Articles

Yang Dibutuhkan Penderita TBC


30 April 2018

Oleh: Mahisa Dwi Prastowo

Sekretaris Yayasan Pejuang Tangguh TB RO (PETA) Jakarta Paran Sarimita Winarni

Sekretaris Yayasan Pejuang Tangguh TB RO (PETA) Jakarta Paran Sarimita Winarni (paling kiri) bersama tim Yayasan Perspektif Baru

 

Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit yang berbahaya. Penyakit ini bisa menular ke siapa saja tanpa memandang status, ras, jenis kelamin, dan usia. Penderita penyakit ini sebetulnya bisa disembuhkan. Fasilitas untuk menangani penyakit ini juga sudah sangat tersedia di sekitar kita karena obat-obat untuk penderita TBC yang ada di pusat-pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) pun sudah memenuhi standar kesehatan (World Health Organization).

 

Namun demikian penanganan penyakit ini masih saja sulit dengan adanya berbagai stigma masyarakat terhadap penderita TBC. Sekretaris Yayasan Pejuang Tangguh TB RO (PETA) Jakarta Paran Sarimita Winarni mengunjungi kantor Yayasan Perspektif Baru (YPB) pada 10 April 2018 berbagi kisah kesulitan-kesulitan penderita TBC dan apa yang sebenarnya mereka butuhkan.

 

“Memang untuk mengatasi TB membutuhkan kemauan dan motivasi yang kuat dari dalam diri kita sendiri, dan kita juga butuh dukungan dari orang-orang sekitar. Dulu saya benar-benar berjuang untuk TB, saya pertama kali terkena TB pada tahun 2008,” ujar Paran.

 

TBC merupakan penyakit unik yang pengobatannya bisa memakan waktu lama dan tidak boleh putus di tengah jalan. Penghentian pengobatan secara sepihak akan membuat bakteri TBC semakin kuat dan membuat kebal obat. Inilah sekarang yang dikenal dengan multi-drug resisstant (MDR) atau TB kebal obat. “Saya minum obat itu sampai yang harusnya kalau TB paru untuk pengobatan awal adalah enam sampai delapan bulan minum obat, tetapi saya sampai dua tahun. Ketidaktahuan saya terhadap informasi tentang TB itu sendiri yang mungkin membuat saya akhirnya menurut saja,” lanjutnya.

 

Yang benar-benar dibutuhkan pasien menurut Paran adalah mereka perlu dimanusiakan oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka butuh dirangkul, tidak dijauhi dan tidak dianggap berbeda. Perlakuan itu akan menjadi semangat untuk terus berjuang melawan penyakit yang mereka derita.

 

Karena pengobatan TBC tidaklah mudah dialami mengingat prosesnya sangat menyita waktu berbulan-bulan, juga tenaga dan pikiran. Sejak menderita TBC saja mereka akan mengalami batuk-batuk dalam waktu lebih dari dua atau tiga minggu. Pada malam hari juga mereka berkeringat walau tanpa aktifitas apapun, juga berat badan dan nafsu makan turun, batuk disertai sesak nafas dan bahkan di kondisi tertentu sampai keluar batuk darah.

 

Alhamdulillah pemerintah kita membebaskan semua biaya ketika sudah masuk kategori kasus TB. Ketika sudah terasa tanda-tanda TB, lekaslah periksakan diri ke Puskesmas terdekat. Itu karena selain obat puskesmas untuk TB sudah terstandar dari WHO, berobat ke Puskemas sudah merupakan paduan yang tepat bagi penderita TB dan juga ditanggung oleh pemerintah. Bahkan sampai level tertinggi yaitu extremely drug resistant (XDR) pun ditanggung oleh pemerintah semuanya. Kita rawat inap pun untuk pasien MDR dan XDR sudah gratis,” papar Paran.

 

Selain upaya dari pemerinth juga ada edukasi dari Yayasan Pejuang Tangguh (PETA) yang merupakan yayasan atau organisasi dengan keseluruhan anggotanya merupakan mantan pasien TB MDR atau multidrug resistant. Para pasien lebih mendengarkan yayasan ini ketimbang tenaga kesehatan formal seperti dokter atau perawat. Ini disebabkan karena para pejuang PETA pernah menjadi pasien sehingga lebih memahami kesulitan-kesulitan para pasien.

 

Ikuti wawancara selengkapnya di:

http://www.perspektifbaru.com/wawancara/1152

Print article only

0 Comments:

« Home