Articles

About Nothing and Everything

Perspektif Online
10 November 2006
Daisy Awondatu dan Khatrine Sipahutar: Talk about nothing and everything
 
Media Gathering yang diselenggarakan InterMatrix ini bertujuan silaturahmi. Ngobrol, makan minum, , dan ber-haha-hihi. Tapi selain mengobrolkan adalah ‘nothing’, di sini rekan-rekan wartawan yang diundang bisa ngobrol bukan hanya ‘about nothing’, tapi juga ‘everything’ dengan Wimar Witoelar, Chairman InterMatrix Communications.
 
Soalnya, menurut WW yang adalah Adjunct Professor in Public Relations in Public Relations and Journalism pada Deakin University (Melbourne), IMX sebagai perusahaan PR tidak akan bisa berfungsi tanpa jurnalis, dan jurnalis sebaiknya berhubungan baik dengan PR firm. Sudah jelas IMX punya hubungan baik dengan media sejak kapan hari, jadi event ini simbol kecil pernyataan apresiasi.
 
Itulah kira-kira gambaran media gathering yang diadakan InterMatrix di Time Break Plaza Semanggi. Kebetulan sekali dalam minggu-minggu akhir ini banyak sekali isu yang penting dan menarik untuk dicermati. Di acara ini, WW mencoba membicarakannya sambil santai, dari perspektif yang jernih dan menarik. Format ini sangat dinikmati oleh undangan yang hadir, karena sambal mereka ngobrol, sambil bersantai, mereka bisa mendapatkan informasi-informasi yang menarik, bahkan bisa sebagai bahan penulisan. Sesi bincang-bincang dimulai dengan WW memberikan introduction terhadap 4 current issues:
 
santai.jpg
konten serius, format santai
 
Bush Hancur dalam Pemilu AS
Tepat sebelum kedatangannya ke Indonesia, Bush kehilangan dukungan. Partai Republik kalah dari Partai Democrat baik di Kongres, House of Representative, maupun di Senat. Ini artinya, Bush sekarang bagaikan ‘lame duck’, tidak memiliki kekuatan. Walaupun di tetap menjabat sebagai Presiden sampai 2008, namun kongres bukan dari pihak yang mendukung dia. Apa artinya ini bagi kita? Indonesia yang selalu ditekan dalam jepitan pro-dan-kontra aliansi AS-Australia- Inggris kini bisa bernafas lebih lega. Sebab, John Howard dan Tony Balair juga akan kehilangan sebagian kekuatan mereka di Australia dan Inggris.
 
SBY Menegaskan Perlunya UKP3R
Untuk pertama kalinya sejak terpilih mungkin, SBY bisa bersikap tegas terhadap JK dalam mempertahankan keputusannya. SBY yang sempat diragukan keseriusannya terhadap reformasi, dengan yakin membentuk Tim Percepatan Reformasi dan menunjuk orang-orang yang konsisten terhadap Reformasi. Sikap SBY ini menimbulkan reaksi unik dari JK dan Golkar. JK semula menentang dengan berbagai alasan yang diajukannya, dan Golkar pun sempat mengatakan akan menarik dukungannya terhadap SBY. Akan tetapi, dengan adanya peristiwa pada Kamis malam kemarin, ceritanya menjadi lain. Peristiwa Kamis malam kemarin dapat dikatakan malam dimana SBY menyelamatkan demokrasi dan reformasi di Indonesia. DPP Golkar mendukung keputusan SBY ini, bahkan mengatakan tidak meminta orang-orang Golkar harus ada di dalm tim tersebut, yang penting tim berjalan dengan benar. Ketegasan Presiden SBY dan pernyataan DPP Golkar membuat JK bungkam, tak ada komentar apapun yang keluar sampai detik ini. Posisi JK saat ini sama seperti Bush, dia juga adalah ‘lame duck’. Kalau JK melemah, pergolakan internal akan terjadi di dalam Golkar, dan tentu saja akan mengakibatkan perubahan besar di tubuh Golkar.
 
Saddam dan Soeharto
Pengadilan Irak setidaknya lebih bagus dari pengadilan Indonesia, karena mereka bisa menghakimi Saddam sedangkan kita tidak mampu mengadili Soeharto, bahkan menangkap pun tidak bisa. Saddam menurut editorial The Jakarta Post, kelihatan membayar untuk dosanya dan bisa tegar, sedang Soeharto masih harus menghadapi ‘pengadilan yang lebih tinggi’.
 
Pemilihan Gubernur DKI
Bagi yang rutin menyaksikan Gubernur Kita, tentu tidak asing lagi dengan hal ini. Walaupun masih tahun depan Pilkada-nya, tapi mulai dari sekarang masyarakat harus tahu bahwa ada calon good guy dan ada calon bad guy. Mereka harus mampu membedakan ini. Di samping itu, masyarakat harus aktif untuk menyalonkan dan menggunakan hak pilihnya, kalau tidak ingin calon yang tidak dia suka yang menang dan menjadi Gubernur. Karena kalau sudah demikian ya sudah terlambat.
 
Diskusi Bebas
Keempat isu yang dilontarkan WW tersebut terbukti menarik undangan yang hadir. Pertanyaan-pertanyaan mengenai Marsilam, mengenai kedatangan Bush, bahkan mengenai ketidakadilan dalam proses pengadilan Soeharto sempat menjadi pertanyaan dari undangan. Lila, salah satu yang hadir menanyakan apa kira-kira yang akan dilakukan Marsilam setelah mendapat dukungan dari SBY. WW memberikan kesempatan dahulu kepada Cahya Gunawan, wartawan senior Kompas, karena diduga lebih sering bertemu dan dekat secara informal dengan Marsilam sejak tahun 2000. Dua hal yang dilihat Gunawan dari Marsilam adalah ketegasannya dan etika birokrasi yang tinggi. Marsilam punya sifat hitam putih, yang bilang tidak setuju apabila memang tidak setuju.  WW yang teman Marsilam sejak tahun 1966, mengiyakan pernyataan Gunawan dan menambahkan bahwa Marsilam tidak akan pernah mendiskusikan pekerjaannya dengan orang luar, sekalipun itu WW. Kira-kiranya dia malah akan menyuruh WW membaca dari koran. Tapi ketika WW menjadi rekan kerja dalam kepresidenan Dus Dur, Marsilam membagi semua cerita ke WW secara terbuka. Ini salah satu ilustrasi etika yang simaksudkan Gunawan.
Atas dasar pengenalan terhadap Marsilam, WW yakin bahwa Marsilam tidak akan menerima pekerjaan dario Presiden andaikata dia merasa dia tidak akan di dukung olehnya.
 
Desy, wartawan Antara, menanyakan manfaat yang diterima Indonesia dengan kedatangan Bush nanti. Menurut WW, yang harus dilakukan adalah melihat kedatangan Bush ini bukan sebagai kedatangan seorang George Bush, melainkan kunjungan seorang Presiden AS. Kalau Indonesia bisa menjadi host yang baik, martabat bangsa Indonesia akan naik di mata internasional, dan ini dampaknya sangat luas, termasuk pada iklim investasi. WW juga menyatakan bahwa dirinya yakin betul bahwa Presiden SBY mengerti hal yang dia maksudkan ini.
 
Dhani dari LIPI dan Perspektif Baru menanyakan bagaimana pendapat WW mengenai kelemahan bangsa Indonesia yang suka melupakan sejarah, termasuk melupakan kasus-kasus lama seperti Soeharto.  Bagaimana bisa melepaskan diri dari penyakit itu dan apakah hanya bangsa kita yang mengalaminya? WW menjawab, kelemahan Indonesia dalam mengatasi ketidakadilan seperti ini adalah karena tidak ada driving force dari luar maupun dalam, dan kalau pun ada, dorongan itu tidak kuat. Kelupaan terhadap ketidakadilan diciptakan orang-orang yang mempunyai kepentingan di dalamnya.  Karena itu, saat ini senjata yang bisa digunakan hanyalah pers dan journalism.  WW juga mengatakan tidak semua kasus mengalami penyakit itu. Sebut saja kasus terorisme. Driving force yang dibuat Australia dan Amerika membuat Indonesia lebih baik dalam menanganinnya. Tentu saja berbeda dengan kasus korupsi. Lupa menjadi penyakit yang trend di kasus ini, karena semua orang punya kepentingan di dalamnya, ya mana ada sich maling mengaku maling.
 
Ada satu lagi pertanyaan yang menarik dari Benny, wartawan Femina, yang mendengar WW ingin menjadi Wakil Presiden. Benny bertanya, mengapa WW ingin maju di Pemilu 2009. Jawaban WW sederhana, “Karena saya lebih bagus dari calon wapres lain, kalau melihat Pemilu yang lalu”.  Apalagi bila dilihat wakil presiden yang ada sekarang, bukannya membantu tapi malah merusak.  Di pemilu sebelumnya, banyak calon wapres yang tidak disukai, sedangkan WW fansnya banyak dan disukai banyak orang. Jadi, tentu saja WW layak dong menjadi calon wapres mendatang (opini dan keyakinan pribadi penulis-red).  WW yang merasa punya bakat dalam bidang komunikasi ingin membantu Presiden yang baik dalam hal komunikasi kepada masyarakat. Presiden yang good guy perlu didukung oleh wakil presiden yang good guy juga. Mengapa tidak menjadi calon presiden saja kalau begitu W? “Tidak lah… sudah terlalu tua, dan presiden harus punya dukungan massa, sedangkan saya tidak punya, tapi saya punya dukungan emosional, dukungan media, dan dukungan dari kaum intelektual”.
 
Keseluruhan diskusi, termasuk pernyataan WW menjadi calon Wapres bagi beberapa orang mungkin dianggap ‘nothing’, akan tetapi ada juga yang menganggap ini ‘everything’, Silakan berkomentar di Perspektif Online.
 
imxgroup.jpg
 happy family having fun - or is this work?
 
 
 
dan sekarang.........
 
Maro Alnesputra: Catatan dari kursi belakang Café :
There is power in words, and there is power in numbers
 
Ada kekuatan dalam kata-kata dan ada kekuatan di dalam jumlah....
 
Mudah-mudahan puluhan wartawan yang hadir dalam acara   "Talk About Nothing and Everything" dengan Wimar Witoelar yang diadakan di Time Break Cafe, Plaza Semanggi pada hari Jumat , 10 November 2006 dapat ikut menyampaikan celetukan-celetukan cerdas, kritis dan sangat kuat yang datang dari  WW kepada masyarakat luas.
 
"Orang CBS bilang pada saya kemarin bahwa politik Indonesia dalam menangani terorisme itu jelek sekali. Masa sih?  Paling tidak kan kita telah berhasil menangkap beberapa pelakunya. Bandingkan saja dengan Inggris yang mengira orang Brazil yang lagi naik kereta sebagai teroris dan salah menembaknya!" (catatan editor: atau Amerika yang membiarkan pilot menabrakkan pesawat terbang ke gedung apartment sebelah East river di Manhattan, pusat kota New York, bulan lalu. untung cuman pitcher baseball.)
(Tanggapan WW pada kritikan pihak Barat yang menyatakan politik Indonesia jelek sekali dalam menangani masalah terorisme )
 
"Bush mah datang ke Indonesia bukan untuk investasi ekonomi, tapi karena Indonesia masuk di dalam daftar negara yang harus dikunjungi. Terlebih lagi sebagai balasan atas kunjungan SBY ke Amerika beberapa waktu yang lalu."
(Tanggapan WW menjawab pertanyaan orang banyak mengenai alasan Presiden Amerika Serika George W. Bush datang ke Indonesia)
 
"SBY itu orang yang selama ini saya lihat sebagai orang yang sangat susah membuat keputusan. Tapi satu hal mengenai orang tipe seperti ini, sekali mereka membuat keputusan, maka tidak akan pernah berubah!"
"Hidup SBY ! Saya tidak pernah menyangka akan pernah mengucapkan ini, tapi Hidup SBY!"
(Tanggapan WW mengenai keputusan SBY untuk tetap mempertahankan UKP3R)
 
"Satu hal yang perlu orang tahu, Jusuf Kalla besar bukan karena Golkar, tapi karena sumbangan uang dari perusahaan keluarga. Kakak (adik?)  ipar beliau Aksa Mahmud mengatakannya  pada saat acara TV saya,  bahwa dia menyumbang sebanyak 6 Milliar Rupiah pada kampanye Golkar. Katanya itu biasa. Tapi dengan cara begitupun saat itu JK tidak terpilih jadi Ketua Umum Golkar. Dia juga kalah pada bursa Calon Presiden dari Partai Golkar yang dimenangkan oleh Wiranto. Akhirnya dia malah pindah ke SBY. Kenapa bisa yah? Mungkin ada baiknya saya tanya kakak saya hahaha!"
(Tanggapan WW terhadap pandangan yang mengatakan bahwa Jusuf Kalla besar karena Partai Golkar)
 
"Dan terakhir, dengan ini saya nyatakan bahwa saya bersedia menjadi Calon Wakil Presiden 2009 !"
(Statement penutup WW pada akhir diskusi )
 
Ucapan-ucapan di atas dapat menunjukkan ciri khas WW yang sangat 'apa adanya' dan tidak pernah mau menutup-nutupi dalam mengutarakan pendapatnya.
 
He either says it all, 
everything loud and clear
or he says nothing….
 
 
 
 
Hell yeah that's him!

Print article only

15 Comments:

  1. From Charlie on 11 November 2006 13:24:04 WIB
    Wah wah wah... pernyataan terakhir WW sangat menarik!! Kalau memang benar terjadi, saya yakin penggemar perspektif sendiri yang akan menjadi juru kampanye WW secara sukarela dengan mulai menyodorkan ide2 dari WW, mem-forward tulisan2 WW dan mendorong untuk membaca perspektif online kepada teman2, saudara2, aa', teteh, kakek, nenek, mbah, dan lain sebagainya. Bagaimana WW? Kita2 sudah siap untuk mendukung 101% loh!!!
    O,ya, tapi tentu timbul pertanyaan lain, siapa yang akan menjadi orang yang didampingi-nya? Kita tunggu di tahun 2009..
  2. From wadehel on 12 November 2006 02:43:22 WIB
    Saya tunggu foto bapak di kertas pemilu nanti.

    Saya pasti akan tusuk dengan penuh semangat!
  3. From Ferry on 12 November 2006 15:08:47 WIB
    Bapak SBY, kalo ambil keputusan yang tegas aja, gak perlu takut sama partai golkar. Kita semua tahu kalo 30 tahun golkar memimpin, budaya korup sudah berurat berakar sampai sekarang. Generasi baru sekarang sudah tidak malu lagi untuk melanjutkan budaya-budaya tersebut, walaupun itu tidak 100%. Kalau Bapak SBY takut sama golkar maka negara ini akan tenggelam ke dasar yang paling dalam alias negara bangkrut atau bubar. Banyak yang mendukung Bapak, jangan takut kami masyarakat bawah mendukung kebijakan Bapak.
  4. From Gupta on 12 November 2006 16:34:51 WIB
    Many thanks to WW yang sudah membuat media gatheringnya jadi berisi.. thank u juga buat teman - teman media yang sudah hadir .. sampai ketemu di media gathering tahun depan!!

  5. From Sandy on 13 November 2006 07:59:45 WIB
    Seribu persen setuju....
    Doa saya selalu supaya suatu saat Pak Wimar jadi Presiden kita.Kalo tidak Presiden...
    at least Pak Wimar jadi Wakil Presiden 2009.
    Yang penting ada sosok yang Accountable,Dependable
    yang sungguh sungguh mengerti ratapan orang-orang biasa .Jangan lupa sama kami-kami penggemar bapak ya Pak.
    Hipup Pak Wimar
  6. From Arief on 16 November 2006 15:58:14 WIB

    Capres: Nicholas Saputra
    Cawapres: Wimar Witoelar.

    Go...!

    (or is it better kalau Capres-nya Titi Kamal? Kayaknya lebih pas dipasangkan dengan Om Wimar he...he...he...)

  7. From Ricardo Yusuf on 17 November 2006 07:28:01 WIB
    WW for the Vice President? Good luck! Seperti kata sebuah iklan: Harus itu. Harus. Lagipula negeri KITA saat ini kekurangan rasa humor yang membangun. Semuanya pada serius tapi hasilnya nggak serius. Viva WW.
  8. From HL on 19 November 2006 02:38:03 WIB
    maju terus...G'luck WW...Pastinya disini siap dukung
  9. From awet on 22 November 2006 16:45:16 WIB
    "DENGAN INI SAYA NYATAKAN!, SAYA SIAP MENCOBLOS GAMBAR WW!"
  10. From bram jaya on 24 November 2006 23:45:00 WIB
    saya kasihan terhadap pak sby bgaai mana seorang pemimpin megeluarkan kenijakan jika orang dari kekuatan golkar masih menghantui dia itu yg harus di sikapi jika demokrasi bisa terwujud.
  11. From Henk on 25 November 2006 21:13:10 WIB
    Saya yakin SBY di masa2 yang akan datang akan lebih berani membuat keputusan.Saya bangga punya Presiden yang santun, sederhana dan pandai. Teruskan gaya sederhananya Pak Presiden!
  12. From Ramli Sihaloho on 03 December 2006 07:30:33 WIB

    sangat setuju Bro tapi kelihatannya santunnya itu terlalu dipaksakan ya , sepertinya tidak alamiah gitu. gua juga nggak habis fikir gaya kepemimpinannya seperti yg nampak yg tdk nyambung dengan latarbelakang dan reputasinya. entah apa yg terjadi dengan beliau dan apa lagi yg mau dicari dengan legitimasi dukungan rakyat yg begitu solid sehingga beliau bisa duduk dikursi nomor satu republik ini.

    semoga sisa pemerintahannya akan ada perubahan yg berpihak pada wong cilik dan yg paling kritis sense of crisisnya bisa bunyi.
  13. From Nindy Zeilla F.Z on 08 May 2007 18:52:29 WIB
    MAJU TERUS BOSSSS.....
    Setuju Banget...om wimar adalah sosok yang dibutuhkan Indonesia, Indonesia butuh pemimpin ynag tidak cuma cerdas, berwibawa dan kharismatik tetapi yang lebih penting adalah indonesia butuh pemimpin yang BERANI MENGAMBIL KEPUTUSAN, gak cuma memikirkan dan mendengarkan keluh kesah rakyat, tetapi lebih kepada TINDAKAN NYATA untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi indonesia.

    Dan semua itu ada di OM WIMAR....!!!!
  14. From rully on 17 September 2007 17:55:29 WIB
    setuju.....tapi siapa capresnya? Kalo serius kayaknya perlu buat forum khusus yg ngebahas capresnya WW. Yang jelas itu bukan gawenya Oom WW, hayoooo....siapa yang berani????
  15. From Abdul Hafid Musrah on 17 November 2008 12:04:24 WIB
    Meskipun WW saya hanya kenal lewat media, tetapi sepertinya beliau pribadi yang sangat layak jadi pemimpin, saya sepakat menjadi wapres, kalaupun tidak tolong teruskan agenda-agenda "perubahan", saya dan teman-teman NGO di daerah berjuang terus, jadi tolong para pendekar jangan bertapa terus. para pemimpin dan politisi kita saat ini sudah semakin "gila" semakin hari semakin memuakkan, tidak ada lagi rasa malu berbuat salah.
    Save our nation.

« Home