Articles

Anton Budaya: Jiwa Wimar adalah Larry King, bukan George Bush apalagi Jusuf Kalla

Anton Budaya
20 December 2006

Anton Budaya tidak ingin Faisal Basri jadi Gubernur dan tidak ingin Wimar jadi Wapres, tapi dia ingin Wimar kembali tampil membawa talk show lagi. WW sih selalu mau, tinggal tergantung stasiun televisi, pemasang iklan, dan anda. Setuju tidak?

 

Wimar dan Momentumnya

Oleh Anton Budaya

Ada satu sore yang selalu saya ingat di masa-masa awal kuliah, yaitu sore bersama Wimar. Ya, saat itu ada acara TV di SCTV bernama perspektif dengan pembukaan acara proses pembuatan sketsa gambar Wimar yang khas...saya begitu ingat.

Dialog-dialog Wimar yang menyentil, lucu dan cerdas membuat kita tertawa. Tertawa karena di jaman itu kecerdasan berbicara seperti tak ada harganya, setiap orang di Indonesia dituntut menjadi manusia Orde Baru yang baik. Yang membebek dan menilai kemanusiaan hanya dari harta bukan kemampuan berpikir dan kritis. Di tengah situasi membeku Wimar hadir, dan perlahan mulai memecahkan danau es di lautan publik yang lama membeku.

Saya lihat kemudian, hanya sebentar...hanya sekilas Wimar hadir menjadi jubir. Tapi jabatan dia sebagai jubir rezim Gus Dur tidaklah semonumental ketika dia hadir mengisi waktu sore di ruang-ruang keluarga kita.

Lama sudah waktu berlalu. Dan saya tak tahu perjuangan Wimar. Mungkin bagi saya Wimar sudah mundur ke wilayah privasi-nya dimana dia menikmati hidup bersama keluarga, kawan-kawan mudanya dan para intelektual yang sepaham dengannya. Tapi dia tak menyapa publik ...lama...lama sekali.

Kemudian saya tahu ada Wimar di internet, saya melihat Wimar sebagai manusia lagi. Dia yang lucu, toleran dan egaliter. Tapi sekaligus dia individualis yang tahu batas-batas prinsip. Dia bisa dengan tegas berkata "ini website saya, jadi jelas disini saya harus menjelaskan pandangan saya, perkara anda (pengunjung website) setuju atau tidak, itu urusan anda" maka jika anda paham apa itu sekularisasi dalam pengertian sebenarnya, demokrasi dalam pengertian sesungguhnya dan `carpe diem' dalam bahasa sesungguhnya, lihatlah Wimar. Jika GM dijuluki `manusia barat berwajah melayu' bolehlah saya juluki Wimar `manusia intelektual berwajah demokrasi"

Di satu pagi saat saya lihat Wimar di `Back to Beck' Metro TV. Acara ulang tayang kiranya. Dia bilang "seakan hidup saya udah nggak punya purpose lagi...saya lagi bete, setelah isteri saya meninggal" lalu dia melihat Titie Said, wanita penulis yang tegar dan masih tersenyum, seperti layaknya wanita Jawa yang kuat dengan ketabahan. Secara tersirat Titie Said mengajarkan pada Wimar, lives must go on...dan untuk Wimar jelas artinya : Show must go on.

Dan saya terkejut entah ini `gojek' yang ndak lucu atau jebakan dari sekelompok orang? Saya tak tahu. Wimar mau jadi Wakil Presiden. Memang ada kalanya penonton di luar garis yang meneriaki pemain, bisa menjadi pemain seperti : Nelson Mandela, Vaclav Havel atau Lech Walesa. Tapi ada kalanya ketegaran moral dan intelektual menemukan momentumnya ketika dia tetap berada di luar garis permainan. Arief Budiman dan Mohandas Karamchand Gandhi adalah contoh yang baik untuk itu.

Jiwa Wimar adalah jiwanya Larry King, bukan George Bush apalagi Jusuf Kalla. Dia banyak bicara karena dia banyak idea. Idea-lah yang selalu menghidupkan api intelektual bangsa. Maka saya pesan kepada pembisik-pembisik Wimar. Kepada orang-orang yang dicintai Wimar. Untuk mempengaruhi Wimar maju lagi menjadi presenter di acara `smart talk show'. Jangan hanya sebatas di Jak-TV.

Ketika Republik Mimpi kehilangan vitalitasnya, karena gonta-ganti format dan pengisi acara, lalu terakhir bergeser seakan-akan ke arah ruang kelas kuliah Effendi Ghazali yang sama sekali tak menarik karena hanya buka-buka kliping koran dan ngambil orang-orang yang mirip tokoh dan disuruh membaca seperti anak SD. Dalam hitungan bulan karir Effendi akan tamat. Karena Republik Mimpi sudah kehilangan peminat.

Dan ketika Tukul berjaya dengan acaranya "empat mata" yang menghilangkan penat, lalu ulah gila Indy Barends dan Indra Bekti yang sungguh luar biasa. Maka Wimar harus bisa tampil. Mengibarkan bendera dan berteriak "orang biasa,.. bersatulah!!"

Pesan kepada pembisik Wimar

  1. Buatlah konsep acara yang menarik
  2. Bekerjasamalah dengan jago-jago talk show seperti Wishnutama atau Ani Sumadi
  3. Kedepankan atmosfer gen-D (Generasi Demokrasi) yang menghargai pluralitas, egaliter, terbuka, kritis dan berani.
  4. Bekerja sama dengan stasiun-stasiun TV yang memiliki daya jangkau relay yang luas seperti : RCTI, SCTV atau Trans TV.
  5. Maaf bila saya sok tahu. Tapi bagi saya Wimar lebih cerdas daripada Dalton Tanonaka.

Semoga Wimar bisa bangkit lagi dan lebih dikenal sebagai ikon demokrasi di Indonesia, ketimbang jadi cawapres.

Salam Demokrasi

ANTON
http://anton_djakarta.blogs.friendster.com/my_blog/
http://www.friendster.com/4372113

Print article only

12 Comments:

  1. From Ramli Sihaloho on 21 December 2006 17:45:09 WIB

    kecerdasan, ketajaman dan daya analysis Bung Wimar sudah teruji dan tdk ada keraguan soal itu , paling tdk menurutku yg sedikit banyak mengetahui sepak terjang beliau dalam dunia persilatan. yg belum jelas bagi saya potret seorang Wimar ini arahnya kemana ! harapan saya beliau bisa total dalam melakoni perannya yg sangat langka utk kebaikan negeri ini. dan jgn juga setengah2 supaya hasilnya bisa OPTIMAL dan impactnya ada dan dapat dirasakan oleh orang2 yg masih punya rasa dan yg masih punya fikiran yg waras.
  2. From xta on 22 December 2006 03:31:34 WIB
    setuju. With you on TV, then I will start watching TV again, after so many time of hibernating my TV because sekarang isinya cuma bagi-bagi duit dan kekerasan rumah tangga, sama gosipin selebritis. Bos ww, jangan bete ya. Live it to the fullness when you feel empty inside :)
  3. From Amir Basalamah on 23 December 2006 17:27:54 WIB
    Iya tuh, Kafi Kurnia udah maju di Midnite Show SCTV, konsep anti-marketingnya udah mau jalan...Kiprah Bung Wimar saya tunggu..

  4. From JaF on 27 December 2006 01:44:04 WIB
    sangat amat setuju 2 ribu persen.. hayo pak.. para orang biasa menunggu anda!
  5. From Bondan Tanuwiryo on 28 December 2006 15:12:20 WIB
    Merekrut Wimar sebagai bintang talk show adalah peluang menguntungkan bagi penyelenggara program TV jangan disia-siakan...
  6. From awet on 29 December 2006 18:59:23 WIB
    "SEMUA PASTI ADA HIKMAHNYA"
  7. From Giga Larasati on 02 January 2007 17:21:50 WIB
    Oom Wimar yang bulet khan, dulu waktu TK aku sering nonton lucu deh...sekarang aku udah SMA hehehe...iiih si Oom...endut-endut lucu
  8. From Agif Nasrul on 03 January 2007 21:16:34 WIB
    Oom Wimar maju terus
  9. From Mieke Tan Widjaja on 04 January 2007 13:27:50 WIB
    gagasan cerdas mengangkat Wimar Talk Show sebagai salah satu program acara
  10. From Gumilang Sri Wigati on 11 January 2007 15:25:33 WIB
    Oom Wimaaaarrrr dicari mbah saya tuh mau ditangkep hehehehe...mbah saya Jenderal Witono...masih inget Oom?
  11. From wimar on 11 January 2007 16:12:34 WIB
    Saya ingat sekali Jendral AJ Witono, Pangdam VI/Siliwangi setelah Jendral HR Dharsono. Dua-duanya orang baik dan dekat pada mahasiswa. Mendukung demokrasi dan pembaharuan. Secara pribadi, Pak Witono dekat dengan saya. Pada waktu saya tinggal di Bangkok bekerja sedikit menjelang pernikahan kami, calon istri saya dan saya sempat seharian mengantar dia belanja oleh-oleh.
  12. From Gumilang Sri Wigati on 12 January 2007 16:28:52 WIB
    Iya Oom, Mbah dulu sering cerita katanya mahasiswa-mahasiswa deket sama dia waktu di Bandung, padahal Mbah saya kan orangnya galak hehehe....Memang Oom Wimar ngapaen sih pengen ditangkep sama Mbah saya...Oom jahat ya??

    Kalo kakek Ton, itu HR Dharsono, saya pernah ketemu tahun 80-an di masjid Al Azhar waktu saya masih umuran lima tahun, trus nggak lama kakek Ton ditangkep sama tentara, kakek Ton kan baek kok ditangkep Oom?? Kakek Ton kata Mbah saya itu orangnya necis, jujur dan terus terang saja sikapnya..jadi ya ndak banyak disukai sama orang-orang pemerintahan....

« Home