Articles

Tiap orang bisa menerbitkan berita, tiap orang bisa menanggapi

Perspektif Online
09 October 2006
Citizen Journalism adalah istilah yang menggambarkan betapa kegiatan pemberitaan beralih ke tangan orang biasa. Dunia pemberitaan baru memungkinkan pertukaran pandangan yang lebih spontan dan lebih luas dari media konsvensional.
 
studiomnc.jpg
 
Tiap orang bisa menjadi penerbit, tiap orang menjadi pembaca yang tidak hanya menerima, tapi ikut interaktif.
 
Kalau Detikcom merintis pemberitaan internet di Indonesia, maka sekarang ratusan blog berbagi laporan, pandangan, pengalaman, dan emosi dengan pembaca tidak terbatas. Sebagai akibatnya lebih banyak pemikiran bisa muncul ke permukaan, dan kejujuran berita lebih dapat dijangkau.
 
Untuk membahas bagaimana pemakaian blog mengubah cara orang melakukan komunikasi massal, ikutilah pembahasan MNC-News TV dengan Wimar Witoelar. WW yang dikenal sebagai blogger adalah juga Adjunct Professor of Journalism and Public Relations di Deakin University, Australia.
 
MNC adalah jaringan televisi dengan stasion RCTI, TPI, Global TV. Kini MNC-News mulai menyiarkan melalui jasa Indovision. Pada acara 'Kilas Opini' nanti 9 Oktober malam jam 21:00-21:30 , Danang Sanggabuwana mewawancari Wimar Witoelar.
 
NOTE: TAYANGAN ULANG 9 OKTOBER jam 03:00-03:30 serta 10 OKTOBER jam 09:00-09:30 dan 15:00-15:30
 
      sianemncimx.jpg
Darono Trisawego, Jurnalis, Danang Sanggabuwana, pemandu acara, staf .IMX/Perspektif  (Erna Indriana -Melda Wita - Khatrine Sipahutar - Daisy Awondatu) dan Wimar berpose bersama Siane Indriani, Pemimpin Redaksi MNC-News.
 
Kerjasama apa lagi yang sedang digodok antara Perspektif Online dan MNC-News?
 
 
Updated 9 Oktober 2006 jam 22:19  (revised 10 Oktober jam 04:34)
Laporan Wawancara TV oleh Daisy Awondatu, Melda Wita, Khatrine Sipahutar
 
 
Tiap orang bisa menjadi jurnalis
 
Orang yang haus akan informasi tapi bosan dan kurang puas dengan berita di koran, dan orang yang ingin jadi reporter tanpa menunggu panggilan kerja dari koran, majalah atau TV, sekarang bisa memenuhi keinginannya dengan membuka blog.
 
Citizen journalism, itulah topik yang diperbincangkan Danang Sanggabuwana host “Kilas Opini” di MNC TV news malam ini pukul 21.00 dengan Wimar Witoelar yang kini dikenal juga sebagai blogger. 
 
 
 
Masyarakat kita saat ini sangat kritis terhadap berita dan sering kali kebanyakan berita yang ada tidak memuaskan. Itu-itu saja. Dengan blog, orang punya pilihan bacaan lebih luas. Sisi lain, terbuka kesempatan besar untuk semua orang untuk menyatakan pendapat kepada seluruh dunia. “Everyone can be a journalist”.
 
Di USA tahun 2004, dilangsungkan Pemilu untuk memilih Presiden Amerika. Dua calon, Bush dari Partai Republik dan Kerry dari Partai Demokrat bersaing ketat. Banyak masyarakat Amerika yang bosan dengan berita-berita yang disampaikan oleh koran-koran, karena koran-koran dikuasai oleh pendukung kedua pihak. Akhirnya, dari mana orang bisa memperoleh berita dengan perspektif yang berbeda? Dari weblog atau blog.
 
Dalam citizen journalism, masyarakat menjadi obyek sekaligus subyek berita melalui blog yang diterbitkan langsung. Dapat dikatakan bahwa citizen journalism ini lahir dari peradaban dan perkembangan teknologi. Sekarang, berita konvensional (cetak maupun radio-televisi) sudah mulai didampingi oleh internet, bahkan sekarang tiap orang bisa menjadi penulis. Hal ini bukan merupakan bentuk persaingan media, tapi justru merupakan perluasan media. Bukan hanya pemodal besar yang bisa berkomunikasi dengan publik, tapi siapa saja yang mau ke warnet.
 
Ketika Danang bertanya apakah berita yang dimuat di weblog ini lebih jujur, Wimar menjawab, belum tentu masing-masing blog itu jujur, . Akan tetapi karena jumlah blog sangat banyak sekali, maka kita bisa memilih sendiri mana blog yang bisa dipercaya. Beda dengan koran atau staion TV yang terbatas jumlahnya. Tidak perlu kuatir dengan berita-berita di blog, karena ada pilihan dan yang tidak jujur dengan sendirinya akan kalah saing. Ini adalah demokratisasi produksi berita. Dan setiap orang dapat membaca blog pilihan pada saat yang dia ingingkan, namanya juga demokratisasi konsumsi berita. Bagaimanapun juga, dengan adanya demokrasi, orang akan menjadi lebih jujur, walaupun memerlukan waktu untuk proses pendewasaan.
 
Perkembangan citizen journalism di Indonesia masih belum lama. Yang mengawali mungkin adalah detik.com, yang menampilkan berita-berita segar dan tidak terkungkung. Akan tetapi situs seperti detikcom dibuat oleh satu pihak untuk dibaca banyak orang. Berbeda dengan blog yang berbeda-beda, yang disiapkan oleh banyak orang untuk dibaca orang banyak pula.
 
WW memberikan analisanya bahwa blog ini akan booming dan meluas bersama dengan program lain dari jenis Web2.0. Perpaduan antara fun dan hobby menjadikan blog mudah menyebar, karena disini setiap orang bisa berinteraksi, berhimpun membentuk 'collective intelligence' dan melakukan social networking. Contoh-contoh situs Web2.0 selain blog misalmya Friendster, Flickr, MySpace yang melakukan semuanya itu.
 
Danang bertanya, apakah betul semua orang suka ngeblog? Jawaban WW sederhana saja. Sebenarnya semua orang ingin berbicara asalkan diberi kesempatan, selama orang itu punya pendapat. Sedangkan semua orang pasti punya pendapat, paling tidak mengenai dirinya. Lewat adanya blog, kelihatan bahwa ternyata banyak orang yang bisa menulis, banyak yang pemikirannya bagus atau lucu atau aneh. Kalau punya foto, orang bisa saling memperlihatkan dan mengomentari foto melalui Flickr. Potensi orang bisa terbuka jika ada medium yang tepat.
 
Tidak lagi harus menunggu kesempatan diterbitkan tulisan di majalah atau di wawancara di televisi, setiap saat orang punya informasi, pendapat, curhat dia bisa menerbitkannya pada blog.
 
 
 
“Jangan Batasi Blog!”
 
Ditanya mengenai akuntabilitas berita di blog, bagaimana caranya mengatur supaya tidak ada SARA, pornografi, dll serta diperlukan atau tidak adanya aturan terhadap blog, dengan lugas WW memberikan argumennya,
 
“Aturan itu diperlukan mengikuti gejalanya. Banyak orang bilang sedia payung sebelum hujan, tapi ngapain juga bawa payung kalau tidak ada gejala hujan? Jadi, jangan batasi Blog.”
 
Menurut WW, kalaupun ada masalah, sebenarnya yang menjadi masalahnya adalah kejahatannya, bukan mediumnya (blog). Pengaturan perilaku itu perlu, tapi jangan a priori, karena kalau segala sesuatunya diatur, orang malah tidak ada inisiatif. Lihat dulu apa saja kejahatannya, buat peraturan yang khusus mengatasi kejahatan itu. Kata WW, sama halnya dengan kode etik jurnalistik, seorang blogger yang baik harus mengundang tanya jawab atau komentar. Tidak perlu ada UU khusus yang mengatur blog seperti UU Pers, karena WW yakin bagaimanapun. etika pribadi masing-masing orang itu jauh lebih kuat daripada berbagai macam UU.
 
Dikaitkan dengan masalah politik, di Indonesia blog yang bernuanasa politik secara kuantitas masih kecil, namun kualitasnya sangat bermutu. Sebagian besar blog di Indonesia membahas masalah pribadi. Hal ini wajar saja, karena blogger umumnya berusia 20-35 tahun yang aktif mempermasalahkan masalah pribadi dengan dunia luar. Ini gejala bagus, mendukung keterbukaan dan menunjukkan dinamika masyarakat. Sangat berguna kita tahu bagaimana pemikiran orang secara individual tentang banyak hal.
 
Terkait dengan masalah politik, blog bisa juga dijadikan alat kampanye yang baik, atau malah meng-ekspose kebohongan kampanye seperti di Pemilu USA tahun 2004 dan sekarang. Suasana visual kampnye dimuat di televisi, substansi kampanye bisa dimuat diblog. Kampanye lewat media cetak kena kendala space terbatas, tapi ruang dalam 'blogosphere' tidak terbatas.
 
Danang mengkomentari, banyak orang yang merasa tidak bisa menggunakan blog, karena mereka merasa tidak akrab dengan IT.  Menurut WW, isi dari blog tidak adanya hubungannya dengan IT. Setiap orang dapat menulis tentang apapun. Inilah hal yang penting bagi masyarakat, bahwa mereka disajikan beragam pilihan. Di sini letak keindahan citizen journalism, semuanya dikembalikan pada masyarakat.
 
Kadang-kadang ada orang yang menulis di blognya dan mengutip blog orang lain tanpa menyebut sumber kutipannya. Bagaimana seharusnya sikap terhadap hal seperti ini? Memang sebaiknya sumber selalu dikutip, bahkan lebih dari pada media cetak, referensi bisa disediakan dalam bentuk link kepada referensi. Bagi WW di dalam budaya blog ada “fair exchange”. Kita bebas mengutip blog orang lain, dan orang lain bebas mengutip blog kita. Apabila tidak disebut, tidak masalah juga. Kalau nama kita disebut, ya itu keuntungan buat kita.
 
Jadi, silakan mengutip isi www.perspektif.net, dan terima kasih kalau anda memasang link ke blog ini.
 
Update 16 Oktober 2006: pandangan Budi Putra, mengenai citizen journalism
 
Budi Putra adalah redaktur informasi teknologi (IT) di Koran Tempo dan Content Manager di Tempo Interaktif. Dia juga penulis kolom di blog CNET Asia. Dalam wawancara dengan Perspektif Baru, ia mengatakan:
 
Koran tidak akan bisa menyaingi media online karena sifatnya yang sangat luas, aksesnya gampang. Yang paling inti dari jurnalistik adalah menyampaikan pesan. Kalau pesan itu bisa sampai secara luas di sebuah media disebut media online, mengapa tidak.

Print article only

26 Comments:

  1. From lan on 09 October 2006 15:01:28 WIB
    Hebat WW.

    muncul lagi di tivi sini, tivi sana... :)

  2. From Ben on 09 October 2006 16:41:26 WIB
    transkripnya plis :)
  3. From Budi Putra on 09 October 2006 17:15:07 WIB
    "Citizen Journalism adalah istilah yang menggambarkan betapa kegiatan pemberitaan beralih ke tangan orang biasa..."

    Benar. Citizen journalism bukan sekadar "beralih ke tangan orang biasa", tetapi mulai mendekati apa yang dibutuhkan dan diinginkan publik. Selama ini, produk-produk jurnalistik lebih merupakan suara industri dan pemodal besar dengan segala kepentingan dan intrik-intrik di dalamnya. Suara publik hanya bergaung sunyi di tengah rimba kepentingan-kepentingan itu.

    Keberhasilan Digg dan del.icio.us misalnya menunjukkan betapa Web 2.0 telah menemukan momentummnya sendiri: Headline yang muncul di Digg soal teknologi misalnya jauh beda dengan headline yang ada di situs CNN atau BBC.

    Jadi tibalah saatnya publik membuat, memilih dan membaca beritanya sendiri.

    Hell yeah they did :-)
  4. From dharono on 09 October 2006 18:11:21 WIB
    Akhirnya saya bisa masuk ke bloognya pak Wimar. Rasanya seperti di dunia baru.

  5. From daysleeper on 09 October 2006 18:15:20 WIB

    Tadi iseng2 lihat google.com sambil tulis jurnalisme orang biasa, rasanya sih gak ada....tapi... hipotesis kadang2 berbeda jauh daripada thesisnya ya :) et Voila...! situs yang ngakunya situs jurnalisme orang biasa tenyata ada dan namanya : http://www.panyingkul.com.
    Karena penasaran jadi kuklik ke situs itu dan ternyata itu situs dari Makassar lho!
    Tapi ada problem lho, ini situs banyak dipertanyakan oleh orang-orang karena tampaknya dia bukan situs yang sesuai dengan klaimnya sendiri yaitu situs jurnalisme orang biasa, lengkap bisa dilihat disini ya : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/16/ilpeng/2886288.htm

    well Anyway, this new trend of citizen jurnalism is going to become on of the mainstream media in the next 20 years, why? because people evolve, right!
  6. From Bambang Haryanto on 10 October 2006 10:52:04 WIB
    Maju terus Bang Wimar. Tetapi blog Anda ini kurang satu hal yang SANGAT esensial, antar para penulis komentar ini tidak bisa langsung berinteraksi satu sama lain, karena masing-masing blog atau emailnya Anda sembunyikan. Come on, bangunkan raksasa itu, koneksikan saja kami, hingga kami bisa saling mengobrol, termasuk "mengkritik" Anda. Inilah manfaat terdahsyat dari citizen journalism yang hakiki. Ada komentar ? Salam dari Wonogiri.
  7. From mansur on 10 October 2006 11:47:36 WIB
    Kalau di AS, blog sudah menjadi sumber berita Pemilu pada 2004. Di Indonesia, itu akan terjadi pada Pemilu 2009 karena masyarakat sudah tahu media sekarang banyak dikuasai Parpol atau setidaknya pemodalnya masuk gabung ke Parpol. Jadi beruntung orang yang sejak sekarang sudah Nge-blog.

  8. From Webmaster on 10 October 2006 12:59:11 WIB
    Pak Bambang,

    Yang anda minta itu kami sudah punya sejak 8 tahun yang lalu, namanya mailing list. Silakan gabung di www.perspektif.net/milis.

    Sedangkan untuk mencapai citizen journalism yang mutlak, silakan bikin blog sendiri dan nyatakan segala uneg2 anda tanpa cemas bahwa akan dibatasi oleh orang lain.
  9. From yoga asmara on 10 October 2006 14:28:39 WIB
    ini adalah kunjungan saya yang pertama kesini.

    "Kita bebas mengutip blog orang lain, dan orang lain bebas mengutip blog kita. Apabila tidak disebut, tidak masalah juga. Kalau nama kita disebut, ya itu keuntungan buat kita."

    kalo menurut saya ini ntar jadi kebiasaan jelek loh pak (tanpa menyebutkan sumbernya). kadang ada berita surat kabar yang isinya mengambil dari blog juga (or malah buku).
  10. From Eko Murwanto di India on 10 October 2006 15:19:54 WIB
    Saya kurang setuju dgn : "Kita bebas mengutip blog orang lain, dan orang lain bebas mengutip blog kita. Apabila tidak disebut, tidak masalah juga. Kalau nama kita disebut, ya itu keuntungan buat kita."

    Memang tidak ada sangsi bagi yang mengutip dan tidak menyebut sumbernya, tapi saya khawatir ini akan menyuburkan budaya plagiarisme di negara kita yang pada dasarnya sudah malas menulis dan membaca.

    Apa perlu kampanye mengenai hal itu di blog?
  11. From Berlin Simarmata on 10 October 2006 15:23:16 WIB
    Benar sekali,ternyata semua orang bisa jadi penulis,bisa jadi reporter,tidak hanya jadi pembaca.Mudah-mudahan makin cerdas bangsaku ini.
  12. From ary h on 10 October 2006 19:03:40 WIB
    kalo semua orang bisa jadi wartawan, aku kerja apa dong? hehe...menarik memang bicara soal citizen journalism dan bahayanya bagi kami pekerja jurnalisme. tapi, ini ilustrasi saja, aku punya teman wartawan detik.com yang setiap hari menggerutu karena harus mencari berita ke sana ke mari. aku ingat dia bilang: "tiap hari gue keliling jakarta bawa motor. kalo diitung-itung, gue udah keliling dunia kali!". yah, bukannya defensif atau apa, menurutku, jadi wartawan itu susah. oya, aku berkerja sebagai wartawan, in case bung wimar lupa.
  13. From ary h on 10 October 2006 20:53:11 WIB
    "Selama ini, produk-produk jurnalistik lebih merupakan suara industri dan pemodal besar dengan segala kepentingan dan intrik-intrik di dalamnya."

    iya betul, setuju mas, tetapi apakah blog-blog itu benar-benar bebas dari jejaring kapital besar? apa jadinya blog tanpa google? apakah blog itu bisa bebas dai kepentingan pemodal? saat ini mungkin iya, tetapi bagaimana dengan nanti?

    kita memang harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi nanti, yang mungkin akan sangat "unthinkable". tetapi, ada baiknya kita mengembangkan sikap "dystopia" (kebalikan dari "utopia") terhadap perkembangan kemajuan teknologi informasi. cyberteror dan imam samudra adalah sebuah ilustrasi bahwa manisnya kebebasan di dunia maya bisa melahirkan kegetiran yang luar biasa di dunia nyata.

    iya, bung wimar, aku jadi khawatir dengan optimisme kita terhadap teknologi. saya lihat banyak komentator di sini yang sudah menyuarakan kekhawatiran itu.

    ayo bung wimar, mas budi putera dari tempo, bagaimana?
  14. From wimar on 11 October 2006 10:20:52 WIB
    anda betul semua tentang tanggungjawab dan waspada terhadap plagiarisme. please tulis essay mengenai itu deh. saya terbatas pada optimisme dan keyakinan bahwa etika bersumber dari karakter pribadi dan bukan peraturan.
  15. From Suryani on 11 October 2006 12:28:57 WIB
    Kalo gini, aku jadi mantap nih, mau kutip article dari perspektifnya - tentang Gus Dur [ Bapak Pluralisme]...untuk blog ku. Makasih Pak, TX
  16. From Daisy on 11 October 2006 17:07:09 WIB
    Kalau menurut aku... lama lama ntar orangnya juga malu sendiri kali ya.. kalo ngutip2 tulisan orang terus, tapi ngga ngaku itu ngutip dari sapa. hehehe.

    Yes... Etika muncul dari kesadaran hati masing-masing orang :)
  17. From wimar on 11 October 2006 17:50:25 WIB
    Saya suka ditanya, apa nggak takut resep kita dicuri? Saya bilang, malah bagus, karena kepentingan kita komunikasi, kalau dicuri malah namanya membantu menyebarluaskan.
    Kalau orang membajak lagu kita, kan masih banyak lagu yang kita bisa bikin.

    Bisa-bisa yang meniru bisa seperti Milli Vanilli jaman dulu yang ketahuan lip sync, atau seperti Cut Zahara Fonna jaman lebih dulu lagi, yang ceritanya punya bayi ajaib dalam kandungan. Bisa bicara, sampai terbongkar bahwa dia menyembunyikan tape recorder dalam kain kebayanya.

    Orang tahu, mana asli mana tiruan. Makanya saya sendiri selalu menyebut sumber, supaya nggak dianggap meniru.
  18. From Andrew on 13 October 2006 00:41:14 WIB
    plagiarism?...hari gini masih pusingin plagiarism!!..emang sih rada complicated, however kita harus sampe mana batesin antara plagiarism ama influence akhir2x ini?semua apa yg kita lakukan berasal dari hasil tiru,rite?..mungkin nilai etika yang harus lebih ditekankan..WW, pernah kepikiran gak bikin sekolah?...jangan sekolah2x yg international and that kinda of things!!..tapi sekolah akhlak!!..terbuka untuk segala umur!!!huahauhau....anyways,hidup ini memang proses belajar yg gak pernah berhenti..jadi kalo kita belajar/nemuin sesuatu yang baru ..thats fine kita bilang kita the 1st one!!..tapi apa didunia ini kita cuma ber3?..saya,kamu,dan dia?..biarin aja orang yg plagiarism!coz they have the limit which is their own honestly!!..kalo gak sadar2,yah...tau deh tuh orang ada hati ato gak?...btw, om WW...saya juga anak Deakin Univ Melb juga lohhh...uahuahuahua..GBU
  19. From Bambang Haryanto on 14 October 2006 09:33:53 WIB
    Yth. Bang Wimar,

    Salam sejahtera. Saya senang beberapa hari lalu bisa mampir pertama kali ke situs Anda ini, kiranya pada momen yang tepat. Yaitu ketika Anda banyak mengobrolkan tentang blog. Tahun lalu, ketika para blogger Jawa Timur mengadakan gathering di Pandaan, saya usulkan agar pas hari mereka memulai acara tersebut, 4 September 2005, dicanangkan sebagai Hari Blogger Nasional/Indonesia.

    Kebetulan, pada tanggal yang sama, setiap tahun di Amerika Serikat rutin dilaksanakan jambore untuk warga komunitas teknologi informasi di AS. Namanya Burning Man Festival. Rekan-rekan blogger di Jatim itu membalas email saya, mereka mengaku bukan sebagai representasi para blogger secara nasional, hingga tak berani memproklamasikan inovasi penetapan tanggal itu.

    Sudahlah, itu sudah jadi sejarah. Kini, dengan penampilan Bang Wimar beberapa kali di televisi, saya senang, karena komunitas blogger Indonesia, menurut saya, telah menemukan juru bicara yang pas. Sebab selama ini obrolan tentang blog rasanya masih berbau sebagai urusan kaum ABG, atau urusan para techie/nerds yang menurut saya masih kurang terampil mengaitkan relevansi dunia blog dengan lanskap komunikasi yang lebih luas.

    Kini, berkat Anda, maka perbincangan tentang blog telah mengalir sampai ke muara citizen journalism segala. Ini masalah serius, karena terkait dengan penegakan dan wacana demokrasi dalam bermedia. Baiklah, saya tunggu tulisan Bang Wimar untuk topik-topik tersebut di masa datang.

    Sebagai sekadar apresiasi atas artikel-artikel Bang Wimar, saya telah menulis di blog saya, Esai Epistoholica (http://esaiei.blogspot.com), tulisan berjudul “Buku Habibie, Blog, Jurnalisme Warga dan Epistoholik Indonesia.”

    Dalam salah satu alinea yang merujuk niatan Prabowo Subianto yang ingin menulis buku tandingan bagi bukunya Habibie, memunculkan gagasan di benak saya : mengapa kita harus mau menunggu buku dia sedemikian lama ?

    Mengapa ia tidak meluncurkan blog pribadinya saja ? Sehingga kemudian para pelaku sejarah yang lainnya dapat segera menimbrung dengan cerita dan komentar masing-masing, bukan ? Melalui blog-blog mereka. Bahkan kita sebagai rakyat, bukankah boleh pula ikut serta bicara ? Apakah sejarah itu semata hanya milik orang besar, tokoh politik atau tokoh-tokoh militer belaka ?

    Apalagi Malcolm Reynolds telah bilang, "half of writing history is hiding the truth.” Setengah dari penulisan sejarah menyembunyikan kebenaran. Maka, kita sebagai rakyat biasa kini, berpotensi mampu ikut menguak separo kebenaran sisanya dengan ikut bebas bicara. Tentu saja, melalui karya surat-surat pembaca kita yang diperkeras suaranya melalui blog-blog kita pula ! Apakah saya kini sedang bermimpi ?


    Sukses untuk Bang WW dan kru Perspektif.Net.
    Salam dari Wonogiri.


    Bambang Haryanto

    PS : Plagiarisme, menurut saya, justru mudah dilacak di media maya ini. Maka semua skripsi di PT sebaiknya ditayangkan di Internet, jadi polisiyang mengawasinya semakin banyak, apalagi di LN kan sudah ada pula software untuk mengukur kadar plagiarisme sesuatu karya tulis. Artikel saya di blog Komedikus Erektus pernah dicuplik seseorang penulis dari Yogya dan dimuat di Kompas (Humaniora Teroka). Esoknya, ya saya tulis saja kisah pencuplikan itu di blog KE saya. Beberapa hari kemudian si pencuplik kirim email, ia minta maaf. Hell, yeah !
  20. From wimar on 15 October 2006 01:53:44 WIB
    Terima kasih Mas Bambang Haryanto, untuk penerimaan Anda yang hangat. Sangat senang menemukan pemikiran yang sama mengenai keterbukaan komunikasi. Mari kita teruskan pekerjaan menyenangkan berbagi entusiasme terhadap ekspresi melalui Web2.0
  21. From Bambang Haryanto on 16 October 2006 09:44:08 WIB
    Bung Ary H (Komentar No.12) bertanya, “kalo semua orang bisa jadi wartawan, aku kerja apa dong? “ dan ia lalu minta pendapatnya kepada Bung Wimar dan Budi Putera (wartawan Tempo yang juga superblogger) seputar fenomena CJ (citizen Journalism) ini.

    Sebagai orang yang bisa sedikit menulis, tetapi gagal bercita-cita jadi wartawan, saya ingin ikut nimbrung. Saya berempati dengan Bung Ary H. Tetapi, maaf, kalau boleh memberikan usulan, bila Anda wartawan bermediakan atom (bahasa Nicholas Negroponte untuk kertas), seyogyanya Anda harus takut secara sangat berat sekali terhadap fenomena blog dan CJ ini. Rupert Murdoch (Kompas, 6/10/2006 : 39) telah bicara lantang bahwa tahun 2006 ini adalah awal matinya bisnis media cetak sejak 603 tahun lalu !

    Tahun 2004 yang lalu, ketika saya mengikuti Mandom Resolution Award 2004 dengan menjual gagasan blog sebagai wadah interaksi komunitas para pecandu penulisan surat pembaca di Indonesia (kaum epistoholik, begitu istilah dari majalah TIME, 6/4/1992), saya bertanya kepada salah satu jurinya. Ia wartawan senior koran nasional, tulisan-tulisannya selalu bagus, juga pernah menerima award prestisus.

    Yang saya tanyakan, apakah ia tidak tertarik mengelola blog ? Ia menjawab, dirinya buta sama sekali tentang blog. Tetapi ia jelas tidak sendirian.

    Hal itu membuat saya merasa sungguh heran (adik saya juga wartawan tabloid olahraga nasional), mengapa tidak banyak wartawan yang tertarik untuk mengenal blog, lalu memanfaatkannya, baik sebagai tuntutan profesi atau menyalurkan hobby, fun, seperti yang dikerjakan secara serius tetapi menyenangkan seperti Bang Wimar Witoelar ini ?

    Memang tidak banyak orang seperti Dan Gillmor (silakan cari di Google) yang berani keluar dari pekerjaannya yang mapan di MSM (mainstream media), yaitu kolumnis IT di San Jose Mercuri News (kalau tak salah), lalu “hanya” terjun untuk mengelola situs blog guna mempromosikan grassroot media, participatory media, ya citizen journalism itu pula.

    Love will find a way. Untuk Bung Ary H dan rekan-rekan wartawan lainnya, saya yakin, Anda akan mampu menemukan jalan terbaik untuk masa depan Anda terkait dengan fenomena blog dan CJ di masa depan. Kalau boleh usul, tirulah model “politik bunglon” yang mampu berakrobat secara cerdas dan mengagumkan dalam menyesuaikan diri dari Bang Wimar ini.

    Lihatlah, ia bisa hidup dengan banyak canda dan bahagia di habitat media apa pun ! (hell, yeah !). Ia bisa bebas bicara tentang apa pun Bacalah situs ini, dan cermatilah, betapa ia sangat lincah berdansa, bahkan secara sekaligus, di pelbagai domain media. Bukan main !

    Tentang rekan Bung Ary H. yang wartawan, yang keliling dunia dengan motornya (mirip kisah Jules Verne) setiap hari, itulah, menurut konsekuensi dari pendekatan “top down” sesuatu media. Para pengelola MSM itu sudah terkondisikan dari sononya selalu merasa paling tahu, paling pinter, sehingga mereka pantas merasa berhak sebagai penentu, gatekeeper, bagi para konsumen media mereka. Padahal MSM itu, seperti Anda cuplik sendiri, "Selama ini, produk-produk jurnalistik lebih merupakan suara industri dan pemodal besar dengan segala kepentingan dan intrik-intrik di dalamnya."

    Itulah kekurangan kronis dari media berbasis atom bin kertas. Jurnalisme pohon mati. Kolomnya terbatas, maka dipilihlah berita-berita yang mampu ‘menjual.” (Ingat rumus sakti triangle bisnis media). Ongkos cetaknya pun mahal. Distribusi mahal. Tidak pula interaktif.

    Beda dengan media berbasis digital yang bangunannya terdiri dari sinyal-sinyal elektronik, tak berwujud, berupa bits, di mana setiap detiknya konon mampu mengelilingi dunia 11 kali. Bahan bakunya melimpah ruah, hanya pasir (quartz), yang diolah para jenius Intel sampai AMD berwujud sebagai chips, di mana pada produk hilirnya memunculkan media-media Internet yang gratis, sejak dari jaman email Yahoo, Hotmail, Google, Wikipedia, You Tube, sampai the next big things yang hanya bisa dibatasi oleh imajinasi.

    Dalam lanskap media berbasis digital, kini yang kuat bersuara (walau di Indonesia mungkin belum diperhatikan !) adalah arus bawah. Sumbernya ya kita-kita ini, orang biasa, dengan blog-blog itu pula.

    Hemat saya, seyogyanya para wartawan memarkir sepeda motornya, lalu menghidupkan Internet, rajin melakukan blogwalking atau mengikuti milis tertentu yang menjadi bidang spesialisasi tulisannya. Dari sana, ia dapat mendengar degup persoalan masyarakat, lalu mengangkatnya di media, kemudian dijadikan perbincangan lanjutan di media-media blog selanjutnya. “Market are conversations,” begitu kredo David Weinberger, Doc Searls, dan kawan-kawan.

    Di tengah lanskap media yang chaos dan menggetarkan, sekaligus menggairahkan dewasa ini, nasib awak MSM ibarat orang yang selama ini duduk-duduk nyaman di atas karpet. Tetapi kemudian sebuah sisi karpet itu kini tiba-tiba terkait dengan pesawat jet yang sudah take-off. Mereka yang duduk-duduk itu ada yang terbawa oleh jet, ada yang bertumbangan di tanah, ada pula yang mengapung, tergantung di awang-awang.

    Silakan Bung Ary H dkk. menentukan nasib Anda sendiri.

    Yang saya tahu, Bang Wimar (mungkin gara-gara ketularan kewaskitaan seorang Gus Dur :-)) nampaknya sudah memutuskan meloncat dan pergi dulu dari karpet, comfort zone itu.

    Saya kini juga mencoba mengikuti jejaknya. Saya yang tinggal di Wonogiri, yeah, ibarat katak kecil di kolam kecil. Tetapi Bang Wimar adalah : katak besar, keriting pula, di kolam besar. Kolamnya itu juga dekat dengan salon rambut....

    Salam dari Wonogiri.

  22. From wimar on 16 October 2006 10:14:24 WIB
    Bung Ary H (Komentar No.12) bertanya, “kalo semua orang bisa jadi wartawan, aku kerja apa dong? “ dan Bambang Haryanto sudah menjawab untuk kebutuhan Bung Ary pribadi. Saya tidak memberikan nasehat pribadi, karena munculnya citizen journalism bukan kehendak saya, saya hanya melaporkannya.

    Dunia tidak diciptakan untuk anda, dan tidak juga untuk saya. Pengetik skripsi dekat kampus bisa mengeluh bahwa pekerjaannya hilang sejak mahasiswa mengetik sendiri di komputer, tapi kehidupan jalan terus. Wartawan formal harus menyadari, apa sebetulnya keahlian dia. Kalau dia ahli menulis, tidak jadi soal, dia menulis di koran atau di blog. Selama tulisannya bagus, orang akan baca. Ahli masak yang restorannya gulung tikar, bisa menjual masakannya dengan cara lain.

    Mungkin pada pengelola media non-blog terletak tanggungjawab untuk membantu staf memperluas kemampuannya keluar batas-batas yang dibuatnya sendiri. Tapi tanggungjawab tidak bisa dianggap sebagai kewajiban.
  23. From jibun on 17 October 2006 12:52:58 WIB
    yang jelas Citizen Journalism merupakan era yang betul-betul terbuka dan tanpa batas dalam hal penyampaian pandangan, opini, pendapat dan segala macamnya bagi "orang biasa" yang selama ini yang mungkin belum memiliki kesempatan dan media yang tepat untuk unjuk diri. dunia akan penuh kejutan karena ternyata banyak "orang biasa" yang berpemikiran jauh melebihi dari orang2 yang saat ini dianggap luar biasa. dan jangan kaget juga banyak kalangan oportunistis yang memiliki tanggung jawab publik akan doyan berselancar guna mengais-ngais blog yg contentnya dapat memperkokoh eksistensinya di mata publik
  24. From ary h on 27 October 2006 22:04:23 WIB
    aku percaya pada jurnalisme sebagai suatu metode mencari dan menyajikan informasi yang penting dan bisa dipercaya. citizen journalism menurut saya tidak bisa disebut sebagai salah satu bagian dari praktik jurnalisme (aku punya alasan untuk mengatakan ini). saya tidak percaya rupert murdoch dan sama sekali tidak menganggap serius pernyataanya (dia bicara seperti itu karena koran tidak menguntungkan secara finansial). seburuk-buruknya dan sebagus-bagusnya berita internet selama ia tidak dicetak di koran atau dikerjakan oleh jurnalis profesional, tidak akan mengguncang dunia. everybody knows the artificiality of the Internet, of technology. aku baru dua tahun lepas dari kampus, sedikit sekali buku yang sudah aku baca dan belum lama pula aku digembleng sejarah, tapi aku heran, mengapa bung wimar dan mas bambang, yang aku yakin sudah sangat berisi, bisa begitu naif melihat fenomena blog?

    i am fully aware of my predicaments as a newspaper reporter. i have been quite accustomed to listening people say about that "declining readership". kawanku, juga wartawan the jakarta post, sedang menulis respon media di Indonesia terhadap citizen journalism. tapi saya kira PO terlalu sempit untuk bicara panjang soal ini. aku kunjungi blog mas bambang saja nanti.

    tetapi ini fyi, aku punya tiga blog, salah satunya blog khusus tentang islam di indonesia. respon orang terhadap blog itu dan tulisanku di JP sangat berbeda, karena mereka menganggap apa yang printed di koran adalah "fakta" karena dikerjakan oleh professional journalists yang committed pada prinsip jurnalisme sementara blogku adalah keranjang sampah uneg2ku tentang umat Islam di Indonesia. ada perasaan yang berbeda saat membaca koran yang tidak bisa didapatkan saat membaca detik.com yang, menurut sejumlah teman2 wartawan, "sering salah". apalagi sekedar blog?! matter does matter, mas bambang. aku ingin membawa derrida ke diskusi ini tapi sudahlah.

    nb: haha...aku gak merasa terancam kehilangan pekerjaan tuh, komenku di atas joke aja. toh menjadi wartawan juga bukan cita-citaku yang utama. pengen dong menjadi cendekia juga seperti bung wimar dan mas bambang. :D
  25. From lily yulianti on 03 November 2006 11:56:28 WIB
    Salam,
    Saya pengelola citizen journalism (kami menyebutnya jurnalisme orang biasa) www.panyingkul.com yang berbasis di Makassar. Kompas mengulas Panyingkul! saat baru berusia satu bulan (diluncurkan 1 Juli 2006) dan memuat pernyataan yang agak bias yang dikutip dari sejumlah wartawan yang bekerja di media mainstream dan merasa terganggu dengan kehadiran orang biasa yang menulis: Katanya yang menulis orang biasa, kok yang menulis adalah penulis yang sudah "jadi"? Kenapa bukan rakyat jelata yang menulis sendiri?

    Sayang wartawan Kompas yang menulis ulasan itu, tidak menunggu jawaban wawancara saya melalui email (karena saya sdg menghadiri forum citizen reporter internasional di Seoul) sehingga penulisannya terkesan lebih banyak kritiknya dan agak bias. Tapi tak apa juga karena dengan begitu Panyingkul! jadi lebih dipahami orang. Dalam jawaban email itu saya menuliskan, bahwa yang menggerakkan citizen reporter adalah PASSION (gairah berbagi kabar) sementara reporter profesional digerakkan oleh penugasan dari kantor. Citizen reporter adalah orang2 non-wartawan, tapi meluangkan waktu membagi kabar/informasi/pengetahuan. Yang membedakan berita yang dituliskannya adalah "PILIHAN TEMA atau SUDUT PANDANG yang digunakan dalam memberitakan"
    Mengapa mereka tertarik melibatkan diri dalam proses penulisan berita? Mengapa mereka ingin membuka dialog dengan berita-berita media mainstream? Ada banyak jawabannya. Pertama, ketidakpuasan terhadap berita2 media mainstream (mass media vs mass reality). Kedua, revolusi teknologi informasi yang membuat kekuatan "publikasi" bukan lagi kemewahan dan terbatas menjadi hak industri media. Elitisme media memang menghadapi tantangan. Di AS, banyak media yang kehilangan pesona dan integritasnya karena konflik kepentingan yang makin hari makin kasat mata. Jargon bahwa hanya media dan wartawan yang tahu mengabarkan kepentingan orang banyak, menjadi bumerang seiring tibanya masa teknologi informasi yang mudah, murah dan cepat.

    Contohnya, setiap kali Wapres Jusuf Kalla pulang kampung ke Makassar, media lokal akan memberitakan apa yang akan dilakukan JK selama berada di Makassar. Di Panyingkul! seorang citizen reporter justru menuliskan pengalamannya terjebak macet berjam-jam setiap kali Wapres JK berkunjung ke Makassar. Contoh lain, saat media lokal baru melihat "berita kemiskinan" sebagai berita layak tayang saat ada orang miskin yang mati karena busung lapar, maka seorang citizen reporter justru menuliskan daya hidup keluarga miskin sehari-hari.

    Menulis juga butuh keterampilan tertentu. Karenanya adalah naif membayangkan rakyat jelata yang menuliskan langsung pandangan mereka. Yang kami rintis, adalah kelas menengah yang peduli pada rakuat kelas bawah, dan kepedulian itu ditunjukkan melalui tulisan2nya. Tidak semua orang bisa langsung menulis dengan bagus. Karenanya kami merintis Panyingkul! dengan membuka pelatihan jurnalistik bagi blogger, mahasiswa, dan masyarakat biasa. Kami bahkan mendorong warga kota yang memiliki kamera digital untuk membiasakan memotret fenomena kota dan mengirimkannya kepada kami. Saol teks beritanya, kami mengerjakannya bersama-sama berdasarkan informasi yang dihimpun. Mereka kini bergerilya mengabarkan berbagai sudut kota (jumlah yang aktif adalah 25 orang, dengan beragam profesi). Tak ada berita "heboh", yang ada hanya kabar biasa yang ditulis orang biasa. Kabar biasa yang tidak mendapat tempat di media lokal. Kabar biasa yang kami yakin memberi kontribusi yang besar merepresentasikan wajah kota.

    Tentu akan banyak perdebatan mengiringi perayaan jurnalisme orang biasa. Pro kontra ttg wartawan profesioanl vs amatir, pertanyaan ttg kaidah jurnalistik dalam berita yang ditulis, dst. Saya tentu dengan senang hati mendiskusikan semua ini berangkat dari pengalaman saya sebagai penulis untuk portal citizen journalism Ohmynews --yg dirujuk sebagi portal CJ tersukses di dunia (http://english.ohmynews.com) dan juga pengalaman mengelola situs sederhana www.panyingkul.com

    Salah satu jawaban sederhana mengantisipasi pertanyaan yang mengarah ke teknis jurnalistik dijawab oleh para pengusung CJ seperti Prof. Dan Gillmor dkk dengan menyiapkan tim editor profesional bagi para citizen reporter. Teknis dan akurasi peliputan adalah sama pentingnya dengan tema-tema khas yang diangkat para warga biasa yang menulis berita, tapi bukankah tema yang beragam, sudut pandang yang beraneka, adalah modal besar mewujudkan masyarakat demokratis dan saling menghargai?
    Dan karenanya akan bagus untuk dikembangkan dan disuarakan

    Kata John Stuart Mill dalam esai klasik "On Liberty": "Only through diversity of opinion is there, in the existing state of human intellect, a chance of fair play to all sides of the truth."


    Bila ada waktu silakan berkunjung ke Panyingkul! (www.panyingkul.com)

    salam,
    lily yulianti farid
    warga Makassar di Tokyo
  26. From Aksar on 04 December 2006 00:42:13 WIB
    Jual CD Cashflow 101 The E-Game Berbahasa Indonesia. Game Simulasi Pendidikan Bisnis dan Investasi untuk semua orang. Lihat dan perhatikanlah Screen-Shot atau gambar layar game ini yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia di website kami. http://webhosting.i2.co.id/aksar/index.htm.

« Home