Articles

Menghayati terorisme dalam perspektif baru

Perspektif Online
10 November 2005
oleh Wimar Witoelar
 
Agak beda, bahkan mula-mula sangat berbeda, menonton berita televisi pada tanggal 9/10 November. Televisi internasional CNN-Fox-BBC dikuasai berita pemboman tiga hotel besar di Amman, Jordan. Begitu kita switching channels ke televisi nasional, kita melihat berita tanah longsor di Lombok, kecelakaan di kereta api mudik di Jawa Tengah. Kemudian muncul berita penmggerebekan villa teroris di Batu. Akhirnya cerita mengenati tewasnya Dr Azahari mengisi berita dengan diselingi liputan peristiwa teroris terbesar sejak 9-11 (atau 11 Sep yaitu 11/9), yaitu teror 11-9 (atau 9 Nop yaitu 9/11). dimana negara dengan security terkuat di Timur Tengah (setelah Israel?) dan sekutu tangguh Amerika Serikat mendapat serangan di tiga hotel internasional di pusat prestige ibukota Jordan.
 
Dengan persediaan channel TV lengkap, bisa diikuti berita susul-menyusul dengan variasi sumber yang lebar, dari omongan ibu kos di Batu Malang sampai kepada Wakil Ketua Senate Intelligence Committee, Jay RockefellerTelevisi dan situs berita menyediakan perspektif global untuk disimak seharian. Hasilnya entah tambah ngeri atau bingung, atau tetap cuek. Atau mencoba membentuk perspektif baru. Kita pilih yang terakhir, coba-coba dalam format Web 2.0 dimana tiap orang boleh komentar (btw boleh tanya apa itu Web 2.0 kalau belum tahu).
 
Ibu kos bilang, dia nggak ngerti, apa yang dimauin teroris itu, dan kenapa kok nggak bisa disetop aja. Jay Rockefeller menyatakan "tidak mengerti, kecewa dan marah" bahwa kemampuan intelijens AS rupanya tidak mampu mengurangi ancaman teroris. Ngapain aja sejak 9/11? katanya lirih. Sebetulnya semua orang bingung mengapa terorisme berkembang terus, apa motifnya, dan bagaimana mengatasinya. Tapi kebanyakan diam karena banyak orang yang ribut.
 
Sukses Polri dalam menghentikan Dr Azahari patut mendapat acungan jempol, terutama dari pers Australia yang selalu mencela bahwa Indonesia melindungi terorisme. Tapi kebanggaan kita jangan menjadi nasionalisme sempit dengan mengatakan bahwa kita lebih hebat dari negara lain.
 
Memang aparat anti-terorisme kita benar hebat, dan kita boleh memberi contoh kepada AS dan Australia yang lebih banyak menghabiskan tenaganya untuk meneriakkan solgan daripa mncegah terorisme. Mungkin mereka menangkap beberapa teroris tapi dalam prosesnya menambah semangat untuk terorisme baru. Osama bin Laden tidak disebut lagi, Saddam Hussein sedang mengurus poengadilan, sekarang Zarkawi diproyeksikan akan melancarkan teror besar di AS sebelum akhir tahun. Kenapa harus ember, diteriak-teriakkan, kenapa nggak dicegah saja diam-diam?
 
"Teriak tanpa makna" bukan monopoli orang Barat. Di televisi nasional kita banyak sekali yang memilih menggunakan Perspektif Sempit. Seorang :"pakar" menghabiskan waktu 30 menit dalam dialog televisi mencoba meyakinkan penonton bahwa terorisme di Indonesia dilancarkan oleh negara lain. Luarbiasa, bahwa stasion TV menggunakan air-time mereka untuk pembicaraan menyesatkan dan mengalihkan perhatian dari masalah yang sebenarnya. media harusnya memandang teror dengan perspektif baru
 
Perspektif Baru mengenai teror harus bersifat sederhana supaya bisa di share dengan banyak orang:
 
1. Teror adalah kegiatan orang sesat yang sudah berlangsung sejak awal zaman. Apalagi di Indonesia bukan barang baru. Sekarang diperkeras oleh liputan media, komunikasi internet dan reaksi primordial pemerintah Bush.
 
2. Teror adalah kegiatan biadab, acak yang tidak perlu dibela atas alasan apapun. Tapi jangan katakan bahwa teroris tidak bertanggung jawab, sebab mereka sangat bertanggungjawab terhadap keyakinannya sendiri. Tanggung jawab apa yang lebih besar daripada mengorbankan jiwa sendiri, untuk maksud sesat sekalipun? Jangan persamakan tanggung jawab dengan manfaat umum.
 
3. Teroris dilakukan orang sedikit dengan dedikasi banyak. Perlawanan terorisme bisa dilakukan oleh orang sedikit juga (ahli kontraterorisme) tapi karena kontra-teroris tidak sebebas teroris, upaya mereka perlu ditambah dengan dukungan orang banyak. Orang banyak harus  berpandangan sama, bahwa teroris harus dihentikan, dengan melaporkan perilaku orang aneh dan mencurigakan dan tidak melindungi mereka.
 
4. Saluran melapor dan dilapor harus dibuat sangat lancar oleh pemerintah dan lembaga internasional tanpa dibumbui diskriminasi terhadap agama apapun.
 
Terakhir, orang biasa jangan teralihkan perhatian kepada issue yang lebih kecil. Ini hanya mungkin kalau orang berkuasa menyelesaikan soal kecil. Sebab yang paling dirasakan orang biasa adalah soal kecil yang kebetulan kena pada dia. tegasnya, pemerintah yang beres dong kerjanya supaya orang biasa sempat sadar terhadap bahaya.
 
Terakhir sekali, dalam Perspektif Total, ancaman terbesar kepada manusia sekarang bukanlah terorisme tetapi Flu Burung. Semakin mengancam di Indonesia dan menjadi kekuatiran di Eropah dan AS.
 
Kalau terjadi pandemi flu burung, korban jiwa bukan beberapa ribu seperti di World Trade center atau beberapa ratus seperti di Bali dan Jordan. Korban pandemi adalah jutaan sampai puluhan juta orang.
 
Untuk menghadapi bahaya Flu Burung kita perlu konsentrasi, fokus, pengertian bersama dan komunikasi. Dan yang paling kita perlukan adalah perspektif baru menghayati ini semua.

Print article only

25 Comments:

  1. From vanya on 11 November 2005 09:39:21 WIB
    atas nama terorisme negara maju berlomba membuat undang undang anti terorisme. rumah rumah digerebek spt di australia. email, telpon bahkan mungkin forum diskusi semua dilacak. warga negara dgn kewarganegaraan ganda bahkan akan dideportasi..entah kemana..apalagi kalo negara asalnya juga ga mau terima :-)

    kenapa gak coba mencari sumber terorisme itu sendiri..apakah itu ketidakadilan, diskriminasi, kemiskinan di dunia ketiga yg tidak akan pernah berakhir, dll.
  2. From Mansur on 11 November 2005 14:41:43 WIB
    Terkadang orang baru menyadari dan peduli terhadap upaya pemberantasan teroris jika diri sendiri dan orang terdekatnya terkena perbuatan teroris. Karena itu media massa perlu terus mengekspos kehidupan orang-orang biasa yang terkena aksi teroris sebagai upaya menumbuhkan tidak toleransi terhadap perbuatan biadab tersebut.
  3. From Jerry-O on 12 November 2005 19:27:56 WIB
    Kita harus sadar kalo dunia ini udah nggak aman gitcu loh!Harapan gw ya semoga pemerintah&keamanan dan media komunikasi saling bantu aja dalam mengamati dan mengatasi perbuatan dosa itu OK!!
  4. From Martin Manurung on 12 November 2005 23:36:23 WIB
    Jangan lupa juga, bahwa akar dari Terrorisme adalah social injustice. Kalau ingin mengurangi terrorisme sampai ke tingkat yang paling minimal, tidak cukup hanya dengan membasmi terroris2. Hilangnya seorang Azahari, bisa diganti dengan kader-kader baru yang lebih mumpuni dan radikal. Patah tumbuh, hilang berganti, kalau akarnya belum disentuh. Dominasi negara-negara maju dengan praktik politik dagang yang tidak seimbang, perlu dibenahi dalam tata dunia baru yang lebih adil. Kekuatan utamanya bukan pada para politisi, melainkan pada solidaritas seluruh orang biasa yang sadar bahwa kita perlu dunia yang baru, yang lebih ramah terhadap orang-orang yang tercampakkan oleh globalisasi dan hambatan struktural lainnya.
  5. From Adhi on 13 November 2005 15:08:55 WIB
    Web 2.0 apaan sih? Jangan suruh cari ke Google ya :))
  6. From pengamat on 14 November 2005 02:30:48 WIB

    Kebetulan saya baru ada yang beri tahu:
    Trend dalam internet dimana websites mengambil isi dari peserta, seperti friendster, 43 places, blogs dll. contoh paling jelas mungkin adalah website konvensional seperti Kompas Online atau detikcom, isi dibuat oleh pemilik website dan peserta membaca. Kalau yang Web2.0 itu menyediakan site dan orang nulis sendiri. Perspektif Online sendiri berusaha secara gradual masuk kesana dengan memasukkan tulisan orang lain dan menyediakan ruang komentar yang besar. Jadi Web 2.0 itu singkatnya adalah "website with user-generated content", sedang hot di dunia internet.
  7. From wimar on 14 November 2005 10:50:07 WIB
    pokoknya kalau anda masukkan komentar dan memasang tulisan di website ini, anda sudah masuk peserta salah satu bentuk Web 2.0
  8. From firman on 15 November 2005 13:23:36 WIB
    terorisme diakibatkan oleh ketidakberdayaan karena kemiskinan dan kebodohan yang dimanfaatkan oleh sang mastermind yg pintar menanamkan doktrinasi utk kepentingan sendiri. contoh paling jelas terorisme yang dilakukan rezim NAZI dibawah kepemimpinan Hitler. Bahwa orang Jerman saat itu yang dimiskinkan oleh perang dunia pertama mau berbuat genocide demi fuhrernya karena sudah didoktrinasi dengan faham bhw bangsa Aria berhak memusnahkan ras lainnya. fuhrer2 modern seperti bin laden lah yang mencreate ' teroris' dengan cara menyeragamkan arti perjuangan dengan teror. perjuangan adalah melawan pihak yang menindas misalnya tentara atau pemerintah. teror adalah menindas pihak yang lemah misalnya masyarakat biasa.yang sebenarnya patut dikasihani adalah para suicide bomber karena mau mati dalam rangka mematikan suatu kehidupan atau budaya tertentu..untuk konteks Indonesia sebaiknya teror ditinggalkan karena tdk ada gunanya ikut faham bin laden, tapi perjuangan difokuskan menghantam sekuat2nya korupsi, nepostime, kolusi yang setiap hari dilakoni oleh birokrat, parlemen, militer, polisi dan pengusaha hitam...
  9. From Sri Rejeki on 15 November 2005 16:00:12 WIB
    Apa yang dilakukan oleh teroris2 melayu itu adalah kebodohan yang mengerikan.Kalau mau perang melawan hegemoni Amerika, harusnya mereka ke Amerika dan melakukan bom bunuh diri di sasaran2 militer, bukan penduduk sipil yang tidak berdosa. Apalagi ngebom sesama bangsa, ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sakit.Buat Indonesia, jihad yang paling klop adalah jihad melawan kemiskinan, kebodohan dan korupsi.Itulah musuh utama Indonesia. Mereka yang berjihad melawan penyakit sosial seperti diatas, kalau mati,mereka mati sebagai syuhada dan dijamin masuk surga.
  10. From pengamat on 15 November 2005 16:26:46 WIB
    Merefer juga kepada komentar sdr Mansur (no 2):
    Ada yang berpendapat bahwa terorisme itu hanya tambahan dari kejadian kejadian yang menyebabkan kematian masal, seperti wabah penyakit kecelekaan kecelakaan seperti tabrakan mobil dan kereta api, kapal tenggelam, kapal terbang jatuh dll. Padahal –katanya- persentase terbesar kematian tetap terjadi di tempat tidur. Dan juga dikatakan kematian itu tidak dapat diprediksi maupun dihindari.
    Jadi, hanyalah “nasib” yang menyebabkan kita mati disebabkan terorisme.

    Pendapat diatas boleh boleh saja kalau hanya untuk menenangkan diri sendiri, agar tidak selalu ketakutan; tetapi alangkah sesatnya kalau dijadikan pandangan hidup. Karena penyebab terrorisme adalah ulah manusia, seperti perang, dengan perbedaan besar bahwa dalam hal perang itu diketahui siapa yang menyerang dan siapa yang diserang..

    Terorisme tidak bisa dibenarkan. Kita HARUS BERUSAHA meniadakannya: kalau kita tidak punya kekuasaan, pasukan, kemampuan atau keberanian, yah dengan doa atau lainnya
    Tulisan diatas yang bagus dan komprehensif sekali –menurut hemat saya- adalah suatu usaha bagus kearah itu
  11. From fuad Alsagaf_Mhs Fak Huk UIR Pekanbaru on 17 November 2005 22:32:52 WIB
    Teror Secara Epistimologi adalah Membuat Kekecauan.Jadi secara Makna Teroris dapat dikatakan sebagai tindakan yang bermaksud membuat kekacauan(chaos)Bermaksud membuat org lain menjadi resah.
    Akibat yang ditimbulkan oleh gerakan pengacau ini sangat lah parah,sbg cth bom bali I,II,Mariot dll.
    Namun yang saya sayang kan ada beberapa gol beranggapan bahwa islam itu identik dgn teroris.Image seperti itulah yang hendaknya dihapus dari pikiran masyarakat.karna pd hakekat nya islam itu cinta akan perdamaian.semoga anggapan tsb dpt berubah dari image masyarakat.
  12. From ghozi ahmad on 21 November 2005 12:14:58 WIB
    dengan alasan apapun saya terorisme memang tidak bisa dibenarkan dan harus dilawan karena ia bertentanagn dengan nilai-nilai humanisme, selain itu tak mungkin negara kita bisa menuntaskan demokratisasi selama ia masi menjadi dusi daloam daging kehidupan bernegara. namun melawan tindak terorisme jika kita sembrono asal lawan, asal tubruk, jangan-jangan kita tak sadar terjebak menjadi pelaku teror dalam bentuk lain. terorisme tidak bisa kita batasi sekedar aksi yang dilancarkan oleh oknum individu, atau kelompok tertentu dengan identitas tersembunyi. ia bisa juga dilakukan oleh semua individu juga kelompok bahkan oleh negara dengan tanpa harus bersembunyi-sembunyi. yang jelas terorisme adalah masalah permaianan psikologi massa.
    saya khawatir jika gelombang aksi teror para teroris dilawankan dengan koter (terorisme Vs Koterisme)sebagaimana wacana yang sedang digelembungkan banyak media. suasana psikologis kita dikembalikan pada kondisi psikologis bangsa di era 65/66, atau di era 90-an dengan issu tukang santet. dimana rasa aman itu di oleh negara telah dicerabut dari tengah kehidupan masyarakat.....
    mari kita refleksikan bersama....salah tangkap bukanlah hal biasa, bukan? stigmatisasai dimasa lalu menyakitkan, bukan?
  13. From endah setyorini on 21 November 2005 21:14:35 WIB
    Dimanapun yang namanya teroris itu kejam!!!
    belasan nyawa jatuh hanya untuk sesuatu yang salah.yach slamat buat pak polisi kerja kerasnya mulai tampak nich,smoga dapat sukses menangkap pelaku teror yg lainnya.
    Yang jelas setiap agama adalah baik, hanya orang yang tidak benar yang menjadikan agama sebagai tameng!!
    Hidup perdamaian!!!!!!
  14. From arina husna on 28 November 2005 15:56:41 WIB
    aksi teror yg semarak di negara kita jangan dikaitkan dengan golongan agama tertenteu yg pasti para teroris belum menyadari siapa musuh mereka yang sebenrnya dan kurangnya pemahaman mereka terhadap agama khususnya islam yg selama ini selalu dikait-kaitkan dengan aksi teror
  15. From vivin on 29 November 2005 09:10:27 WIB
    terorisme bukan melulu masalah pengeboman, tapi juga kemiskinan, kebodohan, penyakit, dan sebagainya yang menjadi musuh masyarakat.Kita harus sadar bahwa aksi pengeboman, kebanyakan dilakukan oleh orang miskin dan bodoh yang diperdaya oleh oknum "rahasia" dengan merecoki pikiran mereka bahwa dunia itu kejam dan dipenuhi orang2 jahat sehingga patut untuk dimusnahkan.Padahal jika mereka cerdas sedikit, tentu tidak akan termakan rayuan seperti ini begitu saja, dan akhirnya mengikuti aliran sesat yang akhirnya merugikan rakyat banyak.Saya sebagai umat islam juga tidak rela, agama saya dijelek-jelekkan sebagai biang teror, padahal itu semua adalah skenario terselubung untuk menghancurkan Islam, yang menurut orang2 berpaham "kapitalis", (islam)sebagai penghambat gaya hidup kapitalisme yang penuh dengan hura2 dan segala kejahatan yang dianggap biasa.Sekian terima kasih.
  16. From Amli Warman on 29 November 2005 15:29:39 WIB
    wah, saya setuju sekali dengan kebodohan adalah sumber penyakit segala bangsa, apalagi kalau di tambah dengan kemalasan, seperti yang kita tahu kemalasan dan kebodohan adalah penyakit sudah merongrong negara kita sejak lama. seharusnya pemerintah menyadari bahwa kebodohan dan kemalasan adalah akar masalah bagi indonesia, dan segera memperbaikinya. sampai kapanpun teroris" baru akan bermunculan selama kebodohan masih exist.
  17. From ahmad arif on 07 December 2005 23:30:17 WIB
    pada dasarnya terorisme adalah hal yang yang sangat kecil dan itu seolah2 dimunculkan opini bawah terorisme itu sangat jahat karena itu hanya di jadikan sebagai kedok oleh negara2 yang berkepentingan dalam tatanan ekonomi sehingga mereka dapat menguasai dunia tanpa kelihatan kelicikan mereka dalam menguasai yang dikehendaki
  18. From Tiwi siswi SMAN-4Medani on 13 December 2005 19:29:49 WIB
    Menurut saya para otak terorisme itu bukan orang-oramg bodoh seperti kebanyakan oramg bilang misalnya Dr.Azhari.Mereka adalah orang-orang pintar tetapi berada di jalan yang salah,untuk membasmi mereka kita harus bekerja ekstra keras dan tidak tanggung-tanggung.Walaupun Dr.Azhari sudah berhasil kita lumpuhkan,kita tidak boleh langsung bersantai karena ancaman bisa datang kapan saja.Jadi agar hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi lebih baik kita perhatikan generasi muda di negeri kita ini.Agar kita memiliki generasi yang tangguh tapi tidak berada dijalan yang salah.Mungkin kita harus berhati-hati dalam mendalami ajaran-ajaran agama karena ngak semua yang loe dengar and lihat itu benar Man!
  19. From nasiruddin abbas on 15 December 2005 21:00:30 WIB
    Terorisme hanyala akumulasi dari persoalan ketidakadilan sistemik yang terjadi di wilayah ekonomi, politik, dan sosial kebudayaan. teks-teks agama yang dibajak oleh mereka hanyalah menjadi pendorong saja. bukan faktor penentu. sejarah teroris yang paling tradisional -kalau dalam islam- bisa dilacak pada sejarah perpecahan pendukung Khalifah Ali yang setuju dengan perjanjian dengan Muawiyah dan kelompok yang tidak setuju. anda pernah dengar kelompok khawarij? itulah akar terorisme yang paling vulgar. gara-gara pertarungan otoritas politik, akhirnya agama dibawa-bawa untuk menjustifikasi maslah agar menjadi berbau teologis. akhirnya kita tahu Ali terbunuh dengan tragis. dan konflik pecah semakin mendalam. terorisme sekarang dianggap hebat karena menggunakan bom kan? dan coba teliti apakah mereka berasal dari status quo? No mereka adalah kaum proletar!!!
  20. From nyoman on 22 January 2006 18:26:39 WIB
    terorisme, memang benar yang dikatakan saudara witoelar, bahwa para pakar agama cepat-cepat menuduh pihak asing sebagai pelaku pengeboman.Padahal pada saat bom bali 1, tidak seorangpun warga bali yang menyampaikan kecurigaan mereka pada pihak manapun. warga bali diam karena mereka sudah dapat mengira siapa pelakunya. namun mereka diam karena dengan menuduh pihak ini itu tidak akan mempermudah pihak kepolisian mendapatkan pelakunya. jadi untuk para 'ahli agama' terapkanlah agama kalian dengan baik, istilah 'berprasangka buruk' yang kalian hindari ternyata kalian lakukan kepada pihak asing yang ternyata setelah diusut tidak memiliki keterkaitan bukti terhadap pemboman di bali.
  21. From tema zebua on 07 April 2006 11:59:50 WIB
    Terorisme muncul karena kurang kepedulian terhadap sesama manusia, sehingga ketidak pedulian itu membutakan kepekaan hati nurani intelektual dan hati nurani, oleh sebab itu, kewajiban para para orangtua, tenaga pendidik, dan figur-figur publik, menecerdaskan masyarakatnya, dan dimulai dari keluarganya, dimulai ktika manusia itu lahir kedunia, segera ditanamkan jiwa sosial, kasih dan kepedulian. trims.
  22. From cecep_wahid on 23 April 2006 00:34:02 WIB
    kenapa setiap orang selalu melihat terorisme dari akibat yang ditimbulkannya padahal saya rasa sebab itu lebih penting dari pada akibat,meskipun akibat yang dihasilkan itu sangat dahsyat merontokan rasa kemanusiaan.pastinya yang menjadi sebab lebih mengoyak nilai kemanusiaan itu sendiri.hatur nuhun..........
  23. From mahatma on 26 April 2006 13:32:23 WIB
    Singkat saja. Teroris di Indonesia menurut saya adalah sarana kaum elite politik di indonesia yang tujuannya hanya sebagai gertakan kepada penguasa di indonesia untuk menunjukan power yang mereka punya
  24. From iis on 12 June 2006 09:37:50 WIB
    terorisme bagaimanapun juga tidak dapat dihindarkan.pemberian solusi selama ini juga tidak menghentikan aktivitas terorisme. jadi, sebaiknya dilihat apa yang salah dengan sistem atau apapun yang ada di dunia ini, yang membuat pihak-pihak tertentu merasa tidak puas. dengan tatanan dunia yang diupayakan tidak merugikan pihak tertentu, maka terorisme tidak akan terjadi. namun hal ini memang utopis. mungkin terorisme ini hanya punya satu akar masalah, yakni kekuasan, Merci!
  25. From ayesha on 28 August 2006 09:36:14 WIB
    terorisme musncul karena ketidak adilan,dalam hal apapun,mulai dari yang sifatnya agamis, sampai pada kesempatan-kesempatan di dalam masyarakat. jawaban dari masalah ini adalah: bagaimana caranya semua kepentingan dapat terakomodasi dan dapat berjalan damai, tidak ada satu pihak yang diuntungkan, tetapi yang lain dirugikan.. akhirnya kerugian justru terjadi pada semua pihak, termasuk orang-orang yang menjadi korbannya...

« Home