Articles

Komentar anda untuk buku koleksi kolom djakarta!

Perspektif Online
30 June 2006
Buku berupa kumpulan tulisan Wimar Witoelar di majalah Djakarta! sedang dalam proses edit final di penerbit buku Gagasmedia. Tapi mereka masih membuka kesempatan bagi anda yang mau menitipkan kesan-kesan anda mengenai tulisan-tulisan Wimar ini. Boleh beberapa kalimat, boleh lebih panjang. Nanti akan diatur editor untuk masuk dengan pas pada buku itu. Dan kami akan menyatakan terima kasih kami dengan menyerahkan satu buku edisi perdana kepada pengisi komentar, kalau perlu dalam forum copy darat.
 
djakartacover.jpg
 
Semua artikel itu sudah dimuat di majalah yang sekarang berformat 'free magazine'. Beberapa yang terakhir ada juga dalam website ini.. untuk menyegarkan pikiran anda, inilah beberapa contoh. Tinggal klik saja
 
 
 
 
 
Oh ya, apa kata Ita Sembiring, penulis langganan Kompas Cyber Media yang kini bermukim di negeri Belanda?
 
beberapa tulisan WW di majalah Djakarta (saya katakan 'beberapa' karena tidak selalu dapat kiriman majalah itu di Holland) seringkali menginspirasi saya untuk membuat 'lawakan' baru atau permainan baru kalau lagi diundang jadi pembicara di beberapa acara. Yang paling sukses permaianan Yes and.... itu lho WW
 
 
Ebenezer Sitorus, akuntan dengan latarbelakang aktivisme sosial, menulis:
 
Artikel yang ditulis selalu berisikan hal-hal baru tanpa membuat kening berkerut. Tidak menggurui, jelas, mudah dicerna, pemilihan kata yang istimewa tanpa kehilangan makna dan selalu berhasil membangkitkan inspirasi....
 
Untuk menyegarkan ingatan anda, kami pasang disini salah satu tulisan yang banyak diminati orang dari majalah djakarta! edisi 25 November 2004:
 
 
YES, AND…
 
Dalam teknik improv comedy, ada latihan bernama "Yes, And….". Pakai bahasa Inggris dulu nih, biar sesuai dengan pengalaman asli. Latihan dibuat dalam kelompok 5 oang yang berdiri dalam lingkaran, dan instruktur dengan mendadak menunjuk salah seorang peserta dan bertanya dengan cepat. Jawaban harus diberikan dengan cepat. Peserta yang tidak bisa jawab, langsung minggir.
 
"It is hot in here…"
"Yes, and it is even hotter outside"
 
" Groningen is a quiet town…"
"Yes, and the churches are nice"
 
" You are getting fatter…"
"Yes, and I will gain more"
 
kalau mau lucu, bisa beranikan jawaban lain.
 
"It is hot in here…"
"Yes, and this is after we have taken off our shirts"
 
" Groningen is a quiet town…"
"Yes, and it gets even more quiet when we stop talking"
 
" You are getting fatter…"
"Yes, and I just ate another dozen of blueberry muffins"
 
Dengan format "Yes, And.." kita menjaga kelangsungan pembicaraan. Dikatakan juga pembuka bicara memberikan "offer", dan tamannya melakukan "accept". Kalau tidak, terjadi "blocking".
 
"It is hot in here…"
"Really? Actually I am freezing"
 
" Groningen is a quiet town…"
"You should take off your earplugs"
 
" You are getting fatter…"
" Where have we met before?"
 
Blocking sangat disesalkan, karena membuat percakapan menjadi mati. Cerita dari pembuka bicara direbut oleh teman bicara dan diganti cerita lain. Ini tidak bagus, merusak kerjasama. Yang melakukan blocking akan bernasib sama dengan yang tidak bisa jawab, yaitu disuruh minggir menunggu latihan berikutnya. Karena blocking itu suatu kekejaman terhadap kawan, mencabut dukungan kepada kawan. Pemain improv harus bekerja sebagai team, seperti pemain bola. Nggak boleh bawa bola sendiri, jangan merebut bola dari kawan, dan dilarang malas menjemput bola.
 
Bisa juga, blocking terjadi karena pembuka kata yang disebut "offer" tidak di "accept". Ini sering terjadi. Kalau kita jalan di jalur tengah Citos yang seperti catwalk itu, kita bisa mengintip pasangan2 ngobrol di kafe, ada yang ramai, ada yang diem-dieman. Yang diem-dieman mungkin nggak akan jalan bareng lama, karena salah satu melakukan blocking. Tapi mungkin juga memang sudah mesra jadi tidak perlu "ngobs", tapi itu artinya memang tidak ada offer dan tidak ada accept.
 
Orang pasang iklan "Dijual, Rumah 400 meter persegi, harga Rp 2 milyard." Karena di tengah sawah, tidak ada yang menjawab iklan. Kalau rumahnya di Jl Panglima Polim, mungkin ada yang menjawab "Ya, harganya OK, dan bagaimana jadwal pembayaran?" Ini namanya perundingan persyaratan. "Mau nggak ke Semarang Sabtu pagi?" Jawaban blocking: "Nggak mau ah." Jawaban accept: "Mau, dan lebih asyik lagi kalau naik pesawat terbang"
 
Format offer boleh sedikit rumit. "Saya bersedia ditemani kamu jalan2, tapi kamu nggak boleh ngerokok, harus mandi dulu, dan harus pakai kaos yang oke." Jawabannya bisa blocking:" Ah sori. Aku nggak bisa penuhi syarat-syarat itu," atau bisa menerima offer dengan menjawab, "OK, saya mau" sambil mencoba dlm beberapa hari berhenti merokok, membiasakan mandi subuh, dan mencari kaos di Factory Outlet. Kuncinya adalah bahwa setiap ajakan adalah suatu offer, dan terserah kita untuk milih sikap menerima atau menolak pada kesempatan pertama. Kalau kita ingin menerima, maka kita bisa bilang ya, sambil mencoba memenuhi syarat. Kalau sudah ada offer, berarti sudah ada pintu yang terbuka. Persyaratan menjadi topik negosiasi. Ini terjadi tidak saja dalam urusan pribadi tapi sampai kepada perundingan Aceh dan perundingan PLO-Israel.
 
Dalam kampanye kepresidenan banyak yang milih SBY walaupun kurang sreg, karena si pemilih merasa aman memberikan jawaban "Ya saya pilih, dan saya yakin Bapak akan tangkap koruptor ya."  Bisa dijawab lagi, "Ya, pasti, sip, tanpa pandang bulu…" atau "well… nggak bisa juga terlalu terburu-buru.. nanti deh 1000 hari lagi… kan susah, semua harus setuju dong."
 
Susahnya kampanye presiden, formulir hanya memberikan pilihan "Yes" atau "No", tidak ada "Yes, And…". Kecocokan baru bisa diuji setelah kandidatnya terpilih. Susahnya, kalau ternyata si terpilih tidak memahami adanya "And…" itu, dia bisa jalan sendiri dan kehilangan dukungan.
 
Untung kehidupan pribadi lebih fleksibel. Dengan "Yes, And…" kita bisa memberikan jawaban "Accept" sambil mengisyaratkan kelanjutan yang diharapkan.
 
" Asyik ya kalau hari Sabtu nanti kita ke PIM?"
 
" Ya asyik, dan lebih asyik lagi kalau kamu jemput di rumah, menyediakan voucher belanja, dan traktir makan siang di Es Teler 77."
 
"Kalau tidak?"
 
"Kalau tidak, saya pergi sama bos ke Karawaci.."
 
"Bagaimana kalau saya jemput di pangkalan bus, traktir makan siang, tapi nggak pake belanja."
 
"Ya bagus, dan saya akan pikirkan dulu dua hari."
 
Paling tidak, percakapan masih berkelanjutan dua hari, berkat format "Yes, And.. " dan tidak pakai blocking. Siapa tahu, syarat lain bisa dinegosiasikan, sehingga akhirnya mereka bisa pergi ke PIM dan nonton "The Incredibles" tanpa Es Teler 77, dan tanpa voucher belanja.

Update 13 Agustus: Kumpulan artikel dari majalah djakarta! sudah terbit dengan judul A Book About Nothing. Segera dapatkan di toko buku, atau lihat komentar orang.

Print article only

30 Comments:

  1. From Mansur on 27 June 2006 08:54:13 WIB
    Artikel-artikel Bung Wimar di majalah Djakarta kendati hanya sekitar 700 - 800 kata mampu mengkaji secara mendalam apa pun tema yang diangkat, dari masalah serius seperti flu burung sampai masalah ringan termasuk olah raga. Terlihat sekali penulisnya memiliki banyak refernensi bacaan. Karena itu saya menilai Bung Wimar seperti mesin google. Terus Berkarya Bung Wimar.
  2. From Daniel Ziv on 27 June 2006 09:30:34 WIB
    Pak Wimar sejak awal terbitnya majalah "Djakarta! - The City Life Magazine" menjadi salah satu kontributor yang paling tetap, 'mengigit' dan menarik. Beliau juga satu-satunya kontributor yang tak perlu ditegur oleh saya, pemred-nya, atas soal deadline, karena kolumnya selalu masuk on-time, tidak seperti, misalnya, sahabat saya Ayu Utami, yang setiap bulannya memaksakan saya menjadi 'pengemis' karena kolumnya selalu masuk telat...

    Saya bahagia dan bangga sekali atas terbitan buku baru ini, yaitu kumpulan kolum-kolum Pak Wimar dari Majalah "Djakarta!" Dalam lebih dari lima tahun sejak terbit, majalahnya sering berubah, ganti pimpinan atau ganti format, tetapi Pak Wimar tetap adalah salah satu 'pondasinya'.

    Selamat, Pak Wimar, dan terima kasih banyak atas kerjasama!

    Daniel Ziv
    Founding Editor
    "Djakarta! - The City Life Magazine"
  3. From Anton on 27 June 2006 16:18:38 WIB
    dulu saya pernah beli majalah Djakarta! yang edisi pertama dan di covernya ada gambar bung WW dan becak kalo ndak salah warna covernya coklat. Kini Djakarta! sudah free ya...tapi saya jarang menjumpai majalah ini. Kira2 dimana yah bisa mendapatkan. Bung WW dimana saya bisa mendapat info untuk menerbitkan majalah free seperti ini. Saya berminat sekali.

    Terima Kasih.
  4. From wimar on 28 June 2006 12:22:52 WIB
    harusnya majalah djakarta! bisa diperoleh dengan mudah dan gratis di tempat keramaian terutama mall, restoran dsb. kalau sudah menemukan satu tempat, bisa datang dua minggu sekali. kalau tidak, artikel saya akan diterbitkan disini setelah dia keluar di majalah.

    senang sekali dapat komentar dari Daniel Ziv. Kalau tidak karena dia, saya tidak punya kolom ini. Bagi saya, menulis kolom ini amat menyenangkan, nggak tahu buat yang baca hehe.

    Kenapa menyenangkan? Karena saya menulis tanpa beban,apa saja yang ada di kepala, kadang-kadang juga seperti komedi Seinfeld "stories about nothing".

    Karena kolom ini lumayan disenangi, saya perlu kumpulkan komentar orang, apa yang disenangi tentang kolom ini, supaya bisa kita teruskan.

    Daniel Ziv sangat berjasa memberi pengakuan kepada saya untuk tulisan yang memang seadanya, berbeda dengan analisa politik ekonomi yang juga punya penggemar, tapi nulisnya lebih capek hehe....

    so, kalau ada komentar, please tulis disini, nanti masuk buku deh . :)
  5. From lan on 28 June 2006 20:35:04 WIB
    Teka teki buat setiap tulisan yang ww tulis di djak! mag ini, ringan, tapi kadang bikin kita curious gak ngerti apa ya maksudnya
    Artikel ww di djak! mag, kayak republik BBM, sentil sana sentil sini, yang kesentil harus bijaksana..:P
  6. From Santi Pudjo B on 29 June 2006 08:40:50 WIB
    Berpikir dan bertindak positif di setiap kesempatan, serta menghargai hal-hal baik dalam momen hidup kita, akan membuka jalan bagi mengalirnya energi positif.

    Tulisan khas Pak Wimar yang ceplas-ceplos sekaligus cerdas dan selalu tampil up to date, merupakan pencerahan bagi pembacanya. Dengan demikian, diharapkan ikut menciptakan energi postif bagi kehidupan banyak orang. Bravo pak ….

    Santi Pudjo B, Houston, Texas.
  7. From Denny HS on 29 June 2006 10:38:12 WIB
    tuh kan bener apa yang kubayangkan sebelumnya.. tadinya belum pernah melihat artikel yg ada di Djak'Magz..dan memang tidak mau melihat, biar lebih surprise lagi baca bukunya nanti.tp krn dikirimkan revisi emailnya "surat dari wimar",jd tergelitik rasa penasaranku untuk meng-klik cth artikelnya. Dan..apa yang terjadi benar2 dahsyat, sangat nge-refresh dan punya banyak makna dan bersifat aplikatif utk banyak hal, dan yang jauh lebih penting adalah permainan dr kata per kata yg membentuk suatu kalimat yg akan selalu mudah di cerna,diingat bahkan ingin segera diaplikasikan. Mas, U're so SMART guy,Good writer, Good thinker,and Good Inspirator dibungkus dengan sangat sederhana sehingga bisa "dibuka dan dinikmati" dari kalangan biasa sampai top level!!cuma satu kata: DAHSYAT!! THX.
    **Mau menjadi seperti WW? Ya dan sangat mau, bahkan kalau bisa lebih DAHSYAT dari dia:)cheers...
  8. From andy pribadi on 29 June 2006 14:43:54 WIB
    Kalau kita simak di setiap artikelnya, Bung WW selalu mengajak kita menembus wawasan baru sambil mencoba mengajak mawas diri atas adab dan perilaku. Tentu saja dengan tulisannya yang mengalir dan ceplas-ceplos, kita dibawa hanyut bahkan tidak menyadari bahwa kita sudah dicekoki onggokan "dokrin" yang (kalau bisa) kita sama piawai dengan WW. Luar biasa..
  9. From Dian Wirengjurit on 29 June 2006 15:34:48 WIB
    Kalau dibilang sinis, ya memang sinis.
    Kalau dibilang ketus, ya memang ketus.
    Tapi kalau mau jujur dan pakai hati nurani, maka semua akan jelas. Tulisan-tulisannya memang lugas dan tuntas, dan mau tidak mau kita akan mengakui "bener juga ya". Selebihnya ya terserah kita.
    Ya itulah Wimar!

    dw
    diplomat, jenewa
  10. From Martin Manurung on 29 June 2006 15:38:30 WIB
    Tulisan Wimar Witoelar selalu menjadi oase dari kekeringan berita-berita rancu. Ia merupakan perwujudan dari indahnya berpikir sederhana; tanpa bermacam-macam excuse yang rumit untuk mengadvokasi ide-ide sempit seperti RUU APP. Jika anda merasa muak, pingin marah-marah dan mulai pesimis, teguklah air segar dari tulisan WW, dan anda bisa tersenyum kembali dan tetap optimis.
  11. From hani hasyim on 29 June 2006 18:13:43 WIB
    Salah satu talenta wimar yang menonjol adalah kemampuan mengekpresikan pikiran-pikarannya dalam kata-kata yang sederhana tapi cerdas. Ini saya tahu tidak mudah karena kita cenderung bicara rumit (apalagi kalau mau terkesan pandai) atau kalau menggunakankata-kata sederhana biasanya krn kita tak apa yg harus disampaikan. Tapi wimar bisa menulis dengan sederhana dan cerdas, jadi pembaca kolom2nya dapat dengan mudah mengerti dan terus dibawa sampai ujung tulisan. Yang tak kalah hebat adalah kemampuannya mengangkat tema-tema kecil atau simple menjadi tulisan yang berbobot, berguna & enak dibaca.


  12. From Hagi Hagoromo, FourFourTwo Indonesia on 29 June 2006 20:46:13 WIB
    Lewat bantuan seorang teman, saya terkonek juga dengan Bung WW. Kebetulan, dia punya minat yang tinggi pada apa yang sedang saya geluti di majalah saya saat ini. Kenal Bung WW dari format talkshow-nya yang pernah tayang di sebuah stasiun televisi swasta beberapa tahun lalu. Begitu juga dengan tulisan-tulisannya yang sering dimuat di beberapa media, terutama djakarta!. Cukup ‘nendang’, dan sesuai nama situsnya, Perspektif, maka karya-karyanya selalu menghadirkan cakrawala baru atau dimensi lain terhadap banyak fakta dan peristiwa di sekitar kita. Ada semacam pencerahan, jika kita bisa melihat dunia ini dari kacamatanya. Dan itu, boleh jadi, memang tugas yang Bung WW emban selama kehidupan ini berputar.
  13. From Juwono Sudarsono on 29 June 2006 21:14:51 WIB
    Bung Wimar adalah penghubung "manusia kosmopolitan" dan "manusia Indonesia sejati", gabungan "Davos man" dan "village man", manusia teknologi tapi juga manusia budaya, lokal sekaligus global. Manusia segala musim yang menyiram dengan air dingin dimana perlu tapi memberi kehangatan dimana memang pantas dicurahkan.
  14. From wimar on 30 June 2006 05:17:39 WIB
    terima kasih untuk komentar anda. untuk bisa ditampilkan di buku saya perlu keterangan seperti berikut:

    Andy Pribadi , -------- , ---------
    Dian Wirengjurit, Diplomat, Geneve
    Martin Manurung, mahasiswa, Norwich
    Mansur, public relations, Jakarta
    Daniel Ziv, Founding Editor, "Djakarta! - The City Life Magazine"
    Anton , ----------, ------------
    Herdiny Wulandari, staf PR, Jakarta
    Santi Pudjo, B, -----------, Houston
    Denny HS , ------- , ---------
    Ita Sembiring, penulis, Roosendaal
    Ebenezer Sitorus, akuntan, Jakarta

    mohon lengkapi yang kosong, dan ganti yang salah
  15. From Anton on 30 June 2006 11:08:47 WIB
    Anton, Penulis, Jakarta
  16. From Anton on 30 June 2006 11:19:44 WIB
    Wimar, Demokrasi dan Generasi Muda.

    Ada dua orang yang mempengaruhi pemahaman saya tentang demokrasi dan pembebasan manusia. Yang pertama, Goenawan Mohammad penulis tetap catatan pinggir Tempo yang sangat luar biasa jenius mengolah kata. Dan kedua adalah Wimar Witoelar, terus terang saya tak pernah membaca tulisan-tulisan Bung WW dalam format buku. Seperti halnya saya tak pernah mendengar GM berbicara. Jadi secara tulisan pemahaman wawasan demokrasi saya ‘dicekoki’ GM dan secara lisan pengertian saya tentang keberanian bertindak untuk demokrasi dengan cerdas di tulari bung WW.

    Saya lupa entah tahun berapa bung WW memulai ‘perspektif di SCTV’ apa 1993 atau 1994. Tapi yang jelas format acara perspektif pada waktu itu sungguh berani bila dilihat dari situasi penjajahan politik gaya Orde Baru. Cara bicara bung WW terlihat mampu melompati hal-hal sulit menjadi mudah dipahami. Sampai saat ini presenter sekelas Bung WW sama sekali tidak ada. Yang saya masih inget sampai sekarang adalah suatu saat bung WW mengajak seorang anak muda anggota kelompok diskusi ‘Aufklarung’. Disitu terlihat bung WW sangat antusias mengangkat hal-hal dimana ia bisa melihat bibit-bibit muda yang berkembang. Dan ini merupakan sebuah gagasan menarik. Karena jarang lho...seseorang tokoh mau bertoleransi terhadap hadirnya generasi muda, karena sudah menjadi tradisi pikir tokoh di Indonesia bahwa generasi muda adalah ancaman, ditangan Wimar generasi muda merupakan gandengan sejarah.

    Dan suatu saat saya pernah ke PIM saya melihat bung WW berjalan-jalan dengan keluarganya, suatu saat saya juga melihat Bung WW sedang kongkow2 di Citos. Disitu saya lihat gairah penerusan sejarah yang dilakukan Bung WW saat ia berbicara. Sayang saya tak mengenalnya. Perkenalan intelektual kedua saya dengan Bung WW justru baru2 ini saat saya tiap pagi rajin membuka ‘blog Perspektif’ disitu justru memperkuat pemahaman saya tentang demokrasi dalam arti sesungguhnya.

    Saya melihat beberapa komentar yang memaki-maki Bung WW dalam sebuah topik hangat RUU APP. Disitu justru Bung WW tidak membalas dengan makian atau sindiran justru dibalas dengan kata-kata. “Kita belum tahu apa yang dia mau, karena belum keluar eksplorasi bahasa dan pemikirannya” saat membaca kata-kata yang lugas itu kesadaran saya tersentak, “Itulah demokrasi!”

    Pernah suatu saat saya membaca kisah hidup Wimar di entah di Kompas, atau harian lain mengenai keluarganya. Yang saya ingat cara mengasuh anak-anak ala Wimar. Dalam kehidupan keluarga Wimar, anak-anak memiliki hak yang sama dengan dirinya, anak-anak memiliki penilaian yang sama dan kewajiban yang sama. Tidak ada struktur hirarkis dalam keluarganya, disitulah saya lihat Wimar membangun benih demokrasi. Karena menurut pemahaman saya yang dibesarkan dalam tradisi Jawa, keluarga harus dibesarkan dengan struktur hirarkis. Sikap membantah disamakan melawan dianggap sebagai mbalelo dan serta merta akan dikeluarkan dalam lingkaran keluarga. Tradisi cara pandang ini juga meluas dalam struktur kekuasaan di negeri ini, dimana hirarkis yang dilandasi kekuasaan adalah hal yang prinsipil maka tak heran setiap penyelesaian konflik jawabannya adalah kekerasan.
    Menurut saya demokrasi bukan saja sebuah ideologi tapi dia juga merupakan watak dan sikap dewasa manusia dalam memahami hidup. Budaya keluarga-keluarga di Amerika adalah kompetisi, mereka membenci pecundang, sementara budaya keluarga Inggris menekankan sikap sportif, budaya keluarga Jerman bersikap patriakhis dan melandaskan dirinya pada kepatuhan. Lain Jerman lain Indonesia pola didik keluarga-keluarga di Indonesia ada semacam gagasan kembar, di satu sisi menekankan pendidikan agama yang eskatologis tapi di sisi lain menekankan pendidikan untuk mengenal cara berkuasa (di Indonesia-lah pola hidup dengan dilayani pembantu menjadi khasanah paling dominan pada keluarga-keluarga di Indonesia). Keluarga Indonesia juga kerap mengajarkan nilai moral tapi di sisi lain menyuruh untuk mendapat keuntungan instan (anak dijauhkan pada kecintaan akan proses). Pola pendidikan inilah yang kemudian mempengaruhi cara berpikir dan bertindak generasi muda Indonesia kita. Kita tak pernah diajarkan menghargai sikap sportif, patuh hukum dan kompetitif. Cobalah anda lihat di jalan-jalan kota Jakarta betapa brutalnya para pengendara, di ruang-ruang pengadilan atau di kantor-kantor Departemen, atau para pekerja di ruang-ruang publik yang menggunakan jabatannya untuk tujuan-tujuan komersial. Nilai-nilai sportif dan patuh tidak ada lagi justru jika kita melanggar aturan kita disebut jagoan dan setengah pahlawan.

    Entahlah apa salah atau benar pendapat saya. Demokrasi akan tumbuh subur bila lapisan menengah suatu bangsa sangat kuat. Artinya kita tidak mengingkari bahwa memang dalam suatu bangsa ada semacam klasifikasi yang menentukan dalam struktur masyarakat. Kelas atas biasanya di isi oleh kaum penguasa, kelas menengah pekerja terdidik dan pengusaha atau intelektual-akademis, sementara kelas bawah adalah kelompok buruh, petani/nelayan penggarap, pekerja informal berpendapatan rendah dan pengangguran. Di Indonesia justru kelas terbesar adalah kelas bawah. Menurut Rosihan Anwar, seorang wartawan senior dan tokoh PSI pernah menulis pendapatnya bahwa ‘ bila revolusi diberikan pada kelas bawah maka yang lahir adalah kekerasan’ dan dia berpendapat orang-orang seperti Mao, Pol Pot, Hitler, Stalin ataupun Beria adalah pemimpin yang lahir dari kehidupan kelas bawah yang keras. Namun jika revolusi dan cetusan gagasan itu muncul dari kelompok kelas menengah maka yang ada semangat intelektual dan usaha-usaha merubah sejarah dengan pengertian logis. Orang-orang yang dilahirkan dari situasi kelas menengah seperti Thomas Jefferson, Adam Smith, Voltaire, Lenin, Karl Marx, Engels, FDR, Sukarno, dan lain lain menunjukkan bahwa mereka memahami perubahan sebagai bentuk lurus yang diguncang dengan radikal tapi menolak kekerasan massif.

    Dari pandangan ini saya tertarik dengan gagasan Suhartorian. Suharto tidak jelas asal usul keluarganya – kata Mashuri, mantan Menteri Penerangan era Orde Baru Suharto adalah anak gelap hasil hubungan antara perempuan desa dengan pedagang keliling Cina, tapi beberapa orang menyebut asal-usulnya dari keraton Yogyakarta. Berbeda dengan Sukarno, Hatta atau Sjahrir yang jelas asal usulnya, berpendidikan dan mengalami pembelajaran intelektual secara intensif. Suharto tidak mengalami pengalaman intelektual yang intensif, ia sama sekali tidak suka membaca buku, dunianya berkisar dari kerbau dan menggarap kebun. Terlepas dari asal-usulnya yang tidak jelas, mungkin ada kesimpulan yang dapat ditarik disini, Suharto besar dari lingkungan kelas bawah dan tidak mengenal konsep-konsep demokrasi. Dunia anak-anaknya diisi dengan bentakan dan suruhan untuk mengurus pekerjaan rumah tangga karena hampir seluruh masa kecilnya menumpang hidup dengan keluarga kerabatnya (bahasa Jw. ngenger). Pengalaman intelektual yang paling membekas justru di dapat dari diskusi dengan Kyai Daryatmo, seorang tokoh agama desa. Tidak diketahui dengan pasti apa yang didiskusikan, namun menurut beberapa buku yang sempat saya baca, obrolan mereka berkisar pada kepatuhan terhadap penguasa tanpa reserve. Mungkin disinilah Suharto menancapkan gagasan bahwa hubungan antar manusia dilandasi pada siapa yang berkuasa, bukan dilandasi sikap untuk saling mengerti. Maka tak aneh bila di masa kekuasaannya hubungan di dalam masyarakat sangat tidak sehat. Kekuasaan dianggap sebagai segala sumber kebajikan sementara intelektualitas yang tidak berhubungan dengan kekuasaan disebut sebagai sampah masyarakat. Tumbuhlah kemudian intelektualitas semu yang menghamba pada kekuasaan. Intelektual-intelektual akademisi tidak lagi independen namun telah berubah fungsi menjadi pegawai negara. Dalam situasi seperti ini demokrasi menjadi alat semu slogan seperti slogan-slogan lain yang penuh kebohongan atau rapuh terhadap nilai-nilai kesejatian seperti : Pembangunan, Pancasila dan Gotong Royong. Rakyat Indonesia di tipu habis-habisan, pembangunan yang pada hakikatnya menciptakan kemakmuran ternyata digunakan sebagai alat untuk menindas. Pembangunan tidak lagi diupayakan sebagai bentuk pembebasan – tapi berbalik arah dengan bagaimana cara berkuasa. Dengan pembangunan konsep keamanan menjadi sangat penting lalu terciptalah politik stabilitas yang bukan mengamankan jalannya kehidupan di masyarakat tapi menjadi bentuk pemenjaraan anggota-anggota masyarakat. Begitu juga dengan Pancasila, Pancasila tidak dilihat sebagai sebuah bentuk nilai-nilai bersama tapi tumbuh hanya sekedar jargon politik dengan kepentingan jangka pendek, dan celakanya lagi Pancasila disempitkan untuk menghantam musuh-musuh politik. Klaim pemilik kebenaran pada waktu itu terbatas hanya sekitar rapat kabinet pimpinan Suharto. Begitu juga dengan konsep gotong royong. Masyarakat hanya disumpalkan pemikiran-pemikiran yang tak berkecambah intelektualitas, perangsangan berpikir ataupun pencerahan, tapi justru menanamkan bibit-bibit ketakutan.

    Disaat itulah Wimar hadir. Dengan dialog-dialognya yang lucu, ia menggugat Orde Baru. Dan entahlah apa ini keberuntungan Wimar, tidak seperti intelektual kritis lainnya yang mengalami penyempitan ruang ekspresi baik itu dipenjara maupun di hukum secara perdata, Wimar sanggup menembus lapisan publik dengan hadir di televisi. Jika pada media massa boleh dikatakan tabloid politik ‘Detik’ pimpinan Eros Djarot menjadi motor media resmi yang bersifat kritis. Saya pribadi menilai kehadiran Wimar merupakan awal pembenihan reformasi politik dalam dunia televisi pada dekade 1990-an. Walaupun benih-benih Perspektif, Detik, atau Tempo yang mulai menggeliat untuk menggugat Orde Baru bisa dikatakan paralel dengan menjauhnya sayap militer Benny Moerdani pada Suharto yang kemudian memunculkan ruang kekuasaan kecil bagi oposisi seperti : PDI Megawati, bisa dikatakan ketiga kelompok pembaharuan inilah yang kemudian secara kuat menggulirkan gugatan suksesi yang belakangan diambil dengan lihai oleh Permadi yang menantang Amien Rais sebagai Presiden RI. Disinilah kemudian cerita perubahan politik bermula.

    ‘Action is the mother of hope’ begitulah kata Pablo Neruda. Setelah Suharto gagal mempertahankan kekuasaannya maka yang tumbuh di Indonesia adalah jaman transisi. Sebenarnya saya bertanya-tanya, sejak kapan Indonesia berhenti dari jaman transisi. Karena setelah dicabutnya kekuasaan kolonialisme Hindia Belanda tahun 1942 oleh pendudukan militer Jepang, Indonesia terus menerus mengalami masa transisi. Tidak ada kestabilan gagasan yang menghentikan masa transisi. Jaman revolusi bersenjata 1945-1949 kita sesungguhnya mengalami kekerasan politik yang luar biasa, pembunuhan-pembunuhan pemimpin politik, pembantaian rasial atau perang antar lasykar menjadi menu berita sehari-hari. Kemudian setelah era 1950 kita dihadapkan pada masa transisi konstitusional yang muka beritanya adalah penggantian kabinet berkali-kali. Transisi konstitusi kemudian dihentikan oleh Sukarno dengan tanpa hasil. Lalu Bung Besar kita itu menggagas demokrasi terpimpin yang kemudian menjadi tunggangan revolusinya. Revolusi Sukarno dipahami sebagai perubahan kekuasaan bukan perubahan budaya. Di jaman Sukarno kita tidak mengalami revolusi teknologi, revolusi intelektual bahkan lebih jauh lagi revolusi bermasyarakat. Justru di Jaman Sukarno yang ada peningkatan intensitas benturan politik. Sukarno adalah tokoh yang sangat cerdas dan berwawasan ke depan. Ide-idenya tentang neo-kolonialisme dan neo-imperialisme sebagai kuda tunggangan kapitalisme ternyata terbukti benar empat puluh tahun kemudian. Sayangnya, Sukarno tidak didukung oleh kekuatan kohesif yang mengusung ide-idenya. Ditambah kelemahan pribadi Sukarno yang cenderung membakar amarah massa ketimbang mendidik massa.

    Sukarno, adalah pahlawan di tahun 1945 tapi bukan di tahun 1965, menjadi sebuah alur besar pemikiran generasi intelektual tahun 1966, seperti Soe Hok Gie, Jopi Lasut, Herman Lantang, Rahman Tolleng, Goenawan Mohammad dan mungkin juga Wimar Witoelar. Di titik ketika benturan kekuasaan menghebat yang dipicu petualangan sejumlah perwira Angkatan Darat dengan menculik beberapa pemimpin SUAD termasuk Letnan Jenderal A. Jani. Kejadian itu juga membawa tuduhan keras bahwa sejumlah pemimpin teras Partai Komunis Indonesia (PKI) terlibat. Tuduhan ini mendapati pintu terbuka untuk menembus kebuntuan revolusi Sukarno, kaum muda melihat kejadian G 30 S merupakan kesempatan untuk mengibarkan bendera perubahan. Jelas kaum muda disini adalah mereka yang sadar ke arah mana sejarah bergerak. Generasi muda 1966 bukanlah gambaran yang kerap diperlihatkan pada ketokohan Abdul Gafur atau segerombolan mahasiswa-parlemen yang bergincu ataupun figur pejabat Orde Baru macam Cosmas Barubara atau Akbar Tandjung di kemudian hari. Melihat intelektualitas generasi 1966 adalah mencantolkan kita pada gagasan idealisme Soe Hok Gie, sikap keras anti kekuasaan menindas gaya Soe Hok Djin alias Arief Budiman, ataupun transformasi spiritual Nurcholis Madjid (- bila ia juga dimasukkan ke dalam satu himpunan idealis-intelektual generasi 1966). Karena baik dua bersaudara Soe itu justru menemukan sesuatu yang salah pada Orde Baru di awal-awal kekuasaan dan berani menantang bahaya. Puncaknya adalah penangkapan besar-besaran pemimpin mahasiswa akibat peristiwa Malari 1974 yang kemudian diikuti pemasungan kebebasan ekspresi intelektual mahasiswa Indonesia di tahun 1978. Sesungguhnya Orde Baru adalah masa transisi Indonesia modern terlama. Ia dibangun dengan hutang, bom harga minyak dan pengurasan sumber daya alam besar-besaran. Setelah era pemasungan gerakan mahasiswa notabene kaum muda Indonesia berkeliaran di bawah tanah tak jauh beda dengan gaya perjuangan Sutan Sjahrir di jaman Jepang.

    Mungkin Wimar bisa ditempatkan sebagai penerus tradisi intelektual kritis angkatan 1966. Ia menjauh pada kekuasaan walaupun sempat beredar sebentar dalam orbit Gus Dur. Arti penting Wimar sesungguhnya mencapai puncak pada tahun-tahun menjelang berakhirnya Orde Baru saat ia mengawali keterbukaan lewat jalur komunikasi publik. Suharto bukan dijatuhkan oleh mahasiswa ataupun gerakan-gerakan sayap militer yang kurang menyukai Cendana, tetapi Suharto dijatuhkan oleh akumulasi keterbukaan yang di gong oleh tumbuhnya televisi-televisi swasta dan lahirnya pemimpin politik anti Suharto : INTERNET !. terbukanya saluran informasi yang luas justru dengan cepat menggoyahkan kekuasaan Suharto. Kekuasaan Suharto adalah kekuasaan bergaya Sultan Agung atau Amangkurat. Kekuasaan yang menutup informasi, kekuasaan yang menggantung dirinya pada mitos dan lebih jauh lagi kekuasaan yang menutup semua pergaulan di luar jejaring birokrasi. Dengan teknologi informasi yang begitu hebat semua rantai-rantai kekuasaan Suharto putus dengan sempurna dan dengan cepat ia takluk pada revolusi teknologi. Suharto mampu menaklukkan revolusi Nasakom yang penuh mitos tapi ia dihancurkan oleh revolusi teknologi yang mengedepankan informasi akurat.

    Kini jaman Suharto berlalu sudah. Tapi tidak dengan konflik yang ada di Indonesia. Sebuah pembuktian teori tentang masyarakat transisi sedang berjalan sekarang. Sektarian dan kesadaran fanatis tumbuh subur di dalam masyarakat. Nilai-nilai lama sudah dianggap usang seperti Nasionalisme, Pembangunan, Pancasila apalagi Marhaenisme. Sektarian menoleh pada agama dan kedaerahan. Perbedaan antar agama menjadi sarana identitas yang ujung-ujungnya untuk kepentingan politik jangka pendek sementara menguatnya kesukuan lebih disebabkan pada keinginan berkuasa. Indonesia diambang kegagalan menjadi negara yang kohesif. Kita tidak lagi memiliki gagasan sebuah kesatuan dalam hidup berbangsa, kita gagal menegakkan identitas Indonesia. Di luar negeri Indonesia dicibiri secara sinis sebagai sebuah negara yang gagal, bahkan lepasnya Timor Timur terlepas dari agresivitas militer Orde Baru menunjukkan bahwa betapa kita tidak mampu membangun harapan di Timor Timur untuk menjadi bangsa Indonesia. Melihat hal itu betapa bersyukurnya Brunei yang dulu dengan dipimpin sekelompok sayap militer pemberontak berkehendak untuk masuk menjadi bagian dari NKRI.

    Masyarakat transisi yang gagal melaju menjadi masyarakat kritis akan terjebak pada masyarakat berkebudayaan fanatis. Jebakan fanatisme bisa disebabkan oleh ketidaktahuan, kurang wawasan atau yang lebih parah adalah ‘ketakutan’. Ada senjata Orde Baru yang sangat mumpuni yaitu menciptakan ketakutan. Dahulu mereka mengobarkan api kebencian terhadap Komunisme, komunisme tidak dilihat lagi sebuah ideologi yang objektif tapi sebagai hantu. Di bawah kepemimpinan Orde Baru masyarakat dimanipulasi dengan perasaan nyaman bahwa pemimpin-pemimpin Orde Baru akan menampik bahaya Komunisme. Bukan saja komunisme tapi Islam juga dianggap sebagai ancaman. Pembantaian Tanjung Priok dan Lampung juga pemenjaraan tokoh-tokoh Islam menunjukkan betapa Orde Baru pelan-pelan membentuk benteng psikologis terhadap kebencian di luar jejaring Orde Baru.

    Kini setelah figur Suharto runtuh, ketakutan diteruskan dalam pemahaman sektarian dan kedaerahan. Halangan menjadi masyarakat yang dewasa menjadi begitu terjal. Jika kondisi sekarang dibiarkan atau ada semacam pembiaran di tengah masyarakat maka kita akan terjebak pada situasi yang kacau balau. Untuk itulah perlu adanya lapisan radikal di kalangan masyarakat terutama generasi muda untuk mengawal agar masyarakat Indonesia dapat tumbuh ke arah kedewasaan politik, masyarakat demokrasi fundamental dan masyarakat berkesadaran kritis. Semoga kehadiran Wimar di tengah kaum muda menjadi pendorong tumbuhnya generasi muda Radikal.


    ANTON
  17. From budi sutomo on 30 June 2006 12:52:16 WIB
    Sebelum menjadi gratisan saya selalu beli rutin Djakarta, tetapi setelah free sekarang saya jagi ngga bisa dapat. dimana ya aku bisa mendapatkan buku itu. " yang paling berkesan adalah saat, djakarta covernya Pantat doang" beda banget.
  18. From Christine Susanna Tjhin on 30 June 2006 13:44:01 WIB
    Ketika pekik amarah, keluhan nurani, dan kebisuan putus asa sudah demikian memekakkan telinga, humor, tawa kecil dan untaian senyum kiranya bisa menjadi pelipur lara dan pengantar pesan. Itulah yang menjadi ciri khas Pak Wimar dalam melontarkan kejujuran hatinya seputar permasalahan yang dihadapi negara dan bangsa Indonesia.
    Kreatifitas beliau dalam upaya beliau menjadi kritis, merupakan hembusan angin segar dan percikan inspirasi bagi banyak rekan-rekan yang terkadang tersendat langkahnya akibat kepenatan perjuangan.
    Bravo, Pak Wimar!
  19. From CL on 30 June 2006 16:06:31 WIB
    bukunya Wimar selalu enak dibaca kenapa?
    Karena ceritanya pake bahasa orang biasa. Bahannya dari gaul sama orang2 biasa atau denger cerita/curhatnya orang biasa.

    Temanya selalu mengalir mengikut perkembangan zaman orang-orang biasa, bisa dari trend belanja Jakarta (Shopaholic), topik bola, tempat makan enak, sampai Friendster juga hayuuuk.

    Mungkin karena empatinya yang luar biasa pada hal biasa, yang bisa bikin pembaca artikelnya senyum-senyum, soalnya kadang-kadang ada yang luar biasa dibalik pesan seorang Wimar di artikel Djakarta.
  20. From Ruddy Gobel on 01 July 2006 02:15:27 WIB
    Ringan, sederhana, lugas tapi selalu penuh kejutan. Wimar satu dari sangat sedikit orang yang tulisannya mampu mencerahkan, dalam arti yang sebenar-benarnya.

    Ruddy Gobel
    Bekerja untuk sebuah lembaga PBB
  21. From wimar on 01 July 2006 12:16:36 WIB
    Pak Anton, tulisan anda impressive sekali. Sebagian kami kutip untuk komentar buku, tapi saya ingin minta izin untuk menggunakan seluruhnya pada kesempatan yang layak untuk tulisan itu. Bolehlah saya langsung berhubungan lewat email? alamat saya wimar@perspektif.net

    Terima kasih
  22. From Santo Dewatmoko on 01 July 2006 21:49:55 WIB
    Membaca tulisan Wimar serasa berjalan melintas dimensi dan mengoyak emosi. Meskipun tulisannya dalam bahasa sederhana, santai, dan lugas, tapi isinya sangat dapat membuat pembaca lebih pintar dan terinspirasi. Tiada kata yang cocok selain kata EXECELLENT untuk tulisan2 Wimar di Djakarta. Selalu dinanti karya2 berikutnya untuk dapat DINIKMATI sekalian juga DICERAHKAN.
  23. From djoko retnadi on 03 July 2006 11:46:13 WIB
    Sejak jadi host Perspektif di SCTV beberapa tahun lalu, saya selalu tergelitik dengan ide ungkapan atau tulisan Bung Wimar yang selalu ingin "meluruskan" apa saja yang belum lurus di kehidupan sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan kehidupan rakyat kecil.
    (Djoko Retnadi, Pengamat Perbankan, Jakarta)
  24. From R Muhammad Mihradi (Aufklarung\'95) on 04 July 2006 12:47:15 WIB
    Wimar: Pembebasan

    JUERGEN HABERMASS,seorang Filsuf Jerman dari Mazhab Frankfrut pernah menggagas apa yang dinamakan 'demokrasi deliberatif' yang bersandar pada pendemokrasian komunikasi yang rasional. Dalam pikirannya, demokrasi yang selama ini dijalani seringkali tergelincir dan punya cacat besar, untuk mereduksi di elemen pada bagaimana membangun pemilu bebas. Lupa, itu hanya alat dan bukan esensi. Justru, yang kini trend, harusnya demokrasi mencoba memberikan sistem yang sanggup mewadahi diskursus liar, komunikasi orang pinggiran, bahasa orang biasa, untuk ditimbang dalam mengambil kebijakan negara. Dan, matra ini yang kini kosong di tanah air. Wimar, dengan cerdas dan jenis, memediasi bagi pikiran orang pinggiran untuk ditarik ke tengah dan ditimbang agar bisa dijadikan alternatif melewati masalah-masalah kronis bangsa. Tulisan dan ucapannya, saya pikir, baik disadari atau tidak olehnya, merupakan ikon pembebasan agar kita kembali ke demokrasi otentik, demokrasi yang mengawal semua orang bicara bebas tapi rasional dan etis, tanpa mesti memaki-maki dan menaruh parang di leher.
    Tabik
    R Muhammad Mihradi,
    Akademisi, Pengagum Perspektif
  25. From Luigi Pralangga on 06 July 2006 01:17:48 WIB
    Pak Wimar,

    Meski belum menjadi pemerhati reguler, tetep sejak dulu, melalui tulisannya dan talk-shownya, kesemuanya itu memberikan pencerahan dan hiburan buat kita.. dengan terbitnya kolom Djakarta ini bisa menjadi "cutting-edge" kritik sosial :)

    We need it! - dan banyak yang terinspirasi, termasuk saya.

    Nuhun!,
    Luigi Pralangga-UN Peacekeeping Mission in Liberia, W-Africa
  26. From wimar on 13 July 2006 10:57:03 WIB
    <i>Terima kasih untuk komentar-komentar diatas. Buku sudah dalam proses pra-percetakan, dan komentar anda sebagian besar masuk. Dari saya sendiri, ada kata pengantar:</i>

    Ketika Daniel Ziv, redaktur pendiri majalah DJAKARTA! mengundang saya menulis kolom tetap, saya tidak menduga bahwa dampaknya akan sangat besar. Tentunya besar menurut ukuran saya, bukan ukuran siapa-siapa. Saya tidak tahu apakah majalah DJAKARTA! berdampak pada pembaca, apalagi tulisan saya. Tapi bagi saya, saluran yang dibuka oleh kolom tetap itu menyalurkan banyak keinginan yang tadinya terpendam.

    Terutama, Daniel memberi saya kenyamanan bahwa kolom itu boleh berisi apa saja, bahkan boleh dalam bahasa apa saja, karena pada awalnya majalah DJAKARTA! dirancang untuk betah dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Itu bagus sekali, pikir saya. Karena banyak hal yang enak dibahas dalam bahasa Indonesia, tapi ada beberapa jenis topik yang enak dalam bahasa Inggris. Tergantung kebiasaan dan konteks. Misalnya buku saya 'No Regrets' ditulis dalam bahasa Inggris sebab banyak kejadian disitu dipikirkan dalam bahasa Inggris, menghadapi pers internasional dan masyarakat negara lain. Kejadian yang 'bittersweeet' lebih mudah diceriterakan dalam bahasa Inggris, dengan perbendaharaan kata yang sekian kali lebih besar daripada bahasa Indonesia. Memang tidak berkelanjutan, policy untuk menulis kolom dalam dua bahasa ini. Banyak hal lain yang tidak berkelanjutan di majalah DJAKARTA! dalam perjalanannya yang sudah lima tahun pada saat dituangkan tulisan ini. Tapi tidak apa-apa,

    Rencana dibuat untuk direvisi, jadi tidak jadi soal, majalah DJAKARTA! menjadi apa. Yang menjadi tanggung jawab saya adalah, bahwa majalah ini memberikan kesempatan pada saya untuk tetap bisa menulis dalam karakter tertentu. Karakter yang punya message, walau lembut, faktual, jujur, dan pasti lucu karena kenyataan hidup itu selalu lucu, selama tidak dibungkus dalam "jaim".

    Jadilah sekumpulan tulisan sedikit-sedikit menjadi banyak selama lima tahu, sekian bulan, sekian minggu. Katanya banyak yang menyukai gaya tulisan begini. Itu terserah pembaca. Yang jelas saya sangat menikmati menulis artikel-artikel kecil ini. Kadang-kadang saya membaca sendiri tulisan lama, dan tersenyum sendiri sambil lihat kiri kanan. Suatu hal yang lucu dan langsung ditulis, suka teringat kembali waktu kita membacanyha kembali setelah sekian lama. Dan topik-topik keganjilan hidup tidak akan terlupakan, sekali kita pernah share dengan publik.

    Ini bukan 'celetukan segar', bukan 'tulisan mencerahkan,' bukan 'mengobar idealisme'. Kalau memakai kata-kata penulis serial tv Seinfeld, this is a book about nothing.

    Selamat membaca.



  27. From dian wirengjurit on 15 September 2006 17:51:39 WIB
    mas wimar,
    mana bukunya? udah "kebelet" nih...
    maklum jenewa kan jauh, jadi gak bisa ambil sendiri.
    salam,
    dw
  28. From wimar on 15 September 2006 18:52:14 WIB
    wah wah wah belum sampai bukunya ya?
    nanti saya tanya deh .. cuman sayang ini udah weekend
    kalau ada masalah, kami kirim lagi senin nanti
    buku 'hell yeah' juga belum punya barangkali?
    tulisan fira basuki

    p.s. alamatnya sudah ada pada kami-kah? just in case, tulis lagi dong disini ya.. sorryyyy

  29. From mula on 27 October 2006 12:39:01 WIB
    hmm... pertama kalinya saya membaca majalah non-gosip ga ngantuk, setiap kata, kalimat dan akhir tiap wacana ke wacana berikutnya membuat saya penasaran. apa saja yang ada di jakarta ini yang belum saya ketahui, belum lagi tema yang dipaparkan tidak basi dan penuh inovasi... ten thumbs for Djakarta Magazine... apalagi sekarang sudah Free...he3
  30. From mylyric.6te.net on 23 October 2007 12:17:54 WIB
    hmmmmm... bukunya kira2 bagus gak yahh....
    mo beli tapi apa udah ada di toko buku??
    infonya dunk yang jelas

« Home