Articles

Wimar Witoelar Luncurkan Buku Baru

Suara Pembaruan
05 December 1998
JAKARTA - Wimar Witoelar menyelenggarakan hajat, Jumat (4/12) malam, untuk menjelaskan kehebatan "orang-orang biasa" saat ini. Salah satu contoh orang biasa yang jadi sangat luar biasa peranannya, disebutkannya, Koordinator Badan Pekerja Komisi Untuk Orang Hilang Dan Korban Kekerasan (Kontras) Munir.
 
Sebenarnya, hajatan itu merupakan peluncuran buku terbarunya berjudul Menuju Partai Orang Biasa, tetapi dikemasnya dengan penuh humor, dan sarat bermuatan kritik-kritik tajam. Hadir malam itu sejumlah aktivis kampus, selebritis, dan tokoh-tokoh masyarakat dari beragam pergerakan.
 
Di antaranya, pengusaha Arifin Panigoro, ahli hukum Prof Dimyati Hartono, Dr Albert Hasibuan, mantan pemain bulu tangkis Tan Joe Hok, Marsilam Simanjuntak, Ali Sadikin, mantan wartawan Atmakusuma, musisi Adhie MS, sineas Slamet Rahardjo, Garin Nugroho, ahli ekonomi dari UI Sri Mulyani, Ketua Divisi Perburuhan YLBHI Teten Masduki, dan lebih seratusan lagi undangan.
 
Acara tersebut cukup meriah dengan latar panggung besar, lengkap dengan layar televisi lebar yang memancarkan wajah setiap undangan, di samping mewah dengan makanan-makanan ringan yang tidak putus-putusnya. Namun, dari panggung, Wimar mengatakan, "Yang jelas Arifin Panigoro tidak mendanai acara malam ini".
 
Dalam peluncuran buku itu Wimar bertindak sebagai nara sumber, menjadi sasaran pertanyaan seorang moderator. Posisi tersebut beda dengan perannya bila tampil pada acara talk show di televisi swasta, yang selalu bertindak sebagai penanya. Namun komentar-komentarnya cukup bernas, selalu mengundang tawa, dan undangan seakan-akan menyaksikan snopsis dari berbagai kejadian perpolitikan bangsa ini. Misalnya, dia mengatakan, tidak benci sama Presiden Habibie, dan tidak pernah menjelek-jelekkannya. "Cuma, Habibie lucu saja," katanya.
 
Wimar melanjutkan bentuk kelucuan yang baru-baru ini diperlihatkan Habibie. Kepada wartawan, baru-baru ini Habibie mengatakan tidak kaget ketika terjebak macet di jalan raya Jakarta. "Saya tidak pernah kaget. Saya hanya kaget ketika menjabat Presiden," tutur Wimar mengutip Presiden Habibie, sambil mempraktekkan cara ketawa Habibie yang terbahak-bahak.
 
Topik pembicaraan meloncat lagi tentang apa difinisi "orang biasa". Menurut lelaki kribo dengan tumbuh subur itu, dia sendiri sulit mendefinisikannya. Yang jelas jumlahnya banyak, mungkin lebih 90 persen dari penduduk kita.
 
Namun untuk memudahkan mengenalinya, Wimar merumuskan bahwa "orang biasa" dimaksud bukan pengusaha, bukan pengacau, bukan pula Pam Swakarsa. Mungkin juga punya kekuasaan, tapi tidak menindas. Mungkin juga pejuang, tapi tidak eksklusif.
 
Contoh yang konkret tentang itu, dia menunjuk nama Munir. Anak muda yang terkenal gigih mengusut Prabowo dalam kasus penculikan belasan mahasiswa itu, dinilai Wimar sebagai orang biasa yang dalam bekerjanya mampu melintasi garis-garis politik.
 
Koordinator Kontras itu, adalah manusia biasa yang sepak terjangnya luar biasa justru karena integritasnya, dan bahkan menjadi nara sumber inspirasi bagi bangsa ini, kata pemandu acara Selayang Pandang di televisi Indosiar itu.
 
Malam itu, kepada Munir, Wimar menghadiahi "Orang Biasa Award 1998". Dari panggung, Munir menjawab, ini adalah yang keempat kalinya dihadiahi gelar serupa. "Bagi saya, hadiah ini adalah semacam pasak yang diletakan di belakang punggung saya. Jadi merupakan pasak keempatlah. Artinya saya tidak boleh mundur. Memang saya tidak mundur...," kata lelaki bertampang biasa, tapi punya nyali besar itu. Wimar Witoelar mengatakan, dia akan memperjuangkan agar Koordinator Kontras, Munir, bisa dicalonkan mendapat hadiah Magsaysay dari Filipina. (T-8)
 
 

Print article only

5 Comments:

  1. From Miss D..:) on 27 September 2006 10:13:16 WIB
    Sedih kalau mengingat dan melihat sejarah moment ini, terharu.
  2. From Daisy on 28 September 2006 11:18:42 WIB
    WW, Munir, contoh orang biasa dengan pemikiran luar biasa.
    Seandainya Munir masih ada...Sayang pergi terlalu cepat.
  3. From Mansur on 29 September 2006 15:57:44 WIB
    Bung Wimar, Partai Orang Biasa ikut Pemilu 2009 donk. Banyak orang biasa yang sudah muak dengan partai yang ada sekarang ini.
  4. From wimar on 29 September 2006 19:31:19 WIB
    Partai Orang Biasa adalah sambal, nggak sebanding dengan pilihan bakmi kuah, nasi goreng, gado-gado. Sambal harus dimasukkan pada salah satu makanan besar.....
  5. From Vicky on 31 July 2011 21:10:49 WIB
    Thanks for sharing. Always good to find a real epxert.

« Home