Articles

Toleransi dan Intoleransi di Indonesia di Mata Wimar Witoelar


20 April 2016

Oleh: Mahisa Dwi Prastowo

Menurut Wimar Witoelar, perkembangan intoleransi di Indonesia berjalan bersamaan dengan tumbuhnya toleransi. Situasinya kira-kira sama seperti yang terjadi di Amerika Serikat. Ketika pemenuhan dan perlindungan hak-hak sipil berkembang sangat baik di Amerika, di saat yang sama ada fenomena Donald Trump yang merupakan calon presiden yang mengusung nilai-nilai intoleransi. “Jadi Amerika Serikat memiliki peningkatan toleransi dan intoleransi yang berjalan bersama. Itu juga yang terjadi di Indonesia,” ujarnya dalam diskusi di kantor Wahid Institute.

 

 

Harvard Kennedy School bekerja sama dengan Wahid Institute dan Proximity Designs menyelenggarakan diskusi “Fashioning Democracy and Tolerance in Plural Society: Indonesia and Myanmar” pada 18 April 2016 di Jakarta. Diskusi bertempat di kantor Wahid Institute di Menteng, Jakarta, yang merupakan lokasi historis di mana dulu merupakan rumah dari tokoh bangsa dan Presiden Republik Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur.

Diskusi yang bertujuan menyikapi timbulnya intoleransi etnis dan agama di Indonesia dan Myanmar dihadiri tokoh-tokoh dari Myanmar yang terdiri dari tiga pejabat tinggi militer, lima pemimpin National League for Democracy (NLD), tiga pemimpin kelompok etnis bersenjata, dua pemimpin partai politik etnis dan satu pemimpin independen. Diskusi juga dihadiri oleh Chairman Intermatrix Communications Wimar Witoelar, Direktur Wahid Institute Yenny Zannuba Wahid, Senior Advisor dari Harvard Kennedy School Thomas Valllely, dan CEO Tempo Bambang Harymurti.

Indonesia merupakan bangsa yang kompleks dengan berbagai isu kompleks di dalamnya. Fenomena toleransi dan intoleransi berjalan bersamaan. Meningkatnya intoleransi agama dan toleransi agama berjalan dengan tingkat yang seimbang. Di negeri ini bisa kita lihat bullying antar agama namun juga bisa kita lihat kesalingpahaman antar keyakinan pada saat yang bersamaan. Kita juga bisa lihat adanya penyerangan terhadap kelompok-kelompok minoritas namun juga adanya keharmonisan dengan kelompok-kelompok minoritas.

Bangkitnya toleransi di Indonesia berawal dari periode yang menurut Wimar Witoelar tepat untuk disebut periode “no regrets” (tanpa penyesalan). Periode ini adalah masa kepemimpinan Gus Dur di mana ketika itu ia mengambil langkah besar dalam sejarah Indonesia dengan menanamkan kesadaran ke dalam masyarakat Indonesia. Langkah tersebut diambil dan banga Indonesia tidak lagi berpaling kembali ke masa kediktatoran Orde Baru tanpa penyesalan.

Semasa Gus Dur menjabat sebagai presiden, ia melakukan berbagai terobosan besar yaitu mendukung toleransi agama dan pluralisme, selain juga kebijakan-kebijakan demiliterisasi, anti korupsi dan kebebasan pers. Pluralisme dan toleransi agama tidak hanya dipraktekkan di tingkat kebijakan namun juga dalam kerja sehari-harinya. Ketika ia menjabat sebagai Presiden, meskipun Gus Dur merupakan agamawan, ia tidak memandang agama orang-orang yang bekerja dengannnya dan hanya melihat kemampuan profesional mereka.

Pada periode setelah Gus Dur, perkembangannya tidak selalu positif. “Presiden SBY yang menjabat selama dua periode merupakan orang yang baik namun kepemimpinannya diganggu oleh berbagai manuver politik yang didorong kepentingan-kepentingan bisnis,” lanjut Wimar. Namun demikian toleransi masih ada di masyarakat. Meskipun Gus Dur tidak lagi menjabat sebagai presiden, pikiran-pikiran besarnya masih menyatu dengan masyarakat Indonesia.

Kini kita berada di periode yang baru lagi di era Presiden Joko Widodo setelah berakhirnya kepemimpinan Presiden Megawati selama setengah periode dan Presiden SBY selama 2 periode. “Kini adalah era kita belajar dan kita memiliki banyak hal yang bisa dipelajari. Kita juga belajar dari Myanmar yang kita lihat sebagai contoh historis yang besar di kawasan ASEAN,” ujar Wimar menutup pemaparannya.

Print article only

0 Comments:

« Home