Articles

Ke luar kotak

majalah djakarta!
29 December 2005
oleh: wimar
 
Masih ingat betul, satu adegan dari film 'Raiders of the Lost Ark' zaman dulu, sebelum film seperti itu mengilhami sepuluh film besar tiap tahun. Dengan pertempuran yang susul menyusul, di suatu pasar ramai di Cairo, Indiana Jones berhadapan dengan orang yang serem banget. Badan gede, brewokan, tangan segede pohon, memegang pedang besar di satu tangan dan pisau mengkilat di tangan satu lagi.
 
Lebih gawat lagi, si Galak itu memainkan pedang dan pisaunya dalam suatu tarian yang jelas-jelas dirancang sebagai intro untuk menghabiskan Dr Jones. Heran juga, kalau di film itu sebagian orang jahat senang mengawali eksekusi jagoan dengan macam-macam show, sampai lebih seru dari tindakannya sendiri. Indiana Jones terancam habis riwayat, karena dia bukan bintang laga melainkan hanya seorang dosen antropologi yang mencari harta karun. Ilmuwan, pakai kacamata tapi membawa tampang keren Indiana Jones.
 
Ternyata situasi tegang itu selesai dalam sekejap mata. Selagi si Galak sibuk bersilat sendiri memancarkan ancaman pedang dan pisau, mendadak Profesor Indiana Jones menarik pistol dan menembak matI si Galak – dor!
 
Itu namanya penyelesaian pintas, mengatasi masalah diluar pola yang diduga orang. Sama dengan cerita anak SMP yang ditantang guru ilmu fisika untuk menjelaskan bagaimana mengukur tinggi gedung pencakar langit dengan menggunakan barometer. Untuk pembaca yang sudah SMA keatas, jawabannya jelas. Tinggal bandingkan tekanan udara di dasar gedung dan di puncak gedung, masukkan rumus sedikit dan dihitung perbedaan tinggi dari perbedaan tekanan pada kedua titik ketinggian itu. Tapi anak SMP yang tidak tahu rumus fisika, walaupun cerdas, punya penyelesaian lain. Cari tali, ikatkan barometer di tali itu dan turunkan tali dari puncak gedung. Panjangnya tali langsung menunjukkan tinggi gedung.
 
Satu cerita lama yang entah benar atau tidak, membawakan pengalaman
Christopher Columbus. Waktu dia sering gaul di kafe menunggu keluarnya
dana Ratu Isabella untuk ekspedisi menempuh lautan luas. Iseng-iseng dia menantang pengunjung kafe untuk menegakkan telor rebus diatas meja, berdiri maksudnya. Tidak ada yang bisa, telornya terguling terus. Akhirnya Columbus menunjukkan solusinya. Telurnya dipukulkan keras ke permukaan meja sampai pecah, dan dalam keadaan itu telor rebus bisa berdiri dengan mantap.
 
"Wah, kalau begitu sih aku bisa." kata orang ngomel. Memang, kalau sudah tahu, semua orang juga bisa. Yang susah itu menemukan ide. Begitu ide original dicetuskan, dia sudah tidak original lagi. Makanya ada hak paten, hak cipta dan sebagainya, supaya ada rangsangan bagi orang untuk mencipta. Tapi tulisan ini tidak mau ceramah anti pembajakan, tenang aja.
 
Kita cuman senang melihat sekali-sekali ada pikiran asli, perspektif baru.  ‘Thinking out of the box', orang bilang, tidak terkungkung oleh batas pemikiran. Cobalah sebagai pekerjaan rumah, sambungkan sembilan titik yang disusun sama jarak 3x3, dengan empat garis lurus. Kalau nyerah, kirim imel ke alamat dibawah ini
 
Walaupun contoh-contoh tadi kedengaran iseng, tentu kita tahu bahwa nilai
sesungguhnya dari pemikiran kreatif ada dalam kasus yang sangat
serius. Misalnya sekarang dalam ancaman Flu Burung. Bahaya terbesar akan terjadi, kalau virus yang sekarang beredar dengan pindah dari burung ke orang, nantinya berubah atau mutasi. Dikuatirkan, versi baru virus Flu Burung bisa
pindah dari manusia ke manusia. Kontak dengan burung masih bisa diatur, ayam puluhan ribu bisa dibunuh untuk menghindari risiko ketularan virus. Tapi kalau virus bisa pindah dari orang ke orang, bagaimana mencegah penyebaran virus? Orang pasti ketemu orang lagi.
 
Wabah atau epidemi flu burung terakhir terjadi di akhir tahun 90an. Korban yang meninggal sekitar satu juta orang di Cina dan Hong Kong. Korban flu burung terbesar terjadi di tahun 1918. Mulainya pada waktu Perang Dunia Pertama. Disebut Flu Spanyol karena banyak diberitakan di Spanyol. Maklum, negara  lain sedang sibuk perang jad media diberangus. Yang mati dalam Spanish Flu mendekati 100 juta orang, lebih dari korban Perang Dunia. Virus waktu itu mirip virus Flu Burung sekarang tapi telah mutasi dan menimbulkan pandemi, wabah yang sangat meluas dan tidak terkendali. Penyebarannya dari orang ke orang sejauh orang bepergian, sampai ke pelosok negara Eropah.
 
Kalau terjadi lagi, bagaimana mengatasinya? Kalau sudah pandemi, obat tidak mempan lagi. Hanya satu upaya untuk mencegah penyebaran ke seluruh dunia, melihat sekarang orang bepergian dalam satu hari bisa connect ke seluruh penjuru dunia. Kalau sudah pandemi, tidak ada kebijaksanaan medikal yang bisa dipakai. Hanya satu jalan, larang semua perjalanan. Berpikir ke luar kotak, kalau kotak sudah tidak memberikan solusi.
 

 

Print article only

1 Comments:

  1. From dhony wahyu on 05 June 2007 15:37:24 WIB
    Minta jawaban mengenai sembilan titik empat garis udah seminggu ngga ketemu ketemu..,

« Home