Articles

Diplomat dan Flu Burung

djakarta!
09 May 2006

Mendengar kata “cosmopolitan”, yang terbayang adalah Carrie, Samantha, Charlotte dan Miranda dalam “Sex and the City”. Atau ahli negosiasi internasional yang terbang dari Singapore ke Zurich terus makan siang di London sebelum pulang ke Denver. Pokoknya yang keren, penuh glamor dan tempat-tempat gemerlapan yang bagi kebanyakan orang hanya nama-nama.  Penggunaan istilah bisa macam-macam sebab tidak ada undang-undang yang mnegaturnya. Majalah dengan judul “Cosmo” itu malah isinya sebagian besar mengenai fashion, sex dan psikologi antar-gender.

 

diplomat.jpg

 

Jadi apa inti kosmopolitanisme itu (menggunakan ejaan Indonesia)? Paling gampang lihat saja wikipedia. Katanya, pengertian kosmopolitan adalah “mencakup segala”, saling pengaruh dengan seluruh dunia, sesuatu yang sama di seluruh dunia. Orang kosmopolitan adalah orang yang merasa nyaman dimanapun di dunia. Ini bukan saja diplomat dan dan tokoh bisnis tapi bisa saja pelaut, TKI atau pemain bola. Mereka sesungguhnya sangat kosmopolitan. Kosmopolitan berarti menembus batas negara, dan tidak selalu hebat atau gemerlapan. Flu burung adalah kosmopolitan, sebab ada di Cina, Vietnam, Indonesia dan Turki. Juga pandemi, perang, teror, semua kosmopolitan.

 

Istilah “Cosmopolitan” bisa saja dipakai untuk nama majalah penyelundupan senjata, kalau tidak diambil lebih dulu oleh Helen Gurley Brown untuk membawa perempuan ke dunia nyaman. Sudah pasti nama majalah ini tepat karena ia diterbitkan dalam 32 bahasa dan diedarkan di 100 negara. Sama luasnya dengan majalah Playboy yang baru-baru ini dilarang di Indonesia, “Cosmo” juga dilarang di Singapura sampai baru-baru ini. Pelarangan itu menunjukkan sikap picik yang tidak menyadari bahwa sesuatu yang ada di banyak negara itu pasti tidak bisa ditolak karena dunia tidak pernah punya batas yang bisa dipertahankan.

 

Manusia memang tidak pernah belajar. Banyak sekali hal-hal kosmopolitan yang ditolak, walaupun ujung-ujungnya tidak berhasil juga. Musik rock and roll dilarang di Indonesia oleh Presiden Soekarno, pemain sepakbola asing ditolak di Indonesia dulu. Mobil tidak boleh di impor, bahasa Inggris ditolak, huruf Cina dilarang. Ketika orang kembali waras, semua larangan itu hilang sendiri. Pikiran Barat ditolak sebagai racun budaya oleh kelompok berpandangan sempit di Indonesia. Tapi dalam hal lain kelompok fanatik sangat kosmopolitan, bahkan fanatisme mereka dipelajari dari sumber internasional.

 

Kembarnya kosmopolitanisme adalah globalisasi. Dua-duanya menjadi istilah laris sebagai tema besar dalam berbagai kegiatan. Sering sekali kita lihat kalimat “Mengembangkan ketenaga kerjaan menghadapi era globalisasi,”  atau “Mendidik anak balita dalam rangka globalisasi”. Malah pernah ada spanduk bertuliskan “ Seluruh Warga RT 07 RW 016 Siap Menghadap Tantangan Dalam Rangka Era Globalisasi”.

 

Padahal siapa bilang kita baru sekarang menghadapi globalisasi? Globalisasi sudah terjadi dari zaman dulu, pada waktu SunTzu mengembangkan realisme dalam teori hubungan internasional. Bahkan zaman dulu sekali, pada awal zaman malahan, sudah ada kosmopolitanisme. Migrasi orang dari Asia daratan ke kepulauan Indonesia sudah menandakan era globalisasi. Jadi kalau orang menyebut era globalisasi, kita boleh tanya, tanggal berapa sih mulainya era itu?

 

Bukan saja dimensi waktu yang perlu dipersoalkan tapi juga dimensi cakupan. Apakah ada bagian hidup yang kosmopolitan? Semua yang kita alami adalah kosmopolitan. Apakah itu Indonesian Idol yang sama dengan American Idol, Thomas Cup yang menyangkut nama orang Inggris dan pemain orang Indonesia, sepeda motor yang dirancang di Cina, busana yang dipakai oleh pejuang UU APP, bendera nasionalis, semua mengandung isi yang datang dari luar negeri.

 

Banyak istilah yang hidup menurut arti yang disepakati secara populer, jadi kadang-kadang terlalu berteori juga kalau kita bicarakan definisi istilah. Istilah hanyalah perjanjian semata. Mungkin lebih sederhana mengartikan kosmopolitanisme sebagai ciri hidup modern dan progresif. Tidak ada salahnya juga, selama kita sepakat pada pengertian itu.

 

Dunia selalu terbuka, apakah kita mau atau tidak. Lagipula keterbukaan selalu lebih baik dari ketertutupan. Kita hanya bisa menghindari pengaruh luar kalau kita mengubur kepala kita dalam pasir, berarti hidup melawan alam. Lama-lama orang yang tertutup akan kehilangan gairah hidup dan mati sendiri, sama dengan orang yang mengubur diri sendiri. Menyedihkan memang, taoi kenyataan. Segala yang sifatnya terbuka akan lebih kuat, lebih subur dan lebih berwarna daripada yang tertutup dan mengasingkan diri. Sumber energi begitu banyak pilihannya di dunia luar. Kehidupan begitu indahnya di luar, rugi kalau kita mengurung diri saja.

 

 

PERSPEKTIF BARU

 

Marco Kusumawijaya

 

188 kata

 

Sering dikatakan di sampul buku Marco, Jakarta itu suatu kota besar - metropolis - yang menawarkan kesempatan kosmopolitan. Menurut Anda pemikiran kosmopolitan itu merugikan atau menguntungkan?

 

Pndangan saya, kosmopolitan adalah suatu kenyataan. Tapi kita dapat mengembangkan berbagai visi yang berbeda terhadap kenyataan itu. Yang saya maksud dari kosmopolitanisme adalah terutama sikap atau kemungkinan atau potensi untuk bersikap terbuka terhadap segala hal yang ada di dunia. Karena asal kata cosmos punya implikasi pandangan luas. Banda Aceh di abad 17 sudah sangat kosmopolitan. Karena di abad ke 17 mengirim duta besar ke Inggris, menerima duta besar dari Belanda.  Misalnya lagi, Pan-Islamisme adalah juga kosmopolitan. Tergantung kitalah bagaimana mengembangkan sikap, karena sikap yang benar adalah mengambil manfaat kehidupan yang universal dan baik.

 

Jadi kalau Jakarta dalam beberapa hal tidak bagus, itu bukan karena pengaruh luar?

 

Keterbukaan tidak bisa dihalangi. Tergantung dari diri kita sendiri adalah bagaimana  kita menghadapi seleksi dan pengembangan sikap. Dalam mengembangkan sikap, kita tidak bisa melupakan kenyataan kita sendiri. Justru salah kalau kita mengembangkan sikap yang sikapnya reaktif terhadap keterbukaan tanpa berdasarkan kenyataan kita sendiri. Saya melihat tidak ada kontradiksi antara identitas diri sendiri dengan kenyataan.

 

Print article only

2 Comments:

  1. From Dr Tjandra Y Aditama on 16 November 2006 22:18:04 WIB
    Sehubungan Flu Burung akan jadi salah satu materi pembicaraan Bush SBY maka saya sampaikan delapan (8) informasi terbaru , termasuk beberapa perkembangan di Indonesia,mulai dari jumlah kasus, diagnosis, pengobatan (termasuk kebal obat) dan vaksin , sbb. :

    1. Jumlah pasien di dunia saat ini 258 orang, 152 meninggal dunia (angka kematian 58,91%), dimana Indonesia "menyumbang" 74 kasus, 56 diantaranya meninggal dunia(angka kematian Indonesia 75,67%).

    2. Kalau dilihat angka sepanjang tahun 2006 saja, maka jumlah pasien Flu Burung tahun 2006 di dunia adalah 111 orang, 55 diantaranya adalah orang Indonesia. Artinya di tahun 2006 ini 1 dari 2 pasien Flu Burung dunia adalah orang Indonesia !

    3. Sampai saat ini Flu Burung telah terjadi pada 10 negara di dunia.

    4. Agustus 2006 WHO memperkenalkan klasifikasi baru diagnosis Flu Burung, yang dibagi dalam :
    - kasus dalam investigasi
    - suspek
    - porobabel
    -konfirm

    5. Diagnosis tetap didasarkan poada isolasi virus (kultur atau PCR) dan serologi, tetapi makin banyak penelitian untuk mendapatkan "rapid test", termasuk dari Singapura

    6. perkembangan baru dalam penelitian obat Flu Burung dewasa ini:
    a menggabungkan oseltamivir dengan amantadine/rimantadine
    b Mencoba derivat lain yang masih "sekeluarga" dengan oseltamivir,yaitu :
    . Peramivir, keuntungannya antara lain dapat diberikan secara suntikan intravena. Saat ini sedang dalam pembicaraan untuk penelitian termasuk di jakarta
    . Zanamivir, dapat diberikan dalam bentuk inhaler, seperti obat semprot asma, sehingga masuk langsung ke dalam paru dan berefek lebih cepat
    c Rusia meneliti penggunaan interferon gamma dalam pengobatan Flu Burung, dengan menggabungkannya dengan interferon alfa 2 B
    d Ada laporan dari Brisbane Australia tentang obat bernama Melaleuca Alternifolia Concentrate (MAC) yang dalam penelitian di laboratorium dapat membunuh virus flu burung dengan cara langsung merusak dinding virus sehingga virus mati. Mungkin akan dicoba juga di Indonesia
    e Sedang dicari obat yang bersifat anti sitokin untuk menangani cytokine storm yang terjadi pada Flu Burung. tetapi, harus dicari yang tidak akan menimbulkan akibat buruk pada daya tahan tubuh.

    7. Obat yang sudah resisten dan tidak bisa membunuh virus
    - Oseltamivir sudah ada dilaporkan, tapi masih sedikit.
    - Resisten terhadap amantadine (obat pilihan kedua setelah oiseltamivir) ternyata telah dilaporkan resisten di beberapa tempat, yaitu
    - amantadine lebih cocok untuk clade 2 daripada clade 1
    - Tetapi di Indonesia, dimana virusnya adalah clade 2, ternyata hampir 50% sudah kebal terhadap amantadine.
    - Untuk kaum China di Hongkong, resitensi terhadap amantadine adalah 20%
    - di Vietnam tahun 2005 resistensi terhadap amantadine adalah 10%

    8. Vaksin, yang sedang dalam penelitian adalah ( enam issue) :
    - split virus and 30 & 90 micrograms of antigen in a two-dose schedule (Perancis)
    - alum-adjuvanted whole virus vaccine dengan 10 micrograms of antigen in a two-dose schedule (China)
    - 3.8 micrograms of virus in a two-dose schedule with AS03 adjuvant (Belgia)
    - onedose schedule (Hongaria).
    - penelitian lain di Amerika dan Jepang ; hasilnya menunjukkan "low antibody response" dan tidak terbentuknya "crossprotection" dari berbagai clade
    - tehnik lain dalam bentuk "antigen-sparing strategies" yang disuntikkan intradermal

    Karena Indonesia punya kasus terbanyak di tahun 2006 ini maka seyogyanya Indonesia berperan aktif dalam riset diagnosis, obat dan vaksin Flu Burung !!!

    Dr Tjandra Yoga Aditama
    SpP(K), DTM&H, MARS, DTCE
    Dep Pulmonologi & Kedokteran Respirasi FKUI / RS Persahabatan
    0816894239
  2. From Dr Tjandra Y Aditama on 24 December 2006 09:18:35 WIB
    1. Majalah kedokteran dunia LANCET hari ini (23 Desember 2006) menyebutkan hasil kajian : "Experts Predict Avian Flu Pandemic Could Kill 62 Million People"

    2.Hal ini sejalan dengan hasil pertemuan yang saya hadiri di Atlanta USA awal Desember ini, dimana para ahli memperkirakan bahwa di bila terjadi pandemi Flu Burung maka Amerika Serikan akan terjadi :
    - 90 juta orang AS akan sakit
    - 45 juta akan berobat jalan ke RS

    - 9.900.000 akan dirawat inap di RS

    -1.485.000 otrang akan masuk ICU

    -745.000 pasien ICU akan perlu mesin pernapasan (Ventilator),

    - 1.903.000 orang Amerika akan meninggal dunia

    Berdasar angka2 itu maka pihak Amerika Serikat mempersiapkan tenaga, sarana dan prasarana sehingga kalau pandemi datang mereka sudah akan siap. Dalam rapat di Atlanta itu mereka beranggapan bahwa PLANNING amatlah penting, karena itu harus dibuat secara rinci sejak sekarang

    3. Kalau angka ini dikonversikan ke Indonesia secara langsung maka akan kita dapatkan angka-angka sbb :
    - 63 juta orang Indonesia akan sakit
    - 31.5 juta akan berobat jalan ke RS diseluruh Indonesia

    - 65.940.000 akan dirawat inap di RS sehingga harus dinilai kesiapan RS.Tentu harus diingat bahwa RS juga akan merawat pasien2 lain, mulai demam berdarah sampai busung lapar

    - 1.039.500 otrang akan masuk ICU di berbagai RS dinegara kita, perlu dicek apakah ada ICU dinegara kita yang dapat menampung mereka

    - 521.500 pasien ICU akan perlu mesin pernapasan (Ventilator),perlu dinilai apakah ventilatornya sudah tersedia sejumlah yang dibutuhkan

    - 1.332.100 orang Indonesia akan meninggal dunia

    Tentu konversi seperti ini beluym tentu benar akan terjadi. tetapi, kalau kita pakai prinsip bahwa perencanaan adalah penting, sedia payung sebelum, hujan adalah penting, maka tentu setidaknya kita perlu ada angka2 sebagai dasar perencanaan

    4. Amerika Serikat secara rinci mempersiapkan juga kegiatan “NPI – Non Pharmacological Intervention” meliputi :
    a. Mencegah penularan di masyarakat :

    - Isolasi dan karantina pasien serta kontak dengan pasien

    - Penutupan sekolah

    - Penutupan tempat kerja

    - Menlarang pengumpulan massa


    b. Penangulangan infeksi :

    - penggunaan masker

    - etiket batuk (tutup mulut, jangan meludah dll)

    - cuci tangan secara teratur


    Artinya, mereka sudah secara rinci mempersiapkan, kalaus ekolah ditutup misalnya maka bagaimana pendidikan anak-anak dirumah, mereka sudah memperhitungkan juga kalau karantina dilakukan apa yang akan terjadi dsbnya.
    Mungkin Indonesia perlu juga membuat upaya-upaya seperti ini.

    Dr Tjandra Yoga Aditama
    SpP(K), DTM&H, MARS
    Dep Pulmonologi & Kedokteran Respirasi FKUI /
    RS Persahabatan

« Home