Articles

Klarifikasi Orang Kaya di Dialog Khusus Jak-TV

Perspektif Online
26 September 2006

JakTV Rabu 27 September 2006 jam 21:30 di JakTV

Wimar jadi host pada Dialog Khusus edisi kedua. Siap-siap nonton dan masukkan komentar anda disini, untuk membuat laporan tayangan sama-sama membentuk 'collective intelligence'. Topik pembicaraan? Kita lihat sama-sama. Kami manggung, anda menilai.

Update 27 Sep pagi: Akhirnya kita tahu topiknya: Klarifikasi Orang Kaya

republikapo.jpg

Seperti bisa dilihat dalam iklan di koran di atas, dari daftar 40 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes, yang di jajaran paling atas justru terlibat kredit macet. Tapi banyak juga dari mereka yang kekayaannya hasil 'kerja keras'. Ya kalau bukan kerja keras apa dong? ;)

Wimar akan memandu Dialog Khusus episode ke-2 bersama (bocoran nih!): Abdullah H (sebagai wakil dari KPK, pernah tampil bersama Wimar di City View), ahli ekonomi Aviliani , dan salah satu orang terkaya Indonesia yaitu Aksa Mahmud.

What do you think about Aksa Mahmud?
What do you think about the rest of the Top 40?
Tulis di bawah ya...

Update 27 Sep 22.30: Malam-malam di bulan puasa bikin acara ngumpul dan ngobrol antara pengusaha kaya, perwakilan KPK, dan pengamat ekonomi, kaya apa ya... ternyata berlangsung seru dan lucu mempermasalahkan yang mestinya nangkep koruptor siapa seeh?

Rangkuman acara sedang kami tulis dan akan muncul segera, tapi untuk anda Jak Audience yang baru saja menonton, bisa langsung menyambung atau menyanggah kesimpulan dengan menjawab, menurut anda: bagaimana cara memilah antara orang kaya baek dan orang kaya jahat? siapa yang bisa dan seharusnya menangkap koruptor? apakah Jaksa Agung dan Polisi sudah melakukan tugasnya? perlu gak sih nangkep koruptor, atau biarkan mereka gentayangan dan rakyat miskin selama ekonomi negara jalan mulus...?

Update 28 September 2006, 00:35

Laporan: Manpalagupta Sitorus & Hayat Mansur   

Aksa Mahmud“Bagaimana Anda bisa kaya?” begitulah pertanyaan pembuka yang dilontarkan WW kepada Aksa Mahmud. Jawaban Aksa simpel, yaitu jeli mengambil kesempatan bisnis. Apakah karena punya hubungan ipar dengan Wapres Jusuf Kalla? Aksa menjawab tidak.

Ia membela diri bahwa kekayaannya hasil kerja keras, bukan fasilitas atau kolusi dengan pejabat pemerintah. Malah Aksa Mahmud yang juga wakil ketua MPR RI menyatakan kakak iparnya Jusuf Kalla menjadi wakil presiden tidak menguntungkan dirinya. Kedudukan kakak iparnya tersebut membuat setiap yang dilakukannya disoroti. Bank juga tidak berani memberi pinjaman kepada dirinya. “Mungkin kekayaan saya bisa lebih tinggi jika Jusuf Kalla tidak menjadi Wapres,” kata dia.

Katanya, semua kegiatan bisnis yang dilakukan antara dirinya dengan Jusuf Kalla ‘semata-mata kegiatan bisnis profesional’. Menanggapi sumbangan Aksa sebesar Rp 6,5 Milyard untuk kampanye Jusuf Kalla memenangkan kursi Ketua Golkar, Aksa menyebutkan bahwa sumbangan tersebut adalah dukungan sebagai keluarga.

Majalah Forbes Asia mengenai 40 orang terkaya di Indonesia menunjuk nama-nama yang sebagian besar bermasalah seperti kredit macet.

AvilianiAda dua tipe orang kaya di Indonesia. Tipe pertama adalah orang yang menjadi kaya karena menggunakan fasilitas negara dan tipe kedua adalah orang yang melakukan bisnis sehat. Aksa masuk yang menggunakan fasilitas? Jelas jawabannya tidak.

Ekonom Aviliani menganggap, penangkapan koruptor tidak akan menyelesaikan masalah ekonomi di negara ini. Pengalaman di negara lain menunjukan bahwa pemberantasan korupsi menyebabkan stagnasi ekonomi selama bertahun-tahun.

Avilliani menyebutkan bahwa ada opsi lain yang dapat diambil yaitu cut off. Hal ini berarti memberikan pengampunan bagi para koruptor-koruptor lama dengan asumsi bahwa mereka akan membawa kembali investasi ke negara ini. Sebuah langkah yang membutuhkan jiwa besar.

Ternyata KPK tidak bisa berbuat banyak. KPK terikat dengan peraturan yang menyebutkan tidak bisa bersifat retroaktif. Menurut Abdullah Hehamahua, hanya kejaksaan dan kepolisian yang memiliki asas tersebut. KPK bertugas memberantas korupsi, buka menangkap koruptor. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab menangkapi koruptor-koruptor itu ? Ya, menurut Abdullah Hehamahua, Jaksa dan Polisi.
Sayang Kapolri dan Jaksa Agung tidak menjadi pembicara di diskusi tersebut sehingga mereka tidak bisa komentar.

AbdullahTalk show menjadi entertaining karena absurd. Aksa Mahmud menganggap bahwa pengusaha tidak bisa korup kalau tidak ada pasangannya di kalangan penguasa. Bagaimana Aburizal Bakrie dan Jusuf Kalla yang merangkap pengusaha dan penguasa? Atau dirinya sendiri, Aksa Mahmud yang Wakil Ketua MPR. Apakah itu bukan otomatis menjadi conflict of interest? Jawab Aksa tidak, karena mereka non-aktif dalam bisnis dan usahanya dipegang oleh adiknya dan anaknya.

Aksa Mahmud tidak bisa melihat conflict of interest dalam percampuran bisnis dia dan kekuasaan, Abdullah Hehamahua tidak punya sikap mengenai kasus korupsi besar, dan Aviliani menganggap koruptor lama harus diampuni saja. Moderator melontarkan pertanyaan apakah pemerintah dinilai mempunyai political will untuk melakukan sebuah perbaikan.  Aksa Mahmud menjawab, bahwa pemerintah SBY-JK adalah pemerintahan yang paling menunjukkan kesungguhan memberantas korupsi. Dari mana punya kesimpulan begitu? Aksa bilang, karena sekarang banyak bupati, gubernur ditangkap. Pertanyaan berikutnya tidak dijawab. Apakah mereka yang harus paling cepat ditangkap?

Tidak ada yang merasa harus ada tindakan drastis, yang penting bisnis jalan (Aksa), ekonomi hidup lagi (Aviliani), sistem diperbaiki (KPK). Penonton setuju? Sementara itu pelanggaran berjalan terus, dan waktu semakin ada di pihak koruptor besar. Negara miskin, tapi 40 orang sangat kaya. Baik atau jahat? Tidak bisa diputuskan oleh negara. Sebagai refleksi keadaan, absurd dan tragis. Sebagai talk show, entertaining.

 

Response terhadap absurditas: Maro Alnesputra

Unpredictable show Bung Wimar !
 
Sesi pertama membuat saya tertawa ! mengapa? Habis Pak Aksa Mahmud duduk dan cara ngomongnya nya persis kaya Pak Jusuf Kalla (JK). Bung Wimar membuka acara dengan komentar-komentar tajamnya. Satu catatan saya di sesi pertama ini adalah ketika Bung Wimar mengomentari secara halus tentang relasi antara Pak Aksa Mahmud dengan JK sehubungan dengan kedudukannya sebagai Wakil Ketua MPR dan fakta bahwa dirinya adalah pemegang peringkat ke-28 dari 40 orang terkaya di Indonesia versi majalah FORBES . Hal ini langsung dengan cepat ditanggapi oleh Pak Aksa Mahmud dengan kalimat:
 
AM: "Justru saya bebannya lebih berat karena masih bersaudara dengan wakil presiden, apa-apa dicurigai, apa-apa jadi disoroti, mungkin akan jadi lebih bebas untuk jadi pengusaha kalau tidak ada hubungan saudara apa-apa" 

Namun celetuk Bung Wimar berikutnya tepat pada sasaran
 
WW: Mungkin Malah bisa jadi nomer 18 ya pak Aksa ???"
 
Di sesi ini juga Ibu Aviliani memberikan contoh secara gamblang tentang pentingnya membedakan cara pengklarifikasian dari 40 orang terkaya di Indonesia ini. Secara jujur saya tidak bisa menangkap yang dikatakan Pak Abdullah dari KPK di sesi pertama ini, Bahasanya agak agak rumit, apalagi untuk saya yang sangat awam istilah-istilah hukum dan politik.
 
Sesi ke-2 pun berlanjut. Lagi-lagi saya harus mengakui kekaguman saya pada Pak Aksa Mahmud. Ketika Bung Wimar memberikan ilustrasi bahwa dengan jumlah dari bunga deposito 1 bulan yang didapatkan oleh Sukanto bisa dibelikan lebih dari 500 buah Nissan Murano dia malah mengatakan dengan santai bahwa pengusaha tidak akan membeli mobil dengan jumlah sebanyak itu karena tidak akan bisa dikembangkan modalnya. Hal menggelikan terjadi juga disini ketika ditanyakan apa jenis mobilnya oleh Bung Wimar
 
WW: Bapak sendiri apa jenis mobilnya ?
AM: Yah saya karena dapat dari pemerintah yah paling Camry lah
WW: Enak dong ya dapat dari pemerintah m jadi ga usah beli lagi
AM: Yah andai ada lagi pun.... karena saya bergerak di bidang usaha Mitsubishi, paling Mitsubishi.....
 
Benar benar jiwa pengusaha, ga mau rugi promosiin mereknya mumpung muncul di live talk show (daripada beli artime mungkin mahal ya???). Di sesi ini juga akhirnya Pak Abdullah mulai agak jelas omongannya karena akhirnya beliau berani mengatakan bahwa pihak Kejaksaan adalah yang seharusnya menindak para koruptor ini.
 
Pada sesi ke-3 dan ke-4 beberapa sindiran sindiran tajam yang sangat mengena datang dari Bung Wimar dan Ibu Aviliani. Mulai dari kenapa bisa hanya Departemen Agama dan Depdiknas yang kena sanksi korupsi sampai statement dari Bung Wimar yang mengatakan apabila KPK memang sudah berjalan dengan baik, pengusaha semuanya bersikap jujur dan bermain sesuai aturan apa berarti yang salah adalah jaksa dan polisi ? Selain itu ada juga penjelasan menarik dari pak Abdullah bahwa ternyata dari 1000 kasus yang diterima KPK hanya 40% yang akhirnya ditindak lanjut. Dari yang ditindak lanjut itu barulah 10%nya ditangani oleh KPK sementara yang lainnya dilimpahkan pada pihak kejaksaan,kepolisian, dan lembaga hukum lainnya. Satu catatan menarik pada sesi terakhir adalah ketika Pak Aksa Mahmud mengatakan bahwa apabila memang ada peraturan yang mengizinkan Jaksa Agung untuk memberikan pemutihan (atau cut-off seperti istilah Ibu Aviliani) kepada para investor domestik yang bermasalah , hal ini tentu bisa meyainkan para investor bermasalah tersebut untuk kembali ke tanah air daripada untuk bermukin di negara lain.
 
Dan seperti kata Bung Wimar, mungkin acara talkshow ini bukan untuk menemukan solusi, tapi setidaknya bisa menjadi ajang tukar informasi yang mudah-mudahan bisa berguna bagi publik agar dapat mengetahui lebih jelas tentang issue permasalahan ini. Jadi orang kaya bukan berarti pasti gara gara gak jujur toh?
 
Great Show as usual bung Wimar ! Btw, Sekedar nanya aja nih........ kalau dengan jumlah kekayaan pak Aksa Mahmud, bisa dapat berapa buah buku Hell Yeah ? 
 
Jawaban WW:

dari kekayaan Aksa Mahmud sebesar US$ 195 million menurut Forbes, dia bisa membeli buku 'Hell Yeah' sebanyak 361,213,233.333 atau lebih dari 361 Milyard eksemplar. Jelas best seller sepanjang masa!

Btw pendapat WW gimana? Wakil pengusaha, ekonom, KPK tidak prioritaskan penangkapan koruptor

Print article only

16 Comments:

  1. From rara on 27 September 2006 12:25:39 WIB
    Saya belum kenal dengan Aksa Mahmud, mungkin kutipan dari Rhenald Khasali ini bisa berguna.

    Saudagar artinya orang yang panjang akal. Nah, Aksa muda dulunya adalah aktivis mahasiswa. Ia dijuluki teman-temannya sebagai aktivis yang panjang akal. Karena itulah di koran kampus saat itu, ia ditugasi untuk menagih piutang yang macet. Di tangannya tagihan macet itu jadi uang. Ia cuma memutar otak saja, uang pun keluar. Kalau diusir, ia pasti balik lagi.

    Di Bandara Hassanuddin Makasar ia melihat dua orang Jepang sedang celingukan tak tahu mau ke mana. Orang Jepang itu disapanya. Ternyata mereka sedang kebingungan mau menginap di mana. Aksa yang punya urusan lain, bukan cuma menunjukkan hotel, melainkan mengantarkannya dan menemani makan malam. Tak disangka ternyata mereka berasal dari Mitshubishi dan sedang mencari dealer. Aksa yang pernah menangani Nissan segera menangkap peluang ini.
    Orang yang tak panjang akal belum tentu mampu membaca makna kehadiran orang Jepang itu di bandara. Atau, sekalipun sempat berkenalan, belum tentu mampu mengubahnya menjadi bisnis. Atau lebih jauh lagi, belum tentu mampu membangun peluang itu menjadi usaha besar. Aksa bisa membesarkan usaha itu, hingga ia menguasai dealership Mitshubishi untuk Indonesia Timur. Dari usaha ini pulalah ia berhasil membangun Bosowa grup.Ia mengaku sebagian besar bisnisnya (di luar semen dan dealership) diambil alih dari usaha orang lain yang sudah macet kredit banknya. Di tangannya usaha-usaha macet itu hidup kembali.

    About 40? Saya hanya bisa membayangkan jika 40 orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes Asia, mengambil tanggung-jawab untuk mengatasi empat juta orang
    miskin baru di tanah air. Masing-masing menangani 100 ribu orang miskin. Tapi saya hanya membayangkan lho! mimpi kali yeeee...
  2. From Djatmiko Wibowo on 27 September 2006 12:30:51 WIB
    Kalau bisa digali pandangan mereka tentang kekayaan,apa dan siapa yang sangat mempengaruhi mereka dalam memperoleh kekayaan tersebut mungkin makin menarik
  3. From Andre on 27 September 2006 13:12:50 WIB
    Bung Wilmar, mungkin bisa dicari tahu, apa rencana para orang kaya untuk membantu orang miskin??
  4. From leo on 27 September 2006 14:32:53 WIB
    Wah pasti seru nih, gimana ya kalau tamu yang diundang hasil kekayaannya dari hasil .... gitu deh, sikap dan cara dia jawab kaya apa ya, pengin tahu nih.
  5. From izoel on 27 September 2006 21:51:32 WIB
    hmmm...Aksa Mahmud, kalau dia datang itu membuktikan 'kerja kerasnya' benar-benar kerja keras! heeh bukan hasil dari korupsi yaa kan Bang Wimar, oia pesan dari saya, tolong dijaga kesehatannya Bang Wimar, saya perihatin atas Witoelar Fam's yang diberitakan terganggu kesehatannya! Semangat


    Ganbatte Kudasai!
  6. From ida ayu krishna on 27 September 2006 22:48:58 WIB
    Saya sangat setuju dengan pihak KPK, masak orang udah ngemplang utang masih diputihkan. Ya kalau nggak mau masuk penjara, cukup pokok utangnya aja deh dibalikin.Asetsnya dijual, hasilnya masuk ke Kas Negara. Ada lagi pengemplang utang yang lagi jadi penguasa, eh banknya yang diutangin disuruh merger......ck...ck....ck. Zaman kaliyuga memang.Semua bisa dipolitisir. Tetap berjuang ya om!
  7. From latief yang bukan konglomerat on 27 September 2006 22:50:41 WIB
    kata pak aksa mahmud setiap pengusaha biasanya punya budget utk promosi, sepertinya beliau sukses mem-promosi-kan jk jadi wapres....
  8. From ono on 28 September 2006 01:01:23 WIB
    Santai juga tajam kalimat yang terucap bung Wimar hingga cannel TV pun tak berubah sedetikpun. Sesekali menampilkan si Kaya dan si Miskin dalam satu meja, ditambah si kaya berakhir ke kemiskinan. Seru kali ya...
  9. From mansur on 28 September 2006 01:12:39 WIB
    Bayangkan Ini Kekayaan Mereka (Berdasarkan Analogi Wimar Witoelar) 1. Jumlah kekayaan total 40 orang terkaya di Indonesia senilai US$ 22,27 miliar atau sekitar 200 triliun. Itu hamper separuh dari APBN kita 2. Jumlah kekayaan total 40 orang terkaya di Indonesia sedikit di bawah 40 orang terkaya di Singapura berjumlah US$ 28 miliar 3. Untuk masuk kategori 40 orang terkaya Indonesia versi Forbes, seseorang harus memiliki kekayaan minimal US$ 80 juta dollar AS atau setara RP 730,5 miliar selanjutnya perhitungan dari Maro Alnesputra yang dibacakan WW: 4. Jumlah kekayaan orang kaya nomor satu Indonesia Sukanto Tanoto mencapai US$ 2,8 miliar (Rp 25,5 triliun). Artinya, jika uang tersebut dimasukkan ke deposito yang aman dengan bunga 12% per tahun maka bunganya saja untuk satu bulan dapat membeli 502 mobil Nissan Murano yang mahal atau 2.000 mobil kijang atau bisa juga untuk membeli 78,5 juta pasang kaos kaki, atau bisa juga untuk membeli 73 juta bungkus nasi uduk pakai jengkol. 5. Jumlah kekayaan orang kaya nomor dua Indonesia Putera Sampoerna mencapai US$ 2,1 miliar (Rp 19,1 triliun). Artinya, jika uang tersebut dimasukkan ke deposito yang aman dengan bunga 12% per tahun maka bunganya saja untuk satu bulan dapat membeli 854 Toyota Inova, 64 juta HP Nokia yang bagus, atau bisa juga membeli rokok Sampoerna (jika dia masih mau beli) 25,6 juta batang Hanya ada satu kata seperti Wimar Witoelar ucapkan, “Wow Fantastis”
  10. From YH on 28 September 2006 07:55:46 WIB
    Ah, andainya kekayaan itu bisa terdistribusi merata di seluruh pelosok negeri...mungkin kita tidak akan begitu terhenyak begitu mendengar ada orang yang kekayaannya tidak akan habis untuk tujuh turunan sementara sebagian orang masih kelaparan...hik.
  11. From Deden on 28 September 2006 09:45:40 WIB
    salut buat bung Aksa yang sudah berani datang untuk acara dialog, Klarifikasi Orang kaya. Terlepas beliau korupsi atau tidak, terlibat KKN atau tidak yang pasti beliau telah memberikan alasan yang sangat beralasan dan dapat dipahami sebagai orang bisnis.
  12. From Satya on 28 September 2006 11:02:29 WIB
    Betul apa kata Aksa Mahmud, seperti dikutip Mansur:
    "Yang salah pemerintah, bukan pengusaha".

    Pengusaha sih gak mungkin korupsi. Yg mungkin nyogok.
    Yang disogok itu yang korupsi, dengan cara memeras.
  13. From Berlin Simarmata on 28 September 2006 13:10:09 WIB
    Yang saya "kagumi",sumbangan pak Aksa 6,5 M buat memenangkan JK sebagai Ketua Golkar.Katanya sih tidak ada makan siang yang gratis,walaupun itu masih keluarga,tapi jumlahnya fantastis. Pantas saja Akbar Tanjung kalah deh.Segitu, baru dari pak Aksa,penyumbang yang lain masih banyak lagi.Ingat pada saat itu JK sudah menjadi Wapres. Kasihan deh rakyat Indonesia,dibohongin aja.
  14. From angga on 29 September 2006 13:12:55 WIB
    saya sempat melihat dialog tsb, tapi ya pak aksa juga ga mau kelihatan gak kompeten di bidangnya, yang katanya juga pak aksa dibantu JK wapres kita, tapi beliau mau dilihat sebagai enterpeuner sejati, pak abdulah h juga ga mau kehilangan gigi sebagai pejabat KPK, makanya dalog tsb ga bisa menjawab klarifikasi orang kaya, betuk kt om ww pas menutup dialog, dialog ini akhirnya membuat pertanyaan baru, white collar or blue collar itu bagaimana dilihat dari pandangan orang lain bukan dari pernyataan diri sendiri, bentuk usaha ada macam2 dari kerja keras 9-5, ada yang cari koneksi, ada yg kkn, banyak sekali ragam usaha kita ada yg positif ada yg negatif,,,, yang menang yang bu aviliani sebagai pengamat yang belum terlibat dalam penanganan masalah KKN, beliau melempar isu cut off, tapi yang saya pikir bagaimana menjelaskan pada rakyat yang terlanjur sakit hati bahkan sudah ada benih dendam, mungkin pemberlakuan hukum gantung di china perlu kita coba, tapi siapa yang berani menangkap para pelaku kkn,,,, overall dialognya berlangsung cukup seru....
  15. From De Truth on 17 February 2007 11:05:18 WIB
    Janganlah kita iri hati pada orang kaya. Masing-masing orang kan mempunyai garis nasib & peruntungan yang berbeda.
    Orang miskin pada umum-nya selalu menyalahkan orang kaya. Mau jadi orang kaya bisa dan sah-sah saja, asal dengan cara yang HALAL. Cobalah dimulai dengan hidup rajin & hemat, pasti tidak akan susah & mudah-mudahan bisa ada kelebihan duit buat ditabung. Lama-lama kan juga jadi kaya (ingat pepatah dikit-dikit, lama-lama jadi bukit). Banyak-nya orang miskin di Indonesia juga adalah karena kesalahan diri sendiri yang bersifat terlalu konsumtif. Hitung dong pendapatan & atur pengeluaran agar tidak tekor. Jangan cuma asal tau keluarin duit, apa lagi zaman sekarang enak tinggal gesek kartu kredit. Gesek tanpa perhitungan kan malah jadi-nya menjadi hidup dililit hutang. Jadi kalau menginginkan sesuatu barang yang sifat-nya tidak sangat penting, tahan diri dulu lah kalau dana yang tersedia belum mencukupi. Hindarilah cara membeli dengan ber-hutang, apalagi harus menyicil dengan beban bunga yang tinggi.
  16. From budie on 23 May 2007 12:39:44 WIB
    salah besar kalau kita cuma nyalahin orang kaya aja, kita harus koreksi diri kita dahulu sebelum berbicara..kenapa orang Indonesia ga bisa maju dari dulu?seharusya ini yang jadi pertanyaan besar buat kita bangsa Indonesia.Kalau saja orang-orang di Indonesia bisa berpikiran maju seperti negara lain, saya yakin masalah kemiskinan yang ada di Indonesia bisa kita atasi bersama..

« Home