Articles

SIARAN PERS : COP21 Paris Lima Paris Action Agenda (LPAA) Sesi Hutan: Pengelolaan Hutan Berkesinambungan Memberikan Tiga Keuntungan


02 December 2015

COP21 Paris – Lima Paris Action Agenda (LPAA) Sesi Hutan:

Pengelolaan Hutan Berkesinambungan Memberikan Tiga Keuntungan

Paris, 1 Desember 2015 – Selain menjadi elemen utama menghadapi perubahan iklim, hutan juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktifitas pertanian dan mengurangi kemiskinan melalui peningkatan tata kelola hutan yang baik, transparansi, dan partisipasi semua pihak. Pada akhirnya hutan dapat menjadi elemen utama pertumbuhan ekonomi yang seimbang dan pembangunan berkelanjutan.

Tiga keuntungan utama hutan tersebut dipaparkan di forum Lima-Paris Action Agenda (LPAA) sesi hutan yang merupakan  salah satu kegiatan side event COP21 pada Selasa (1/12) di Paris. LPAA yang dibuka oleh Pangeran Charles menampilkan berbagai sesi panel yang berisi komitmen berbagai negara berkembang dalam hal perubahan iklim.
Pada sesi Indonesia Panel, hadir sebagai pembicara Ida Bagus Putera Parthama (Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari), Shinta Widjaja Kamdani (CEO Sintesa Group dan KADIN), Abdon Nababan (Sekretaris Jenderal AMAN), Mansuetus Darto (Koordinator Nasional Serikat Petani Kelapa Sawit).

Moderator sesi ini adalah Wimar Witoelar dari Yayasan Perspektif Baru Wimar Witoelar mengatakan bahwa hutan mempunyai peranan penting dalam perubahan iklim. Perubahan iklim sudah berjalan dan diperlukan usaha lebih keras dari berbagai elemen seperti yang dicerminkan dalam komitmen LPAA. “Dengan komitmen LPAA, kita bisa mencegah deforestasi, mengurangi emisi, meningkatkan produktivitas hasil pertanian dan mengurangi tingkat kemiskinan. Ini bisa terwujud bila  berbagai elemen saling bekerjasama ,” kata Wimar

Menurut Putra Parthama, Indonesia telah menunjukkan keseriusan dalam perubahan tata kelola lingkungan. Pemerintah telah membentuk Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), program legalitas kayu melalui sertifikasi dan verifikasi legalitas kayu (SVLK), dan mempelopori program restorasi ekosistem. “Saat ini, pemerintah telah membentuk Badan Restorasi Gambut yang bertugas mengatur tata kelola lahan gambut,” kata dia.

Sebagaimana diketahui, kebakaran lahan dan hutan sering terjadi di lahan gambut akibat kesalahan dalam pengelolaan lahan gambut. Putera juga mengangkat mengenai peran penting masyarakat adat yang mempunyai kearifan dalam mengelola hutan dan linkungan. Dalam pemaparannya, Abdon Nababan mengangkat isu mengenai potensi kontribusi masyarakat adat dalam perubahan iklim. Ia menerangkan bahwa Selasa pagi (1/12) di Paris masyarakat adat dari Asia, Afrika dan Amerika Latin meluncurkan Indigenous People Carbon Map. Hasilnya, masyarakat Indonesia berhasil berkontribusi menjaga karbon sebesar 32,7 Giga Ton. Ia juga mengapresiasi keinginan pemerintah untuk memasukkan peta indikatif masyarakat adat sebagai bagian dari one map policy. ”Yang perlu ditingkatkan adalah membentuk mekanisme resolusi konflik sehingga konflik yang melibatkan masyarakat adat dapat direduksi,”kata Abdon.

LPAA adalah kerjasama antara Pemerintah Peru, Perancis , dan United Nations Framework Convention on Climate Change  (UNFCCC). LPPA bertujuan untuk mempromosikan dan menampilkan aksi iklim dari berbagai elemen mulai dari peran negara hingga organisasi non pemerintah. LPAA ingin menampilkan pada skala contoh bagaimana tindakan nyata  di tingkat praktek sudah terjadi. LPAA juga mendorong agar aksi-aksi nyata tersebut dapat bergerak lebih cepat, agar berkontribusi secara substansial untuk mengatasi krisis perubahan iklim.

Print article only

0 Comments:

« Home