kritis ketika kita semua berada di Paris nanti.

 

Print article only

0 Comments:

« Home