Articles

Menyambut Tahun Politik


02 May 2018

Oleh: Panji Kharisma Jaya

 

wimar

Demokrasi di Indonesia sudah semakin maju. Masyarakat berbondong-bondong menyuarakan
aspirasinya, mulai dari mereka yang turun ke jalan, melakukan lobby tingkat tinggi di pemerintahan,
maupun yang membagikan perspektif melalui media massa.
Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019 memiliki presentase pemilih muda dari generasi milenial yang
cukup besar, yaitu sebesar 48% menurut data BPS. Dengan presentase yang cukup besar dari generasi
yang melek teknologi, Pemilu kali ini akan memiliki warna yang berbeda dibanding pemilu-pemilu
sebelumnya. Akan lebih banyak kampanye yang menggunakan platform digital. Fenomena ini
tentunya harus lebih diawasi secara teliti, karena jika lengah, keadaan bisa menjadi lebih buruk.
Kampanye secara digital dapat lebih mudah disalahgunakan oleh pihak-pihak yang secara sengaja
bertujuan untuk mempengaruhi hasil Pemilu.
Banyak kasus yang sudah terjadi, selain Pilkada DKI Jakarta yang panas dengan isu yang digoreng oleh
media sosial, terdapat juga kejadian serupa dalam pelaksanaan Pemilu Presiden Amerika Serikat yang
belakangan diketahui melibatkan perusahaan jejaring sosial terbesar di dunia, yaitu Facebook, yang
dikatakab telah disalahgunakan oleh perusahaan bernama Cambridge Analytica karena menggunakan
data yang disediakan oleh Facebook untuk keperluan kampanye terarah, yang akhirnya
memenangkan Donald Trump.
Platform DIgital menjadi keunikan tersendiri dalam penyelenggaraan pemilu. Platform Digital dapat
diartikan sebagai pihak ketiga dalam pelaksanaan pemilu. Meskipun merupakan salah satu faktor
eskternal, tetapi peran platform digital bisa sangat menentukan.
Selain platform digital, salah satu faktor yang juga dapat berperan sangat menentukan adalah
kaderisasi politik. Pemilu tahun 2019 menjadi salah satu pemilu yang unik dengan keikutsertaan 3
partai baru. Munculnya partai baru yang menjadi peserta pemilu menjadi angin segar bagi kaderisasi
politik Indonesia. Para pemilih akan memiliki lebih banyak ragam pilihan untuk menentukan pilihan.
Meskipun demikian, terdapat partai politik baru namun dengan warna “lama” seperti Partai Berkarya
milik Tommy Soeharto yang menjual romantisme era Orde Baru dan mulai menyita perhatian
masyarakat.
Meski partai politik baru bermunculan, namun nyatanya, figur-figur politik yang menghiasai Pemilu
2019 nanti kebanyakan masih merupakan wajah-wajah lama. Kondisi ini membuktikan bahwa
kaderisasi partai politik masih belum cukup optimal untuk melahirkan kader-kader politik yang
kompeten sehingga partai politik masih harus mengandalkan figur-figur senior.
Untuk memahami isu tahun politik dari perspektif Wimar Witoelar, silakan menyimak wawancara
Yayasan Perspektif Baru bersama Wimar Witoelar dalam tautan berikut :
http://www.perspektifbaru.com/wawancara/1150

 

Demokrasi di Indonesia sudah semakin maju. Masyarakat berbondong-bondong menyuarakan aspirasinya, mulai dari mereka yang turun ke jalan, melakukan lobby tingkat tinggi di pemerintahan, maupun yang membagikan perspektif melalui media massa.


Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019 memiliki presentase pemilih muda dari generasi milenial yang cukup besar, yaitu sebesar 48% menurut data BPS. Dengan presentase yang cukup besar dari generasi yang melek teknologi, Pemilu kali ini akan memiliki warna yang berbeda dibanding pemilu-pemilu sebelumnya. Akan lebih banyak kampanye yang menggunakan platform digital. Fenomena ini tentunya harus lebih diawasi secara teliti, karena jika lengah, keadaan bisa menjadi lebih buruk. Kampanye secara digital dapat lebih mudah disalahgunakan oleh pihak-pihak yang secara sengaja bertujuan untuk mempengaruhi hasil Pemilu.


Banyak kasus yang sudah terjadi, selain Pilkada DKI Jakarta yang panas dengan isu yang digoreng oleh media sosial, terdapat juga kejadian serupa dalam pelaksanaan Pemilu Presiden Amerika Serikat yang belakangan diketahui melibatkan perusahaan jejaring sosial terbesar di dunia, yaitu Facebook, yang dikatakan telah disalahgunakan oleh perusahaan bernama Cambridge Analytica karena menggunakan data yang disediakan oleh Facebook untuk keperluan kampanye terarah, yang akhirnya memenangkan Donald Trump.


Platform DIgital menjadi keunikan tersendiri dalam penyelenggaraan pemilu. Platform Digital dapat diartikan sebagai pihak ketiga dalam pelaksanaan pemilu. Meskipun merupakan salah satu faktor eskternal, tetapi peran platform digital bisa sangat menentukan.


Selain platform digital, salah satu faktor yang juga dapat berperan sangat menentukan adalah kaderisasi politik. Pemilu tahun 2019 menjadi salah satu pemilu yang unik dengan keikutsertaan 3 partai baru. Munculnya partai baru yang menjadi peserta pemilu menjadi angin segar bagi kaderisasi politik Indonesia. Para pemilih akan memiliki lebih banyak ragam pilihan untuk menentukan pilihan.


Meskipun demikian, terdapat partai politik baru namun dengan warna “lama” seperti Partai Berkarya milik Tommy Soeharto yang menjual romantisme era Orde Baru dan mulai menyita perhatian masyarakat.


Meski partai politik baru bermunculan, namun nyatanya, figur-figur politik yang menghiasai Pemilu 2019 nanti kebanyakan masih merupakan wajah-wajah lama. Kondisi ini membuktikan bahwa kaderisasi partai politik masih belum cukup optimal untuk melahirkan kader-kader politik yang kompeten sehingga partai politik masih harus mengandalkan figur-figur senior.


Untuk memahami isu tahun politik dari perspektif Wimar Witoelar, silahkan menyimak wawancara Yayasan Perspektif Baru bersama Wimar Witoelar dalam tautan berikut :

http://www.perspektifbaru.com/wawancara/1150

Print article only

0 Comments:

« Home