Articles

Tak muncul di 'Gubernur Kita', apa layak dipilih?

Perspektif Online
07 December 2006

Hayat Mansur: Banyak Poligami Diantara Bakal Calon dan Partai

 

Para petinggi dari enam Parpol di acara Gubernur Kita, Jak TV, mengungkapkan bakal calon gubernur yang telah melamar ke partai mereka. Siapa saja mereka?

 

Seperti biasa acara Gubernur Kita dibuka dengan hangat oleh Co Host Wenaldi (Iwel) dan Fenny Rose. Saat memperkenalkan para petinggi Parpol, Iwel mengingatkan bahwa Parpol merupakan kepanjangan dari partai politik, bukan partai poligami. Tawa pun meledak. Kemudian Iwel mengumumkan bahwa Wimar Witoelar, panelis, tidak setuju poligami. Ini langsung ditegaskan Wimar.

 

1parpol.JPG

pimpinan partai siap naik panggung

 

 

Kebanyakan bakal calon yang diumumkan pada malam ini berpoligami partai. Siapa saja mereka? Pada episode ke-10 Gubernur Kita ini, para petinggi parpol yang hadir sebagai nara sumber adalah Agung Iman Sumanto (ketua DPD PDIP), Andi Azhar (ketua DPW PAN), Constant Ponggawa (ketua DPW PDS), Berlin Hutajulu (ketua DPW Partai Demokrat), Ridho Kamaludin (sekretaris DPW PPP).

 

Kendati Iwel telah mengingatkan Parpol bukan partai poligami, ternyata banyak yang melamar ke beberapa partai. Ini daftar nama mereka berdasarkan urutan abjad.

 

PDIP

Balon Gubernur: Agum Gumelar, Bibit Waluyo, Edi Waluyo, Faisal Basri, Fauzi Bowo, Sarwono Kusumaatmadja

 

Balon Wakil Gubernur: Audi Tambunan, Djasri Marin, Edi Kusuma, Mariyun Pangaribuan,  Prabowo Sudirman, Slamet Kirbiantoro, Syahrial.

 

PDS

Balon Gubernur: Agum Gumelar, Bibit Waluyo, Faisal Basri, Fauzi Bowo.

 

Partai Demokrat

Balon Gubernur: Abdul Razak Thamrin, Agum Gumelar, Fauzi Bowo, Sarwono Kusumaatmadja

 

PAN

Balon Gubernur: Agum Gumelar, Faisal Basri, Fauzi Bowo, Sarwono Kusumaatmadja

 

Balon Wakil Gubernur: Asril Tanjung, Asfad Gafur, Didiek J. Rachbini, Djasri Marin, Machfud Jaelani, Prabowo Sudirman.

 

PPP

Balon Gubernur: Agum Gumelar, Bibit Waluyo, Fauzi Bowo

 

Balon Wakil Gubernur: Achmad Suaedy, Asril Tanjung, Biem Triani Benyamin, Djasri Marin,  Prabowo Sudirman.

 

Setelah mengetahui banyak Balon gubernur dan wakil gubernur melamar ke beberapa partai, Wimar langsung menanyakan kemungkinan berkoalisi dari partai-partai tersebut.

 

Agung Iman Sumanto (PDIP) menyatakan kemungkinan tersebut ada. Andi Azhar menambahkan, bahwa partai yang hadir di acara Gubernur Kita malam ini yaitu PAN, PDIP, Demokrat, PDS, PPP, dan ditambah PKB yang kebetulan tidak hadir telah membentuk “Koalisi Jakarta”. Koalisi ini akan bertambah dengan PBR. Sedangkan PKS tidak ikut koalisi, dan juga belum pernah datang ke acara 'Gubernur Kita'.

 

Selain banyak Balon yang melamar ke beberapa partai, ketidak adaan perempuan yang menjadi Balon gubernur dan wakil gubernur juga sempat menjadi sorotan. Ketika itu ditanyakan Fenny Rose, dijawab oleh para petinggi partai bahwa itu karena tidak ada yang melamar ke partai mereka. Tapi menurut Fenny, Parpol seharusnya yang melamar mereka. Jangan khawatir, kata parpol, kesempatan untuk perempuan menjadi Balon masih tetap terbuka karena partai-partai masih membuka pendaftaran.

 

Sebenarnya terlepas dari jenis kelaminnya, yang terpenting adalah semua Balon dikenal dan diketahui jejak rekamnya oleh masyarakat Jakarta. Wimar mengingatkan itu dalam penutup acara, “Semua setuju bahwa rakyat harus memilih gubernurnya. Jadi jangan sampai ada gubernur terpilih yang tidak dikenal rakyat. Jangan sampai masuk dari lobby partai. Ini berarti calon gubernur harus memperkenalkan diri  ....  di acara Gubernur Kita.”

 

 

 02eg_fr.JPG

Effendi Ghazali dan Fenn Rose, bukan calon gubernur

 

  

Riaas Rasyid mengumumkan hasil penting dari Pansus DPR: Calon Gubernur harus mendapat lebih dari 50% suara untuk memenangkan Pilkada. Jika tidak ada, maka dilakukan pemilihan ulang antara dua pemenang teratas. Bisa dikatakan, cari ini akan membuat pemilihan menjadi aman.

 

03mhs.JPG

mana yg suka buka PO? kirim comment donk

 

 

Maro Alnesputra: Kumpulan celetukan menghindari ngantuk

 

WW: Katanya ada masih 2 calon lagi dari PDI selain Faisal Basri, Sarwono Kusumaatmadja, Bibit Waluyo dan EdiWaluyo, yaitu Fauzi Bowo dan Agum Gumelar dari PDIP, tapi kok ga pernah muncul-muncul

 

Agung Imam (DPP PDIP Jakarta) :  Kebetulan Agum Gumelar pergi dengan rombongan Presiden ke Korea dan Qatar sementara Fauzi Bowo baru ke Jerman untuk menerima gelar yang saya sendiri kurang tahu dapat dari mana.

 

WW: Agum Gumelar bukannya ke Asian Games di Doha? Terus siapa yang ke Korea? Mereka gak ikut pemilihan Gubernur? Kalau gak muncul di acara ini sebaiknya jangan dipilih ! Habis ga dikenal kan?

 

Effendi Ghazali: Pak Wimar itu seperti Agen perjalanan ya, hafal semuanya.

 

Constant Ponggawa (PDS) : Gubernur berikutnya harus menyadari bahwa  Jakarta merupakan Indonesia kecil yang berdasarkan Pancasila, UUD 45, dan Jakarta adalah bagian dari NKRI

 

WW: Wah itu mah banyak yang ngerti pak !

 

Berlin Hutajulu (Partai Demokrat) : Ada 4 nama yang telah melakukan sosialisasi untuk dicalonkan oleh Partai Demokrat untuk tahap I yaitu Sarwono Kusumaatmadja, Agum Gumelar, Fauzi Bowo , dan Dr. Razak

 

WW: Itu-itu lagi juga namanya yach,  tapi harusnya berani muncul dong ya di acara ini.

 

Andi Anzhar (PAN):  Kami telah melakukan Koalisi Jakarta bersama partai-partai lain . Dan calon-calon dari PAN adalah sebagai berikut: Sarwono, Agum Gumelar, Fauzi Bowo, dan Faisal Basri.

 

Effendi Ghazali: Masih nama-nama tersebut juga ya yang mencalonkan diri,   sama seperti Pak Wimar yang katanya dari polypartai. Bagaimana kalau bakal calon Wagub nggak ada ang memilih sebagai calon?

 

WW: hehehe tapi gapapa donk, kayak saya mencalonkan diri jadi Wapres, tapi kalau ga kepilih ya itu nasib hahaha.

 

Kalau Benetton membuat kampanye 'the United Colours of BENETTON', mungkin mereka dapat bergabung untuk membuat kampanye The UNITED NAMES OF BALON ! 

 

Sahabat saya yang  tau bahwa saya lembur meliput acara Gubernur Kita malam ini secara mengagetkan mengirimkan sms kepada saya :

 

"Aneh bgt sih mar, ambisi ternyata  maksa para BALON untuk ngobralin dirinya buat mengirimkan lamaran pekerjaan sebagai "calon gubernur DKI", ke banyak Perusahaan OutSourcing (sebutan lain untuk PARTAI). Kalau AA Gym aja bisa rame diprotes karena dianggap kalah oleh napsu , kenapa  yah balon-balon ini ga diprotes juga karena napsu akan kekuasaan ? Idealisme mereka bukan dari diri sendiri tp disesuaikan dengan platform partai ! Prinsip be yourself jelas ga berlaku disini karena visi dan misinya semua disesuaikan tergantung partainya !"

 

Hehehehe… yah mungkin daripada sibuk mengkomentari poligami lebih baik warga Jakarta mengkomentari prinsip polipartai ini.  Setuju atau ga setuju  sama prinsip BALON yang polipartai? Beri tanggapan anda disini.


 

Print article only

15 Comments:

  1. From Ramli Sihaloho on 08 December 2006 07:55:54 WIB

    hampir semua partai mengusung nama Agum Gumilar. ada apa ya dibalik semua ini ! semoga rakyat/warga nanti akan dapat memilah milah jagonya.

    sementara Sarwono kandidat yg sangat potensil hanya diusung oleh PDIP dan PAN. yg jadi pertanyaan, andaikan Bung Sarwono dapat terpilih, mau kah beliau melakoninya dengan committ !!!
  2. From Franova Herdiyanto on 08 December 2006 09:52:02 WIB
    Saya yang suka buka PO pak...*Sambil mengacungkan jari*
    Saya di baris kedua, kedua dari kanan....hehehe...salam kenal ya pak....

    Kembali ke laptop...
    Masalah PoliPartai, saya sendiri kaget ketika BALON-BALON yang dilemparkan oleh masing-masing partai sama, yaitu terdiri dari Agum Gumelar, Fauzi Bowo, dan Bibit Waluyo.
    Sama seperti isi sms teman pak ww, saya juga menyayangkan terjadinya hal ini...
    Demi kekuasaan, semua partai dilamar....Apakah orang-orang seperti ini punya idealisme?
    Nasionalis dicaplok, yang agamis juga diembat,,,,mungkin menurut mereka,"Ah yang penting gw menang dulu, masalah idealisme bisa dipikir belakangan".

    Ada satu hal lagi yang aneh, dari Partai Demokrat, tadi malam PD menyatakan Ketua partai mereka mendaftarkan diri jadi CAWAGUB di PAN,, weleh-weleh-weleh....ini kan aneh....
    Terlihat jelas borok besarnya parpol=parpol kita.....Selalu memikirkan kemenangan daripada idealisme.....

    Jadi menurut saya,, konsep polipartai seperti ini tidaklah baik bagi percaturan politik di negri kita ini, kalau memang begitu...semua partai bergabung menjadi satu, ya gak usah pake PILKADA-PILKADAan segala,, toh calon-nya cuma satu....

    satu lagi mengenai masalah partai yang tidak pernah datang,, saya juga sangat menyayangkan hal ini bisa terjadi,, kalo dateng kan, acara jadi tambah seru.. Lima lawan satu,,selanjutnya trus berubah jadi tujuh lawan satu..
    Koalisi Jakarta(PAN,PD,PDS,PDIP,PPP,PKB,PBR) lawan PKS LAWAN Koalisi orang biasa.... hehehe

    Btw,,,tadi malem acaranya sangat menggelitik pak,,kalo nggak ngomongin msalah Poligami pasti ngomongin masalah orang yang nggak pernah muncul yang sekarang sering pergi-pergi.....

    OIA tadi malem kurang GOLKAR ya....
    Sempet denger dari pak WW,,, orang golkar lagi rapat dewan kehormatan, lagi bahas anggotanya yang tidak terhormat...:) Dasar YZ



  3. From Teguh Supriyatno on 08 December 2006 10:19:29 WIB
    1. Mengamati Balon Gubernur DKI Jakarta yang akan diusung partai-partai, tidak ada satu pun yang merupakan kader-kader dari partainya sendiri, bahkan tokoh-tokoh non partai. Katanya keberhasilan demokrasi tergantung dari baiknya partai. Lalu di partai juga ada sistem pengkaderan (Fungsinya apa?). Apakah kader-kader partai kurang capabel atau bargaining balon (do it-nya) tinggi.
  4. From mansur on 08 December 2006 10:39:05 WIB
    Untung ketentuan cuma membolehkan Calon Gubernur (Cagub)hanya memiliki satu calon wakil gubernur (Cawagub). Kalau tidak, akan terjadi Cagub berpoligami Cawagub. Apalagi semalam dinyatakan bahwa Cagub terpilih mempunyai hak khusus untuk memilih Cawagub.
  5. From wid on 08 December 2006 11:43:29 WIB
    Wah ….. Agum Gumelar dan Fauzi Bowo disebut2 melulu hampir di semua partai yang hadir semalam (PDIP, PPP, PAN, PDS, PD) .
    orangnya yang mana yah ??
    anggota BAGITO tea bukan ??
    eeeh ... itu mah Dedi Gumelar yah .... 
  6. From Daisy on 08 December 2006 14:53:14 WIB
    "Tak Muncul di Gubernur Kita, Apa layak dipilih?"

    Saya rasa kita semua tahu jawabannya... Kalo balon tidak mengenalkan dirinya apda rakyat, dan dia kepilih, wah tanya tanya besar tuh. Dan yang pasti, balon bukan hanya harus berani tampil di Gubernur Kita, tapi juga harus 'berisi' dong, isinya juga jangan hanya omong kosong, tapi harus benar-benar mampu diwujudkan. Jadi, biar ngga kaya balon beneran yang isinya cuma udara doang. hehehe
  7. From Ramli Sihaloho on 08 December 2006 20:46:32 WIB
    pada akhirnya kita harus realistis dengan peta perpolitikan di negeri ini, kedewasaan dan kemandirian berpolitik itu masih sangat jauh dan tampaknya perlu beberapa generasi kedepan untuk bisa lebih maju dan lebih elegan, itupun kalau disana ada willnya serta ada keberanian untuk merubah atmosphere. sangat jelas tampak bahwasanya orang tergoda masuk panggung politik bukan karena punya kapasitas disitu dan ingin menikmati/melakoni dinamika perpolitikannya. tujuannya adalah karena lahan ini sangat menjanjikan untuk dapat kekuasaan….doku …popularitas dllsb yg sifatnya komersil dengan menghalalkan segala cara dan phenomena seperti ini semakin subur karena system yang sangat menunjang. proses filtering tidak berlaku, yg ada adalah konspirasi dan short cut sehingga tidak heran kalau pada akhirnya figur2 yg muncul dipanggung bisa dari kelas comberan….preman dan sejenisnya.

    dengan kondisi dan situasi yg demikian, orang2 yg bagus/professional akan cenderung minggir ataupun terpinggirkan. melawan arus adalah mustahil dan sudah pasti tidak akan menghasilkan , yg bisa dilakukan adalah ikut arus, menepi atau minggir sekalian. dentuman gong reformasi beberapa tahun terakhir ini yaitu sejak lepas dari rezim suharto atau orde baru praktis belum punya impact yg significant merubah peta perpolitikan di negeri ini kearah yg lebih kondusif. jadi tidak heranlah kalau cuacanya semakin tidak karu karuan.

    sorry kalau komentar ini sedikit out of the box but it's still connect with the context.
  8. From ancilla on 09 December 2006 23:14:52 WIB
    HeHeHe...
    Kalau menyempatkan waktu untuk mengenalkan diri, apa bersedia untuk menyediakan waktu untuk mengenal warganya? :)

    Hmph... Mungkin ga ya, memang hanya itu-itu juga orang yang peduli ama Jakarta?
    Tapi mungkin juga, bukan karena uda cuek bebek tak mau tahu-menahu, tapi karena uda puyenk mikirin keadaannya... :p

  9. From Pak Komen on 10 December 2006 10:39:35 WIB
    Nama2 balon yang itu2 saja apakah menunjukan hanya mereka2 saja yang mampu memberikan kontribusi (red:uang & sedikit tenaga) ke parpol2 besar? jika uang yang mereka gunakan hasil dari kantong sendiri mungkin tidak masalah, namun kalau uangnya dari uang rakyat kemudian diputar lagi wahaha itu yang jadi masalah, tapi ya itulah kondisinya, cerita lama yang selalu terjadi.

    btw ada satu nama calon yang benar2 mempertaruhkan namanya, mulai dari beberapa kali (mungkin punya rekor paling banyak)masuk bursa Cawapres, hingga ikut pemilu (kalo ini bener2 niat mencalonkan diri) sbg cawapres dan kalah, dan kali ini masih coba2 masuk bursa Balongub Jkt (terdengar loser ya?) dan kali ini berusaha mengambil hati masyarakat Jakarta dengan sejuta cara wahaha..kalau urusan publikasi sudah tidak perlu diragukan lagi (3 TV swasta, beberapa koran dan radio nasional siap dikerahkan, selain itu dengan jabatan ketua Komite Olahraga apakah masih kurang publikasi?? memang semuanya kembali lagi ke masalah strategi politik, peluru dan senapannya sudah ada sekarang tinggal cari pasukannya saja (nyambung gak sih :p)

    Untuk parpol sendiri pasti akan memilih calon yang memiliki amunisi paling lengkap, urusan dukungan tinggal dikerahkan nantinya dengan berbagai cara. sedangkan utk balongub yang memiliki uang pas2an mendekati hari H pasti akan berguguran sau persatu dan sisanya hanya nama2 BESAR saja, nah sekarang sudah terlihat siapa yang akan memimpin Jakarta nantinya bukan?? mau otaknya berisi atau tidak, mau mereka muncul di "gubernur kita" atau tidak itu juga bukan masalah, lha wong punya 3 tv swasta nasional, ngapain capek2 nongol di tv lokal jakarta?



    cheers!
  10. From Pak Komen on 11 December 2006 15:22:35 WIB
    Pak WW Komen dong
  11. From adi on 11 December 2006 20:22:20 WIB
    saya sepakat-sepakat saja dengan polipartai, di indonesia.. pembenaran dari polipartai... "sunah presiden".. :)
  12. From Satya on 14 December 2006 12:53:42 WIB
    kalau semua partai berkoalisi berarti mereka tidak percaya pilihan langsung warga dan milih menentukan sendiri. sederhana.

    siap2 aja pilihannya tinggal dikit dan jelek semua. semoga tidak.
  13. From beni on 26 December 2006 20:11:57 WIB
    Perlu kiranya membedakan, mana yang "melamar" ke banyak partai dan mana yang sekadar "mengenalkan" diri. Seturut pemantauan saya, faisal basri hanya melamar secara resmi ke PDI Perjuangan. Namun, memang benar, dia juga sowan ke PAN dan PDS dan juga Gus Dur. kata dia, dukungan dari partai-partai lain ibaratnya "rombongan pengantar" penganten. semakin panjang, semakin bisa meyakinkan yang dilamar. Jadi, berbeda dengan fauzi bowo, misalnya. kalo bakal calon gubernur tahun 2002 sebelum akhirnya merapat ke sutiyoso sebagai wakil ini tak dipilih sama PDI Perjuangan, dia nggak terlalu masalah karena masih lima partai yang siap dia lamar. kalo dalam bisnis, dia menyebar resiko ke banyak keranjang..

    Ikhwal tak mau nongol di acara "gubernur kita", ini kan penyakit standar para birokrasi masa lalu. (kalau acaranya "nggak bisa atur", dia pasti ogah. takut dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan...). Jadi, di satu sisi saya bersyukur mereka nggak nongol, itu tandanya acara ini masih WW sekali.

  14. From IKA APRIANI FATA on 07 January 2007 09:49:27 WIB
    HI GUYS,
    HOW ARE YOUR LIFE THEN ?

    TENTANG : GIMANA YA CALON GUB. YANG GA NONGOL DI GUBERNUR KITA?
    I DON'T GET ANY IDEA, ADA SARANA DAN FASILITAS KOK GAK DI MANFAATAKAN....
    BE UP DATE, CREATE SOMETHING N BE EXITED CANDIDATE!!
    TO WIMAR I LOVE TO HEAR ALL THE COMMENTS AS ONE OF YOUR BIGGEST FANS EVER.
    TO "MR. EFENDDI BE ON THIS WAY., I LOVE YOUR STYLE IN SPEAKING IN EVERYTHING
    DEAR
    IKA
  15. From fajar wisga on 10 July 2007 14:19:26 WIB
    "Berbaur tapi tidak lebur"

    Itu semacam prinsip yang mungkin sudah diketahui semua orang Indonesia. Tapi mungkin tafsirannya dapat berbeda.
    Menurut saya, yang terjadi sekarang adalah hal yang benar2 aneh. Kita bikin organisasi/ perkumpulan/partai kan tujuannya mengumpulkan orang2 seide dan sepemikiran. Kalau semuanya satu pikiran mending gak usah ada partai dan semacamnya, buang2 waktu, biaya, tenaga. Lagian kondisi sekarang (berkoalisi) mencerminkan kalau perpolitikan indonesia itu terkesan pengecut dan primitif, cuma ada kesan yang penting menang dengan suara mayoritas. Sebenarnya tujuan koalisi apa sih??? Saya masih yakin, tiap2 partai pasti punya visi & kepentingan berbeda. Nah kalau memang berbeda, untuk apa lagi koalisi ? Ntar koalisinya yang pecah, banyak efek buruknya. Saya juga heran, kenapa Pak Agum Gumelar, Fauzi Bowo dan Pak Bibit yang rata-rata menjadi balon2. Bisa ada 2 arti. Pertama, mereka benar2 orang-orang yang hebat sehingga dirasa tidak ada orang yang lebih layak lagi dicalonkan. Kedua, mereka benar2 orang-orang yang paling mudah dijadikan objek kepentingan berbagai pihak atau dengan kata lain, mereka hanya alat yang paling mumpuni dalam mencapai kepentingan kelak setelah mereka duduk. Jadi yang terjadi sekarang adalah berbaUR tapi lebur. Lebur dalam kepentingan, lebur dalam kekuasaan. Kalau memang gentle, buktikan kalau kita benar-benar mampu dengan usaha sendiri, sportif dan berakseptabilitas

« Home