Articles

PKS rahasiakan nama Adang Dorodjatun sebagai calon Gubernur, benarkan terima uang

Perspektif Online
14 December 2006
oleh: Hayat Mansur
 
Petinggi pengurus Partai Golkar dan PKS DKI Jakarta akhirnya datang juga setelah acara Gubernur Kita di Jak TV memasuki episode ke-11. Namun Golkar dan PKS berusaha merahasiakan nama dan dana Balon Gubernurnya. Ada apa yach? Kata Wimar Witoelar, kalau partai bangga dengan Balon Gubernurnya tentu akan ditampilkan. Sebaliknya kalau malu maka disembunyikan. 
 
Episode ke-11 Gubernur Kita Kamis malam (14/12) kembali menampilkan para petinggi partai di DKI Jakarta. Kali ini yang hadir adalah Aliman Aat (sekretaris DPW Partai Demokrat), Andi Azhar (ketua DPW PAN), Bernhard Siregar (sekretaris DPW PDS), Ridho Kamaluddin (sekretaris DPW PPP). Partai-partai tersebut pada pekan lalu telah hadir. Sedangkan Ade Surapriatna (ketua DPD Partai Golkar) dan Rois Hadayana Syaugie (ketua DPD PKS) baru kali ini hadir. 
 
0poridhoroisandi.JPG
 Ridho Kamaluddin (sekretaris DPW PPP). Rois Hadayana Syaugie (ketua DPD PKS),
Andi Azhar (ketua DPW PAN) & Dewan Kelurahan DKI Jakarta
 
Berbeda dengan para pengurus partai lainnya yang Kamis lalu (7/12) secara terbuka menyebut para Balon Gubernurnya, PKS dan Partai Golkar berusaha merahasiakannya. Karena itu kali ini salut kepada Host Efendi Gazali, Co Host Wenaldi (Iwel) dan Fenny Rose, serta Panelis Wimar Witoelar yang berusaha keras dan begitu kompak berupaya mengungkap Balon dari PKS dan Partai Golkar. Ini terlihat dari beberapa petikan pertanyaan dan pernyataan mereka.
 
0poalimanbernard.JPG 0poade.JPG
Aliman Aat (sekretaris DPW Partai Demokrat), Bernhard Siregar (sekretaris DPW PDS),
Ade Surapriatna (ketua DPD Partai Golkar)
 
PKS
  • Wimar: Mengapa baru datang sekarang dan calonnya belum pernah datang?
  • Rois: Kita baru diundang sekarang. Nanti kalau calonnya diundang pasti datang
  • Wimar: Kata Efendy sudah lama diundang
  • Effendi: Saya kata produser acara ini. Tapi ini sekalian klarifikasi dari PKS
  • Wimar: Katanya Balon gubernur PKS Adang Dorodjatun (Wakil Kapolri)
  • Rois: Nanti pada saatnya akan kita umumkan
  • Wimar: Calonnya masih rahasia padahal di luar sudah beredar
  • Efendi: Kalau begitu jawab saja dengan anggukan kepala saja. Adang Dorodjatun yach
  • Rois: (sambil menganggukkan kepala) tapi belum sampai ke pencalonan. Kalau nanti KPUD sudah membuka pendaftaran baru akan diberitahu. Tapi itu bisa saja masih ada perubahan
  • Iwel: Iya perubahan dari Wakil Kapolri menjadi Calon Gubernur
    ---
  • Wimar: Di koran katanya sudah terkumpul dana kampanye miliaran untuk PKS
  • Rois: Semua dana dari kantong-kantong pengurus dan anggota PKS
  • Wimar: Maksudnya sumbangan dari Pak Adang kepada PKS
  • Rois: Bukan
0poiwelfennyeffendi.JPG 0poyusuf.jpg
Iwel Wel, Fenny Rose, Effendi Ghazali & WW, Moh Yusuf Ketua Forum Komunikasi Dewan Kelurahan DKI Jakarta
 
Ketika dibuka pertanyaan telepon dari penonton Jak TV, juga ditanyakan mengenai dana kampanye
  • Kirman (pemirsa): Apakah calon gubernur yang melamar harus pakai uang?
  • Rois: Terlalu naif kalau PKS memikirkan uang. Kita partai yang tangguh
  • Wimar: Tangguh dalam mengumpulkan uang.
 
Partai Golkar
  • Efendi: Siapa saja Balon gubernur dari Golkar?
  • Ade: Kita ingin menyiapkan yang terbaik untuk gubernur
  • Wimar: Yang baik tidak mau masuk Golkar
  • Ade: Golkar punya SDM yang teruji. Baik atau tidak itu nomor dua. Yang penting harus teruji dulu sehingga nanti yang teruji menyingkirkan yang jelek
  • Wimar: Teruji mampu menyumbang
  • Efendi: Jadi siapa Balon Gubernur dari Golkar
  • Ade: Dalam hal ini ada dua kriteria yaitu Balon yang bakal menang atau baik. Kalau berdasarkan konvensi maka ketua partai merupakan calon yang telah teruji baik
  • Wimar: Jadi Pak Ade belum dicalonkan karena mungkin tahu tidak bakal akan menang?
Narasumber pada acara ini adalah Pelaksana Tugas KPUD Jakarta Yuri Ardiantoro. Menurut dia, KPUD Jakarta kini sedang mendata pemilih Pilkada, sosialisasi Pilkada, menyelesaikan rancangan peraturan yang terkait, dan menyiapkan tenaga pelaksana. Karena itu dia meminta agar warga Jakarta mulai sekarang memeriksa apakah sudah terdata sebagai pemilih dalam Pilkada yang rencananya akan digelar awal Agustus.
 
Ayo, masing-masing aktif mengeceknya. Jangan sampai suara Anda hilang sehingga membuka peluang bagi bad guy menjadi gubernur Jakarta mendatang.

Saksikan Gubernur Kita di Jak-TV Kamis 21.30

Print article only

50 Comments:

  1. From Sembrani on 15 December 2006 07:10:27 WIB
    Saya penasaran betul, siapa sih yang berbohong? Produser acara ini (menurut Pak Effendi) sudah lama mengundang PKS. PKS bilang baru sekarang diundang. Kalau PKS yang bohong, boikot saja dia dan tidak usah diundang lagi serta calonnya jangan dipilh. Tapi kalau produser cara ini yang bohong, maka acara ini merupakan acara terselubung untuk merusak citra partai yang tidak disukai. Oh, ya Bung WW, apa dulu waktu pak Rahmat dan Pak Sarwono jadi pentolan Golkar adalah seorang bad guy? dan setelah jadi good guy lalu keluar dari Golkar (konfirmasi untuk pernyataan WW bahwa orang baik tidak mau masuk Golkar)
  2. From wimar on 15 December 2006 07:24:31 WIB
    makasih bung sembrani (bukan mbak kan ya?) sudah lama sekali semua mendengar saya menyebut golkar sebagai bad party, walupun saya ikut bergabung di tahun 1969 dan masuk daftar caleg dpr-ri sebelum mundur di tahun 1971. kemudian malah saya masuk tahanan gara-gara sikap itu. tahun 1998 saya ikutan minta golkar bubar, bad party gitu. tapi setelah mereka selamat, kok partai lain ada yang lebih bad. kalau lijhat orangnya, dari dulu juga banyak good guys di golkar, termasuk sarwono dan rachmat witoelar, mereka good guy banget dalam ukuran politik dulu dan sekarang. untung mereka tidak lagi bersama golkar. dalam bad party bisa ada good guy, sama juga dalam bad country bisa ada good guy. orang kan individu, bisa jadi good guy dimana aja, selama dia tidak membiarkan diri diseret oleh kelompok yang dikuasai atau dipengaruhi bad guy. kasihan good guy yang ikut bad party. harusnya seperti jennifer lopez bilang "enough!" terus merombak dari dalam atau keluar gabung sama good guy lain.
  3. From Satya on 15 December 2006 09:17:05 WIB
    PKS bilang sudah siap dengan calon tapi juga bilang bahwa masih dirahasiakan. Mungkinkah karena masih rekapitulasi siapa penyumbang terbesar sebelum bisa memutuskan? Gak mungkin, PKS bilang dia partai 'tangguh'.

    Untuk Sembrani yg sangat memperhatikan kata2 WW dengan serius, jangan lupa WW juga bilang wakil Golkar yg datang malam itu juga good guy lho hehehe..

    Soal usul Sembrani untuk boikot PKS saya tidak setuju. Kalau tidak mau datang ke show gak usah diboikot, galak amat. Tapi kalau dia milih bakal calon atas dasar sumbangan terbesar dan gak ngaku hmm itu baru aneh (atau justru wajar?)

    Soal acara ini merusak citra partai jelek kayanya betul! Malah tidak terselubung tapi jelas2an haha! Memang agak aneh kalau orang udah biasa lihat show yang justru mengangkat citra partai jelek
  4. From Berlin Simarmata on 15 December 2006 13:58:29 WIB
    Dulu kita kagum sama PKS,partainya orang muda,yg penuh dengan idealisme.Pimpinannya banyak yg bergelar S3,orang akademis.Sebagai pemerhati,semula mengharapkan akan ada hal-hal yg membawa pencerahan dari partai ini,lama-lama ketahuan sama saja dengan yg lain.Semoga tidak makin redup deh.
  5. From Baskoro on 15 December 2006 13:58:39 WIB
    Dear om WW
    Sejauh ini saya setuju yang paling OK untuk kandidat Gubernur adalah Faisal Basri & Sarwono Kusumaatmaja (FB&SK).

    Tapi sebaiknya om WW jangan terlalu condong ke pasangan tersebut saat jadi panelis. Dari pertanyaan/ komentar om WW juga kelihatan lebih "memancing emosi" ke kandidat lain sementara ke FB & SK, lebih cenderung memberi "bola-bola tanggung" untuk bisa di chop or smash (please refer to below). Sorry om...



    23 November 2006 (episode Faisal Basri & Sarwono)
    WW: Katanya kalau Gubernur Jakarta itu harus orang yang buas, harus jendral dan harus dari Militer?
    WW: Memang banyak sekali proyek yang prospeknya bagus, tapi malah besar kemungkinannya untuk menimbulkan korupsi , bagaimana mengatasinya.
    WW: Yang membingunkan adalah bahwa dua bakal calon ini sama-sama bagusnya dua-duanya good guys , jadi bingung milih deeh. Apa tidak bisa dimanfaatkan saja dua-duanya, ,bagaimana ya sebaiknya ini Pak Agung ???
    WW: Kalau salah satunya terpilih maka anda telah meninggikan sekali reputasi partai andai di mata masyarakat !

    30 November 2006 (episode Bibit Waluyo & Edi Waluyo)
    WW: Kalau minggu depan ga datang , ga usah dipilih ya ? Kan harus dikenal pemilih
    WW: Kalau udah terpilih aja baru mikirin !????!
    WW: Semisal yang lalu memang baik memang begitu. Tapi kalau yang lalu itu jelek, apa perlu diteruskan ?
    WW: Berarti bapak ini calon yang akan melanjutkan pekerjaan Pak Sutiyoso begitu ?
    WW: Ya deh..., jadi melanjutkan Pak Gubernur Sutiyoso !?
    WW: Jadi kan orang kebanjiran juga pasti haus ya?? Jadi kan airnya bisa dimasukin ke mulut gitu ya?

    14 December 2006 (bisa dibilang episode PKS: yang paling banyak omong)
    Wimar: Mengapa baru datang sekarang dan calonnya belum pernah datang?
    Wimar: Kata Efendy sudah lama diundang
    Wimar: Katanya Balon gubernur PKS Adang Dorodjatun (Wakil Kapolri)
    Wimar: Calonnya masih rahasia padahal di luar sudah beredar
    Wimar: Di koran katanya sudah terkumpul dana kampanye miliaran untuk PKS
    Wimar: Maksudnya sumbangan dari Pak Adang kepada PKS
    Wimar: Tangguh dalam mengumpulkan uang.
  6. From Rachman on 15 December 2006 14:02:34 WIB
    bung, saya simpatisan pks, karena pks good-party. tapi kalo pks seperti tersebut di atas, wah, mending saya mundur deh.
    bung, saya khawatir pks akan gonjang-ganjing kaya waktu pilpres lalu.
    menurut saya langkah pks dalam pilkada banten sudah benar, biar kalah, asal calon yang diusung good-guy ! hari ini kalah, besok menang !
    bung, mengapa sih Pak Sarwono & Pak Faisal Basri kagak ngelamar di pks ? saya kagak yakin tuh, mereka mampu mengatasi arogansi pdip sebagai partai yang mengusungnya kalo mereka menang ! bung yakin mereka bisa ?
  7. From Satya on 15 December 2006 14:21:27 WIB
    Kompilasi pertanyaan pak Baskoro seru dan menghibur, tapi jawabannya lah yang akan membantu kita memilih Gubernur.

    Bayangkan kalo Fauzi Bowo, Agum Gumelar, calon misterius PKS, dan calon2 lainnya akhirnya berani datang. Bagaimana mereka hadapi pertanyaan seperti itu? Kalo bersih, ga usah risih.

    Makanya, jangan kelewatan saksikan Gubernur Kita :)
  8. From riris on 15 December 2006 15:13:38 WIB
    Saya setuju dg asosiasi WW ttg good guy dg film enough-nya J-Lo (saya tonton itu bbrp kali).Good guy kalo mm punya power sebaiknya ikut dalam sistem yg penuh bad guy, tapi sambil adain revolusi dari dalam. Di dunia fiksi kayak J-Lo di film itu, ato kalo di dunia nyata mirip Gorbachev dg Uni Soviet dulu. Belum tentu Soviet runtuh kalo G ga gabung. Kalo cuma koar2 dari luar bisa jadi G senasib sama mendiang Politskovskaya dan alm.Litvinenko!Tapi kalo mm ga ada power, say good bye dan gabung dg pihak lain, seperti P'Sarwono dan P'Rachmat Witoelar.

    Saya termasuk yg sangat kecewa dg PKS yg serba tanggung. Ga berani. Ga jelas. Coba gimana sikapnya pd kasus lumpur lapindo, kelangkaan minyak tanah dan beras, skandal seks anggota dpr yg (amat sangat tidak) terhormat. Mending jd oposisi sekalian, 2009 pasti perolehan suara lebih bagus. Kalo masih seperti sekarang, pasti bakal jeblok.

    Termasuk dalam penentuan balon. Mestinya jauh-jauh hari siapkan calon yg berkualitas, promosikan dg genial. Kalo kayak sekarang, ga janji, deh. Wassalam PKS!
  9. From Bowo on 15 December 2006 15:43:22 WIB
    Tadinya saya mengharapkan acara Gubernur Kita adalah ajang debat balon gubernur DKI. Sekarang kok jadi acara guyonan yang membosankan. Kalau produser tidak mampu datangkan balon,mendingan acarnya diganti Dagelan Mataram saja, dari pada kita harus menyaksikan orang2 partai yang "bahlul" dan banyolan sarkastis panelis yang kehilangan obyektivitas, senang kepada balon tertentu dan mblenger kepada yang lain. Kita orang Jakarta sudah dibuat babak belur dengan sekian banyak Gubernur DKI yang kerjaannya ngerusak Jakarta, dan rindu kepada gubernur yang punya otak, bermoral, berani dan mau bekerja keras. Tolong bikin show yang bisa bantu "menyaring" Gubernur DKI yang kita idam2kan.
  10. From anton on 15 December 2006 16:09:50 WIB
    Untuk Sdr. Sembrani saya ingin menambahkan, dulu di akhir tahun 1960-an atau sekitar 1969 ada krisis di kalangan pemuda-pemuda intelektual terhadap Orde Baru, sebelumnya Soe Hok Gie sudah kasih pendapat kritisnya lewat artikel "pembantaian besar-besaran di Bali" yang dimuat di sebuah harian di Jakarta.

    Kemudian di Bandung gerakan mahasiswa yang mulai curiga terhadap Orde Baru juga kuat, namun garis besarnya mereka masih mendukung Orde Baru yang telah menghilangkan warna diktator Sukarno. Dan waktu itu Orde Baru masih merangkul pemuda-pemuda, nah kemudian timbul perdebatan yang seru apakah pemuda-pemuda intelektual drop-an 1966 ikut Golkar atau tidak. Kalau tak salah ya... Rahman Tolleng menganjurkan untuk masuk saja, kemudian Rahmat Witoelar, Sarwono Kusumahatmadja juga memilih masuk. Nah setahu referensi saya Wimar Witoelar ini menolak masuk Golkar karena alasan takut tak adanya oposisi, oposisi intelektual sebenarnya sudah dipikirkan oleh para mahasiswa waktu itu. Wimar, Nono Anwar Makarim, Arief Budiman dll menolak, bahkan belakangan Arif Budiman menggerakkan gerakan golput atau Golongan Putih di awal tahun 1970-an.

    Jadi bila dilihat mahasiswa-mahasiswa atau pemuda-pemuda intelektual yang terlibat dalam proses pematangan demokrasi waktu memilih Golkar atau tidak, sekup-nya bukan pilihan jahat atau tidak jahat. Tapi realitas politik yang berkembang pada waktu itu. Bagi saya mereka ini bukan hanya good guys tapi mereka adalah akar-akar demokrasi Indonesia modern, dan reformasi yang terjadi saat ini adalah buah dari benih gerakan 1969-1970 yang mulai mengkoreksi Orde Baru.

    Untuk komentar PKS, mungkin itu strategi mereka, ssstt gossip ya...PKS mau calonin A'a Gym jadi camat Geger Kalong, tapi gagal kena PP 10....ini gossip lho ya...jangan dipercayaa...




    ANTON

    cagub Fave DKI Jakarta
    1.Rano Karno
    2. Anwar Fuady
    3.Roy Marten
  11. From Ramli Sihaloho on 15 December 2006 16:58:10 WIB

    apapun nama partainya....kalangan apapun yg mendominasinya ......masih jauh perjalanan untuk mendapatkan suatu partai yg utuh yaitu yang punya IDENTITAS. mentalitas anak2 bangsa ini harus berubah dulu baru kita bisa berharap lahirnya partai2 yg berbobot....yg punya karakter dan identitas tadi.
  12. From dmitri on 16 December 2006 11:45:05 WIB
    sory agak telat. tapi ijinkan saya nambahin koment Ramli Sihaloho. banyak benarnya, saya setuju. tapi seperti saya selalu setuju sama nilai yang tertulis di satu sisi koin, saya harus mempertanyakan sisi lainnya juga. anak bangsa itu kan juga harus bisa jadi orang tua. nah, kalo orang tuanya masih investasi yang enggak perlu (look at what is sold in malls, look at the stamp on that banana or apple you bought in the supermarket, is it really home made?)

    enggak usah jauh deh, tapi kalo emang masih ngaku orang indonesia, dan punya duit, mending undang orang asing buat exploit batubara di kalimantan, apa nanem pisang disana?

    lest face it. we failed to pretend that we were high tech in suharto era (thanks to habibie's antics), we still pretend to be smart investors since suharto era, when our blood is running hot with DNAs made to casava-planting, material-knitting, tempe-eating habits.

    why none of us are asking gubernur Jakarta untuk merelokasi orang2 yang datang kesini (sambil ganggu-ganggu)? kan kita punya uang, kenapa enggak kita bayarin mereka program transmigrasi baru aja sih? malah ribut partai dan calon mereka. pikirin tuh hal-hal yang bikin jakarta sumpek beneran.

    sekalian slogan yang pantes: less cars, less pembantus, better jakarta.
    caranya: bagi-bagi duit itu ke daerah.
  13. From franova herdiyanto on 16 December 2006 16:15:52 WIB
    sedikit kecewa juga dengan PKS..
    Tapi setelah mendengar keterangan di atas, saya jadi bertanya-tanya juga tentang siapa yang berbohong mengenai undangan ke "Gubernur Kita", PKS kah? atau Produser?

    Terlepas dari itu, memang sangat bijaksana jika memang PKS belum mengeluarkan secara resmi siapa BALON yang dipilihnya, mengingat jabatan yang sedang dipegang oleh Mr.X yang sangat krusial jika sekarang ini langsung dikeluarkan putusan resminya tentang pencalonannya, walaupun memang hal ini telah menjadi rahasia publik.

    Mungkin setelah tahun ini berakhir(januari awal), semua partai akan mengeluarkan dengan resmi siapa2 balon yang dikeluarkannya...nah, dari situ kita bisa melihat siapa yang main2
  14. From suparnu on 16 December 2006 17:38:55 WIB
    Saya meragukan netralitas Wimar Witoelar kali ini, kita semua tahu sarwono dan faisal itu teman dekat Wimar. Saya juga meragukan niat baik Wimar, apakah yang dia mau ? Ingat saat jadi Jubir Gusdur, peran apa dan apa yang telah diberikannya buat negeri ini ?

    Sekarang ke PILGUB, semestinya wimar kalo ia punya hati nurani akan berupaya sedemikian rupa menghadirkan orang-orang yang benar-benar memiliki idealisme dan telah teruji kejujurannya lewat kultur golongan atau partai pengusungnya. Dan jangan-jangan yang kembali ingin dijadikan adalah orng2x seperti Sarwono, Faisal, Fauzi Wibowo dll yang jelas2x orang2x orde baru yang telah menjerumuskan bangsa ini ke lembah kehancuran.
  15. From wimar on 17 December 2006 00:14:57 WIB
    tenanglah mas suparnu, anda benar. saya tidak netral dalam banyak hal, apalagi dalam blog pribadi ini keberpihakan saya dikemukakan sejelas mungkin. dalam forum pendapat orang berusaha terbuka, agar orang lain membuat penilaian masing-masing dan sikap masing-masing.

    Anda boleh meragukan niat baik saya atau siapa saja, harus kritis, dan mudah-mudahan bisa yakin akan sikap anda sendiri.
  16. From Ramli Sihaloho on 17 December 2006 04:39:07 WIB

    jawaban Bung Wimar sangat elegant, terbuka sekaligus kena. seyogianya kita2 ini bisa menghormati itikad orang lain dan bertanya dulu pada diri sendiri apa2 yg sudah kita lakukan untuk negeri tercinta ini sebelum mempertanyakan hal yg sama ke orang lain. kongkritnya , saya tidak kenal sodara Suparnu tapi saya kenal Bung Wimar yg sudah berbuat. jabarkan sendiri deh lebih jauh.....

    persepsi anda tentang Bung Sarwono dan Faisal mengindikasikan bahwa yg anda ketahui tentang mereka tidak cukup berarti dan kelewat mudah kasih stempel. andaikan saya yg jadi anda, lebih baik saya tidur dulu dan ngumpet di perpustakaan.
  17. From wimar on 17 December 2006 07:40:44 WIB
    ramli sering kirim comment kesini. ada dua hal yang menonjol padanya: berani bersikap, dan berani belajar dari orang lain. dua2nya kedengaran sederhana, tapi sangat susah. sikap yang keras mengundang reaksi keras yang memerlukan kesabaran menerima reaksi, dan belajar dari orang lain memerlukan 'open mind' dan kemampuan koreksi diri.

    dua sifat ramli ini lebih penting dari benar atau salahnya pendapat dia, sebab pendapat bisa berkembang. itulah gunanya kita ikut forum seperti ini. kalau mau menang, harus di forum lain yang ada wasitnya dan patokan kenetralan. tapi kalau kita punya sifat seperti ramli, banyak yang bisa diperoleh dari kehadiran disini.

    log ini seperti rumah pribadi. you are welcome to come, and welcome to leave. kalau anda anggap orang lain salah, bahagialah bahwa anda tahu kebenaran. kalau anda anggap orang lain benar, bahagialah bahwa anda sempat belajar.
  18. From anton on 17 December 2006 16:03:37 WIB
    Maka dari itu Mas Suparno anda dan saya tidak setuju Faisal dan Sarwono naik, maka dari itu saya menawarkan anda dukung Rano Karno jadi Gubernur

    Jadi formasi Pejabat DKI

    Mandra : Kepala Suku Dinas Transportasi
    Basuki : Kepala Suku Dinas Tata Ruang Wilayah Kota
    Nunung : Kepala Suku Dinas Pertamanan
    Aminah Cendrakasih : Kepala Rumah Tangga DKI Jakarta
    Emma Waroka : Kepala Suku Dinas Pariwisata
    Cornelia Agatha : Kepala Proyek Transportasi Monorel dan Subway.

    Saya rasa itu bagus, bagaimana Mas Suparnu, WW emang bela temen sendiri, kalo saya bela temennya Benyamin S hehehehe...


    ANTON

    Pejah Gesang nderek Rano Karno
  19. From Gopur on 17 December 2006 16:09:15 WIB
    PKS tidak plural...kita harus pilih gubernur DKI yang pluralis

    Gopur

    Nggak suka makan bulgur
  20. From Sembrani on 18 December 2006 10:10:20 WIB
    Alinea terakhir komentar Bung WW tentang Ramli sungguh mencerahkan. Untuk Bung Anton,..... he...he...he... sangat menghibur. Tapi dikemanakan Mat Solar dan Suti?
  21. From raf_03 on 19 December 2006 11:32:36 WIB
    Melihat judul artikelnya, kok kesannya agak gimana.. gitu?!
    Tadinya saya kira beneran PKS terima uang dari pak Adang, tapi setelah baca artikelnya dengan lengkap... yach ketipu judul deh!!

    # Wimar: Di koran katanya sudah terkumpul dana kampanye miliaran untuk PKS
    # Rois: Semua dana dari kantong-kantong pengurus dan anggota PKS
    # Wimar: Maksudnya sumbangan dari Pak Adang kepada PKS
    # Rois: Bukan

    Kok terkesan jadi aneh ya, bukan hanya PKS yang "merahasiakan" (bakal) calonnya, tapi juga Golkar.

    Trus, tidak ada bukti kalo PKS terima uang dari pak Adang, bahkan sudah dibantah langsung oleh orang PKS.

    Tapi.. kok kesannya (judul) artikel ini terlalu menyudutkan PKS, ditambah lagi sikap bung Wimar yang tercermin dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

    Secara umum saya salut dengan acara ini, tapi sebisa mungkin pihak penyelenggara harus lebih objektif.

    Kritis itu sangat perlu, tapi jangan pilih-pilih calon yang akan dikritisi, meski secara pribadi (tentu saja) pihak penyelenggara pun punya kecenderungan pada salah satu calon.

    Tidak salah jika bung Wimar cenderung pada calon-calon yang dekat dan akarab dengan beliau, tapi sungguh tidak tepat jika bung Wimar membawa pilihan pribadinya di acara yang harus bersifat netral semacam ini, nanti kesannya malah acara ini mengarahkan pemirsanya untuk memilih salah satu calon dan membuang pilihan dari calon-calon yang lain. Padahal seharusnya kan acara ini membantu pemirsanya untuk mengenali lebih jauh calon pemimpinnya, masalah pilihan biarlah mereka yang menentukan.

    Terakhir, maju terus buat acara GUBERNUR KITA, babat habis semua calon biar kita tidak salah dalam menentukan pilihan kelak!
  22. From Bebas Siregar on 19 December 2006 15:09:48 WIB
    Aha kalu PKS tidak bisa diharapkan ya memang sudah ketahuan sejak ikutan dukung SBY. Menterinya dan walikotanya cuma ngumpulin orang2nya untuk jadi pengumpul uang. Katanya sih untuk persiapan 2009. Wah sungguh mengecewakan ya................
  23. From agung on 19 December 2006 15:47:41 WIB
    saya rasa kalo mau lihat bad guys or good guys utk pilkada jakarta sudah jelas. intinya gak ada calon yg layak. gimana mau mengharapkan mereka jujur wong belum apa2 sudah curi start kampanye dengan berbagai cara mulai fauzi bowo bikin iklan anti narkoba, faisal basri iklan KKPU. Nah dari situ aja udah keliatan mereka gak bisa main fair
  24. From abu hamzah on 19 December 2006 19:45:12 WIB
    Lagian "orang baik" yang akan mimpin Jakarta sekalipun, nggak usah terlalu berharap banyak bahwa keadaan akan berubah menjadi lebih baik. Sistem pemerintahan kita yang buruk, rekruitmen PNS yang nggak mutu, membuat birokrasi kita adalah yang terjelek. Bisa apa seorang gubernur dengan kualitas birokrasi dibawahnya yang bermental dan berkualitas buruk?
    Paling Gubernur yang "orang baik" tadi akan diingat seperti Marie Muhammad, seorang sederhana yang memimpin Direktorat Pajak, tanpa mampu merubah wajah Direktoratnya sebagai sarang koruptor.
  25. From angga on 19 December 2006 22:37:20 WIB
    be positive aja... mungkin pks mau kasih kejutan bwat warga jakarta... tapi kok rasanya bad guy or good guy jadi gubernur jakarta ga akan bisa ada perubahan kalau mafia2 daerah masih banyak berkeliaran,, kita harus optimis dalam menentukan pilihan, karena di dalam bumi ini selalu ada unsur dukung mendukung kalau tidak maka adanya hukum rimba smua orang dengan kekuatan yang dimiliki masing2 pasti berusaha melempar pengaruh ke public, naha siapa yang paling mendapt trust dari masyarakatlah yang akan menang, saya rasa semua pihak punya balon gubernur masing2 yang diunggulkan dengan kelebiha2 mreka masing2,, tugas kita sebagai warga masyarakat adalah menilai dan tidak berhak menghakimi,, ada sisi baik ada sisi buruk tinggal bagaimana kita menyikapinya,, orang baik tapi tidak punya power baik massa atau financial rasanya peluangnya msih kecil di bursa pilkada,, ujung2nya perang massa pendukung yang mengakibatkan instabilitas.. akhirnya masyarakat luas yang jadi korban,,, saling menghormati pilihan masing2 dalam pilkada itu penting agar kita dapat belajar berjiwa besar,,, kita lagi belajar demokrasi maka wajar kalau ada krikil2 yang harus dibersihkan di dalam perjalanan. sehat2 ya om WW
  26. From wimar on 20 December 2006 00:53:51 WIB
    Dear Angga, please baca lagi kata-kata Angga. Banyak inkonsistensi (a.l. bad guy or good guy jadi gubernur jakarta ga akan bisa ada perubahan ... kita harus optimis dalam menentukan pilihan). Hati-hati jangan-jangan kalau keterusan jadi seperti kakak dan om yang senang pamer kata tapi does not make any sense at all.

    p.s. Pemilu itu artinya memilih, jadi warga memang berhak menilai dan menentukan (yang Angga sebut 'menghakimi'). You are confusing it with 'perang massa pendukung' yang justru akan terjadi kalau kita tidak bicarakan calon secara terbuka, dan terjebak mendukung bad guy.

    comment Angga saya selalu baca karena dasarnya iktikad baik. Please keep your mind open.
  27. From umbaran on 20 December 2006 08:52:11 WIB
    Mas Wimar telah menunjukkan secara jelas kepada siapa dia berpihak. Tetapi sangat disayangkan pertunjukkannya itu dilakukan dalam acara di mana posisi dia 'menuntut untuk seharusnya' sebisa mungkin tidak berpihak. Jadi jangan terlalu berharap kepada acara Gubernur Kita. Persepsikan saja acara tersebut sebagai semata tontonan hiburan, atau setidaktidaknya seandainya kita toh terjebak juga, keterseretan kita tersebut janganlah melalui proses yang sedemikian mudah:-)
  28. From Satya on 20 December 2006 09:22:40 WIB
    banyak orang baik belum siap berpihak, belum siap memilih.

    setelah kalian semua:

    1. bicara soal jeleknya faisal basri dan sarwono (boleh!)
    2. bicara bahwa pemilihan tidak akan berguna (boleh!)
    3. bicara soal acara TV tidak bisa dipercaya (boleh!)
    4. bicara soal jangan bicara tapi action (padahal sendirinya bicara)

    pada akhirnya, at the end of the day, esensi pemilihan adalah menjawab satu pertanyaan: who's YOUR good guy?

    itulah hak pilih anda. untuk menggunakan hak pilih itu harus punya keberpihakan, gak bisa netral antara baik dan buruk, jangan malu mendukung kebaikan, jangan gengsi promote good guys. berani gak dukung paling tidak satu nama?

    contoh baik: pak anton. berani dukung nama. bravo pak anton!

    yang lainnya mana nih? mau terus mencoret nama yg muncul?
    atau berani menyebut nama good guy anda? kita pasti dukung! :)
  29. From sito on 20 December 2006 10:51:47 WIB
    Thanks God gw nonton acara ini... Coz makin lama makin gw mempelajari karakter para calon Gubernur.

    Dulu gw termasuk kaum apatis pada proses pemilihan atau pemerintahan. rasa ini timbul karena lelah melihat pemerintah yang hanya bisa Janji-janji palsu.

    acara ini keliatan jelas kelemahan para BALON, karena semakin ww bertanya semakin pihak PKS menjawab dengan tidak persiapan SAMA dengan para episode sebelumnya yang kurang persiapan juga. Yang anehnya ketika ditanya kepada perwakilan PKS siapa BALON?, Kenapa sikapnya agak sedikit berkelit tidak menjawab namun setelah di bujuk Efendi mau menjawab dengan metode kedipan or anggukan...

    Wah... wah...
    kenapa malu atau ...???
  30. From MEmo on 20 December 2006 11:22:23 WIB
    Kalau saya, pilih calon gub harusnya dari pertama sudah diperkenalkan ke public, partai harusnya bangga dengan calon nya masing-masing, jangan disembunyikan seperti ini, dari sini aja saya sudah curiga. Harusnya para calon gub bisa teken kontrak sama rakyat bukan partai yang mengajukannya, bahwa jika mereka terpilih, tunjukan kepada rakyat point-point apa saja yang akan mereka kerjakan dan bersedia mundur jika mereka tidak mengerjakan poin-poin tersebut.
  31. From Anton on 20 December 2006 12:56:13 WIB
    Percaya sama saya, Faisal Basri ndak ada bakat jadi pemimpin, liat aja.
    Saya kok lebih cocok sama Bibit Waluyo dan Rano Karno.
    Sarwono Kusumahatmadja nggak bakalan kepake...udah tua..
    Jadi Bibit Waluyo dan Rano Karno pasangan Ideal.

    Apalagi denger-denger Megawati sreg sama Bibit Waluyo, "kalo Agum Gumelar, boleh" kata Megawati "tapi ada syarat, emas di Asian Games harus dapet 15 medali" eh ternyata Agum gagal, kesian deh Agum....

    Rano Karno itu dari kecil udah hebat.tapi ada syarat kalo menang Rano Karno jangan rekrut Effendi Gazali, bakalan nggak beres urusan...Rano Karno musti rekrut Cak Lontong, keren, smart dan lucu.

    ANTON

  32. From wita on 20 December 2006 14:18:53 WIB
    Saya mah...

    Nonton acara ini jadi tahu sama istilah Bad Guy and Bad Guy. Malah kadang-kadang saya mau tahu (dari mana dana kampanye Adang yang dikoran-koran disebutkan memberikan 2M, siapa BALON dari partai pks, Golkar, Pan, dll)

    Panelis Gubernur kita... Bisa menyelipkan pertanyaan2 kritis, Mungkin bagi yang merasa tersinggung atau "RAHASIA"nya takut terungkap melalui Pertanyaan2 yang dilontarkan WW terasa PEDAS. namun bagi saya sebagai warga Jakarta acara ini jadi pusat informasi.

    karena ini siaran Langsung jadi saya bisa langsung melihat reaksi dan argumen yang disampaikan oleh masing-masing partai atau BALON.

    Acara ini semakin memantapkan pilihan saya sama Good Guy versi Saya :). Hayo siapa.. Makanya para Balon yang belum muncul segera Go Public donk melalui kontribusi diacara ini.. Kalo sampe gak muncul, kita harus mulai bertanya-tanya ??????????????
  33. From Daisy on 20 December 2006 15:17:18 WIB
    Saya kira memang jelas, kita harus berpihak sama good guy.

    Saya ingat betul ketika Gubernur Kita episode pertama, WW pernah bilang : "Mendukung good guy tidak melanggar netralitas".

    Kalau ada yang bilang acara ini subjektif, kurang objektif. Saya berpikir lain. Menurut saya objektifitas sendiri adalah kumpulan dari subjektifitas yang benar berdasarkan pada kriteria2 tertentu dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Lagian menurut saya, kalau memang calon itu bad guy yang "berbulu good guy", justru itu tugas panelis untuk mengorek2 lebih dalam, jadi bisa kelihatan isinya. Biar masyarakat ngga ketipu. Kalau dia memang good guy luar dalam, biar dikorek2 bagaimana pun juga ya tetap good guy juga. Pertanyaan2 kritis dari panelis, khususnya WW, menurut saya bukan menyudutkan, justru untuk mengetahui kualitas bakal calon gubernur.

    Jadi menurut saya acara ini bagus kok, membuka wawasan saya. Go Gubernur Kita! Go WW! (salut atas kekritisan anda!)
  34. From hengky on 20 December 2006 15:19:24 WIB
    bung wimar, saya tau anda orang dekat Gusdur, dan pastinya sedikit banyaknya ber-afliasi ke PKB..pantesan tidak netral he he. Takut Ama PKS ya bung ?? tenang..tenang..daging yang "busuk" akan tercium juga kok.
  35. From Engkus on 20 December 2006 16:42:09 WIB
    Ada saatnya kita netral, ada saatnya kita berpihak. Good and bad are in the eye of the beholder. Kalau di blog sendiri boleh saja berpihak kepada good guys versi anda. Tapi sebagai panelis dalam debat calon pejabat, bersikaplah netral, mengapa, karena yg anda anggap good guys itu mungkin oleh penonton lain dianggap bad guys. Barang siapa yg pernah lihat candidate debate calon presiden Amerika, akan hormat pada panelis yang netral.Panelis dlm forum diskusi yg bersikap berpihak kehilangan bobotnya.
  36. From Wiryanto W. on 20 December 2006 23:02:42 WIB
    Bung WW (Saya juga loh, WW),
    Kapan ya, kita punya kebiasaan seseorang yang sudah established secara materi, baru maju jadi Gubernur, sehingga menjadi gubernur tujuannya lebih kepada pengabdian dan pemenuhan self esteem dari teori Maslow.

    Kalau issue soal dana untuk melamar ke partai politik sebagai kendaraan politik itu benar (saya koq feeling-feelingnya 80% benar :( ), bagaimana kita bisa dapat gubernur yang benar?

    salam,
    ww
  37. From dadang on 21 December 2006 09:33:25 WIB
    Mari kita lihat ditempat-tempat PKS menang! kita lihat dialah yang paling good guy yang lain bad guy. Dialah yang paling berkeadilan yang lain tidak adil, dan jangan lupa dialah yang paling sejahtera. hahah hahah hahah
  38. From Baskoro on 21 December 2006 13:12:52 WIB
    Yakin deh, para bad-guy nggak bakalan muncul di acara ini, belom apa2 udah takut sama om WW.
    Tapi nantinya kalo nggak ada partai yang mengusung good guy gimana dong. PDI-P kayaknya ke Foke.
  39. From raf_03 on 23 December 2006 01:31:22 WIB
    Netralitas bukanlah ketidakberpihakan, justru aneh kalau kita melihat dua hal; yang satu jelas baiknya yang satu jelas buruknya tapi kita tidak memilih keduanya dengan alasan netralitas.

    Keberpihakan itu adalah sesuatu yang wajar dan memang seharusnya dimiliki oleh setiap insan. Tapi kita harus bisa menempatkan diri dengan cerdas sesuai dengan tuntutan posisi dan kondisi kita.

    Acara ini tujuannya jelas, mengenal lebih jauh para kandidat gubernur Jakarta, bukan mempromosikan salah satu kandidat yang bertarung dan menjatuhkan kandidat yang lainnya.

    Masalah good guy dan bad guy.. tentu semua orang yang berpikiran sehat sepakat tidak rela jika yang terpilih adalah seorang bad guy, siapapun pengen kalo jakarta dipimpin seorang good guy yang bisa membawa perbaikan bagi jakarta.

    Yang jadi masalah itu begini, berikut fakta-fakta yang bisa kita lihat:

    23 November 2006 (episode Faisal Basri & Sarwono)
    WW: Katanya kalau Gubernur Jakarta itu harus orang yang buas, harus jendral dan harus dari Militer?
    WW: Memang banyak sekali proyek yang prospeknya bagus, tapi malah besar kemungkinannya untuk menimbulkan korupsi , bagaimana mengatasinya.
    WW: Yang membingunkan adalah bahwa dua bakal calon ini sama-sama bagusnya dua-duanya good guys , jadi bingung milih deeh. Apa tidak bisa dimanfaatkan saja dua-duanya, ,bagaimana ya sebaiknya ini Pak Agung ???
    WW: Kalau salah satunya terpilih maka anda telah meninggikan sekali reputasi partai andai di mata masyarakat !

    14 December 2006 (bisa dibilang episode PKS: yang paling banyak omong)
    Wimar: Mengapa baru datang sekarang dan calonnya belum pernah datang?
    Wimar: Kata Efendy sudah lama diundang
    Wimar: Katanya Balon gubernur PKS Adang Dorodjatun (Wakil Kapolri)
    Wimar: Calonnya masih rahasia padahal di luar sudah beredar
    Wimar: Di koran katanya sudah terkumpul dana kampanye miliaran untuk PKS
    Wimar: Maksudnya sumbangan dari Pak Adang kepada PKS
    Wimar: Tangguh dalam mengumpulkan uang.

    Nah.. bisa dibandingkan dari petikan dialog di atas ketidaknetralan (atau lebih tepatnya ketidakadilan) bung wimar dalam acara ini, beliau seakan-akan telah memvonis bahwa FB & SK itu adalah good guy sementara AD & PKS itu bad guy...

    padahal seharusnya yang dilakukan bung wimar selaku panelis adalah mengkritisi semua balon yang ada sehingga nanti bisa tampak jelas mana good guy mana bad guy...

    bung wimar tampak pilih kasih dalam mengkritisi balon-balon yang ada, yang satu dipuji habis-habisan, tapi yang lain malah dijatuhkan.. kan jadinya nggak fair.

    Kalo memang yang bersangkutan adalah good guy, tentu jawaban orang tersebut atas pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan bung wimar justru akan mempertegas bahwa dia adalah good guy, begitu juga sebaliknya jika memang yang bersangkutan adalah bad guy.

    Sangat aneh jadinya, di awal acara sudah "diumumkan" dua orang good guy (versi bung wimar--> FB & SK), sementara jargon-jargon yang digunakan di acara dan situs ini adalah "promoting good guys" (bisa dibaca di banner atas situs).

    Nah.. Kalau kita ambil kesimpulan sementara sih kayaknya acara ini malah jadi acara mempromosikan FB & SK sembari menjatuhkan calon-calon lain (terutama kalau dilihat dari fakta-fakta yang ada cenderung mengarah ke PKS --> mungkin karena PKS pemenang pemilu di jakarta sehingga dianggap kekuatan besar yang harus dihadang).

    Sangat aneh kan?? Ini baru masa-masa awal, jangankan calon resmi, bakal calon resmi dari masing-masing partai saja belum bisa dipastikan, kok kita malah sudah masuk tahap mempromosikan good guy?? bukankah seharusnya tahap-tahap awal ini adalah mencari & memilah, mana diantara mereka yang good guy, mana yang bad guy...
  40. From Bebas Siregar on 23 December 2006 11:01:45 WIB
    Nih caranya kalau mau calonnya jadi dan kita pegang peran.
    Diem2 aja kalem2. nanti kalau ada calon yang udah kentara pasti menang. langsung bilang kita mendukung calon pemenang itu. kan calon kita jadi pemenang dan kita dapet jatah juga. Coba aja lihat gimana, siapa yang mendukung SBY saat dia sudah kelihatan akan menang.... hahahaha kan PKS. Harus cerdik gitu lho.....
  41. From Dian Anugrah on 23 December 2006 11:17:52 WIB
    Ass, Bung Wimar
    Saya berharap lain kali anda tidak menyudutkan PKS, anda harus objektif dan realistis dalam berkata-kata. Kampanya partai apapun pasti akan butuh uang dan saya pikir PKS dan Mr X tentunya memasang langkah realistis untuk mengumpulkan dana kampanye. Pemilu pasti butuh kampanye, anda seyognyanya tidak berargumen seperti itu, mengapa anda tidak bertanya saja kepada GolKar yang memang sudah siap berkampanye, karena memang partai yang paling makmur itu pastilah Golkar... so anda adalah publik figure.. saya harap netralitas anda tetap berada dalam koridor menjunjung tinggi kebenaran dan kebaikan. bukankah kita menginginkan Gubernur yang bisa memberantas Koropsi, serta memberikan pelayanan yang terbaik bagi masayarakat Jakarta. PKS telah membuktikan mereka terdepan dalam perihal membangun pondasi bangsa Indonesia yang lebih kokoh!
    Wassalam
  42. From Ben Tora on 25 December 2006 12:18:24 WIB
    "menyudutkan PKS"?

    Saya rasa kalau betul Adang Dorodjatun yang akan dicalonkan oleh PKS, berarti PKS lah yang menyudutkan diri sendiri, bukan Wimar. Kekayaan Adang katanya adalah karena usaha istrinya, "Masa istri saya tidak boleh berusaha". Haha... Belum begitu lama kita pernah dengar Soeharto pernah punya alasan yang sama "Masa anak saya tidak boleh berusaha".

    Sungguh Adang Dorodjatun adalah pilihan calon gubernur yang unik untuk sebuah partai yang katanya punya platform bersih, jujur, adil.

    Di inner circle PKS sendiri, pemilihan Adang Daradjatun telah menuai konflik dari mereka yang ingin bertahan pada platform PKS awal dengan mereka yang ingin jalur cepat. Saya kasihan para simpatisan PKS yang tidak masuk inner circle akan kecewa (lagi) ketika nanti harus menerima realita tentang partai mereka.




  43. From Baru Siregar on 26 December 2006 09:04:37 WIB
    Bung Ben Tora, anda ternyata sudah dapat melihat tanda2 itu ya.
    Memang sangat kentara sih, inner circle yang ingin super instan makin sangat jelas. Mereka ingin langsung merekrut orang-orang yang sudah jadi, segera berpihak ke jalur instan, dilakukan dimana-mana. Terutama di kalangan pemerintahan di jabatan2 strategis yang dapat mengucurkan banyak dana dan fasilitas untuk 2009. kalau sudah begini kasihan SBY. Menterinya cuma dompleng untuk siap2 2009 bukan mikirin rakyat. Kasihan deh lu.
  44. From latadry on 11 January 2007 10:36:07 WIB
    Saya baru sekali nonton acara gubernur kita di jack tv, pada acara perdananya...setelah itu, lupa harinya sehingga baru sekarang tahu, malam kamis, 21.30...
    Yang jelas, saya ada sedikit kritikan untuk bung WW, yang memang dari dulu saya perhatikan, jawabannya selalu 'pedes' dan 'nyelekit'...Kalo tidak suka sama lawan (yang dianggap lawan, tidak sependapat), jawabannya pasti pedes dan memojokkan...Itu yang terjadi dengan pks.! karena notabenenya pak ww itu orang dekat gusdur alias pkb yang mencalonkan 'rano karno' tapi ngga mampu sendirian mencalonkan, harus koalisi karena tidak cukup syarat alias tidak sama balonnya dengan pks.!!
    Soal sikap terhadap pks bagi yang belum kenal betul, saya anjurkan; kenalilah pks lebih dekat, datang ke kantor dppnya, lihat kehidupan para alegnya dan bandingkan.!!
    Paling tidak, kalau pun citra parpol sekarang hancur-hancuran; maka pks adalah yang paling terbaik dari yang hancur-hancur itu...Pks masih bercitra bersih dan peduli....coba lihat, apa banyak kasus-kasus korupsi di berbagai daerah, melibatkan pks bila dibanding dengan partai lainnya? dapat dihitung dengan jari, dan itupun langsung diambil tindakan tegas: dipecat dan dikeluarkan secara tidak hormat.! (bandingkan dengan partai lain, yang paling hanya menegur..!? kasus yahya zaini, contohnya!)
    Terkait pencalonan:
    -sikap pks menolak untuk bicara, maka tidak etis mendeklarasikan balon yang belum ditetapkan dppnya sendiri..
    -balon yang diisukan itu masih menjabat, sedang pks ingin memberi pendidikan politik untuk tidak 'rangkap jabatan'...contoh, Hidayat mundur setelah terpilih jadi ketua mpr, dulu nurmahmudi juga mundur setelah jadi menhut...
    -belum dibuka pendaftaran balon oleh kpud, maka tidak mungkin sebut namanya
    -pks insya Allah dapat dipegang omongannya (tidak bohong) karena rata-rata kadernya militan dan agamis, beda dengan yang lainnya
    -masalah dana, memang pks selalu dapatkan dari kader dan simpatisannya...uang perlu, tapi bukan tujuan.!

  45. From Ichwan on 16 January 2007 22:10:37 WIB
    Untuk DKI-Satu pada 2007 ini kita nggak usahlah terlalu berharap akan adanya sebuah perubahan besar(benar-benar menghasilkan good guys). Karena calon yg terjaring harus masuk lewat pintu yang tersedia di masing-masing partai. Anggap sekarang pelatihan bagi warga Jakarta, untuk mencoba memilih yang terbaik diantara yang terburuk.

    Tapi, lima tahun ke depan harus mulai diwacanakan calon independen yang tidak melulu bergantung pada muatan masing-masing partai tersebut. Meski kedengarannya naif, dengan cara inilah kita bisa jaring balon gubernur yg lebih murah ketimbang harus lewat partai yang kudu setor sekian duit untuk bisa maju. Bahwa nanti calon indepen itu orang kaya atau dari kalangan tidak terlalu berpunya bukan sebuah masalah besar selama idealismenya dalam memajukan Jakarta dan memanusiawikan kehidupan di dalamnya tetap menjadi porsi utamanya dalam mengejar Jabatan itu

    Belajarlah dari Aceh yang berhasil mendudukkan calon independen menjadi Gubernur terpilih meski perolehan suaranya hanya 38,20 % aja.

    Sebuah catatan bagi Gubernur terpilih, bisa nggak persoalan sampah DKI itu nggak jadi masalah lagi karena bisa mengkonversinya menjadi sebuah sumber energi alternatif. Bisa nggak memberikan jaminan bagi warga proletar kebanggan sebagai warga DKI dengan memasok mereka Sembako dengan harga ringan lewat pengusaha yang menjadi rekanan Pemda DKI dan mereka berdagang dengan prinsip yg tidak jahiliyah (ambil untung sekadarnya).
  46. From gambler on 23 January 2007 13:01:34 WIB
    WW pedes n nyelekit? ga juga ah....itu sih orangnya aja yg sensi. jadi...benar ga rano karno masuk sbg calon? saya tunggu deh di pemilihan. kalau ga ada rano, mending golput kaleeeee.

    pks? kyknya ga ada salahnya kita kasih deh kesempatan buat pks. Soalnya golkar, pdip,p3,pkb, demokrat, semuanya udah dan tetap tdk ada perubahan berarti. sebaiknya calon pks sering2 muncul di jaktv dan banyak bicara agar rakyat dapat melihat kemampuan pks. jangan jadi militan dan agamis aje yg diandalkan. hari gini.......masih berpegang pada militan/agamis? jelas2 sudah disalahgunakan dan dijadikan sbg kedok. memang hal yg paling bisa dimanfaatkan,krn mayoritas masyarakat kita percaya.

  47. From gambler on 23 January 2007 13:05:24 WIB
    oh iya , utk WW, tetap nyelekit dan pedas ya. karena hanya yg begitu, saya tetap melek nontonnya. kalau nonton yg bicaranya jaman orde baru (kebanyakan basa basi), Ngantuk!!!
  48. From Insan Priyono on 23 January 2007 19:27:45 WIB
    Bung Wimar ini memang sudah sejak dulu saya kenal tidak netral kalau membawakan acara tertentu. Jadi gak heran kalau beliau sekarang masih seperti itu, mendukung salah satu calon dan menyudutkan calon yang beliau tidak sukai.
    Saya masih ingat ketika pasca Pemilu 1999 dan menjelang pilpres oleh MPR, saat beliau membawakan suatu acara, beliau sangat condong kepada MEGAWATI.
    Nah sekarang, saya yakin partai yg beliau tidak sukai adalah PKS dg "calonnya" Adang Daradjatun.

    Mohon maaf Bung Wimar, kalau kritikan saya memerahkan kuping Anda.

  49. From MASKUR YANTO on 08 April 2007 18:41:00 WIB
    KAMI ATAS NAMA DEWAN PENGURUS RANTING KONTAK BUDAYA KOMUNIKASI INDONESIA KELURAHAN TEGAL PARANG
    (DPRt KOBUKI KEL.TEGAL PARANG)
    SEJALAN DENGAN AKAN DIADAKANNYA PEMILIHAN KEPALA DAERAH TINGKAT I DKI JAKARTA (PILKADA) DKI JAKARTA PADA BULAN AGUSTUS NANTI
    MAKA KAMI DENGAN INI MENDUKUNG DAN MENCALONKAN BAPAK ADANG DORODJATUN UNTUK MENJADI GUBERNUR DKI JAKARTA PERIODE TAHUN 2007-2012 MENDATANG SEKALIGUS MENDUKUNG DAN MEMCALONKAN BAPAK DANI ANWAR UNTUK MENJADI WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA PERIODE TAHUN 2007-2012 MENDATANG
    DEMIKIAN PERNYATAAN KAMI SAMPAIKAN KAMI HIMBAUKAN KEPADA SEGENAP WARGA DAN MASYARAKAT TEGAL PARANG MAMPANG PRAPATAN UNTUK TURUT SERTA DALAM PERNYATAAN PENDUKUNGAN INI WASSALAM
    JAKARTA 6 APRIL 2007
    DEWAN PENGURUS RANTING
    KONTAK BUDAYA KOMUNIKASI INDONESIA
    KELURAHAN TEGAL PARANG
    TERTANDA MASYKUR YANTO
    KETUA DPRt KOBUKI KEL TEGAL PARANG
  50. From okalaksana on 12 April 2007 12:49:42 WIB
    Bung Ben dan Baru Siregar kayaknya anda melihat tanda2 yang salah.
    Memang kelihatannya sih inner circle ingin super instan dan ingin langsung merekrut orang-orang yang sudah jadi, segera berpihak ke jalur instan, dilakukan dimana-mana. Tapi maksudnya sih tidak sesederhana gitu. PKS punya agenda besar yang ingin dilakukan tahap demi tahap. Idealnya PKS ingin mencalonkan kadernya sendiri, tapi realistis saja siapa sih kader PKS yang terblow up di mediasa massa yang bisa diterima oleh masyarakat Jakarta? Harus diakui PKS masih besar di dalam. Orang PKS seperti Dani Anwar siapa sih yang banyak kenal? Kali cuma Kader PKS dan tetangganya mungkin tahu. Orang Jakarta lebih kenal dengan dani dewa lah. Saya kira wajarlah PKS menggunakan tangan Adang, seperti sangat wajar kalau om ww mendukung Kang Sarwono. Selama dukungan itu bisa memberikan kebaikan bagi orang banyak. Terimakasih buat forum ini : Mencerahkan secara intelektual , mudah-mudahan kalau PKS menang di Jakarta kita bisa tercerahkan secara spiritual.

« Home