Articles

Tanggapan resmi POB mengenai reshuffle

Perspektif Online
06 December 2005
Haha, semua tanggapan Partai Orang Biasa pasti 'resmi'. Silakan buat tanggapan sendiri di ruang komentar.
 
Oke, yang jelas, tim ekonomi kita sekarang solid. Boediono adalah cool medium, respected by everyone. Dan Sri Mulyani - public favorite - adalah big fan of Boediono. Waktu Habibie diganti, SMI mengatakan best choice for Menko Ekonomi would be Boediono (tapi SMI sendiri waktu itu lebih populer). Sekarang akhirnya dua-duanya bersatu jadi anchor tim ekonomi, walaupun mereka tidak se optimis dulu.
 
Ada catatan kecil dan catatan besaaaar. Catatan kecilnya, memasang duo Boediono-SMI adalah seperti Arsenal punya double striker. Dua-duanya OK tapi lapangan tengah lemah, dan barisan belakang sering kebobolan. Penguatan di Menko-Menkeu mendapat beban mengangkat kelemahan di Industri, Pertanian, BKPM dan badan-badan lain seperti Bulog. Susahnya juga 'dream duo' kita bukan pemain keras, tidak punya kekuatan politik. Sedangkan urusan ekonomi adalah urusan kekuatan politik, terutama diluar sektor moneter. Buktinya, orang yang jelas gagal ngurus ekonomi, tidak bisa diberhentikan.
 
Oke lah, tidak bagus bersikap negatif, apalagi ikut trend kalau ada penunjukkan pejabat, langsung dicari kelemahannya. Yang jelas SBY beriktikad baik, dan mengatasi kelemahan utama dalam teamnya. Lebih penting dari itu (mungkin) adalah persepsi pasar yang pasti melonjak naik melihat dua orang kesayangan IMF dan Bank Dunia. Dua orang ini bersih dan sangat fasih menjalani lorong2 lembaga keuangan internasional. Tidak akan susah cari pinjaman.
 
Catatan kedua lebih besar. Ingat dua topik besar yang diangkat dalam blog kita belakangan ini? Dana Kompensasi BBM dan Flu Burung. Masing-masing mewakili masalah-masalah besar: (1) lack of social compassion dan (2) lack of sense of priorities. Program Dana Kompensasi BBM dirancang oleh orang yang duduk dibelakang meja. Tidak terbayangkan betapa dahsyatnya kekecewaan rakyat sampai lurah dipukulin rakyat yang terusik  rasa keadliannya.
 
Flu Burung adalah ancaman terbesar bagi kehidupan orang. Tapi masyarakat masih belum 'ngeh'. Ada yang menghindar makan ayam, menganggap itu lelucon, ada yang menganggap itu isu konspirasi. Memang bukan di kita saja begitu. Ada dutabesar negara sahabat dekat yang curiga Flu Burung adalah isu yang dilaksanakan negara Eropah yang mau memasarkan susbtitut ayam. Hello ???
 
Apa message Catatan Kedua ini? Sementara team ekonomi dibenahi karena banyak direpotkan oleh 'investor asing' dan 'pasar', pengelolaan masalah rakyat tidak ditangani sama sekali. Kesehatan, pendidikan, income generation, disaster management. Wah, asyik sekali andaikata jabatan Menko Kesra  diserahkan kepada tokoh Civil Society. Dengan mengefektifkan network civil society global, kita tidak terhambat batasan APBN. Mengapa bukan memilih person yang dipercaya mempunyai social compassion? Banyak nama, tapi semuanya teman, jadi nggak enak mencalonkannya disini.
 
Paling tidak jangan dikasih ke orang yang sama sekali tidak mengerti social compassion. Please deh....
 
Bisa-bisa jadi Menko Kesengsaraan Rakyat (thanks utk istilah ini, cl)
 
SBY, you are a good person. Keep trying, mandat rakyat di tangan anda. Tidak perlu marah-marah lagi tentang gosip reshuffle, kalau anda melakukan perubahan sebelum orang membuat gosip.
 

Print article only

11 Comments:

  1. From Mansur on 06 December 2005 09:29:40 WIB
    Semoga duet striker Boediono – SMI tidak membuat tim SBY kalah 0-7. Katanya, kalah 0-7 itu namanya ancur lebur. Tapi kalau kalah 2-7, itu berarti kita hebat, boleh dibilang kita lebih kuat dari lawan. Ini kata seorang analis tahun 50an.
  2. From Sri on 06 December 2005 12:50:02 WIB
    Kalau 2006 dollar menggila ,ada Tsunami lagi plus Gempa bumi,terus harga minyak melambung, wah the dream duo Boediono/SMI bisa keteteran juga. Ngomong2,kayanya SBY masih gerah juga ya, sama kritik2 dan omelan media, kok defensif amat sih.Jangan gitu dong,kan publik juga berhak untuk ngikuti gossip2, siapa tahu benar adanya.Dan ternyata, gosip2 yang beredar di media tentang bursa reshuffle kan ternyata banyak benarnya juga kan.
  3. From gunawan on 06 December 2005 15:17:28 WIB
    Reshuffle sebenarnya mungkin hanya urusan elite atau kelas menengah-atas. Sementara mereka yang hidup di grass root tetap masih berkutat dengan urusan perut yang semakin menjadi masalah setelah BBM naik rata-rata diatas 100 persen awal Oktober lalu. Dimana-mana mereka mengeluhkan tentang ongkos angkutan yang naiklah, harga barang-barang naik etc. Pergantian menteri mungkin membawa harapan bagi sebagian orang terutama setelah duet Pak Boed dan mbak Ani menjadi Menko dan Menkeu, tapi rakyat biasa tetap mengharapkan agar kesulitan yang mereka alami sekarang bisa sedikit berkurang. Caw
  4. From Satya on 06 December 2005 17:53:09 WIB
    karena toh semua orang berpendapat begini, sekalian aja saya katakan juga: reshuffle-nya tanggung! pendukungnya juga beranggapan gini, tapi karena pendukung mereka don't mind.

    tapi mungkin memang dalam politik ga bisa langsung pecat yang payah, soalnya tetep butuh dukungan. karena itu kita coba cari positifnya aja. paling tidak.. menteri yang baru belum punya holding companies untuk menaruh proyek2 KKN-nya.. atau udah siap, cuman saya belum tahu aja?

    seneng analisa ini. bukan harus, bukan penting, tapi karena mau aja. untuk yg bilang "ngapain ngomongin.." kita jawab "ngapain baca.. kesian deh lo!"
  5. From wimar on 06 December 2005 17:56:31 WIB
    hehe iya setuju sri tuh .. kaget juga, surprise terbesar waktu pengumuman reshuffle itu adalah bahwa SBY panjang sekali ngomel tentang gossip.. betul, kebanyakan bener lagi, gosip itu.. tapi bagus lah ada yang tidak terduga dari SBY, supaya nggak terlalu predictable... salah juga saya bilang 'ngapain ngurusin reshuffle?' ternyata seneng juga nunggu pengumuman nama, ditambah ketegangan menunggu selesainya omelan SBY .. mungkin ini menjadi exciting karena seperti Indonesian Idol, kita ingin tahu apakah favorit penonton sama dengan keputusan Presiden.. asyik .. sering-sering dong reshuffle, masih banyak tuh yang perlu diganti hehehe
  6. From Satya on 06 December 2005 18:12:36 WIB
    cari positif part 2: seneng punya presiden yang gosip aja didengerin. dulu sempet punya presiden yg ngikuti berita aja gak. mungkin presiden skrg bisa sekali2 bikin press conf menyangkal gosip ala selebriti.. "aduh coba deh, mana mungkin aku cabut menko. ga bener tuh.."
  7. From pengamat on 07 December 2005 06:29:03 WIB
    Hasilnya dibidang ekonomi tidak akan lebih jelek (mudah mudahan) kalau dibandingkan dengan yang lama, ditinjau dari segi keahlian dan –terutama- dari segi perhatian (karena tidak akan mementingkan usaha pribadinya seperti yang lama).
    Tetapi saya sih agak kecewa. Memang hanya di bidang ekonomi saja lemahnya kabinet ini ?Apakah dibidang lain memang tidak diperlukan adanya perbaikan ? Termasuk pergantian orangnya, bekas menko (yang diganti karena gagal: AB) jadi menko dibidang lain. Jangan jangan Presiden sudah puas dengan kinerja menteri menteri dibidang non-ekonomi, padahal kebobrokan keaadaan negera saat ini disemua bidang (terrorisme, hukum, budaya, olahraga dll dll) diakui tiap orang.
    Katanya beliau tidak ada yang nekan (partai atau whatever), kalau begitu beliau “concede” tanpa tekanan ? Masa tidak ada orang yang bisa gantikan menteri menteri yang diangkat hanya karena dukungan partai.
    Saya juga sesalkan kenapa Presiden kita harus marah marah terhadap “spekulasi” mengenai reshuffle, padahal segala tindakannya memancing spekulasi tersebut. Menurut saya malahan nggrundelnya ini bisa mengurangi kebebasan orang mengekspresikan pendapat secara terbuka (kita kan masih takut keatas).

    Barangkali yang salah saya sendiri, terlalu banyak mengharap. Tetapi lebih salah lagi: jika kita anggap tidak ada postifnya (atau negatifnya) sama sekali. Reshuffle ini BUKAN hanya urusan kaum elite. Daripada begitu lebih baik kita tidak beri komentar saja.

  8. From Sri on 07 December 2005 13:27:48 WIB
    Pengen nambah komentar lagi ahh..Itu soal tekan menekan seharusnya gak perlu diomelin.Semua pemimpin politik pasti menerima tekanan kanan kiri. Itu mah biasa. Yang jadi soal bukan ditekan atau tidak, tapi bagaimana kita menghadapi tekanan itu. Kalo emang PD ya jalan terus jangan sampai timbul kesan gamang kaya SBY. Tapi jangan juga kelewat PD kaya si Dubya Bush.Yang ini sih tipe kepala batu.
  9. From Age Pambudi on 08 December 2005 12:13:31 WIB

    Entah bagaimana, mekanisme pasar Indonesia kok ikut-ikutan terstimulasi suasana "klenik". Hadirnya duet Budiono+SMI dikultuskan sebagai "empu bijak" penyelamat negeri. Katanya, Budiono itu sudah berpengalaman jadi menteri. Bagusnya di mana, kalau kita kembali lagi ke konservatif. Ini berarti kita gagal menatap masa depan, gagal dalam hal kaderisasi. Please dong ganti dengan yang lebih muda, biar negeri ini lebih enerjik gitu! Repot kalau ikut-ikutan cara berfikir sebagian besar "orang kita". Yang jadi Menteri itu orang-orang Perguruan Tinggi. Kita masih dalam suasana negara terbelakang. Makanya salah kaprah, para Dosen Muda kita maunya pada jadi menteri, bukan untuk jadi peneliti. Padahal harusnya mereka jadi "pendidik" dan "pengembang iptek". Coba dong tanya itu Menteri/Ketua Lembaga yang profesi aslinya "Guru", berapa jurnal internasional yang diterbitkan. Terus mahasiswa di Indonesia itu pada belajar apa, wong guru-gurunya pada "ngamen" pengin jadi menteri. Embuhlah!
  10. From ita sembiring on 09 December 2005 12:26:31 WIB
    Saya cuma sampaikan komentar ponakan saya soal pergantian menteri.
    Katanya, pusing deh menteri ganti melulu. Di sekolah ditanya siapa menteri anu, siapa menteri ini, menteri itu saya diam saja. Habis bingung sih, kemarin baru ngapalin nama-nama menteri eh udah diganti lagi. Belum sempat ingat nama menteri yang baru eh.. udah dganti lagi. Sementara bu guru tahunya cuma marah dan bilangkita goblok kalau gak bisa jawab padahal bu guru sendiri juga kalau gak lihat catatan juga bingung lah banyak banget nama menteri dan gonta-ganti terus.
    he..he.he..

    salam dari Holland
  11. From firman on 10 December 2005 22:20:26 WIB
    ganti mentri sebenarnya memang wewenang presiden, yg jadi masalah jika jabatan mentri hanya untuk memenangkan suara di parlemen tanpa melihat kemampuan yang bersangkutan. SBY Kala belum kapok dengan blundernya Aburizal Bakrie salah satu pengemplang BLBI dan dengan tanpa perhitungan menunjuk Paskah Zuzeta yang terkenal dengan tukang kemplang di DPR.. tampaknya bandit2 kuning masih punya bargain politik yg tinggi di negri in.. yah salah voter jua sih he he mengapak Golkar masih dipilih juga. memang pilihan voters sulit sekali krn partai lain juga ancur2 an, misalnya PKS yg mencalonkan SURIPTO tersangka Korupsi Helikopter sebagai Jaksa Agung..

« Home