Articles

Terkait Kerusuhan Sydney, RI Belum Keluarkan 'Travel Warning'

Media Indonesia Online
13 December 2005

JAKARTA--MIOL: Departemen Luar Negeri RI belum menganggap perlu penerbitan peringatan perjalanan (travel warning) bagi warga Indonesia yang akan mengunjungi Australia terkait kerusuhan berbau rasisme di Sydney.

Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Deplu RI Yuri Thamrin di Jakarta, Selasa, menjawab pertanyaan tentang kemungkinan penerbitan travel warning bagi warga Indonesia yang ingin berkunjung ke negeri kanguru.

Yuri mengatakan, ia yakin bahwa Pemerintah Australia akan menyelesaikan masalah itu dengan baik, namun Deplu RI belum berpikir untuk mengeluarkan travel warning ke negara itu karena kebijakan tersebut tidak efektif dan berdampak buruk bagi negara bersangkutan.

Sebagai subyek yang sudah berpengalaman dengan kebijakan peringatan perjalanan negara-negara tertentu, Indonesia justru tidak ingin pengalamannya yang "tidak mengenakkan" itu dialami negara-negara lain, katanya.

Hanya saja, melindungi WNI merupakan kewajiban utama kantor-kantor perwakilan RI di Australia dan di negara-negara manapun, katanya.

Sebelumnya, Kedutaan Besar RI di Canberra hingga Selasa belum menerima laporan tentang adanya warga negara Indonesia (WNI) yang ikut menjadi korban kerusuhan berbau rasisme di sejumlah wilayah selatan Sydney, Australia, beberapa hari terakhir.

"KBRI Canberra belum menerima laporan yang menunjukkan adanya warga negara kita yang ikut menjadi korban kerusuhan itu. Kita terus memantau dan melaporkan perkembangan kasus ini ke Jakarta," kata Juru Bicara KBRI Canberra, Dino Kusnadi.

Kerusuhan yang pecah pada Minggu (11/12) di wilayah selatan Sydney, seperti Cronulla Beach, Maroubra Beach, dan Botany Bay di pinggiran kota terbesar di negara berpenduduk lebih dari 20 juta jiwa itu, yang mengakibatkan 31 orang cedera.

Menurut Dino, KBRI Canberra dan Konsulat Jenderal RI di Sydney terus memantau perkembangan kejadian itu dan dampaknya terhadap masyarakat Indonesia yang ada di kota metropolitan dan pusat bisnis Australia itu.

"Kami meminta seluruh warga Indonesia agar tetap tenang dan waspada, dan meminta mereka agar tidak mengeluarkan pernyataan-pernyataan dan melakukan tindakan yang dapat memperkeruh suasana," katanya.

Intinya, KBRI meminta seluruh warga Indonesia yang ada di Sydney dan kota-kota lain di Australia untuk tidak melibatkan diri dalam masalah "kelompok antar-ras" itu, kata Dino.

Ia selanjutnya mengatakan, kerusuhan Sydney itu pada mulanya bukanlah "anti Muslim" namun pada perkembangan selanjutnya, ada unsur-unsur agama yang terbawa kendati itu bukanlah "inti permasalahannya".

Terkait dengan kerusuhan itu, harian Republika edisi Selasa menyebutkan pihak Kepolisian New South Wales (NSW) telah menahan 16 orang. Mereka berasal dari kelompok Neo-Nazi dan kelompok yang mengagungkan kulit putih.

Stasiun radio ABC melaporkan, pemerintah NSW akan menerapkan undang-undang baru yang akan disahkan parlemen pada hari Kamis (15/12) untuk menangani kekerasan bernuansa rasisme seperti yang terjadi di wilayah Selatan Sydney itu.

Dalam kerusuhan itu, kantor-kantor Dewan Islam Victoria di barat Melbourne telah dirusak para perusuh untuk kedua kalinya Desember ini.

Perdana Menteri Australia Barat, Geoff Gallop, menggambarkan serangan terhadap sebuah keluarga keturunan Timur Tengah di Perth sebagai tindakan kejahatan yang tak dapat diterima.

Kepala Polisi wilayah Macquarie Fields, Stuart Wilkins, seperti dikutip ABC mengatakan, penindakan atas penjualan alkohol akan membantu penghentian kekerasan jalanan.

Hanya saja sejumlah ulama Arab dan pemimpin Muslim Australia, seperti dikutip Republika, mengatakan, "kejadian seperti ini telah diduga sejak lama ketika Muslim menjadi target rasial terkait dengan perang Irak dan ledakan bom di Bali, Indonesia, yang menewaskan puluhan warga Australia, (di mana) enam di antaranya warga Cronulla." (Ant/OL-03)

Dari Media Indonesia

Print article only

6 Comments:

  1. From andie r on 14 December 2005 08:09:16 WIB
    RI belum akan mengeluarkan travel warning untuk kunjungan ke Australia dengan alasan efektifitas dan dampak buruk bagi negara bersangkutan (australia), merupakan sikap yang menunjukkan penghormatan dan penghargaan (juga kedewasaan) sebagai negara sekawasan. hal yang ironi bahwa di lain pihak Australia justru telah kembali mengeluarkan peringatan kepada warganya yang ingin ke Indonesia akan ancaman serangan selama libur natal dan tahun baru.(....ehm, jadi bingung nih!).
  2. From Satya on 14 December 2005 08:41:08 WIB
    keadaan bahaya banget, anak2 saling SMS untuk ngumpul minum alkohol dan gebugin siapapun yang bukan putih. ada ibu2 pemilik restoran thai aja dikeroyok. dan ini warga biasa lho, bukan orang miskin yang dibayar tentara seperti yang kita udah kenal di jakarta. kerusuhan rasial ini dikerjakan dengan tulus dan mereka akui sendiri dari nafsu dan kebencian terhadap "imigran" yg udah lama terpendam. padahal semua disitu juga imigran. kita aja yg kasih warning: hati2!
  3. From ita sembiring on 15 December 2005 18:33:29 WIB
    Persoalan 'buru memburu' seringkali memang jadi pikiran saya pribadi. Sebab status saya juga 'imigran'. Cuma sementara ini masih sangat aman sebab berada di 'vaderland'. Yakin kalau Belanda gak akan nyerang orang Indonesia begitu aja sebab kita juga dulu nggak langsung nyerang mereka kan meski udah 350 tahun diam di tanah kita.
    Tapi yang jelas, sejak kematian Pim Fortuiyn dan Theo van Gogh, para Nederlander juga mulai gerah dengan orang asing (meski dari dulu juga udah banyak yang diam-diam sebel, sebab para imigran kok lebih kuasa ya dari penduduk asli.. he.he.he.) Berhubung undang-undang nomor satu adalah anti rasial dan human right, jadi ngedumelnya dalam hati saja, atau sekedar melontarkan di lingkup kecil sebagai bahan diskusi tapi nyolot.
    Kalau Australia tiba-tiba 'marah' yah.. gimana ya.. habis di negeri kita juga, orang mau berlibur 'diudak-udak', ada ancaman 'disapu' (baca: sweeping)
    Lantas ada orang ngudak balik.. mau di komentari apa ya.???
    Ah gitu aja deh.. jadi bingung juga..nih sesama kaum imigran.
  4. From Arga on 16 December 2005 13:41:22 WIB
    Membalas travel warning dengan travel warning sih kayaknya kekanak2an.Kita terbiasa menyalahkan orang lain dan malas untuk melihat kelemahan sendiri.Travel warning kok jadi masalah besar sih.Jangan manja dan ngedumel travel warning dari Ausie atau US. Lawan saja travel warning dengan program promosi atau public relation campaign yang bagus seperti Thailand atau Malaysia.Tapi disininya juga harus bersih dari tikus2 imigrasi,bea cukai dan bikin airport yang nyaman dan tujuan wisata yang aman.
  5. From Adrimas on 03 January 2006 12:22:42 WIB
    saatnya untuk membalas travel warning yang selama ini sering dilontarkan Australia terhadap Indonesia
  6. From Indoman on 26 March 2006 06:45:59 WIB
    See , betapa rasisnya orang2 yg ada di Australia [bloody convict ]yg katanya mereka warga Aussie yg padahal bangsa Aussienya sendiri [ Aborigin ] ngak pernah rasis atau nyuruh pulang/balik warga keturunan Arab atau Asia . NaGK usah cari bukti soal itu, saya sendiri bisa membuktikannya dan merasakan betapa rasisnya SEBAGIAN CONVICT/RED NECK DI AUSSIE >>>> not all of them but mostly. Thanks to Aboriginal poeple for being friendly to any Nations/migrant .
    We are brother , mate .

    Me

« Home