Articles

SBY: menang mutlak, bebas melakukan perubahan

BusinessWeek
21 September 2004
Wimar Witoelar

Tidak bosan kita menerima pujian dunia terhadap prestasi rakyat Indonesia dalam tahun 2004 ini. Kita telah selesai melaksanakan pemilihan umum yang menggelegar, terbesar di dunia dalam kompleksitas dan dalam jumlah manusia yang terlibat. Penjadwalan dan kecepatan pemilihan umum jauh melebihi apa yang pernah dicapai di negara lain. Indonesia dapat dengan bangga menerima julukan sebagai Negara Demokrasi. Tidak tanggung, nomor tiga terbesar setelah India dan Amerika Serikat. Klimaks dari proses Pemilu yang dimulai 5 April 2004 tercapai pada tanggal 20 September 2004 dengan pemilihan langsung presiden.

Dalam demokrasi, tidak terlalu penting siapa yang menang. Kekuasaan kepala pemerintahan tidak lagi merupakan variabel politik yang terpenting, dengan pindahnya kekuasaan dari eksekutif kepada pemilik asli kekuasaan, yaitu rakyat.

Sebagai pribadi, perbedaan antara Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono cukup besar. Tapi dalam karakter politik, mereka memiliki banyak persamaan. Sama-sama moderat, sama-sama konservatif, sama-sama bukan reformis yang keras. Kualitas pemerintahan tidak bisa diramalkan beda, karena pemerintahan Megawati adalah pemerintahan SBY juga. SBY dan Jusuf Kalla memegang dua dari tiga Menko dan memiliki tanggung jawab besar terhadap plus minus pemerintah Megawati. SBY tidak dapat dikatakan menganut militerisme sedangkan Megawati tidak dapat dikatakan mengerti civil society. Banyak yang kecewa terhadap pemerintahan Megawati yang korup dan tidak melakuakan reformasi. Banyak juga orang yang kuatir pada SBY yang banyak ditemani orang-orang Orde Baru. Jangan-jangan seperti Soeharto lagi, mulai bagus kemudian merosot..

Kita harapkan kejadiannya tidak demikian. Kita bergembira Pemilu sukses dan kita senang mempunyai Presiden yang legitimate. Kita ingin memberikan kesempatan kepada SBY dan kita ingin berterima kasih kepada Presiden Megawati yang telah memungkinkan terselenggaranya pemilu yang demokratis. Sekarang pertanyaannya, apakah SBY akan menggunakan mandat rakyat ini dengan hasil yang diharapkan?

SBY tidak perlu berterima kasih kepada elite partai politik yang tidak mendukungnya, dan pasti tidak perlu berterima kasih kepada teman-teman dari zaman Orde Baru. SBY menang karena berhasil memproyeksikan citra perubahan. Kalau sampai saat ini belum pernah dijabarkan secara langsung apa yang akan dilakukan oleh SBY sebagai calon Presiden, maka diharapkan sebagai Presiden, ia dapat membuat strategi perubahan, bahkan langkah-langkah konkrit reformasi yang mati selama pemerintahan Megawati.

Kita semua tahu secara normatif langkah reformasi yang diinginkan dari suatu pemerintahan. Sekarang kita ingin melihat indikator awal proses perubahan itu. Hal-hal yang mendasar biasanya sangat sederhana. Tidak perlu orang berkutat dalam definisi yang melingkar-lingkar dan menguji kesabaran. Sebelum kita memasuki upaya perbaikan ekonomi dan perbaikan pemerintahan, dasar pertama adalah clean governance dan penegakan hukum. Dalam hal ini kewajiban pertama adalah menunjuk orang-orang yang kredibel dalam segi keberpihakan, dan kapabel dari segi teknis. Tidak kalah penting, orang-orang dalam gerakan perubahan yang dipimpin pemerintahan SBY harus harus mempunyai ketegaran politik. Nama-nama kelas atas seperti Marsillam Simandjuntak merupakan modal reformasi yang harus disertakan untuk merealisasikan janji kampanye untuk pemerintahan bersih dan pembersihan aparat.

Dengan nama-nama yang hbeyond reproach,h karakter pemerintahan baru akan terbentuk. Sisi lain adalah menyingkirkan oportunis politik dari barisan pendukung kepresidenan baru. Ini lah elemen penting dalam image building. Tanpa opini publik yang termobilisasai oleh image positif, akan berat sekali jalannya pemerintahan baru. Pekerjaan keras menyusul pembentukan citra, tapi yang penting adalah mengambil langkah pertama yang tidak ragu-ragu. Seratus hari pertama adalah masa subur untuk mengkomunikasikan visi dan program yang akan menjadi patokan untuk lima tahu mendatang. Seribu hari pertama akan memberikan bekas pada sejarah bangsa. Apakah SBY akan menjadi bagian positif dari sejarah Indonesia?

SBY harus menunjukkan pada rakyat pemilihnya, bahwa dengan kemenangan yang besar di kotak suara, ia kini bebas untuk melakukan pembaruan, bebas memulai kembali perubahan politik dan ekonomi menuju kesejahteraan. Dengan langkah bebas, SBY dapat menepis kecurigaan bahwa ia masih setia pada kultur politik Orde Baru. Pada umumnya SBY tidak dianggap bagian yang buruk dari Orde Baru, tapi bagaimanapuin dia dibesarkan di zaman itu dan mencapai posisi tinggi dalam sistem militer Soeharto. Sekarang kesempatan baginya untuk menghilangkan keraguan itu dengan mengambil inisiatif reformasi. Indonesia telah mewarnai sejarah pertumbuhan SBY sebagai orang militer rezim Soeharto, tapi sebaliknya ia harus memberikan masa depan yang berlawanan. Masa lalu tidak dapat dipungkiri, tapi masa depan negara kita harus lepas dari ancaman Orde Baru. Dalam ukuran yang lebih spesifik, SBY harus mengendalikan korupsi di Indonesia, dan mencegah tumbuhnya militerisme dan pelanggaran hak azasi manusia.

Dalam masa kampanye, pendapat orang terbagi. Ada yang pro SBY dan pro Megawati, ada yang kuatir terhadap kedua-duanya karena keduanya sama-sama tidak menunjukkan rencana yang jelas. Sekarang Presiden sudah terpilih, dan tidak perlu lagi kita mendukung atau meragukan. Peran rakyat dominan dalam Pemilu, peran pemerintah dominan dalam penyelenggaraan negara. Rakyat telah memilih SBY sebagai penyelenggara negara untuk lima tahun yang akan datang, maka tidak ada alasan bagi SBY untuk ragu-ragu dalam menjalankan langkah perubahan dan pembaruan.

Print article only

0 Comments:

« Home