Kirim 'Good Guy' ke partai untuk menjadi calon Gubernur
Perspektif
02 November 2006
Melda Wita:
Tinggalkan masa lalu, mari aktif jelang Pilkada Jakarta 2007
Mahasiswa Universitas Moestopo mengutip Bung Karno, jangan pernah melupakan sejarah, maka orang Jakarta tidak akan menganggap Jakarta telah dipimpin dengan baik. Peraturan pemerintah yang tidak konsisten , masalah busway dan pelebaran jalan, dan masih banyak lagi ketidak puasan terhadap Pemda DKI Jakarta. Tapi, meninggalkan masa lalu Jakarta seperti banjir, sampah, busway, pengangguran, serta premanisme, kita menjadikan itu semua pelajaran yang berharga agar kita dapat memilih seorang gubernur yang lebih baik. Tinggalkan masa lalumu yang kelam, Jakarta, dan mari bersiap untuk Pilkada 2007.
Gubernur Kita yang ini menarik karena peserta kita sudah mulai terbuka. Saat ditanya mengenai kinerja Pemda DKI Jakarta maka jawabannya sama kurang puas, kalangan Warga Menteng memberikan nilai 6-7 dan mahasiswa (memberikan 4-5. Kalau anda?
Tamu utama Gubernur Kita sebenarnya ada 2 yang satu adalah ketua DPRD Jakarta yang berhalangan hadir entah karena sakit atau karena takut jatuh sakit sehabis pulang dari Gubernur Kita? Tamu yang kedua adalah Hadar Navis Gumay - Direktur Eksekutif CETRO (Centre for Electoral Reform). atau Pusat Reformasi Pemilu yang adalah sebuah ORNOP (organisasi Non Profit) atau LSM (Lembaga swadaya Masyarakat) yang didirikan dengan tujuan untuk memperkokoh gagasan dan pranata Pemilu serta menyebarluaskan gagasan pemilihan umum yang jujur dan adil melalui pembaharuan Sistem Pemilu. CETRO melalui kegiatan-kegiatan yang diadakannya berusaha untuk memberikan pendidikan politik kepada masyarakat.
Hadar berharap pada pemilihan Pilkada yang akan datang masyarakat lebih aktif dan dinamis sehingga turut serta dalam kegiatan pemilih. Masyarakat harus menggunakan hak pilihnya untuk memilih daripada kita menyerahkan hak pilih kita karena dengan begitu kita ikut aktif dalam pendidikan demokrasi dan akan mendorong para pemimpin kita menjadi lebih peduli akan rakyatnya serta dengan begitu kita punya hak untuk mengkritik bahkan kecewa Karena kita telah ikut ambil bagian dalam PILKADA tersebut.
Jika kita melihat para BALON dan dirasa kurang baik serta kemudian ternyata muncul Gubernur yang kita tidak suka, adalah merupakan salah kita jika tidak berusaha untuk memberitahukannya kepada orang lain dan tidak ikut serta untuk menyatakan bahwa masih ada pilihan yang lebih baik, ada satu pernyataan yang menarik dari Hadar, Terkadang justru calon yang paling tidak kita suka itulah yang akan menjadi Gubernur, so daripada kita hanya duduk diam dan tidak memilih pada hari pemilihan lebih baik dari sekarang kita bergiat untuk memilih calon gubernur kita dan kita pilihlah pilihan terbaik diantara yang terburuk. Hidup itu pilihan.
For your info : pasangan calon hanya bisa diajukan oleh partai politik (parpol) atau gabungan beberapa parpol yang mempunyai 15 persen kursi DPRD atau memperoleh 15 persen suara pada Pemilu 2004. Yang bisa mengajukan calonnya secara mandiri, yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS), PDIP dan partai Demokrat. Sampai saat ini yang baru mengajukan calon nya nadalah PKS yaitu Adang Darojatun. Sulit memang bagi para calon yang bagus tapi tidak dilirik sama Parpol, tapi mari kita terima aturannya dan mencoba memanfaatkannya. Peraturan calon independent ditolak DPR dan hanya berlaku di Aceh. Apakah tiket pemilihan berdasarkan Partai Politik apakah akan mengajukan Gubernur yang baik? Well, kita perlu menunggu sampai minggu depan untuk membahas lebih lanjut karena masih ada “kuliah” lanjutan sama bapak dosen tamu Hadar ditemani dosen tetap Effendo Gazali dan para Profesor kita, WW dan Riaas Rasyid.
Riaas Rasyid dan WW
Daisy Awondatu:
Alamatkan “good guy” ke Partai Politik
Tampaknya masyarakat Jakarta sudah mulai jelas mengenai konsep “good guy” dan “bad guy” yang dimunculkan di “Gubernur Kita” episode lalu. Di episode ini, lebih jelas lagi ditekankan apa yang selanjutnya harus dilakukan oleh masyarakat terhadap calon-calon mereka. Dan ternyata, masyarakat harus tahu bahwa mereka bisa mengajukan calon-calon Gubernur idaman mereka. Ke mana mencalonkannya? Alamatnya adalah di Partai Politik.
Jadi, salah besar kalau menganggap calon hanya bisa ditentukan oleh partai politik saja. Masyarakat dapat berpartisipasi. Walaupun memang pada akhirnya, parpol-lah yang akan menunjuk calon resmi mereka, akan tetapi dukungan dari masyarakat menjadi salah satu faktor penilaian bagi Parpol dalam menentukan calonnya. Yang perlu diketahui, dari banyak parpol yang ada, hanya ada tiga parpol yang pada saat ini bisa langsung menentukan calonnya, yaitu PDIP, Partai Demokrat, dan PKS. Partai-partai yang lain, karena suara mereka sedikit dan tidak mencukupi, dalam mengajukan calonnya harus bergabung dengan sesama partai. Sampai sejauh ini, baru PKS yang sudah mengumunkan calon resmi, sementara PDIP dan Partai Demokrat masih belum. Jadi, kesempatan masih sangat terbuka bagi masyarakat. Silakan ajukan calon “good guy” ke partai-partai itu. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Warga Menteng
Maro Alnesputra:
Sudah saatnya warga aktif Pilkada
Warga Jakarta sudah seharusnya aktif dalam ikut menentukan nasib Jakarta ke depan. Pesan inilah yang mungkin bisa diambil dari acara Gubernur Kita di Jak-TV episode 5 malam tadi.
Sedikit mengkomentari format acara Gubernur Kita episode ini, pemirsa bisa merasakan bahwa acara ini semakin lama semakin menendang! Hal ini bisa diliat dari tamu audience yang hadir di studio bukan hanya dari kalangan mahasiswa (yang kali ini diwakili Universitas Moestopo Beragama), namun juga dari kalangan warga Jakarta yang berdomisili di daerah Menteng. Daerah yang menurut salah satu warganya sudah ada sebelum ibukota ini diberi nama Jakarta. Mumpung di TV ini curhat mereka:
- Gedung parkir yang mengganggu
- Tidak ada tempat untuk sarana olahraga seperti lari pagi selain Taman Surapati (yang menurut WW bisa dikejar-kejar tentara !)
- Hotel yang akan di bangun di sekitar daerah Menteng
Sementara kalangan mahasiswa Universitas Moestopo mengeluhkan masalah-masalah pembangunan saranan transportasi dan kekurang perdulian pemerintah terhadap gedung-gedung tua yang mempunyai nilai sejarah di kota ini
Nilai Akhir untuk prestasi Pemda DKI? Pengumuman oleh Effendi Ghazali: "Yak..... dan warga Menteng memberi nilai 6-7 kepada kinerja Pemda DKI sementara mahasiswa memberi nilai 4-5 kepada Pemda DKI !"
Pada acara ini hadir juga Hadar N. Gumay dari CETRO yang memberikan informasi yang sangat jelas mengenai Pilkada Jakarta.
Pesan yang diberikannya juga sangat bagus: "Warga Jakarta sebaiknya ikut terlibat dalam proses Pilkada, karena apabila seseorang tidak ikut memilih (yang memang merupakan hak seseorang), agak ironis kalau kemudian di kemudian hari dia malah mencela hasil Pilkada. Ketika kita tidak ikut memilih, berarti secara tidak langsung kita menyerahkan pilihan kita kepada orang lain. Dan seringkali orang yang paling tidak kita suka adalah orang yang akhirnya malah terpilih, oleh karenanya pilih"
Langsung di –smash oleh WW , "Seperti yang sekarang ini, tidak dipilih."
Hehehehehe !!!!
Selain itu Hadar Gumay juga menjelaskan mekanisme Pilkada yang ada, seperti mengapa calon independen hanya diperbolehkan di daerah Aceh, cara menyalurkan pendapat kepada KPUD dan Parpol, serta tentang betapa singkatnya waktu dari sejak start kampanye sampai hari H Pilkada yang ternyata hanya 2 minggu. Tidak heran dari sekarang sudah banyak orang yang mulai memasang spanduk untuk menginformasikan eksistensi diri mereka pada masyarakat luas. Hal ini menurut beliau masih bisa dimaklumi.
Secara keseluruhan, episode kali ini ringan, santai, dan sangat informatif. Satu hal yang menarik adalah bahwa ternyata audience di studio merasa bahwa informasi yang mereka ketahui ttg Pilkada sangat minim kalau bisa dikatakan tidak ada. Jelas acara seperti Gubernur Kita ini sangat berguna dalam memberikan informasi ttg Pilkada Jakarta! Jadi apa yang anda tunggu? Ikut terlibat dong ! dan salurkan pendapat anda disini!
Effendi Gazali dan peserta
Hayat Mansur:
Mari kita gunakan blog
"Buat dan pergunakan blog," kata Bung Wimar singkat menanggapi ketidakpuasan warga Jakarta terhadap kinerja Gubernur DKI Jakarta dan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jakarta.
Ketidakpuasan warga Jakarta terhadap kinerja Gubernur dan KPUD Jakarta memang sudah bisa diduga. Tapi ini menjadi menarik karena disampaikan oleh warga Menteng yang secara pendidikan dan kehidupan lebih bagus dan terutama tetangga dekat Sutiyoso, selain oleh mahasiswa Fikom Univ. Prof Moestopo.
Yach betul kata Bung Wimar bahwa untung saja gubernur sekarang tidak bisa dipilih lagi karena terhalang ketentuan UU. Tapi agar gubernur mendatang bukan “bad guy”, ia menganjurkan kita aktif memanfaatkan blog. Melalui blog, kita bisa berinteraksi saling memberi informasi tentang track record dan prestasi dari calon gubernur. Kita juga bisa menyampaikan track record tersebut dan aspirasi kepada partai politik pengusung sang calon tapi apa mereka mau memenuhinya.
Satu lagi, blog juga bisa menjadi ajang sosialisasi untuk Pilkada. Misalnya, saling mengingatkan mengenai pendaftaran calon pemilih agar kita punya hak suara. Yach maklum aja saat ini sosialisasi Pilkada DKI masih sepi. Lihat saja warga Menteng dan Mahasiswa Univ Moestopo memberi nilai satu untuk kinerja KPUD Jakarta. Jadi mari kita pergunakan blog sekarang juga agar suara warga didengar dan warga tidak terlambat bicara.
Rizka Nurlita Andi menulis 'sudah sampaikah sosialisasi pilkada ke warga DKI?' tentang acara meriah Gubernur kita dan diskusi seru tentang kurang puasnya peserta terhadap kinerja dan hasil dari perintah DKI. Sorotan blog Rizka beralih kepada Hadar N. Gumay yang mengungkapkan posisi warga yang kurang memiliki informasi tentang PilkadaRata-rata tingkat partisipasi atau orang yang ikut di dalam Pilkada kurang lebih 69%. Pemilihan nasional pemilihan presiden legislatif 84 %, pemilihan presiden putaran pertama 78%, putaran kedua 76%. Kalau Jakarta pada saat pemilihan presiden 1 dan 2 masih 75% dan 73%. Pada saat pendaftaran, nanti ada kesempatan untuk mengecek apakah benar kita sudah mendaftar dan data kita sudah benar atau tidak. Kalau kita tidak memilih, kita menyerahkan pilihan kita kepada orang lain. Dan itu seringkali yang dipilih adalah orang yang paling tidak kita sukai. “Betul, seperti yang sekarang, eeh…tapi yang sekarang tidak dipilih”, kembali celetuk WW. “Bagaimana sih menatap Pilkada ini lebih optimis?” tanya Effendi Ghazali. Hadar Dumai bilang bahwa perlu meninggalkan yang menjadi dasar kekecewaan kita, dan digunakan sebaik-baiknya untuk menjadi warga yang aktif.




5 Comments: