Articles

Indonesia dan Dunia Bisnis Melawan Perubahan Iklim


04 April 2016

Oleh: Mahisa Dwi Prastowo

Indonesia adalah harapan penyelamatan dunia dari perubahan iklim. Bersama dengan
Brazil dan Kongo, Indonesia memiliki hutan hujan tropis terbesar di dunia dengan keanekaragaman hayatinya dan menyimpan banyak karbon. Kalau hutan hujan tropis ditebang maka kerugian karbonnya lebih tinggi. Boleh dibilang nyawa di planet ini berada di hutan hujan tropis yang ada di Brazil, Kongo dan Indonesia. Namun hanya
Indonesia dari tiga negara tersebut yang memiliki kestabilan politik.

Demikian diungkapkan Wimar Witoelar dengan semangat pada Seminar Digital
Diplomacy yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia
bekerja sama dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS) di gedung
kantor CSIS, Jakarta, pada 31 Maret 2016.

Bersama Chairperson The Body Shop Indonesia Suzy Hoetomo dan artis Maudy
Koesnaedy, Chairman Intermatrix Communications Wimar Witoelar yang juga pendiri Yayasan Perspektif Baru menjadi pembicara sesi “Corporate Commitment to Clean Energy” sebagai pembekalan kepada 9 diplomat senior dalam program Sekolah Staf dan Pimpinan Kemlu ke-54.

“Di konferensi Paris, Obama dan Jokowi bicara mengenai satu tema dan memotori perjanjian yang kita kenal sebagai Paris Agreement sebagai akibat pembicaraan di Gedung Putih. Jadi Indonesia tercatat sebagai pengambil inisiatif dalam Paris Agreement,” ujar Wimar mengungkapkan peran penting Indonesia dalam penanggulangan perubahan iklim global.

Selain kepemimpinan Indonesia. Dunia juga melihat tren positif dukungan aktor-aktor dunia bisnis dalam melawan perubahan iklim. Corporate responsibility atau corporate commitment menguat seputar Conference of Parties ke 21 (COP 21) di Paris, Perancis tahun lalu. Phak-pihak yang sudah lama berkomitmen atau yang baru pada waktu mendekati COP 21 di-challenge menentukan sikap.

“Business always is a great equalizer atau catalyzer untuk diskursus publik. Baguslah kalau Paris Agreement diminati banyak perusahaan,” kata Wimar.

Wimar mengaku senang the Rockefeller Brothers Fund belum lama ini menjual saham ExxonMobil mereka. Dahulu pendirinya John D. Rockefeller menjadi orang terkaya di dunia dengan keuntungan ExxonMobil. Penjualan saham dilakukan karena ExxonMobil tidak punya komitmen terhadap energi bersih dan mengotori udara dengan energi konvensional.

Langkah ini disusul dengan tindakan serupa oleh 495 perusahaan dengan jumlah divestasi mencapai 3,4 triliun dollar. Di Paris tahun lalu, memang tidak banyak dari perusahaan yang datang ke COP 21 tapi mereka banyak membuat aliansi-aliansi untuk diajukan ke dalam Paris Agreement. Dan memang tuntutan-tuntutannya melawan perubahan iklim masuk di dalam Paris Agreement yang beberapa minggu lagi akan disahkan di New York.

Ada banyak sekali perusahaan-perusahaan yang menyatakan melawan perubahan iklim. Dunia bisnis secara umum sepakat melawan perubahan iklim dan berkomitmen mendukung penggunaan energi bersih. Namun yang jadi pertanyaan adalah apakah mereka benar-benar tulus. Karena bagaimanapun juga perusahaan-perusahaan besar harus menjaga keuntungan pemegang sahamnya dan harus realistis.

Pada dasarnya, perusahaan-perusahaan juga akan menimbang untung-rugi dari pilihan sikap berkomitmen melawan perubahan iklim dan mendukung energi bersih. Selain alasan altruistik, motivasi para pelaku bisnis ialah menjaga diri dari kemungkinan perubahan-perubahan kebijakan politik (regulatory changes), paparan resiko-resiko finansial dan operasional (exposure to financial and operational risks), dan keuntungan reputasi dan perekrutan SDM ketika pelaku bisnis dinilai pro lingkungan (branding and talent attraction that comes with being seen as green).

Dengan adanya pertimbangan-pertimbangan tersebut, pelaku-pelaku dunia bisnis bisa saja mudah berbalik meninggalkan perlawanan perubahan iklim jika situasi dan kondisi politiknya lebih menguntungkan jika tidak anti perubahan iklim. Di Amerika Serikat, situasi politik pemilihan umumnya bisa berkembang ke arah tersebut jika tokoh sayap kanan seperti Donald Trump yang tidak peduli perubahan iklim menjadi presiden.

Untuk mencegah hilangnya dukungan dunia bisnis terhadap energi bersih dan perlawanan perubahan iklim, tekanan politik pro lingkungan yang terus-menerus perlu dijaga. Ini berarti harus adanya sosialisasi yang berkelanjutan mengenai perubahan iklim sehingga masyarakat sadar dan terus menuntut semua pihak melawan perubahan iklim.


“Final word, I would say we are very happy with the trends that global businesses are
committed to clean energy. We hope the commitment will extent trough changes,” ujar
Wimar menutup pemaparannya.

Print article only

0 Comments:

« Home