Articles

Nyaman di tangan perempuan

Perspektif Baru
19 December 2005
oleh: Wimar
 
Data awal dari Cetro Divisi Perempuan menyebutkan, pada 2002 jumlah hakim perempuan di Indonesia ada 536 (16,2%) sedangkan jumlah hakim pria 2.775 (83,8%). Jumlahnya masih 100%, belum ada gender ketiga. Data lebih baru tidak ada, kecuali kalau ada yang kirim . LBH APIK dan Yayasan Jurnal Perempuan tidak mempunyai data tersebut. So what, gitu loh....
 
Data dari Thailand tidak diketahui pada saat ini, berhubung saya hanya satu hari disini dan juga tidak melakukan riset, hanya kebetulan nyasar ke urusan di gedung pengadilan. Seperti biasa dalam situasi baru, perspektif kita dilebarkan sayapnya. Kali ini perspektif gender yang dipakai, gara-gara terkesan ikuti diskusi di Jurnal Perempuan. Yang teranati pada waktu lihat-lihat aktivitas pengadilan di dua kota Thailand, adalah bahwa peran perempuan kelihatan kuat.
 
Mereka gesit, bergerak cepat, bicara cerdas (walaupun saya tidak mengerti) dan cantik-cantik. Mungkin komentar soal cantik ini masih treaksi terhadap omongan Eva Longoria (silakan search di website ini kalau belum tahu) bahwa orang cantik susah dapat peran penting. Siapa bilang? Kalau Eva datang ke Chonburi dan Bangkok, pasti ketemu orang cantik yang berperan sangat penting. Mungkin tidak secantik Gabrielle Solis / Eva Longoria, tapi itu kan relatif. Yang jelas, orang yang berperkara dengan berkas tebal dan muka gugup, banyak yang diwakili perempuan. Empat pemuda berpakaian pink yang dirantai kakinya, ditanyai oleh pengacara perempuan. Pengacara perempuan di Bangkok yang berjubah hitam resmi, kelihatannya lebih cocok menjadi presenter acara selebriti di televisi sore hari.
 
Yang paling menakjubkan adalah hakim di kedua pengadilan itu, yang semuanya perempuan. Terkesan sekali ketika pada satu saat, dua hakim dan dua pengacara yang berunding berbisik di hadapan meja hakim ternyata perempuan semua. Sementara yang laki-laki menunggu hasil perundingan dengan muka bengong. Apalagi saya yang duduk jauh di bangku belakang dan tidak bisa mendengar, lagian nggak bakal ngerti omongan mereka kalaupun bisa dengar.
 
Pointnya tulisan ini, adalah bahwa rasanya nyaman mempercayakan hukum pada orang-orang seperti ini. Hakim di Chonburi adalah perempuan yang pasti berusia dibawah 30, mungkin 26. Paniteranya perempuan. Seperti teman-teman di friendster, mereka mengesankan komunikasi, optimisme dan idealisme. Tidak ada kesan-kesan korup. Tidak terbayang dia bisa menjadi anggota mafia peradilan, at least not for another twenty years.
 
Tidak tahu ada berapa hakim perempuan di Thailand, tidak tahu juga umur mereka, tapi respect for the law lebih terasa. Orang bertengkar melakukannya di pengadilan dalam forum peradilan. Bukan bertengkar melalui somasi yang diselesaikan melalui tabloid gosip. Gedung pengadilan negeri di Thailand berwibawa dan sangat nyaman, gedung terang benderang dengan kayu kelas menengah atas, AC dingin, tempat parkir luas. Hakimnya orang biasa, perempuan yang kelihatannya hanya memikirkan soal hukum. Beda dengan hakim yang memikirkan bagaimana supaya jangan dikejar KPK, mempelajari hukum untuk menghindarinya. Gedung pengadilan di Indonesia rata-rata payah, hakimnya kebanyakan kaya.
 
Eva Longoria, kalau mencari peran penting, jadilah hakim. Di tangan hakim perempuan, dunia akan bertambah baik.

Print article only

6 Comments:

  1. From donni on 20 December 2005 08:59:48 WIB
    setuju oom...

    cantik itu relatif...kalo yg tidak cantik alias jelek baru mutlak...hehehehe

    loh kok jd gak nyambung....:D
  2. From CL on 20 December 2005 09:31:07 WIB
    pagi ini di detik com [Selasa, 20/12/2005 06:37 WIB]
    ada berita
    Presiden SBY Canangkan Reformasi di Peradilan
    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menurut rencana pagi ini akan mengadakan pertemuan dengan para hakim di Gedung MA. Presiden SBY rencananya akan mencanangkan reformasi peradilan.

    mungkin reformasi yg dimaksud, hakim diganti jadi perempuan semua kali ya :]

    positif pointnya: mungkin SBY baca PO setiap pagi hehehehehe
  3. From RM Mihradi on 20 December 2005 22:09:15 WIB
    Om Wimar
    hakim apapun jenis kelaminnya, memiliki tanggung jawab moral vertikal dan horizontal. Vertikal ke Tuhan, horizontal ke publik. Core bisnisnya kepercayaan (trust). Kita miskin moral dan minim core bisnis tadi. Mafia peradilan membunuhnya semua itu. Orang biasa mungkin tidak bisa diam diri, mengutuk dan tidak ikutan salah satu alternatif selemah-lemahnya iman. Clean justice community baik kiranya digagas.Mungkin om wimar bisa memfasilitasi semacam klub profesi yang tidak terima KKN.
    salam
    RM Mihradi
  4. From andie r on 21 December 2005 09:43:25 WIB
    sayang gak dikomparasi dengan data di thailand,biar bisa diliat apa hanya dari kuantitas atau juga kualitas kita kalah (tapi kalo ingat mafia peradilan disini, wah jelas untuk jawaban yang terakhir ini...).Tapi kalo ternyata 'Hakim di Chonburi adalah perempuan (yang pasti berusia dibawah 30 mungkin 26) dan Paniteranya perempuan (yang semuanya mengesankan komunikatif, optimismistik, dan idealis) sehingga Tidak ada kesan-kesan korup dan tidak terbayang bisa menjadi anggota mafia peradilan, ini harus jadi catatan juga untuk mahasiswi2 (yang cantik pula) dari fak hukum yang tersebar di seluruh negeri ini. so.... yah jadilah hakim yang cantik dan 'bermain cantik' (tetap bersih, dan gak mau disuap.....)
  5. From ary on 28 January 2006 22:47:57 WIB
    keadilan ditangan apapun itu baik perempuan maupun laki-laki kita selalu berharap dia akan tetap adil.adil apakah kita pernah bertanya adilkah pimimpin kita sekarang ini atau adilkah diri kita selama ini???????????
  6. From Mr.B on 24 October 2006 23:43:07 WIB
    maalah gender yang membedakan dalam bentuk sifat yang menentukan ketegasan, merupakan suatu bentuk yang digapai dalam hal ini merupakan upaya untuk meberikan arti keberadaan dunia yang digeluti sebagai profesional, tanpa mengesampingkan arti yang selama ini selalu dianggap menyudutkan akan kesetaraan kesempatan yang masih didominasi kaum lelaki, merupakan azas pembalikan dari isu dari masalah yang menginginkan konseptual yang secara manuver memanipulasi dari keadaan yang sedang terjadi diantara dua idealisme men yang bersifat lebih agresor dan women that more considered heart and love inside yang terbukti efektive untuk meredam gejolak yang sifat politis dalam hal praktis namun dalam kenyataannya fungsi ideologis ini hanya melemahkan akan adanya keberanian untuk mengupayakan sesuatu yang sifatnya ekstrem dalam hal pemunculan karakteryang siap untuk melawan bentuk cinta namun terkadang malah menimbulkan kemunafikan dalam pelaksanaannya, seperti UN yang selalu menebaran cinta ke seluruh pelosok dunia namun dalam kenyataan yang ada tidak berani mengambil tindakan dalam perang yang merenggut banyak cinta, entah cinta didalam keluarga, cinta sesama, dan yang paling ironisnya cinta akan keyakinan, yang semakin mengalami pemunduran, dari segi pengorbanan dlam bentuk pengabdianya terhadap yang terkena putusan yang tidak semestinya demi keuntungan ekspansi.

« Home