Articles

Munir Jadi Orang Luar Biasa

Merdeka
05 December 1998
Jakarta, Sabtu, Merdeka
 
Pemandu acara talk show kondang Wimar Witoelar ikut-ikutan latah mendirikan "partai". Penggagas acara Perspektif itu mendirikan Partai Orang Biasa. Tapi jangan salah tanggap, sebab ini bukanlah partai sungguhan. Soalnya partai yang dimiliki pria berambut kribo ini tak beranggota, tak ikut kampanye juga Pemilu, malah tak akan pernah terdaftar di Depdagri. Mengapa? Sebab itu hanya judul buku "Menuju Partai Orang Biasa" yang diluncurkan tadi malam di Jakarta. Buku setebal 278 halaman itu merupakan kumpulan artikelnya di Harian Kompas dan diterbitkan Gramedia bekerjasama dengan PT InterMatrix Bina Indonesia.
 
"Orang biasa adalah: tidak heroik seperti Pam Swakarsa, bukan pahlawan pembangunan dan malas disebut tokoh reformasi," ujar Wimar kepada undangan yang hadir menjelaskan apa yang dimaksud dengan orang biasa. Tampak hadir dalam acara peluncuran buku itu Ali Sadikin, Sri Mulyani, Marsilam Simanjuntak, Garin Nugroho, Eros Djarot, Salmet Rahardjo. Turut hadir para selebritis sperti Dewi Gita, Nita Tilana dan "si seksi" Reza Artamevia Andriana Eka Suci.
 
Namun yang tidak biasa pada acara yang dikemas secara menarik itu justru pemberian "Orang Biasa Award" yang dianugerahkan kepada Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Munir. Menurut Wimar, Munir adalah orang biasa yang menjadi "luar biasa".
 
"Secara tulus kami nyatakan dia adalah tokoh luar biasa yang menjadi orang luar biasa 97/98. Munir adalah orang yang dihargai tanpa reserve. Kita tak ragukan lagi integritasnya, menghasilkan hal yang kongkrit, memberikan inspirasi kepada banyak orang dan tetap bekerja keras," papar Wimar menyebutkan alasan pemberian "Orang Bias Award" itu kepada Munir. Munir yang menerima hadiah berupa seperangkat barang-barang khas Perspektif itu menyatakan terima kasihnya atas penghargaan keempat kali yang diterimanya tahun ini.
 
"Tapi saya sadar, dengan penghargaan ini menambah pasak di belakang saya untuk tidak bolehmundur lagi dan makin mencegah saya untuk melompat ke belakang. Saya berterima kasih sekali atas penghargaan ini," ujar Munir sambil tersenyum.
 
Ketika ditanya Merdeka apa perasaannya menerima penghargaan itu., sambil berseloroh Munri menjawab, "Perasaan saya sih biasa saja, bukankah ini adalah orang biasa award..."
 
Tapi apa yang dimaksud Wimar sebagai "Orang Biasa" itu? Menurut dia, adalah orang yang menangisi nasib negara, apalagi kalau penguasa melawak terus. Ingin hidup sebagaimana dia pikirkan dan rasakan, bukan sebagaimana diharuskan.
 
Kalau Presiden Habibie bagaimana? "Habibie itu jelas bukan orang biasa, karena dia sudah orangnya Soeharto," seloroh Wimar. (YUG)
 
 

Print article only

4 Comments:

  1. From lena on 27 September 2006 14:05:34 WIB
    Tepat rasanya kalau Munir mendapat Award Orang Bisa dengan kerendahan hatinya dan keberaniaanya yang luar biasa.
  2. From Mansur on 29 September 2006 15:09:31 WIB
    Baca posting ini sekarang tahun 2006 jadi ingat dulu ketika masih wartawan dan pernah beberapa kali wawancara dengan Munir yang kini sudah almarhum. Dia memang sosok orang biasa terutama karena ramah dan tulusnya. Semoga muncul Munir-Munir lainnya di Indonesia. Juga semoga muncul lagi Orang Biasa Award
  3. From wimar on 29 September 2006 19:29:22 WIB
    ya betul, yang paling berkesan mengenai munir adalah keramahan dan ketulusannya, betul-betul orang biasa, tapi prestasinya kok luarbiasa sekali! susah dipercaya waktu itu, indonesia bisa menghasilkan tokoh semacam munir. menurut saya, kelas dunia
  4. From rizka on 02 October 2006 04:44:34 WIB
    Munir, engkau tak pernah pergi...
    Gugurmu tidak gugurkan perjuanganmu...

« Home