Articles

Suciwati tagih janji SBY membongkar pembunuhan Munir

Perspektif Online
06 December 2006
oleh: Daisy Awondatu dan Redaksi PO

Suciwati, istri almarhum Munir, menyatakan ia tidak akan berhenti menagih janji Presiden Yudhoyono untuk membongkar misteri seputar pembunuhan Munir di bulan September 2004. Dengan sedih ia menjelaskan tidak bisa melepaskan kewajibannuya karena Munir adalah milik semua orang. Sampai kapanpun ia akan tetap menagih janji Presiden. Bahkan kalau SBY tidak memenuhinya sampai dia diganti, tuntutan akan diajukan kepada presiden pengganti.
 
Pernyataan Suciwati disambut dengan tepuk simpati oleh pembaca dan hadirin. Tapi Wiwiek Firman, Direktur HAM Deplu (Menteri Luar Negeri Hasan Wirayuda mengundurkan diri pada saat terakhir) mengatakan tidak bisa menanggapi kasus Munir. Ia menyambung dengan uraian resmi mengenai kegiatan Deplu di bidang HAM.   Moderator WW berkomentar: “Kami mengerti kesulitan Ibu menjelaskan sikap pemerintah terhadap tuntutan masyarakat, tapi paling tidak, sampaikanlah tuntutan ini pada Presiden.”
 
posuciwati.JPG powfirman.jpg.JPG
Suciwati Munir dan Wiwiek Firman, Direktur HAM Deplu RI
 
Dua tahun lebih telah berlalu sejak kematian Munir, pejuang terkemuka HAM yang dihormati di banyak negara. Munir memelopori pembongkaran pelanggaran HAM rezim Soeharto antara lain penculikan dan pembunuhan mahasiswa. Dalam rangka 3 tahun Asia Calling (sebuah program radio milik KBR68H yang membahas isu seputar ASEAN) sekaligus memperingati hari HAM Internasional, didakan talk show yang membahas isu HAM. Program Asia Calling di-relay melalui 110 stasion di Indonesia dan disiarkan di beberapa negara yaitu Thailand, Filipina, Cambodia, Timor Leste dan Australia . 
 
Talk Show berjudul ‘Is There A Role for ASEAN in Upholding Human Rights?’ diadakan di Hotel Nikko Jakarta dan disiarkan langsung. Hadir tokoh-tokoh dari berbagai negara untuk berbicara tentang HAM di ASEAN. Di jajaran pembicara ada Suciwati, Wiwiek Firman, Surin Pitsuwan (mantan Menteri Luar Negeri Thailand), dan Carlos Medina (Sekjen kelompok kerja pendirian Mekanisme HAM ASEAN). WW bertindak sebagai moderator.
 
Walaupun diadakan di Jakarta, sebagian hadirin adalah orang asing. Pers asing juga banyak hadir. Bahkan TV Australia menayangkan laporan panjang acara ini oleh koresponden Drew Ambrose dalam siaran berita esok harinya, jauh lebih panjang dari media Indonesia.
 
POtables.JPG
mayoritas asing (sebagian ambil makanan)
 
Melawan Impunity
 
Santoso, pendiri KBR68H, dalam pidato pembukaannya, sangat mengharapkan bahwa acara ini dapat memberikan kontribusi dalam penyelesaian kasus Munir. Kasus Munir ini bukan lagi kasus nasional, tapi sudah merupakan kasus international. Setiap pembicara dalam pembicaraan mereka mengucapkan simpati yang sebesar-besarnya atas kematian Munir dan berharap kasus ini dapat segera terungkap.
 
WW memberikan kesempatan pembicara pertama pada Suciwati. Suci menceritakan usahanya memperjuangkan pengusutan kasus Munir, di mana dia susah sekali mendapatkan hak informasi. Yang pertama, dia tidak mendapatkan Hak informasi dari Garuda Indonesia, kemudian tidak mendapatkan juga dari Deplu mengenai hasil otopsi karena dianggap menyangkut masalah politik, dan yang terakhir ini dia juga tidak mendapatkan hak informasi atas salinan putusan MA. Padahal, bagi Suciwati setiap orang, apalagi dirinya, berhak untuk menanyakan kasus ini. Dia juga mempertanyakan komitmen Presiden SBY yang tidak mempublikasikan hasil temuan TPF. Bahkan ketika Hendropriyono melecehkan SBY, tidak ada tindakan apapun yang dilakukan oleh SBY. Suciwati yakin bahwa di Indonesia masih ada kelompok yang berjalan dengan impunity, tidak bisa disentuh oleh Hukum walaupun mereka ini terlibat dalam kasus-kasus pelanggaran HAM berat. Suciwati menutup dengan harapan akan ada perlindungan untuk para aktivis HAM.
 
Wiwiek Firman, yang hadir menggantikan Menlu Hasan Wirayuda, mendapat kesempatan sebagai pembicara kedua. WW sempat menanyakan opini Wiwiek mengenai kasus Munir sebagaimana telah dijelaskan oleh Suciwati, namun Wiwiek menolak dengan alasan dia diminta untuk berbicara mengenai peran ASEAN dalam menegakkan HAM’. Dalam penjelasannya Wiwiek menjelaskan bahwa ASEAN dibangun atas dasar political cooperation. Saat ini ASEAN sedang membangun yang namanya ASEAN Community, salah satu sector yang dibangun adalah Hukum. Dalam Hukum, masalah HAM sangat diperhatikan. ASEAN memang belum pernah punya agenda untuk membahas masalah HAM secara khusus, tapi dalam prakteknya sudah banyak isu-isu HAM yang ditangani. WW menyatakan bersimpati dengan kesulitan Wiwik sebagai diplomat untuk memberikan keterangan secara jelas, sehingga susah dimengerti.
 
Flexible Engagement Untuk Penegakan HAM di ASEAN

Surin Pitsuwan, Mantan Menlu Thailand dan anggota parlemen penentang Thaksin Shinawatr, menatakan Suciwati adalah seorang Widow of Human Rights yang menjadi sumber inspirasi HAM di masing-masing Negara. Tapi susah untuk membantu perjuangan HAM dinegara lain. Pembangunan di ASEAN seperti juga pembangunan masing-masin negaranya berdasar pada konsep “Strong Nation” yang  sangat bagus untuk berbagai bidang, namun menekan pembelaan HAM diantara sesama negara. Bahkan ada anggapan bahwa bantuan dari negara lain yang ingin membantu dianggap intervensi.  Karena itu Thailand pernah mengembangkan konsep ‘Flexible Engagement’ dengan harapan sesama negara ASEAN bisa melibatkan diri dengan negara lain dalam isu-isu tertentu. Hal ini memungkinkan adanya keterbukaan antar negara untuk mendiskusikan permasalahan negaranya dengan anggota ASEAN lain. Surin juga menjelaskan pentingnya peranan LSM untuk menegakkan HAM di masing-masing negara.
 
posurinsuci.JPG pomedinaww.JPG
Surin Pitsuwan dengan Suciwati, Carlos Medina dengan WW
 
Carlos Medina yang juga adalah Secretary-General of the Working Group for an ASEAN Human Rights Mechanism, menjelaskan bahwa kendala penegakan HAM di ASEAN dikarenakan tidak adanya mekanisme. Sudah lama sekali diusulkan pada ASEAN, sejak tahun 1990-an, untuk membuat mekanisme ini, tapi tidak pernah dilaksanakan. Baru tahun 2004 ASEAN menaggapi masukan ini dengan serius, dan tahun 2005 ASEAN baru bertindak. Carlos mengatakan.’ ASEAN bagus sekali dalam membuat deklarasi, namun mereka harus di-push untuk merealisasikan apa yang ada dalam deklarasi itu.’
 
Sewaktu sesi tanya jawab, selain ada pertanyaan dari audience, ada juga pertanyaan dari pendengar radio KBR68H. Di sesi tanya jawab ini WW tidak tahan untuk tidak bertanya pada Suciwati, ‘Anda telah berjuang untuk keadilan Munir selama ini, apa ada hasilnya, dan apa yang akan anda lakukan ke depan?’. Suciwati menjawab dengan suara bergetar, ‘Saya anggap ini adalah hutang sejarah. Dan saya tetap punya harapan. Akan tetapi itu kembali lagi pada kemauan aparat untuk menuntaskan. Siapapun akan diperlakukan sama kalau kasus Munir ini tidak dibongkar’.
 
Seorang penanya, Borgias dari Flores lewat SMS menanyakan apakah kasus Munir ini adalah kriminal atau tidak, dan dimana kesungguhan pemerintah untuk mengusut. Wiwiek menjawab bahwa pemerintah sangat menentang impunity, karena itu mendukung pengusutan kasus Munir. Januari Deplu telah mengundang Pelapor Khusus PBB untuk Human Rights. Ini membuktikan bahwa pemerintah juga terbuka dengan input dari pihak lain. Desember ini pemerintah juga mengundang pelapor khusus untuk hak-hak pekerja migrant, itu artinya pemerintah peduli mengenai hak-hak pekerja migrant.
 
Surin Pitsuwan menjelaskan bahwa tiap Negara memiliki isu HAM yang berbeda-beda. Misalnya untuk masalah pekerja migrant, dimiliki Indonesia dan Filipina, masalah trafficking banyak di Thailand. Maing-masing problem itu bisa mengganggu kesatuan ASEAN dan juga harus mendapat dukungan dari Negara ASEAN lain untuk penyelesaiannya. Jadi perlu ada komitmen untuk melaksanakan Flexible Engagement dalam menyelesaikan permasalahan HAM di ASEAN.

Print article only

11 Comments:

  1. From Ricardo Yusuf on 07 December 2006 08:00:42 WIB
    Saya ikut simpati pada Ibu Suciwati Munir. Tapi saya tidak yakin kasus ini bisa selesai sampe 2009. Sampe sekarang masih jalan ditempat. Luar biasa, kasus yang sebenarnya bisa dibongkar secara sederhana (kalo diliat dengan kepala jernih), tapi dibuat kusut sampe tidak tau mana pangkal dan ujungnya. Supaya menarik, jika perlu dibuat sayembara aja: Wanted Pembunuh Munir. Disediakan tiket jadi Wapres untuk yang berhasil membongkar kasus Munir. Mungkin bisa melicinkan jalan WW untuk jadi Wapres 2009.
  2. From Ramli Sihaloho on 07 December 2006 08:07:14 WIB

    KEBENARAN.....OTENTITAS lebih penting daripada KEADILAN. maju terus neng Susi, dapatkan kebenaran dan hakmu. SELAMAT BERJUANG DAN semoga akan makin banyak lahir susi2 yang lain sehingga paradigma berfikir anak bangsa ini dapat semakin membaik.
  3. From C Kartasasmita on 07 December 2006 08:08:18 WIB
    Aku pesimis euy, kalu dalang pembunuh Bung Munir akan ketangkep. Soalnya apa Anda ada nyali mo nangkep mantan atasan atau senior Anda? Emang segala macam workshop/forum menunjang agar kasus ini gak di peti-es kan. Tapi bottomlinenya seperti yang pernah ditulis oleh Sosiolog kondang Julia Suryakusuma: "Bukti ada ditangan penguasa." Jadi yg item bisa jadi putih dan sebaliknya. Terus terang, Ibu Wiwiek itu ada gak hati nuraninya ya. Emang bener pendapat beliau harus seirama dgn bosnya, Bung Hasan. Kalu gak bisa berkoar menyuarakan suara sponsor,terang kursi empuk beliau akan diberikan kepada calon2 lain. Tapi mereka yg di Deplu itu sebenarnya hidupnya yang wah itu dari pajak rakyat. Sebagai wanita seharusnya beliau berempati kepada sesama yg suaminya dihilangkan secara paksa dgn seenaknya, mentang2 mereka yg pegang bedil dan bisa beli arsen.
    Aku rasa kasus Munir nasibnya akan sama dgn kasus tragedi Mei 98. Para dalang bergembira ria dengan 'master piece' nya, menyebar maut tanpa bisa ditangkap. Lumayanlah hidup didunia, daripada gak punya prestasi apa2, nanti di neraka bisa sesumbar: "Gue udah pernah bunuh seribu orang, tapi gak pernah ketangkep. Negor gue aja mereka gak berani kok!" Ya, kita harus bangga dong, negara dengan penduduk 240 juta bisa menghasilkan pembunuh2 yang bikin negara lainnya iri! Waduh! Ini prestasi yang patut dicatat di Guinness Book Of Record juga kan? Sedih juga lho kalu AMN hanya menghasilkan jendral2 yang jempolan dalam menghilangkan nyawa saudara2 sebangsa dan setanah air!
  4. From nadine on 07 December 2006 13:48:30 WIB
    Kasus Munir mungkin [ tidak akan ]terungkap. karena banyak kasus kasus yang lain yang bernasib sama dengan kasus Munir.
    Apakah sedemikian hebat Pelaku pelaku pembunuhnya???

  5. From Nanda on 08 December 2006 11:39:38 WIB
    Ketidak mampuan kita menangkap dalang pembunuh Munir menunjukkan bahwa mantan tentara pelindung Soeharto masih berkuasa. Reformasi cuma teriakan kosong melompong sebab para petinggi negeri ini masih melindungi penjahat2 politik Orba. Infra struktur sistim korup yang dibangun Soeharto nyata2 dahsyat sekali, mampu melindungi Soeharto dan pembunuh2 politik nya walaupun mereka sudah tidak memegang jabatan formil. Kalau saja dulu itu revolusi, bukan reformasi maka mungkin ceritanya bisa lain.
  6. From Wid on 08 December 2006 14:58:27 WIB
    Walaupun saat ini pesimis terungkapnya kasus Munir, tapi saya yakin kebenaran perlahan akan muncul kepermukaan.

    Perjuangan Ibu Suciwati adalah perjuangan membela rakyat, tanpa perjuangannya mungkin banyak Munir2 lainnya yang akan menjadi korban
  7. From Wiku on 09 December 2006 08:46:37 WIB
    Kalau Munir memang benar dalam perjuangannya, maka yang diatas akan mengganjarnya dengan pahala yang berlipat ganda, demikian pula jika perjuangannya di sponsori oleh pihak2x tertentu, maka tidak ada ganjaran apa2x di alam sana.

    Percaya deh, Tuhan itu hakim yang mahaadil.

    Kita fikirkan yang masih hidup aja deh. Gimana misalnya membantu keluarga yang ditinggalkan.
  8. From Ramli Sihaloho on 10 December 2006 06:06:54 WIB

    sound looks good to me and great idea Mr.Wiku, tetapi kita ini masih ada didunia lho...... , siapa tau terlupakan. if you want to help her with your way, jus do it brother ( by example ) . people will follow then including my self. same background and same tempat cari makan, should be ok.
  9. From julius on 16 April 2007 21:53:59 WIB
    sebenarnya,yg kita butuhkan adalah ketegasan.bnyk kks yg sma tdk trungkp.krn apa?krn ada sst hl yng berbau politis di dlmnya,terkait dngan pihak trtentu yg punya jaringan yg kuat.bkn ssthl yg tdk mngkin bhwa ada kaitnnya dgn para penguasa demi mencapai maksud trtentu,shg hl tsb ditutupi.yh,taulah model pemimpin skrg.luarnya mantap,dlmnya busuk.slma kriteria spt ini tdk dipunahkan,kks itu tdk akn terungkap.
  10. From PEMBELA-PAHLAWAN on 30 August 2007 23:14:52 WIB
    sungguh kejam para petinggi kita!takut kan kelihatan Aibnya mereka halalkan cara untuk mengatasinya,termasuk menganggap nyawa dengan sesuatau yang murah!dibunuhlah aktivis kita ABANG MUNIR semoga Alloh SWT memberikan kebahagiaan pada almarhum.siapa pembunuhnya? itu hal yang sangat pesimis untuk bisa terungkap..Semoga Ibu Suciwati diberikan ketegaran dalam hidupnya!
  11. From AVATAR on 02 October 2007 05:24:09 WIB
    SAYA TURUT SIMPATI ATAS PERJUANGAN BANG MUNIR KITA HARUS SELALU BERSATU MELAWAN IMPUNITAS MILITER. KUNCI PENYELESAIAN MASALAH INI TIDAK ADA CARA LAIN KECUALI "DARK JUSTICE" KITA HANCURKAN PETINGGI TNI DAN SOEHARTO YANG TELAH MERUSAK NEGARA INI SECARA SISTEMIK

« Home