Articles

Wimar Witoelar, Si Tukang Protes (1/3)

Femina
16 March 2000

Sosoknya memang sangat mudah diingat dan pasti menjadi favorit para pelukis karikatur. Tubuh subur, rambut keriting (asli lho, katanya), berkacamata tebal, dan gemar memakai kemeja santai dengan warna dan motif meriah. Kalau tertawa, kedua pipinya terangkat, sehingga kedua matanya hanya terlihat sebagai dua garis tipis. Ada anekdot, kalau saja kulitnya tidak gelap dan rambutnya tidak kribo, Wimar bisa disangka keturunan Cina.

Fasih bicara, terutama soal politik, memang menjadi ciri khasnya, sekaligus modalnya saat memasuki dunia talk show. Dibalik gaya bicaranya yang santai dengan dialek Sunda yang kental dan selalu menyelipkan humor, sebetulnya ia kerap melontarkan kritik-kritik yang nyelekit terhadap pihak-pihak tertentu. Ia sendiri pun pernah dikritik pedas oleh pemirsa (lewat telepon) saat sedang memandu suatu acar dialog interaktif di televisi, menjelang dan seusai Pemilu 1999 lalu.

Kata orang, satu-satunya 'kelemahan' Wimar sebagai pemandu dialog adalah bahwa ia tidak bisa bersikap netral. "Saya memang nggak bisa netral kalau hati nurani saya tidak mengizinkan," kata pria yang sempat minder menghadapi wanita karena tubuhnya yang gemuk dan rambutnya yang kribo ini, kalem.

Kompak dengan Kakak

Tak ada yang lebih membahagiakan Wimar kecil selain berada di tengah kehangatan keluarganya. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, ia menjadi kesayangan orang tua serta keempat kakaknya: Luki Djanatun Muhamad Hamim (lahir tahun 1932), Kiki Waskita (lahir 1935, satu-satunya wanita), Toerki Joenoes Moehamad Saleh (lahir tahun 1938), dan Rachmat Nadi (lahir tahun 1941). Yang juga tak kalah menyayanginya adalah Yuyuy (Tuparsih Midjajakusumah), yang dipanggilnya dengan Bi Yuyuy, salah seorang adik ayah Wimar yang lama tinggal bersama keluarga Witoelar.

Wimar Jartika Witoelar lahir di Padalarang, Jawa Barat, 14 Juli 1945. Ayahnya, Raden Achmad Witoelar Kartaadipoetra (1910-1987), bekerja sebagai pegawai pada Pemerintah Hindia-Belanda, antara lain pernah menjadi camat dan wedana di beberapa wilayah di Jawa Barat. Ibunya, Nyi Raden Toti Soetiamah Tanoekoesoemah (1914-1977), seorang ibu rumah tangga yang belakangan aktif di Women International Club. Keluarga Witoelar sering berpindah-pindah kota, mengikuti penempatan sang Ayah. Sebelum di Padalarang, mereka pernah tinggal di Bandung, Singaparna dan Tasikmalaya. Setelah beberapa tahun di Padalarang mereka pindah kembali ke Bandung.

Meski dekat dengan semua kakaknya, Wimar terlihat paling kompak dengan Rachmat, kakak persis di atasnya. "Mungkin karena waktu itu Kang Rachmat satu-satunya kakak yang 'tersisa' di rumah. Yang lain sudah melanjutkan sekolah di Bandung," kata Wimar yang usianya terpaut empat tahun dengan Rachmat.

Begitu kompaknya kakak-adik itu, sampai-sampai orang merasa 'heran'. Yuyuy yang sudah ikut merawat Wimar sejak si bocah berusia empat hari, menggambarkan kedekatan Wimar dengan Rachmat sebagai kedekatan yang luar biasa. "Seingat saya, dari dulu hingga sekarang saya belum pernah melihat mereka bertengkar, apalagi berkelahi. Ke mana-mana selalu berdua. Naik sepeda berdua, les piano berdua, tidur berdua (sekamar), bahkan mandi pun berdua,"tutur Yuyuy sambil tertawa.

Setelah Indonesia merdeka, Achmad Witoelar bergabung di Kementerian Luar Negeri RI yang ikut didirikannya. Tahun 1950, ia ditugaskan sebagai diplomat di Belanda, lalu di Swedia. Pada tahun 1955, ia melanjutkan tugasnya sebagai diplomat di Denmark. Karena sudah kepalang sekolah di Belanda, ketiga anaknya tidak ikut ke Denmark (Luki sekolah di delf, Kiki di Leiden, Toerki di Amsterdam). Jadi, lagi-lagi, yang tersisa cuma Rachmat dan Wimar. Tak heran bila keduanya semakin lengket saja.

"Ya, mau tak mau kami harus kompak. Kami 'kan pindah-pindah terus, sehingga nggak sempat punya teman dekat. Sebagai orang asing di negeri orang, wajar saja kalau kami jadi kompak dan saling melindungi,"tutur Rachmat Witoelar, tersenyum. Ia justru merasa heran karena orang-orang sering mempertanyakan hubungannya yang sangat dekat dengan Wimar. "Apa anehnya, sih, kakak-adik kompak dan saling menyayangi? Bukankah memang seharusnya begitu?" Rachmat balik bertanya.

Sebagai kakak, Rachmat yang pernah jadi Sekjen Golkar dan Duta Besar RI di Rusia dan Mongolia ini, tak pernah keberatan adiknya ngintil ke mana pun ia pergi, termasuk ikut bergaul dengan teman-temannya. "Dia penurut dan nggak bikin repot, kok. Lagi pula, dia lucu dan bisa membuat suasana jadi gembira. Hanya saja, setiap kali pergi dengan dia, saya tidak boleh lupa bawa uang, karena dia maunya jajan terus," tambah Rachmat, tertawa.

Meski usia mereka terpaut empat tahun, untuk urusan wawasan Wimar memang tidak malu-maluin sang kakak. "Dia sangat cerdas. Sering kali, dia justru lebih banyak tahu dibanding saya dan teman-teman saya. Mungkin karena dia banyak membaca," kata Rachmat memuji sang adik. Meski berusaha memperlihatkan mimik yan wajar, tak dapat disembunyikan rasa sayang dalam suaranya. Sebaliknya, Wimar juga sangat 'memuja' sang kakak yang digambarkannya sangat sabar dan baik hati.

Awalnya, Wimar dan Rachmat ditempatkan sekamar karena tidak ada kamar lain yang kosong di rumah mereka. Tapi setelah ketiga kakak mereka bersekolah di luar kota/negeri dan tersisa banyak kamar kosong, keduanya tetap saja betah tidur sekamar. "Enak, ada teman. Bisa ngobrol dan ngerumpi dulu sebelum tidur. Lagi pula saya ini sebenarnya penakut. Soalnya, dulu kakak-kakak saya sering mendongeng cerita yang serem-serem sebelum tidur," kata Wimar yang sempat fasih berbahasa Denmark itu (sekarang cuma pasif, katanya).

Menurut Yuyuy, sejak kecil kecerdasan Wimar memang sudah menonjol, meski keempat kakaknya juga terhitung pandai-pandai. "Rsa ingin tahunya besar. Umur 3 tahun dia sudah bisa membaca, umur 4 tahun masuk TK dan sudah bisa menulis. Dia sering protes kepada saya karena di sekolah harus belajar lagi hal-hal yang dia sudah tahu," kenang Yuyuy yang waktu itu sering mengantar-jemput Wimar sekolah.

Karena sangat suka membaca, pada umur delapan tahun Wimar sudah pakai kacamata. Mata pelajaran yang sangat disukainya adalah ilmu bumi. "Dia paling senang main-main dengan atlas dan globe (bola dunia), dan tahu persis dimana letak kota New York, Amsterdam dan sebagainya. Dia sering berkhayal sambil nunjuk-nunjuk globe, 'Nanti saya mau ke sini, sini, sini'. Eh, ternyata sekarang kesampaian," Yuyuy menambahkan.

Sejak kecil Wimar memang sudah gemuk, karena ia memang sangat doyan makan. "Untuk urusan makan, di kamusnnya nggak ada kata kenyang. Dan, seingat saya, hampir semua makanan dia doyan," ujar Luki, kakak sulungnya, sambil tertawa. "Dia selalu bilanng ingin diet, tapi selalu lupa setiap kali berhadapan dengan makanan."

Mengenai rambutnya, waktu kecil sebenarnya belum kribo, cuma sekedar ikal. "Makin lama makin kriting. Seingat saya, rambutnya jadi kribo setelah berusia 16 tahun, sehingga kakak-kakaknya sering meledeknya: kayak domba," kata Kiki, satu-satunya kakak perempuan, sambil tertawa. Kiki ingat betul, Wimar sangat sebal pada rambutnya dan berulang kali ingin meluruskannya. Setiap hari, sehabis mandi, ia sibuk meminyaki rambutnya, lalu disisir keras-keras agar lurus.

Keluarga Demokrat

Kebersamaan adalah hal yang selalu diusahakan dalam keluarga Witoelar. Setidaknya, sarapan dan makan malam selalu mereka lewati bersama sambil berdiskusi segala macam. Selama tinggal di luar negeri pun, mereka sering bertamasnya sekeluarga diakhir pekan atau saat liburan sekolah. Naik mobil ke luar kota, lalu membuka kemah di tempat-tempat yang memungkinkan.

"Ayah saya yang menyetir mobil dan Wimar yang bertugas membaca peta. Dia sanga ahli membaca peta. Orientasi arahnya luar biasa. Dia gampang mengingat jalan-jalan yang sudah atau belum pernah dilewati," tambah Luki yang kini sudah pensiun dari Pertamina.

Meski berasal dari kelurga bangsawan Sunda, Achmad dan Toti Witoelar mengajarkan sikap demokratis pada anak-anaknya. Achmad yang dipanggil Daddy atau Deded oleh anak-anaknya, adalah tipe ayah yang sangat demokrat, yang membebaskan anak-anaknya menentukan pilihan sendiri dan mengeluarkan pendapat, meski pendapat itu saling bertentangan. Begitu pula dengan Toti, yang dipanggil Mommy atau Mami. "Bagi orang tua kami, tidak ada istilah anak kesayangan. Semua anak, sulung atau bungsu, lelaki atau perempuan, diperlakukan dan diberi kesempatan yang sama. Mungkin karena diantara kami tidak ada sikap berkompetisi yang tak sehat itulah kami jadi kompak," Luki menjelaskan.

Kalau sesekali anak-anaknya berkelahi (tentunya bukan antara Wimar dengan Rachmat), sang Ibu tak pernah kelihatan panik, juga tak berusaha mati-matian melerai. Ketika perkelahian itu akhirnya berhenti sendiri, Toti hanya berkata,"Sudah? Capek? Nah, apa masalah kalian sebenarnya?"

Sekembali dari Denmark, 1957, keluarga Witoelar sempat tinggal di Bogor selama dua bulan, sambil menunggu rumah mereka (di Jakarta) selesai dibangun. Waktu itu Wimar ditempatkan di kelas 6 SR (Sekolah Rakyat), di Yayasan Pendidikan Budi Mulia, Bogor.

Inilah masa-masa tersulit buat Wimar, "Saya dianggap aneh oleh teman-teman sekolah saya. Ibu memperlakukan saya seperti ketika masih sekolah di luar negeri. Kalau hujan, saya disuruh pakai jas hujan dan sepatu bot. Tentu saja saya diketawain teman-teman," kenang Wimar sambil terkekeh. Alhasil, hampir setiap hari ia pulang sekolah sambil menangis."Saya sering menutup mata, dan berharap ketika membuka mata, saya sudah ada di Kopenhagen lagi."

Untunglah mereka segera pindah ke Jakarta. Wimar melanjutkan sekolah di sebuah SR di Jalan Cilacap, tak jauh dari tempat tinggalnya yang baru di Jalan Cimahi, Menteng. Meski sesekali masih dianggap aneh, Wimar sudah lebih bisa menyesuaikan diri, sehingga bisa lulus dengan nilai baik.

Ia melanjutkan ke SMP Katolitk Van Lith di Jalan Gunung Sahari, Jakarta, yang muridnya laki-laki semua. Terbiasa mendalami pelajaran-pelajaran humaniora di Eropa, awalnya Wimar agak keteteran juga mengikuti kurikulum di Indonesia yang lebih menekankan ilmu pasti alam. Apalagi, saat itu bahasa Indonesia-nya juga masih belepotan. Ia bingung dengan segala macam pepatah, ungkapan, dari kata majemuk. Sampai-sampai ibunya sengaja pergi ke kios buku bekas di Kwitang untuk mencari kamus kata mejemuk buat anaknya.

"Untunglah teman-teman saya laki-laki semua. Kalau ada ceweknya, saya pasti minder terus. Saya takut sama anak perempuan," canda Wimar yang saat itu terus merasa terganggu dengan tubuhnya yang subur dan rambutnya yang makin lama makin keriting.

Presasti belajarnya terus meningkat, sehingga ia langganan jadi juara kelas. Bahkan, ia berhasil maraih jabatan 'paling prestisius' di sekolahnya: menjadi pemukul bel masuk dan pulang sekolah atau ganti pelajaran. "Saya bangga betul. Dengan jabatan pemukul bel itu, saya bisa 'memerintahkan' murid-murid lain, bahkan guru-guru, untuk memulai atau menghentikan pelajaran," kenang Wimar yang juga pernah menjadi ketua redaksi di majalah sekolahnya, Suara SMP Van Lith.

Suka politik sejak kecil

Meskipun di sekolah sudah punya banyak teman, sepulang ke rumah tetap saja lebih suka runtang-runtung bersama kakanya, Rachmat. Naik sepeda, memancing di danau kecil di Jalan Lembang, atau main sepak bola. Wimar bangga sekali ketika Rachmat berhasil jadi pemain sepak bola 'beneran' di kesebelasan Persija Junior.

Setiap kali kakanya bertanding, Wimar selalu nonton dan jadi suporter fanatik kesebelasan kakaknya, lalu membuat ulasan tertulis untuk dimuat dikoran sekolahnya. Sampai sekarang pun acara nonton bola bareng (di televisi atau langsung di stadion) masih dilakukan oleh Witoelar bersaudara (kecuali Kiki yang kini tinggal di Surabaya), lengkap dengan anak-anak mereka.

Pada masa SMP ini pula Wimar mulai mengenal bacaan-bacaan srius, termasuk bacaan politik. Ia paling suka membaca biografi tokoh-tokoh dunia, antara lain Winston Churchill, John F. Kennedy, Jenderal MacArthur, dan sebagainya. Ia juga rajin mengikuti berita-berita aktual dari koran, Radio BBC London, dan Radio Hilversum, Belanda, lalu mendiskusikannya bersama keluarga. "Dia hafal kapan Kennedy diangkat jadi presiden dan tahu si pidato pengukuhannya," kenang Yuyuy yang sering dijadikan teman diskusi oleh keponaknnya itu.

Wimar juga rajin mengikuti pidato-pidato Bung Karno yang saat itu sangat dikaguminya. "Saking kagumnya, saya sempat bercita-cita jadi presiden," ujar Wimar yang waktu itu diam-diam suka menirukan gaya pidato Bung Karno di depan kaca. Sayangnya, kekaguman itu perlahan-lahan memudar, seiring dengan sikap Bung Karno yang makin diktatorial.

Wimar melanjutkan SMA-nya di Kolese Kanisius, yang lagi-lagi merupakan sekolah khusus laki-laki. Tapi, menurut Wimar, tak banyak kenangan yang tertinggal dari masa SMA ini. Ketika teman-temannya mulai nguber-nguber cewek, Wimar justru semakin tenggelam dengan bacaan-bacaannya sehingga kacamatanya makin tebal saja.

Sebenarnya ada alasan lain mengapa Wimar makin jadi kutu buku. Ia merasa kesepian. Pasalnya, setamat SMA, kakaknya merangkap sahabatnya, Rachmat, pindah ke ke Bandung karena diterima di Jurusan Arsitektur ITB. Kakak-kakaknya yang lain pun sudah tidak tinggal di rumah. Ada yang sudah bekerja di luar kota, ada pula yang sudah menikah.

Bisa dibilang, itulah pertama kali Wimar pisah kamar dengan Rachmat,"Karena nggak ada lagi yang bisa diajak ngobrol di kamar sampai tengah malam, ya, saya baca buku aja," katanya. Sama-sama merasa kehilangan, hampir setiap akhir minggu Wimar mengunjungi kakaknya ke Bandung, atau sebaliknya, Rachmat yang pulang ke Jakarta.

Setamat SMA, awal tahun 1963, Wimar juga melanjutkan ke ITB Jurusan Elektro. Di Bandung, ia bergabung lagi dengan sang kakak. Mereka tinggal di rumah milik keluarga, di Jalan Ciumbuleuit. Dan, tentu saja, keduanya...sekamar lagi!

"Saya baru benar-benar pisah kamar dengan Kang Rachmat setelah dia...menikah," kata Wimar, terkekeh. Di ITB ini pula Wimar mulai terjun ke dunia politik, meski baru sebatas di lingkungan kampus.

Print article only

5 Comments:

  1. From retno on 20 October 2005 08:26:23 WIB
    Saya suka artikel ini, saya suka juga baca tentang pribadi atau biography orang terkenal( tentu saja yang bukan orang yang sok terkenal). Anak saya juga kayak bung Wimar, bisa baca dari sebelum TK, suka baca ketia sudah lancar dan umur 9 tahun udah pakai kacamata dan sekarang anak saya sekolah di HI - Unair. Mudah-mudahan anak saya nanti juga kayak bung Wimar.
    Bravo bung Wimar dengan badan subur, perut tambun, rambut kribo (kriwil - bo) malah menjadikan trade merk bagi bung Wimar. Coba kalau posturnya nggak kayak gitu orang akan sulit membedakan bung Wimar dengan Cina Glodok (becanda ya bung.
    Ok, selamat bung...... jalan terus
  2. From Mansur on 29 September 2006 15:51:19 WIB
    Artikel ini makin mengukuhkan membaca itu penting. Mungkin kalau dulu Bung Wimar tidak suka membaca tidak akan sukses seperti sekarang
  3. From geo on 30 November 2007 23:36:17 WIB
    aku pingin minta biografi pelukis terkenal di dunia dung
  4. From Immanuel on 11 May 2008 17:24:25 WIB
    Bagus topik yang seperti ini, tapi kurang panjang, siapa istrinya, bagaimana kariernya, kapan dia pernah jatuh dalam hidupnya.
  5. From budhiana on 02 July 2009 02:28:29 WIB
    aku senang baca artikel ini, soalnya sekarang ini kebetulan aku kerja di rumah yang pernah pak wimar tinggali ini (jl.ciumbuleuti).

« Home