Articles

Panduan Pemilih Pemula Gubernur Kita

Perspektif Online
21 December 2006

Oleh Daisy Awondatu

Berbeda dengan 11 episode Gubernur Kita sebelumnya, tidak ada satupun perwakilan dari parpol yang hadir kali ini. "Takut mungkin mereka", celetuk WW. Oh tidak… Justru episode kali ini benar-benar mau mengedukasi pemilih pemula yang diwakili oleh mahasiswa dan ingin lebih banyak berinteraksi dengan warga.

Q : Apa saja yang harus diperhatikan calon pemilih pemula:

Hadar N. Gumay (CENTRO) : Yang harus diperhatikan adalah:
1. Harus terdaftar : kalau tidak terdaftar, tidak bisa memilih.
2. Sadar bahwa kita punya suara : kalau ingin ada perubahan, harus memilih.
3. Ingat, kekuatan orang orang muda sangat besar : karena jumlahnya banyak.
4. Yang bisa memilih hanya yang punya KTP Jakarta

Q : Harusnya sekarang calon pemilih sudah didaftar. Apa di sini (mahasiswa) sudah ada yang didaftar?

Mahasiswa : Belum!
Hadar N Gumay : Di sini kelemahan Pilkada, daftar pemilih selalu jadi masalah, tidak ada pemuktahiran data.

Q : Jangan-jangan mahasiswa tidak mendaftar karena tidak tahu siapa yang dipilih. Benarnya tahu tidak nama balon gubernur? 

Mahasiswa : Tidak begitu tahu…

0ubl.jpg

 

Q : Coba sebutin nama balon, kira-kira siapa yang pernah didengar?

Mahasiswa A : Rano Karno
Mahasiswa B : Fauzi Bowo
WW : Dua-duanya ngga pernah datang ke Gubernur Kita

Q : Mahasiswa ngga akan bisa memilih kalau tidak tahu calon-calonnya siapa saja?

Ryaas Rasyid : Partai-partai memang harus tentukan calon dulu.
SMS Penonton : Partai-partai cenderung tidak mengumumkan calonnya, karena sibuk menunggu balon menyumbang berapa banyak.
WW : Takutnya ada partai yang yakin menang tanpa perlu disosialisasi siapa calonnya.

Q : Apa tips bagi pemilih pemula?

WW : Rasakan bahwa diri anda berperan penting di sini. Kalau dulu sich memilih atau tidak memilih hasilnya sama saja, sekarang beda, kita bisa benar-benar memilih sekarang. Dulu saya pertama kali meilih usia 53, karena pada jaman Soeharto tidak bisa memilih. Sekarang anda bisa tentukan!

0mhs.JPG

 

Q : Ironis sekali mahasiswa tidak tahu informasi Pilkada, harusnya mereka pro aktif cari tahu.

WW : Jangan hanya salahkan mahasiswa. Harusnya parpol-parpol itu yang aktif menginformasikan, menampilkan calon-calonnya, lewat cara apa saja.

Q : Perlu ada komisi yang netral untuk membantu menjelaskan calon-calon pada kita, dan membantu kita membedakan calon good guy dan bad guy.

WW: Tidak ada yang netral dalam politik, semuanya subyektif. Bedanya ada yang terang-terangan, ada yang pura-pura sok objektif. Selain itu, di dalam demokrasi masing-masing orang punya pilihan sendiri dan dia yang harus menilai sendiri.
EG: Kalau di luar negeri ada LSM yang menyampaikan isu-isu tertentu terkait dengan masing-masing calon, dan berdasarkan data-data tertentu.

Jadi, kita punya suara yang kuat dalam menentukan calon gubernur. Kita bisa memilih, dan harus memilih.

0front.JPG

narasumber, host, dua panelis - silakan lihat foto lain

 

Bang, ini SMS siapa Bang

Oleh Hayat Mansur

Dua pesan singkat (SMS) yang dibacakan dalam acara “Gubernur Kita” patut menjadi perhatian bersama walaupun sifatnya mungkin masih sinyalemen.

SMS 1: “Partai-partai cenderung menunggu semua bakal calon (Balon) menyumbang, baru ditentukan siapa yang nanti dipilih.”

SMS 2: “Rakyat sudah mulai apatis dengan Pilkada karena Parpol tidak melakukan pendidikan politik, malah pada sibuk mencari untung. Bahkan ada sebuah Parpol yang memperdagangkan Parpolnya untuk sebuah Pilkada dengan nilai Rp 30 miliar.”

Benarkah isi pesan tersebut? Jika Anda mengetahui jawabannya tolong bantu.

Satu hal yang pasti untuk saat ini adalah Parpol belum melakukan pendidikan politik. Buktinya, acara Gubernur Kita sudah memasuki episode ke-12 tapi mahasiswa yang merupakan kalangan terdidik masih belum mengetahui nama-nama bakal calon gubernur.

Padahal dalam episode ke-10 para petinggi Parpol di DKI Jakarta menyatakan sudah banyak nama-nama yang melamar menjadi calon gubernur ke partai mereka. Pertanyaan berikutnya, mengapa belum juga dipilih? Apakah itu karena seperti isi SMS tadi.

Saya pribadi masih berharap itu bukan karena money politics. Karena itu di sini Parpol hendaknya mendengar pesan Bung Wimar. “Kepada partai yang tidak datang, ini PR Anda. Mahasiswa saja tidak mengetahui mau memilih siapa, tidak bisa membedakan good guy dan bad guy. Kalau mereka tidak tahu hal tersebut maka tidak bisa diharapkan mereka mau mendaftar ikut Pilkada.”

 

Baca juga:

Print article only

11 Comments:

  1. From Ramli Sihaloho on 22 December 2006 16:27:17 WIB
    ada 2 hal yg menjadi perhatian saya disini. pertama, money politic no way ....harus diteriakin jika ada indikasi kesana dan harus digantung oknumnya kalau itu benar2 terbukti. kedua, kalau nama2 calon gubernur aja mahasiswa2 sudah tidak tahu, terus yg mereka tau apa ! ini sangat memprihatinkan dan mestinya istilah mahasiswa diganti dengan MAHADODOL.
  2. From angga on 23 December 2006 10:04:00 WIB
    wah mahasiswa dikritik nih, tapi saya yakin tidak semua mahasiswa harus dibilang mahadodol, apa ngak inget dulu juga kita semua sama2 ngak tahhu apa2 tentang dunia politik, semua kan proses. demokrasi aja bentuknya masih gak karuan semenjak mahasiswa mendengungkan reformasi tahun 98, hal ini kan menunjukan bahwa ada pergeseran minat yang dulu suka banget mencari tahu tentang ppolitik sekarang mulai berkurang. banyak faktor mungkin, apa ada yang melihat politik sebagai dunia yang sangat kotor sehingga mahasiswa tidak mau lagi ikut serta, tapi tren yg berkembang mungkin mahasiswa sudah mulai ditunggangi oleh kepentingan2 tertentu yang notabene adalah juga kepentingan dukung-mendukung. parpol juga trlalu sibuk cari sumbangan sampai2 kewajibannya dilupakan untuk memberikan pendidikan politik ke masyarakat. semua kan proses jadi jangan terlalu cepat menjudge mahasiswa lah. kita juga sebagai warga negara juga harus banyak cari tahu dan aktif mengupdate informasi,, jangan pasif,,, selamat natal semua,,, om ww natalan gak ya????? kalau iya slamat natal semoga sehat dan makin gemilang,,, kalau ngak tetep selalu sehat, bahagia, dan sukses,, bless youu...
  3. From clueless on 23 December 2006 13:45:28 WIB
    emangnya dah ada calonnya? bukannya baru BALON, Belum tentu jAdi caLON? alias ga jelas. jadi jangan gitu donk ama mahasiswi/a, dukung dan bimbing mereka donk (pembelaan dari mantan mahadodol)
    sebenernya apa ya hubungan parpol ama calon? (ternyata aq dodol tanpa maha)
    walau clueless yang jelas saya ga mau gubernur yang ga aktif, pengecut, atau bisu (no offence buat pengecut atau mime in general).
    kalo bisa ngeluarin duit segitu banyak kok gak bisa ngeluangin waktu untuk berinteraksi dengan calon warganya? ga masuk akal.
  4. From anton on 23 December 2006 17:55:38 WIB
    To :
    Bung Ramli
    Intelektualitas mahasiswa tidak harus dilihat sejauh mana ia tahu dengan detil aktualita yang terjadi, tiap mahasiswa ada dunianya sendiri, tiap mahasiswa ada bagian-bagian kecerdasannya sendiri dan tiap mahasiswa ada tindakannya sendiri yang dia anggap benar dan ideal di alam pikirannya.

    Saya rasa mahasiswa Indonesia mahasiswa Indonesia masih jauh lebih idealis ketimbang mahasiswa Thailand misalnya, ada ungkapan dari teman saya yang jadi dosen di Thailand, dia bilang "di Thailand masa muda mahasiswa adalah masa senang-senang, ini beda di Indonesia masa mahasiswa adalah masa perjuangan yang sulit dan menyakitkan dalam memenuhi idealisme mereka" dan ini sedikit membanggakan saya. Di Indonesia mahasiswa tidak harus dilihat sebagai bagian kecil dari lapisan borjuasi yang hura-hura, atau bagian agamis yang kental ta'atnya tapi harus dilihat secara keseluruhan.

    Sekilas memang mahasiswa Indonesia memprihatinkan seperti apa kata saudara, atau seperti keprihatinan Sri Edhie Swasono yang sebal karena mahasiswa-nya jurusan ekonomi pembangunan banyak yang tak tahu letak kota-kota dan pulau di Indonesia. Yah, kita masih perlu prihatin.
    Tapi pengalaman saya memperlihatkan ketika mahasiswa Indonesia dihadapkan pada persoalan sosial yang rumit dan buntu maka mahasiswa Indonesia selalu maju ke depan sebagai lapisan pendobrak. Dan disinilah nilai sesungguhnya dari mahasiswa yang harus dilihat.

    ANTON

    Tetap Pilih Rano Karno

  5. From sugiharto purnomo on 23 December 2006 22:34:08 WIB
    ya wajar mahasiswa belum tahu calon gubernurnya, wong dosen yg ngajarin aja sibuk deketin cagubnya.sementara parpolnya sibuk ngurusi sumbangan2 cagub yang mau daftar keparpol masing2........mahasiswa mah solid and peduli ama urusan2 begini,tanpa dibayarpun mereka selalu terdepan.....makanya kalau mau komentar ya ngaca dulu donk apa yang ampe hari ini bisa anda perbuat untuk kepentingan mahadodol...intinya jakarta hrs dipimpin oleh gubernur yang tegas,berwibawa,dan merakyat.aku sih jelas pilih pemimpin yang brani mlarat untuk kesejahteraan rakyatnya.
    itu baru yang namanya pemimpin sejati.
  6. From Ramli Sihaloho on 24 December 2006 13:47:57 WIB

    istilah MAHADODOL itu saya lontarkan dengan maksud baik kok yaitu suatu bentuk stimulasi untuk bisa lebih proaktif. agak susah diterima dimana acara gubernuran yg sudah memasuki episode 12 tapi belum copy para kandidat2 yg bermunculan atau yg dimunculkan, apakah itu yg balon atau calon atau apapun namanya.

    sekali lagi saya tidak ada maksud melecehkan atau underestimate tentang keberadaan mahasiswa, wong saya pribadi juga pernah pake jaket itu kok. mari kita gunakan logika sederhana untuk mencerna statement tersebut yg mungkin agak bersifat kontroversial dan itu adalah lumrah.

    sejarah sudah mencatat fungsi dan peran mahadodol eh mahasiswa maksudku dalam menentukan arah perjalanan bangsa ini. no body doubt sebab sejarah adalah potret masa lalu untuk melihat realitas masa kini dan mendatang.
  7. From Tito Batubara on 24 December 2006 18:44:16 WIB
    Saya setuju sama Bung Ramli. Mungkin mahasiswa yang ga tau Balon2 berbeda sm mahasiswa yg demo2 di jalanan itu. Tapi menurut saya, tetep aja ga tau Balon itu sesuatu yang bisa dibilang memalukan. Contohnya, teman saya, dy orang Jogjakarta, kuliah di Singapore, tapi dy tau siapa2 aja yang balon Jakarta. Kenapa yang di Jakarta ga tau? apakah mereka ga baca koran? kan exposurenya dah banyak, bahkan melalui acara ini. apakah mereka sibuk belajar meningkatkan pendidikan Indonesia yang terpuruk? atau ga peduli, tapi ikut2 demo aja?

    Buat Bung Anton,
    memang mahasiswa itu berani, dan perhaps some of them are really idealists. But I can't see your argument showing mahasiswa can be still considered intelectual, if not the most intelectual people in the country.

    Bung WW, I'm reading your book 'No Regrets' currently. U r certainly one of the best sons of the country. Good luck for the show. I hope it fullfils its objectives, whatever they are.
  8. From anggA on 26 December 2006 11:40:37 WIB
    mahadodol melulu yang dibahas, semua orang punya minat masing2 hargai aja, ada yg suka politik, musik, agama dll ga usah mematok kecerdasan orang atau kualitas seseorang dari pengetahuan yang up date, mungkin aja juara2 omlimpiade sains lebih prefer menghafal rumus dan teori2 sains daripada ikut pusing mikirin panggung politik yang penuh dagelan, kadang2 saya merasa panggung politik atau masalah2 demokrasi di negri ini bisa merusak kebahagiaan, buat bung ramli saya berharap kalau berkomentar boleh banget pake istilah yang lugas, tapi bagi saya yang masih menjalani proses belajar juga sedikit surprise dengan istilaha maha----- karena saya juga menjalani proses melewati jenis manusia maha-----, hargailah kami2 yang masih belajar,,, saling mendukunglah dalam mencerdaskan kita yang kini masih mencoba melewati fase maha----- thx. om ww,,, apa kabarmu?????
  9. From franz on 26 December 2006 21:54:05 WIB
    teman2 mhs taunya kan dari media.. nama2 org yg sering digosipin pengen berlaga dalam "pilkada games".. terang aje yang dikenal di doel dan si bajoeri (ups bowo, fauzi)
    ..bintang pelem dan bintang bilbod :)

    yg buat gue penasaran, apakah partai2 selain PKS mau memunculkan calon yg berkualitas like: FB (bukan bajoeri) dan SKA (mungkin a few good guy)...takutnya tar karena mereka kurang "gizi" jd dak kepilih...

  10. From Alex Maffay on 29 December 2006 16:08:21 WIB
    Mahasiswa itu, menurut saya bagaikan pemancar pada stasiun televisi. Dia harus diberi input dan kemudian memancarkan output kepada masyarakat yang mampu menangkap sinyalnya. Demikian halnya untuk mengenal para calon Gubernur, hendaknya Para calon Gubernur sendiri yang mendatangi mahasiswa. Bisa melalui kegiatan seminar sehari, Pentas Seni dan lain sebagainya. Serta melakukan Kiat yang bisa diinspirasi melalui teknologi canggih 3G (Three G). Melalui hal ini, para calon Gubernur dapat melihat, menghimpun, menyerap, dan merealisasikan langsung apa yang diinginkan oleh para pemilih pemula bila kelak terpilih sebagai Gubernur. Tidak seperti sekarang, mereka hanya disibukkan untuk mengumpulkan dana supaya dapat diterima oleh Partai Politik yang menggandengnya. Demikian pula halnya dengan Partai Politik, jangan hanya melulu menunggu seberapa banyak sumbangan para calon Gubernur. Sehingga Partai Politik hingga saat ini belum dapat menunjuk siapa calon para Gubernurnya. Bila hal ini terjadi, maka para pemilih pemula itu bak memilih kucing dalam karung.
    Bravo Jak Tv dan WW, tetap kritis dan mangkus demi para pemilih pemula yang trengginas dan mewas dalam memilih Gubernurnya.
  11. From Willy on 11 January 2007 18:50:10 WIB
    Maaf ya baru ikut nimbrung,mnanggapi perdebatan antara angga dan ramli,saya mungkin dikatakan sekata dengan Angga,karena istilah "MAHADODOL" yang ramli kemukakan tidaklah pantas untuk mengistilahkan mahasiswa jaman sekarang,Pasalnya pasti bung Ramli juga pernah melewati Fase sebagai mahasiswa,ya donk???"MAHADODOL" = MAkan HAti gDOempLAnk DOloan.jika MAHADODOL terdengar ke telinga Khalayak umum,maka akan banyak orang seperti saya dan Angga yang tidak setuju jika istilah tersebut dipakai.Kualitas seseorang tidak dapat diukur dari pengetahuannya akan dunia politik saja.misalkan belum tentu seseorang bergelar "PROFESOR" dibidang ilmu pasti(ilmuwan,matematikawan,para peneliti,dsb) mengetahui tentang dunia politik,bisa jadi donk??maka tolong jika mengeluarkan istilah atau ungkapan agak sedikit DIPIKIRKAN MATANG-MATANG....

    menanggapi permasalahan yang ada, wajar2 saja para Mahasiswa, ups malah bukan mahasiswa saja yang dikatakan tidak mengetahui tentang para BALON,mnurut pmikiran saya,para BALON kurang gencar dalam mempromosikan diri mereka.Mereka cuma nempel-nempel muka mereka pada dinding rumah,tiang listrik,kendaraan dan paling bagus pake balon udara...kalo dari saya pribadi,saya baru mengetahui nama2 para BALON pada "H minus satu".jadi wajar2 saja kalau para mahasiswa tidak tahu-menahu tentang para BALON.lagipula(karena saya juga mau masuk ke jenjang perkuliahan),dunia politik belum memperlihatkan adanya suatu ketertarikan pada diri saya.saya lebih baik memilih belajar,ngumpul2 bareng keluarga dan teman ketimbang mencari informasi tentang para BALON..bisa saja kan banyak orang(khususnya yang umurnya tidak jauh beda dari saya)yang berasumsi seperti saya??

    sebenarnya sih bukan salah para balon juga,mungkin saya dan orang2 yang umurnya disekitar saya belum tertarik untuk melirik dunia politik serta kurangnya sosialisasi dari para BALON untuk mempromosikan diri mereka ke Khalayak umum...

    Untuk Bung Tito Batubara....maaf kalau saya sedikit membantah,menurut saya anda tidak bisa menyamakan mahasiswa indonesia yang kuliah di luar negri dengan mahasiswa indonesia yang kuliah diluar negri.jika dipikir secara objektif,itu merupakan suatu perbandingan yang amat jauh,pasalnya mahasiswa indonesia yang kuliah diluarnegri akan ada rasa kangen dan keingin-tahuan yang besar terhadap Negrinya tercinta sedangkan mahasiswa indonesia yang kuliah di Indonesia mungkin sebagian ada yang mencari tahu tentang keberadaan para BALON tapi mungkin juga khan ada yang tidak??dan jumlahnya kita tidak dapat memperkirakan,tapi menurut artikel ini,anda bisa memperkirakan donk jumlahnya?Jelas sekali pada hal yang anda kemukakan ada hal yang sangat significant sekali berbeda yaitu Pola Pikir.hehehe,khan bisa banyak hal yang terjadi didunia ini...

    Untuk Bung WW,Terima Kasih Banyak atas tempat untuk menyatakan Commentnya ya........

    Wasalam,Tuhan MEmberkati.....

« Home