Articles

Wimar Witoelar, Si Tukang Protes (3/3)

Femina
30 March 2000

Becermin, pada sosok Ibu yang sangat disayangi dan dihormatinya, Wimar mengaku tumbuh menjadi seorang pendukung feminisme. Ia bangga karier istrinya bisa berkembang maksimal, juga mendukung semua kegiatannya. Selama tinggal di Amerika, keduanya sama-sama sibuk. Karena tak punya pembantu, Wimar dan Suvat bekerja sama mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Suvat memasak dan menyetrika, Wimar mencuci dan membersihkan rumah. Suvat mengurus asuransi dan berbagai rekening tagihan, Wimar merawat dan memperbaiki peralatan elektronik. "Kan sama-sama capek dan sama-sama cari uang," kata Wimar, enteng.

Kembali ke kampus

Sekitar empat tahun tinggal di Washington DC, tahun 1975 Wimar dan Suvat kembali ke Indonesia. Sambil menunggu rumah mereka di Bandung, di jalan Cihampelas, selesai dibangun, keduanya tinggal di rumah orang tua Wimar, di kompleks Deplu, Jalan Prapanca, Jakarta (rumah di Jalan Cimahi dijual untuk membiayai kuliah anak-anak mereka).

Sebagai menantu yang berasal dari negara asing, Suvat mengaku tak mempunyai banyak kesulitan berbaur dengan keluarga besar suaminya. "Mereka keluarga yang berpandangan luas. Mereka justru sangat membantu proses adaptasi saya disini," tutur Suvat yang segera mengurus pergantian kewarganegaraannya. Setelah rumah mereka siap ditempati, Wimar dan Suvat pindah ke Bandung.

Selanjutnya, Wimar back to campus. Ia menjadi dosen di bekas almamaternya, ITB. Tapi, bukan mengajar teknik elektro, melainkan mengajar manajemen di Pascasarjana. "saya cuma ingin membuktikan bahwa saya ngga lulus ITB bukan karena bodo," kata Wimar, tertawa. Ia memilih jadi dosen karena menyadari bahwa ternyata ia lebih suka ngomong ketimbang ngutak-atik listrik. "Dulu saya sempat bercita-cita bisa bekerja di Bendungan Jatiluhur. Tapi, setelah meninjau ke sana, yang saya lihat turbin melulu. Kalau saya kerja disitu, mau ngomong sama siapa?" katanya, tertawa.

Anak pertamanya, Satya Tulaka (Tya), lahir tahun 1975, disusul dengan Aree Widya (1978). Keduanya laki-laki. Karena belum terlalu fasih berbahasa Indonesia, untuk sementara Suvat menjadi ibu rumah tangga saja. Apalagi saat itu ia tangah asyik-asyiknya menjadi ibu. Tapi, tentu saja konsekuensinya,"Saya harus bisa hidup hanya dari gaji suami sebagai dosen, yang (saat itu) cuma beberapa ribu rupiah saja," kata Suvat tertawa.

Wimar pun tak kalah bergairahnya menjadi ayah. Ia ikut bangun setiap kali anaknya menangis malam-malam. Meski tak berani menggendong sendiri bayinya (semasa masih merah), ia paling senang mengganti popok, membedaki, atau membuatkan susu. "Punya anak itu pengalaman yang luar biasa. Rasanya saya nggak pernah bosan mengamati mereka berkembang dari hari ke hari," tutur Wimar yang mengaku sulit berpisah dengan kedua anaknya.

Di mata Suvat, Wimar adalah sosok suami yang romantis, dalam arti, senang mengerjakan ha-hal kecil yang sering luput dari perhatian para suami pada umumnya. "Dialah yang paling rajin mengisi baby book ketika kedua anak kami masih bayi. Kapan harus ke dokter, kapan mulai tumbuh gigi, kapan bisa berjalan, semua dia catat dengan rapi, lengkap dengan foto-fotonya. Setelah anak-anak agak besar, dia juga membuat children book. Sampai kini, gambar-gambar hasil coretan Satya dan Aree, serta catatan kecil mereka masih tersimpan dengan rapi. Saya sendiri kurang betah mengerjakan hal-hal seperti itu," tutur Suvat, tersenyum kecil.

Wimar sendiri tak menolak dibilang romantis atau melankolis, "Sering kali, ketika sdang nonton film atau opera yang mengharukan, tahu-tahu saya nangis," kata pria penggemar musik klasik dan opera ini terus terang. Sambil tertawa ia menambahkan,"Istri saya sebenarnya juga begitu, tapi suka diumpetin."

Setelah jadi dosen, kebiasaan Wimar untuk kumpul-kumpul dengan para mahasiswa - yang sekarang berstatus sebagai muridnya - berlanjut kembali. Dengan gayanya yang santai dan egaliter, dan tidak suk bossy, dengan cepat Wimar menjadi favorit para mahasiswa. Ia sering diajak diskusi, rapat, bahkan sekedar ngobrol-ngobrol atau main basket bersama mereka. "Berada di dekat mereka, saya merasa jadi muda lagi," kenang Wimar.

Tak heran ketika Prof.Dr.Ing.Iskandar Alisjahbana terpilih menjadi Rektor ITB, tahun 1977, Wimar menjadi calon kuat untuk jabatan Pembantu Rektor Urusan Kemahasiswaan. Namun, ia batal jadi Purek karena kepentok status kepegawaiannya yang saat itu baru golongan IIIA. Maklum, ia belum lagi dua tahun mengajar di ITB, dan tampaknya juga tak peduli mengenai status golongannya sebagai pegawai negeri.

Masuk Tahanan

Sebagai mantan aktivis mahasiswa sekaligus salah seorang konseptor Golongan Karya, nama Wimar pernah masuk dalam daftar calon anggota DPR pada Pemilu 1972. Tapi, saat itu Wimar memilih meneruskan kuliah di Amerika ketimbang terjun ke dunia politik. Sementara teman-teman seperjuangannya dari Angkatan'66 - antara lain Akbar Tanjung, Abdul Gafur, Cosmas Batubara, bahkan Rachmat Witoelar sendiri - diangkat menjadi pentolan-pentolan Golkar, Wimar lebih suka jadi 'gelandang bebas' saja. "Mendingan saya jadi pengamat dari luar, supaya bisa tetap netral dan bisa bebas mengkritik," kata Wimar, santai.

Ketika Pemilu 177 diselenggarakan, Wimar sudah menjadi dosen. Saat itu Golkar sudah menjadi organisasi politik yang kuat, bahkan terkuat di Indonesia. Sebagai salah seorang pengurus Golkar, tentu saja Rachmat Witoelar harus ikut memuluskan jalan Soeharto yang saat itudicalonkan kembali menjadi presiden RI. Bukan cuma dicalonkan kembali, nama Soeharto juga muncul sebagai calon tunggal.

Dalam hal yang satu ini tampaknya Wimar tidak sependapat dengan abangnya. Bagi Wimar, Soeharto sudah terlalu lama jadi presiden (padahal, waktu itu baru sekitar 12 tahun), dan langkahnya sebagai pemimpin sudah mekin melenceng. Ia juga kecewa pada Golkar yang saat itu naga-naganya mulai dijadikan kendaraan politik Soeharto.

'Darah aktivis'nya kembali bergolak. Di penghujung tahun 1977, beberapa bulan menjelang digelarnya Sidang Umum MPR 1978, bersama sejumlah mahasiswa ITB angkatan '72 dan '73, antara lain Heri Achmadi dan Rizal Ramli, Wimar ikut bergerak menentang pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden. Di gerbang kampus Ganesha, dipasang spanduk besar nertuliskan 'Tidak Mempercayai lagi Soeharto sebagai Presiden RI'. Tak heran, kampus tersebut langsung diserbu oleh pasukan militer, dan pergolakan ditumpas dengan kekerasan. Selama hampir tiga bulan, kampus mahasiswa jaket biru itu diduduki militer. Sejumlah pimpinan mahasiswa ditangkap.

Ketika mereka akan diadili, mahasiswa ITB membuat pledoi pembelaan 'bawah tanah' yang kemudian dikenal sebagai Buku Putih. Meski secara resmi dilarang beredar, nyatanya buku itu diam-diam terus menyebar dan banyak dicari masyarakat. "Biasalah, makin 'misterius' suatu hal, makin penasaran orang dibuatnya," kata Wimar. Tak lama kemudian, Wimar ikut ditangkap.

Mengapa Wimar ditahan padahal ia dosen? (ia satu-satunya dosen yang ditangkap). Tak jelas, karena ia memang tak pernah diadili. Mungkin karena ia diketahui sangat dekat dengan mahasiswa, khususnya dengan para mahsiswa yang diangkap, sehingga dianggap iku menyusun Buku Putih itu. Wimar menduga, pemerintah khawatir ia akan menggalang kekuatan (seperti halnya ditahun '66) untuk menggerakkan mahasiswa guna menggagalkan SU MPR.

Namun, konon ada alasan lain yang membuatnya ditangkap. Wimar yang tak setuju Soeharto dijadikan calon tunggal, waktu itu secara bercanda ikut mencalonkan diri jadi presiden. "Supaya Soeharto tidak sendirian. Itu aja," komentar Wimar sambil tertawa. Siapa pun tahu, Wimar tidak serius. Sayangnya saat itu pemerintah belum terbiasa diajak bercanda.

Tapi, benarkah Wimar ikut menyusun Buku Putih itu? Setiap kali ditanya tentang hal itu, Wimar cuma menjawab dengan 'he...he...he...', tapi tak pernah memberi jawaban yang jelas. Sekitar enamminggu lamanya Wimar mendekam di tahanan. Meski kakaknya seorang pentolan Golkar, Wimar tak mau mminta bantuan apa pun, termasuk minta amnesti.

Sebagai kakak, tentu Rachmat prihatin melihat keadaan adiknya. Tapi, ia pun tahu betul siapa dan bagaimana sikap adiknya itu.Rachmat hanya menghubungi pihak-pihak tertentu untuk meminta jaminan adknya diperlakukan dengan wajar selama dipenjara. Seusai sidang Umum (yang nyatanya berlangsung dengan lancar), Wimar dibebaskan begitu saja.

Kalau Wimar terkesan teang-tenang saja, tak demikian dengan keluarga besarnya, terutama istrinya yang saat itu tengah mengandung anak kedua. Menurut cerita Suvat, siang menjelang sore itu mereka sedang di rumah. Wimar tengah ngobrol seorang dengan temannya di ruang tamu.

"Tiba-tiba di depan rumah berhenti sebuah truk tentara. Serombongan tentara menerobos masuk dan mencari suami saya. Tak lama kemudian, tahu-tahu Wimar sudah dibawa pergi dengan truk tanpa sempat menitip pesan apa pun kepada saya. Saking paniknya, saya juga tidak sanggup ngomong apa-apa," kisah wanita berwajah tenang dan teduh ini.

Karena ketakutan, teman Wimar pulang begitu saja, meninggalkan Suvat yang saat itu cuma ditemani Satya yang baru berusia dua setengah tahun dan seorang pembantu. Tentu saja Suvat panik, apalagi saat itu di rumahnya belum ada telepon. "Saya terpaksa pinjam telepon ke rumah teman untuk menelepon keluarga Wimar di Jakarta," tambah Suvat.

Peristiwa itulah yang membuat Suvat berniat untuk kembali bekerja. "Waktu itu 'kan saya tidak tahu, sampai kapan suami saya akan ditahan. Sebagai tahanan politik, bisa saja dia dipenjara bertahun-tahun," katanya. Untunglah, dengan bekal ijazah dokter dari Thailand dan Amerika Serikat, Suvat tak mendapat kesulitan berarti dalam mengurus izin kerjanya sebagai dokter.

Meski tak menyurutkan nyalinya, peristiwa penahanan itu sedikit banyak mengubah kehidupan Wimar. Sejak itu ia tak mau lagi sering-sering terlihat bersama Rachmat, kakaknya. "Saya banyak menimbulkan masalah buat karier Kang Rachmat," tutur Wimar pelan. Dalam salah satu pemilu, nama Rachmat Witoelar memang pernah hampir dicoret dari daftar calon anggota DPR karena ada keberatan dari 'masyarakat Jawa Barat' akibat sepak terjang Wimar di masa lalu. Rachmat dikatakan 'tidak bersih lingkungan'. Meski pada akhirnya nama Rachmat batal dicoret, kasus ini sempat sampai ke pimpinan tertinggi Golkar.

Jadi, Wimar harus putus komunikasi dengan Rachmat? Ah, siapa bilang. Setiap hari Wimar dan Rachmat tetap saling berkirim kabar lewat telepon, bahkan sampai sekarang dengan e-mail. Kadang-kadang bisa sampai lima kali sehari bolak-balik. "Padahal, isinya sering cuma say hello. 'Udah nonton film anu, belum?' He...he...he...," kata Wimar terkekeh.

Merambah dunia Hiburan

Meski tetap merindukan suasana kampus, Wimar memutuskan untuk berhenti jadi dosen, sekaligus berhenti jadi pegawai negeri. Mereka pindah ke Jakarta, dan tinggal di sebuah rumah di Jalan Madrasah, Cipete, yang waktu itu masih merupakan wilayah pinggiran yang sepi.

Status pegawai negeri Wimar lantas 'digantikan' oleh istrinya. Di Jakarta, Suvat bekerja sebagai dokter spesialis saraf di RSCM, kemudian pindah ke RS Fatmawati, di mana ia pernah mengepalai Bagian Saraf. Kini, selai membuka praktek di paviliun rumahnya yang luas dan asri, Suvat menangani pasien di RS Pondok Indah.

Sementara itu, dengan bekal pergaluan yang luas serta ilmu di bidang finance & investment yang didapatnya dari Amerika, Wimar memutuskan jadi wiraswastawan. "Enak, nggak perlu diatur-atur lagi oleh orang lain," alasannya.

Ia pernah mencoba berbagai usaha, mulai dari konsultasi manajemen termasuk manajemen properti), jual beli komputer, pelayanan audio visual yang menyupali film untuk sejumlah stasiun TV luar negeri, hingga usaha modal ventura yang kini sudah bubar karena salah satu partner bisnisnya keburu jadi menteri.

Mengaku senang mencoba hal-hal baru, pada awal 1994 Wimar merambah ladang baru yang waktu itu belum digarap orang : talk show di televisi. Awalnya adalah saat ia diminta membenahi manajemen stasiun televisi SCTV. Salah satu saran Wimar saat itu adalah agar SCTV membuat acara-acara sendiri yang bagus. Bagus yang dimaksud bukan berarti yang seirus, melainkan yang menghibur tapi tetap berbobot. "Saya lantas memberi contoh acara talk show Larry King di CNN yang menjadi kesukaan saya," ujar Wimar.

Rupanya, usul Wimar ditanggapi seirus. Ketika pihak SCTV bertanya, siapa kira-kira yang bisa ditampilkan sebagai 'Larry King'-nya, secara spontan dan sedikit nekat Wimar menjawab,"Gue,deh!"

Acara talk show di televisi tanah air memeang merupakan suatu terobosan yang baru. Sebelumnya memang sudah ada berbagai wawancara di TVRI. Tapi, selain formatnya terlalu formal dan serius, munculnya pun hanya sesekali dan tak tentu.

Pada tahun 1994, muncullah talk show garapan Wimar yang bertajuk Perspektif, yang disiarkan seminggu seklai di SCTV. Dengan modal pengalaman ngomong semasa jadi aktivis mahasiswa, segudang referensi yang didapatnya dari bacaan dan pergaulan, plus rajin memelototi acara-acara talk show di teve asing, akhirnya Wimar bisa tampil dengan gayanya yang khas. Bintang tamu yang ditampilkannya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari Gus Dur (waktu itu belum jadi presiden), mantan Menlu AS Henry Kissinger, hingga joki three in one (waktu itu para pejabat pemnerintah belum berani ngomong).

Dengan gaya yang santai, penuh canda, sekaligus lihai memancing jawaban dari orang yang diwawancarainya, lewat acara itu Wimar juga melontarkan kritik-kritik pedas terhadap berbagai kepincangan yang ada disekitarnya. Ah, rupanya Wimar memang tidak pernah berubah. Dari dulu sampai sekarang, tetap saja doyan protes.

Untuk konteks masa itu, mengkritik kebijaksanaan pemerintah secara terbuka memang terasa sangat menggairahkan, meski sekaligus sangat riskan. Tak heran bila Perspektif dengan cepat menarik perhatian masyarakat, dan nama Wimar jadi terkenal sebagai 'entertainer politik' (padahal di Perspektif ia tak selalu ngomong soal politik). Selanjutnya mudah diduga. Acara ini dibredel tanpa alasan yang jelas.

Kendati begitu, sosok Wimar tak ikut terkubur bersama acaranya. Ia lantas menciptakan Perspektif Baru, talk show berformat sama, tapi disiarkan lewat media radio dan surat kabar (dan bertahan hingga kini). Ia juga masih sering tampil di televisi - termasuk di televisi asing - sebagai narasumber atau moderator dalam berbagai acara dialog, khususnya yang berkaitan dengan politik. Bahkan, pada masa-masa menjelang dan pasca Pemilu 1999 lalu, wajahnya hampir setiap hari nongol di berbagai stasiun televisi, bahkan bisa beberapa kali dalam sehari.

Pada tahun 1997, talk show-nya muncul lagi, kali ini di Indosiar, bertajuk Selayang Pandang. Sejumlah tokoh kenamaan seperti Akbar Tanjung, Yunus Yosfiah, hingga pengamat ekonomi Jeffery Winters pernah tampil di acara ini. Lewat acara yang masih langgeng hingga sekrang iniliah, Wimar dua kali meraih Panasonic Award (1997 dan 1999) sebagai pemandu talk show favorit pemirsa.

Tetap betah di rumah

Dengan profesi ganda sebagai pengusaha sekaligus entertainer, kegiatan Wimar memang semakin padat. Siang ada di Bandung untuk jadi pembicara seminar, malamnya syuting Selayang Pandang di Jakarta, dan besok paginya sudah terbang ke Perth untuk urusan bisnis, adalah contoh kepadatan jadwal harian pemilik PT InterMatrix Bina Indonesia (sebuah perusahaan konsultan manajemen) ini.

"Tapi, nggak selalu sibuk begitu, kok. Saya tetap punya waktu buat santai di rumah," kata penggemar masakan Sunda yang tetap rajin kumpul-kumpul dengan keluarga besarnya. Ia mengaku tetap betah di rumah, meski yang dilakukannya di rumah cuma nongkrong di depan komputer atau nonton teve. Pokoknya, asala bersama keluarga. Konon, penonton setia serial Ally McBeal ini sempat belingsatan ketika harus berpisah dengan keuda anaknya yang pindah ke Bandung untuk kuliah. Saat itu Satya kuliah di Jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan, dan Aree di Jurusan Teknik Fisika ITB.

"Setiap hari Daddy mengirim e-mail atau ngajak chatting lewat internet, sekedar buat ngobrol dengan anak-anaknya. Kalau lewat telepon kan mahal. Hampir setiap akhir pekan Daddy juga nongol di Bandung menengok kami," tutur Satya yang kini sudah kembali ke Jakarta setelah beberapa bulan yang lalu menyelesaikan kuliahnya.

Lucunya, meski kini sudah tinggal serumah lagi, Satya dan ayahnya tetap sering ber-chatting lewat internet, dari kamar ke kamar. "Kami memang keluarga internet," kata Satya lagi. Mungkin karena kerajingan internet ini pula maka kini Wimar menjadi salah seorang komisaris sebuah majalah online, detik.com.

Kendati kini Soeharto sudah lengser dan digantikan oleh Gus Dur yang sangat didukungnya, semangat Wimar dalam memperjuangkan demokrasi tetap berkobar. Buktinya, di berbagai kesempatan ia masih saja rajin mengkritik. Bersamaan dengan itu, ia juga tetap bertahan dengan posisinya sebagai 'orang bebas', sekalipun namanya tercantum sebagai salah seorang penandatangan kesepakatan Majelis Amanat Rakyat (cikal bakal Partai Amanat Nasional). Menjelang pemilu lalu, konon ia pun laris 'ditawar' oleh sejumlah partai, tapi tampaknya Wimar tak tergiur.

Kalaupun ada satu hal yang terus disesalinya, "Sekarang saya nyaris tak sempat main tenis lagi," kata Wimar yang pernah menjadi Ketua Badan Tim Tenis Nasional (1996-1997), saat itu Pelti (Persatuan Lawn Tenis Indonesia) diketuai oleh Sarwono Kusumaatmadja, sobat kentalnya sejak mahasiswa.

Bagi Wimar, olahraga memang sangat dibutuhkan. "Saya bener-bener pingin langsing. Cita-cita saya sekarang: bisa beli baju di toko," kata Wimar yang selama ini terpaksa menjahitkan sendiri baju-bajunya ke penjahit langgananya, di Blok M Plaza.

Print article only

4 Comments:

  1. From Yudi Setyabunda on 18 March 2006 16:32:34 WIB
    Hi Wimar come on TV again, we miss you much.
    Wake up, comb your hair and on again !
    No regret!
  2. From indra on 19 April 2006 20:08:11 WIB
    apa idealisme yg anda pakai dlm acara talk show anda ini?
    skian trimakasih
    mohon dijawab
  3. From wimar on 27 September 2006 06:11:47 WIB
    indra: nggak tahu soal idealisme sih.. itu tergantung penilaian anda. kami manggung, anda menilai.

    yudi: i am back on television with two regular shows on Metro TV and many special appearances. Watch the home page of this blog. But while 1997 was my television year, 2006 is my blogging year. watch this site, plenty to folloe. Thanks Yudi!
  4. From YH on 27 September 2006 10:44:11 WIB
    Baru tahu kalo WW pernah jadi komisaris detikcom...beneran loh. :-)

« Home