Articles

Ngapain Sih Ngurusin Reshuffle?

Perspektif Online
28 November 2005

Pada saat tulisan ini terbaca, mungkin Presiden telah mengganti beberapa Menteri. Maka orang akan mengatakan, “reshuffle tidak memuaskan”. Mungkin juga belum ada tindakan dari Presiden, dan orang akan mengatakan, “diharap SBY melaksanakan reshuffle untuk memperbaiki kinerja kabinet.”

 

Padahal yang jadi masalah bukan kinerja kabinet, tapi kinerja Presiden. Semua mengatakan Menteri adalah pembantu Presiden. Penunjukan kabinet adalah prerogatif Presiden. Lalu, mengapa kalau ekonomi macet dan reformasi berantakan, kabinet yang disalahkan? Mengelak tanggung jawab jelas bukan prerogatif Presiden.

 

Beruntunglah kita punya Presiden yang disukai orang, terutama pemerintah Amerika dan Australia. Hubungan TNI dengan pemerintah AS rusak gara-gara kebengisan rezim Soeharto. Tapi normalisasi tersendat sewaktu proses demoratisasi menggebu di Indonesia. Justru tercapai sekarang, karena Bush terobsesi dengan pengejaran teroris. Kalau dulu pencekalan terhadap tokoh hak azasi Barat memancing protes terhadap pemerintah, bangsa dan negara Indonesia, sekarang pencekalan Sydney Jones dianggap usaha untuk menurunkan kredibilitas SBY.

 

Sementara flu burung, dana kompensasi, kebocoran dana negara, mafia peradilan, impor beras, dan rehabilitasi Soeharto merusak ketenteraman kita, Presiden dengan wajah serius dan santun semakin mendapat simpati dari investor asing dan pemerintah Barat. Sungguh beruntung SBY, tidak pernah disalahkan pihak asing, selalu dianggap korban keadaan. Di dalam negeri, walaupun banyak yang kesal kepada pemerintah, kekesalan itu lebih diarahkan kepada kabinet. Cepat reshuffle kabinet, kata orang, dan keadaan akan membaik. Kalau tidak membaik, reshuffle lagi.

 

Susah juga kalau menyalahkan Presiden, sebab dia sudah terpilih sampai tahun 2009. Tidak juga ada orang yang bersemangat meminta SBY turun. Bagi orang baik-baik, SBY sudah yang terbaik diantara yang ada. Masa mau diganti Jusuf Kalla? Atau diganti Hidayat Nur Wahid? Atau siapa? Lagipula kita punya janji menjaga demokrasi, jangan lagi menjatuhkan Presiden karena “suka-suka aja.”

 

Lebih to the point, SBY itu memang orang baik, bersih, santun. Atau menurut istilah yang dibisikkan kepada saya, “ridiculously innocent.” Persoalannya hanya satu: tidak efektif memimpin pemerintah. Jadi dia terpaksa dibiarkan menjadi Presiden dan menghias halaman foto media asing, membawakan citra yang bagus untuk Indonesia. Dia lebih ganteng dari John Howard dan George Bush.

 

Terpaksa kita kembali pada pekerjaan melelahkan. Hidupkan keterlibatan orang biasa untuk terlibat dalam policy dialogue, ambil inisiatif dalam issue nyata. Harusnya bersama dengan DPR, tapi kalau belum bisa, dengan pers dulu lah. Tidak ada cara lain kecuali people power, Gerakan Orang Biasa. Kali ini tidak menghasilkan demo, tapi mengejar issue besar, memberi tekanan kepada Menteri yang mengurusnya. Kalau perlu, minta menteri yang salah diganti. Jangan minta “reshuffle kabinet” secara tidak jelas. Tidak banyak gunanya menyerahkan perbaikan kabinet kepada Presiden. Sudah terbukti SBY tidak mampu memilih orang. Penunjukan Menteri adalah prerogatif Presiden. Tapi menekan Presiden, mendidik Presiden, adalah prerogatif orang biasa.

Print article only

19 Comments:

  1. From Pengamat on 29 November 2005 06:20:18 WIB
    Istilah "reshuffle" itu mengganggu saya, karena artinya (umpamanya dalam permainan kartu) adalah mengocok kembali. Sedangkan yang kita inginkan adalah penggantian beberapa menteri. Jelas ada yang SAYA (apa sih saya ini ?)ingin gantikan, terutama yang tidak jujur dan kedua yang tidak becus (maaf katanya kasar sekali).
    Harus saya rinci ?
    Tanpa nyebut nama: seseorang penguasa yang latar belakangnya penguasa tetapi meneruskan usahanya setelah jadi penguasa sehingga menambah kekayaannya. Sdr Wimar -ini diketahui orang tetapi tidak oleh orang banyak- yang pengusaha menghentikan usahanya waktu diangkat jubir oleh presiden Abdurahman Wahid.
    Siapa yang saya maksud? Yang jelas sering disebut(karena ditulis koran atau beberapa blogger): Wapres dan Menko Ekuin. Wapresnya sih tidak bisa diganti (seperti Presidennya) sebelum 2009 (?). tetapi barangkali bisa dirubah tugasnya menjadi fulltimer-pembuka acara dan kunjungan musibah.
    Siapa yang tidak becus ?
    Sudah saya berhenti disini saja, nanti jadi keteterusan sehingga semuanya harus diganti.

  2. From Satya on 29 November 2005 10:54:29 WIB
    ya betul percuma reshuffle. langsung aja lihat issues-nya dan lihat siapa yg tanggung jawab, kalau gak ada yg mau tanggung jawab ya SBY harus step up. jangan terus2an cruise control atau automatic pilot, belajar tanggung jawab. sibuk ngapain sih? ga ada kerja presiden yg lebih penting daripada talk the issues.

    dia mau reshuffle juga apa patokannya? semua orang baik sama SBY, SBY suka sama semua orang. bersih, neces, ketemu di kawinan senyum2 sama semua termasuk kriminal. yang ada semua kenalan masukin kabinet, dan tetep aja gak ada yg mau tanggung jawab apapun.

    kasus policy ngaco kaya kompensasi bbm gak ada logikanya malah bikin orang mati, tetap saja pendukung SBY bilang bukan salah SBY, exactly the problem! mestinya dia merasa ini tanggung jawab dia.
  3. From Satya on 29 November 2005 10:58:15 WIB
    yang pak pengamat maksud ini Bakrie bukan? saya gak tahu what went on, apakah benar ini the biggest new KKN nobody knows, tapi kasus apapun yg tuduhannya KKN sih bukan sekedar reshuffle. dia harus diadili dan kalau terbukti salah ya dipenjara. baru di dalam penjara boleh reshuffle dg inmates lain.
  4. From Indi Soemardjan on 29 November 2005 12:56:08 WIB
    saya rasa bukan SBY tidak mampu bertindak dgn tegas sebagai presiden. melainkan karena memang dia tidak mau melakukannya.

    kalau memang niat utk bertindak sesuai harapan rakyat sudah ada saya yakin SBY pasti berhasil.

    tapi sekali lagi.. dia memang ndak niat kok.
  5. From pengamat on 29 November 2005 13:44:08 WIB
    Betul itu yang disebut sdr Satya yang saya maksud.

    Baca saja ump blogger http://yosef-ardi.blogspot.com/, penuh dengan berita mengenai Menko Ekuin.

    Tapi Bakrie bukan satu satuna, Wapres pun memberikan peluang usah kepada keluarganya: inilah beritanya

    "Newcomers in the market are Lippo Group, Bosowa Motor (owned by Aksa Mahmud, brother-in-law of Vice President Jusuf Kalla), and some joint ventures between local and China motorcycle producers. The later produce what the local popularly called Mocin (motorcycle from China) to differentiate with the heavily dominating Japanese brands."

    Kelihatannya mumpung tidak (belum) ada pengaturannya. Kalau tidak salah, waktu saya belum pensiun dan kerja untuk suat BUMN, ada larangan keluarga saya ikut dalam usaha.
  6. From madame_meltje on 29 November 2005 14:20:35 WIB
    aduhhhh.... bapak-bapak ini kok pada gemes smuanya siy
    udah daripada pusing siapa pilih siapa mending kayak iTunes, ada shuffle songs. Random kan jadinya semuanya pasti kebagian hehehe, adil dan tertib teratur...
  7. From Amli Warman on 29 November 2005 15:13:18 WIB
    waduh susah juga ya jadi presiden , kalau salah pilih orang di bilang tidak becus. tampaknya presiden kita perlu human resource departement yang tepat. tampaknya semua anggota kabinet dilarang dari keluarga pengusaha. tampaknya anggota kabinet harus dari rakyat kaum jelata supaya tidak disangka korupsi karna menggunakan kekuasaan untuk menambah kekayaan. Tampaknya masih butuh 1000 tahun lagi untuk bangsa ini untuk berevolusi menjadi bangsa yang lebih maju. Apakah para pengamat tidak tahu bahwa mengubah suatu negara tak semudah membalikan tangan. Apalagi pemerintah kita harus memimpin 250 juta penduduk di indonesia yang notabene most of them is uneducated. yang educated saja bisa di suap apa lagi yang uneducated di jaman susah gini. jadi percuma saja mau di ganti kabinet nya beberapa kali tapi tidak pernah didukung oleh rakyat nya. Jadi menurut saya tak hanya pemerintah yang perlu di reshuffle tapi moral bangsa ini yang perlu di reshuffle.
  8. From Maggie on 29 November 2005 15:27:07 WIB
    Mr.Nice Guy kita alias SBY takut dimusuhi dan karenanya ia mengambil sikap yang aman, yaitu tidak berbuat apa2. Sebab kalau berbuat pasti ada pihak yang dirugikan.Dengan jutaan ton penyakit bangsa dan negara kita, yang kita perlukan adalah pemimpin adil yang mau bikin terobosan dan yang berani berbuat tidak populer seperti Thaksin. Sayang yang kita dapat adalah sebaliknya, pemimpin yang bisanya cuma senyum2, rapat (karena mungkin kurang pede),berwacana dan lepas tangan.
  9. From pengamat on 30 November 2005 05:47:28 WIB
    Maunya sih menjustifikasikan apa yang SBY lakukan sampai sekarang, because I like him.
    Barangkali justifikasinya: memang dia dapat majoritas suara rakyat (partainya yang menggonceng dia kok). Tetapi dia datang dari latar belakang yang kuat sekali tradisinya: TNI-AD, dimana masih harus berurusan dengan tokoh tokoh yang masih besar pengaruhnya meskipun sudah pensiun, sehingga susah untuk berpijak.
    Disamping itu, dia (meskipun dia pribadi yang dipilih rakyat) mau gunakan demokrasi parlementer, meskipun parlemennya terdiri dari orang orang ditunjuk oleh partai (tergantung dari kapabilitasnya tetapi juga dari besarnya sumbangan)

    Di parlemen untuk kebijaksanaan dibidang Ekonomi dia dapat backing dari salah satu partai terbesar, ialah Golkar. Tetapi biaya untuk dukungan ini cukup tinggi: ialah berhutang kepada pembantu pembantu utamanya dalam kabinet yang terdiri dari manipulator/pengusaha ulung: dwitunggal JK- AB.

    Itulah gambarannya menurut saya.
    Jadi apa kita bisa perbuat ?
    Ikuti saja dan berdoa, dan kadang kadang ngomong (barangkali didengar).
    Tetapi, …..kalau mau perbaikan yang lebih konsepsionil, berjuanglah agar di Pemilu yad yang kita tunjuk di parlemen itu betul betul wakil kita !!!
    Jadi berjuanglah untuk cara cara pemilihan (umpamanya dengan merubah undang undang Pemilu) yang hasilnya akan diekspresikan dalam perwakilan rakyat yang benar benar mewakili rakyat.
  10. From Adinda on 01 December 2005 09:50:14 WIB
    Dari diskusi diatas dan kabar -kabar lainnya memang nampaknya yang harus diperhatikan adalah axis JK (kalau boleh pakai istilah itu) dengan agenda - agenda nya yang mulai kelihatan sekarang.
    Jika ini dibiarkan akan menjadi sangat menyedihkan.
    Mari kita lihat the " ...ridiculously Innocent" Presiden kita berani atau tidak mengatasinya.
    Apapun hasil Reshuffle (atau tidak reshuffle) dalam waktu dekat ini adalah indikasinya.

    (..ngeliatnya aja udah stress)
  11. From rajakomentar on 01 December 2005 12:11:15 WIB
    Seperti judulnya Ngapain Sih Ngurusin Reshuffle? lebih baik kita duduk manis sambil minum air teh anget sama pisang goreng, buka mata buka telinga lebar2 belajar dari pengalaman bpk Presiden. Kalo toh bpk. Presiden santai2 aja kenapa kita yg musti repot2x ? gt aja repot kata Gus dur, toh jadi atau tidaknya kabinet di reshuffle dan baik buruknya dampaknya yg disebabkan, yg kena coreng atau tidaknya toh muka bpk Presiden juga toh?
  12. From daelami on 01 December 2005 14:09:55 WIB
    Reshuffle..... koq semua jadi yang repot. Pak SBY tambah bingung. Wong yang ingin jadi menteri banyak jadi bingung milih. Kabeh konco dewe. Kabeh ngacung pengin jadi menteri. Cuma saya ingatkan syarat seorang menteri waktu saya SD dulu yang pertama adalah AHLI DIBIDANGNYA. Ahli dibidang nya, didampingi ahli ahli pada staf jajarannya (ya dirjen, sekjen, irjen dsb dsb) masak iya gak bisa berhasil mengurus Departemennya.
  13. From anggabian on 02 December 2005 06:13:46 WIB
    tapi ada satu kasus yang menarik seputar isu reshuffle kabinet. liat aja para menteri yang "kinerjanya" ngaco! pada sibuk bikin iklan layanan masyarakat yang isinya yah apa ini bentuk ketakutan mereka karena mereka sadar dengan kinerja departemen/bidangnya ato sekedar mencari muka saja?
  14. From pengamat on 03 December 2005 04:33:06 WIB
    Akhirnya akan ada juga "reshuffle" (kecil kecilan), kalau mau percaya desas desus.
    Dan kelihatannya memang yang "terjelek" (maafkan istilahnya) yang akan dihanti.
    Kenapa hanya yang itu ? Kan ada lagi yang jelek (menurut saya dan anda yang hany bsa berpendapat)
    Hanya SBY yang tahu.
    Barangkali dia akan ngadain reshuffle secara berkala ?
  15. From njoy on 16 December 2005 21:02:14 WIB
    Ini merupakan bahan renungan buat kita semua...bahwa kita telah jauh dari-Nya. Ini adalah adzab dari Allah SWT...
  16. From \'ndut on 20 December 2005 21:58:26 WIB
    Barangkali yang perlu direshuffle bkn kabinetnya tapi bangsanya saja lah..Ganti saja bangsa ini dengan bangsa dari planet lain,gitu aja kok repot...
  17. From Mr.Nunusaku on 28 July 2006 22:43:52 WIB
    Banyak pemimpin elite kita telah memimpin bangsa RI sampai saat ini telah mencapai 60 tahun 'KEMERDEKAAN RI' batas umur 60 tahun bangsa ini dipimpin oleh elite kaliber murahan, bangsa RI tak pernah ada berubahan, tetap dalam kemiskinan, dalam penderitaan, kata Mantan Gus Dur bangsa RI sedang diterwakan oleh dunia luar.

    Ya penulis memberi saran, PINCAM SAJA NEGARA LAIN UNTUK MEMIMPIN BANGSA RI, SEMOGA ADA PERUBAHAN!
  18. From adhy on 13 November 2006 11:26:30 WIB
    Sudahlah SBY jangan terlalu banyak melakukan politik pencitraan supaya dirinya selalu terlihat bagus. Hanya orang bodoh yang melihat orang dari penampilan fisik (performance), bangsa Indonesia mayoritas berbendidikan masih rendah (bodoh), sehingga SBY diuntungkan dengan politik pencitran yang selalu ditampilkannya.
    Bagi saya, SBY yang saya lihat kinerjanya, kalo memang SBY kerjanya lamban dan tidak mampu menuntaskan reformasi turun sajalah!! Lumpur Sidoarjo tak terurus, kasus kematian munir dibiarkan, sementara Tomy Suharto sang pembunuh berdarah dingin malah dilepaskan, dan masih banyak kejanggalan lainnya. Jadi saya gak habis pikir otaknya ada dimana rakyat yang sekarang masih "mendewakan" (mendukung berat) SBY.
  19. From cheetz on 09 May 2007 17:51:50 WIB
    resshufle???

    bener g usah dipikiri.,toh klo ngonong ini itu jg bwt qta g bakal ngaruh apa2...

    mending tunggu hasil n doain aja,,noga2 sapapun yg skrg dipilih bisa memperbaiki bangsa ini jd lebih baik,,,

    good luck Pak SBY,,nasib kami ada di tanganmu..
    hohoho..

    peace!!

« Home