Articles

Yang penting harusnya gratis

djakarta!
07 August 2006

oleh: Wimar Witoelar

 

“The best things in life are free”, begitu lirik lagu Beatles. Lagu satu lagi mengatakan, “Can’t buy me love.” Ya, orang bilang, the best things in life are free, yang penting dalam hidup kita tidak diperoleh dengan uang. Bukan berarti bahwa barang-barang itu murah. Mahasiswa cari makan murah, bisa pergi ke kanting yang di subsidi. Jadinya murah atau gratis. Tapi tidak ada yang gratis dalam hidup. Kesatu, subsidi itu dibayar oleh orang lain. Mungkin orang lain itu lebih berhak menikmati subsidi daripada kita. Kamar mandi, toilet, yang paling bagus itu gratis, karena terdapat di dekat lobby hotel bintang lima. Masuk keluar gratis, malah kalau hotel yang top, dalam kamar mandi tersedia sabun mahal, wangi-wangian dan handuk kecil yang bisa dibawa keluar kalau tidak takut kamera tersembunyi.

 

Kalau kita mau pakai toilet di parkir timur Senayan, kita harus bayar. Tidak tahu sekarang, tapi dulu waktu saya sering kesana, bayarnya Rp 500. Di jalan tol Jakarta-Cikampek ada toilet di tempat peristirahatan, bayar Rp 1000 bisa mengotori WC yang memang sudah kotor.

 

Gratisnya fasilitas biasanya hanya terkait dengan transaksi cash saat itu. Diluar titik transaksi, biaya menggelembung kemana-mana. Mau makan murah? Carilah di pinggir jalan. Sebagian besar OK, tapi tidak ada jaminan kalau perut anda lemah, perut langsung berontak, dan uang keluar juga untuk obat atau ongkos pulang cepat karena kesakitan.

 

Kalau ada barang-barang yang gratis dalam pasar, biasanya karena didukung subsidi, dan penyedia subsidi terbesar adalah pemerintah. Kalau pemerintahnya oke, subsidi akan jatuh pada orang yang tepat. Orang tua di Belanda dan Kanada tidak perlu bayar, karena mereka sudah tidak berpenghasilan. Di Indonesia, yang tidak berpenghasilan itu orang muda dan orang tua, tidak ditentukan umur karena pada dasarnya ada dua golongan orang di negara yang tidak beres. Yang miskin dan yang kaya, dengan sedikit saja orang di tengah-tengah. Yang berada di kelas menengah itu yang punya pekerjaan dan penghasilan. Yang miskin tidak punya pekerjaan dan yang kaya juga tidak punya pekerjaan. Tapi yang miskin tidak bekerja karena tidak ada lapangan kerja, sedangkan yang kaya tidak bekerja karena cukup akal-akalan.

 

“The best things in life are free, but you can take them away from me,”  lanjut lagu Beatles itu, “just give me mo-o-o—ney.”

 

That is not the point. Bukan soal gratis atau tidak, tapi apakah hal-hal yang penting untuk hidup, tersedia bagi orang banyak? Lupakan makanan gratis, terlalu iseng untuk menulis soal itu.  Sebaliknya yang paling penting diantara hal-hal yang harusnya gratis adalah informasi, pengetahuan mengenai hal-hal yang amat penting untuk survival. Tentang kesehatan, tentang flu burung dan sekarang tentang gempa bumi.

 

Kalau orang benar dalam mengatur harga, yang penting harusnya murah, yang tidak penting boleh mahal, Sebagian besar memang sudah begitu. Barang yang mahal kan misalnay mobil Bentley yang Rp 6 Milyard, kamar hotel yang Rp 4 juta, arloji Rolex yang Rp 70 juta. Itu boleh saja mahal, malah senang orang yang belinya bisa kelihatan kaya. Tapi di kita, barang yang penting ikut mahal juga. Obat, sekolah, angkutan umum, perawatan rumah sakit, informasi pemerintah, nah apa lagi, banyak sekali tuh.

 

Itu yang harus gratis, sebab yang penting harusnya gratis. Dua hal sangat penting muncul belakangan ini. Pertama, krisis flu burung. Sekarang pembicaraan sudah reda, padahal bahaya tetap ada,  menunggu proses penyebaran dan mutasi virus. Kebanyakan orang masih tidak mengerti bahwa flue burung tersebar melalui pernafasan, dan ribut mengenai masak daging ayam. Hampir semua orang tidak tega membunuh ayam dan burung, karena disitu ada investasi juga. Tidak bisa disalahkan, Tapi di Hongkong waktu muncul krisis flu burung beberapa tahun yang lalu, sejuta ayam dimusnahkan tanpa membuat orang ribut, karena pemerintah memberikan informasi yang jelas dan mengganti kerugian akibat dihilangkannya ayam itu. Di Belanda sama, semua ayam yang diluar bangunan khusus, dimusnahkan.

 

Krisis sekarang adalah gempa bumi dan tsunami, datang beruntun. Reaksi orang lari pada hal-hal yang bodoh. Tahyul, menyalahkan pemerintah, mengeluhkan nasib. Memang, pemerintah perlu disesalkanm, tapi bukan sebagai penanggung jawab gempa. Apalagi sebagai penyebab. Bahkan pemerintah tidak bisa dinyatakan lalai dalam memberi peringatan. Kelalaian bukan terjadi dalam minggu-minggu sekitar terjadinya gempa dan musibah tsunami. Kelalaian sudah terjadi lama, dalam tidak memberikan informasi yang bagus secara gratis. Sebab informasi adalah barang yang paling penting untuk masyarakat.

Print article only

2 Comments:

  1. From Siti Parliah on 13 August 2006 11:28:17 WIB
    Pemerintah memang tidak tahu skala prioritas. Yang penting dibuat tidak penting, yang tidak penting dijadikan penting.
    Dari dulu hingga sekarang memang tetap terjadi pembodohan masyarakat. Kita bisa dilihat dari kualitas siaran TV saja, semua seragam mengedepankan hiburan, padahal sebagai media yang sangat ampuh dalam menyampaikan informasi TV tak pernah dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah. Mengapa misalnya pemerintah itu membiarkan saja penyiaran acara TV yang terlalu banyak fantasinya, misalnya cerita-cerita misteri itu, mengapa tetap sja tayang padahal manfaatnya tidak banyak, malah mungkin tidak ada. Satu hal yang saya tidak mengerti itu, dinegeri kita ini mengapa suatu hal suka menjadi polemik yang berkepanjangan padahal tidak penting. Banyak contohnya. Seperti perdebatan RUU APP itu memang nya penting sekali untuk digembar-gemborkan? akar permasalahan yaitu kemiskinan rasanya belum pernah ditangani scecara tuntas. Coba kalau sebagian besar rakyat ini makmur,mana ada lagi penyakit-penyakit sosial seperti ,perampokan,pelacuran atau pornografi. Dari kemiskinan juga timbul isu-isu kristenisasi yang meresahkan, padahal kalau sudah cukup makan orang tidak akan berbuat aneh-aneh.
    Apakah ini ekses dari demokrasi, dimana orang semua boleh bicara. Yang saya perhatikan sekarang, para jurnalis juga sering menerbitkan berita asal beda, tidak mencari sumber yang kompeten dibidangnya. Yang paling mengganggu adalah menayangkan wawancara atas korban kecelakaan, masih dalam dalm keadaan yang belum tentu sadar sepenuhnya diwawancara kemudian ditayangkan.
    Satu hal lagi pemerintah atau tepatnya pejabat itu mengapa ya kok sering melontarkan pendapat yang multi tafsir, sehingga menimbulkan polemik, apakah itu sengaja untuk mengembangkan dinamika dalam masyarakat? Supaya kelihatan ada kebebasan berbicara?
    Oh Indonesia negaraku................
    Kapan ya kita dapat mengakses internet dengan biaya lebih murah?
  2. From julio on 27 October 2006 15:27:20 WIB
    pmerinth skr kyakny msti bca bkunya covey. knp mreka ga pernah bisa buat prioritas? gimana mo buat priorits, visi dan misi ke dpn aja ga ada, apa lg strateginy. ya, sjauh ni klo pun mreka dah berusaha membuat skala priorits khususny ekonomi rakyat bawah dpt dilihat pd progrm BLT. tp ko hal tsb justru tidk efktif y? lebih lg hal tsb justru menghina rakyt kecil/bawah..kesanya mereka bodoh dan tidk dpt berusaha...terleps dr pd skill yg mereka punyai kurang. hmm, life goes on...

    masalh flu burung...
    sempt liat di acara om farhan wktu ngundng mentri ksehatan.
    ah dasar tu mentri ksehatan dg sgala pledoinya...ia bilng sbenerny jumlh korbn meningl d indo tu msh sedikit kr d bnding dg jmlh populsi indo yg 220 juta lebih...tu ga da ap2nya...gile ga tu....korban flu burung yg mninggl cuma di anggap angka doang!! pathetic

« Home