Articles

Fauzi Bowo vs Adang Daradjatun?

Perspektif Online
28 December 2006

oleh: Hayat Mansur

Fauzi Bowo kini sudah resmi menjadi calon gubernur dari PPP. Sekretaris DPW PPP DKI Jakarta Ridho Kamaluddin mengumumkan hasil keputusan partainya.  Fauzi Bowo terpilih sebagai calon gubernur lewat voting, mengalahkan Agum Gumelar dan Machfud Djaelani.

Aneh juga. Jadi ada orang yang diam-diam terpilih jadi calon partai. Ada partai yang tidak mau mengumumkan calonnya, tapi semua orang sudah tahu namanya. Yang pertama adalah Fauzi Bowo, yang kedua Adang Daradjatun. Dua-duanya belum muncul di acara Gubernur Kita. Ada yang sudah secara terbuka mengumumkan niatnya menjadi Gubernur, memberitahukan programnya, tapi belum mendapat dukungan partai. Mereka malah lebih dulu memperkenalkan diri di acara Gubernur Kita: Faisal Basri, Sarwono Kusumaatmadja, Edi Waluyo, Bibit Waluyo. Apakah proses Pilkada selanjutnya akan lebih transparan dari permainan ini?

Episode ke-13 Gubernur Kita di Jak TV Kamis malam (28/12) menampilkan narasumber Sekretaris DPW PPP DKI Jakarta Ridho Kamaluddin, Wakil Ketua DPD Demokrat DKI Jakarta Santoso dan Direktur Eksekutif CETRO Hadar N. Gumay.

  • Effendi: Apakah Partai Demokrat tidak iri terhadap PPP yang telah berhasil memutuskan nama calon gubernurnya?
  • Santoso: Masing-masing partai sudah punya sistem dan mekanismenya. Ini hanya soal waktu saja. Partai Demokrat pada 3 Januari akan menggelar musyawarah untuk membicarakan calon gubernur. Kelihatannya nama-namanya sama dengan yang diusulkan PPP.
  • Wimar: PPP dulu mengumumkan masuk dalam Koalisi Jakarta dimana Partai Demokrat termasuk juga.. Kalau begitu apakah Fauzi Bowo juga menjadi calon dari Koalisi Jakarta? Terus terang saja.
  • Santoso: Kalau to the point, namanya bukan politik.

 

ridho.JPG            santoso.JPG
Ridho Kamaluddin dari PPP                                          Santoso dari Partai Demokrat

 

Koalisi Jakarta mencakup semua partai selain PKS yang dikabarkan akan mencalonkan Adang Daradjatun. Kalau begitu, apakah tahun depan kita akan melihat Fauzi Bowo dan Adang Daradjatun di babak final? Apakah mereka good guy? Kriteria tersebut dipertanyakan para pemilih pemula yang hadir di acara Gubernur Kita.

Melalui telepon, Ola dari Cilandak menilai Wimar Witoelar selaku panelis tidak obyektif karena pernah menyebut nama Fauzi Bowo. Dialog selanjutnya:

  • Wimar: Padahal saya tidak mendukung Fauzi Bowo. Tapi kalau soal kenetralan, komentar saya adalah bahwa tidak ada yang netral. Semua subyektif, hanya ada yang subyektif terbuka ada yang subyektif terselubung. Saya subyektif, tapi tidak ke arah Fauzi Bowo.
  • Wenaldi (co host): Pernyataan Bung Wimar itu sebenarnya terkait yang disampaikan Bang Ridho (PPP) beberapa waktu lalu bahwa tokoh Betawi bukan hanya Fauzi Bowo.
  • Ridho: Kalau tidak mendukung bukan berarti tidak memilih.
  • Wimar: Saya tidak mendukung Fauzi Bowo. Tapi saat pemilihan, saya akan melihat siapa pesaing dari Fauzi Bowo. Jika ada lawannya lebih jelek, saya dukung Fauzi Bowo.

Topik penting masuk dari penelepon Indra di Halim dan dari pemilih pemula di studio, Modi mahasiswa UI dari Duren Sawit. Ia tanya apakah calon gubernur yang semula good guy kemudian di tengah jalan berubah menjadi bad guy, bisa dicopot? Apakah bisa ada semacam kontrak politik semacam itu?

  • Hadar: Kontrak politik semacam itu sulit untuk diterapkan karena UU kita tidak membuka ruang untuk itu. Jadi kita yang harus mengawal dan mengkritisinya selama lima tahun. Kita juga bisa gunakan hak suara kita untuk tidak memilihnya lagi lima tahun mendatang.

Modi menambahkan bahwa ia curiga terhadap politikus, dan karenanya takut memilih

  • Wimar: Sangat umum ada kecurigaan terhadap politikus. Tapi Anda harus memilih, karena memilih dalam sistem demokrasi itu seperti bernafas dalam kehidupan. Jika good guy tidak memilih, maka bad guy akan terpilih lagi.
  • Ridho: PPP sebelum memutuskan nama Fauzi Bowo telah bicara dengan yang bersangkutan agar program-programnya nanti bisa tercapai. Kita juga akan terus memantaunya.

 

penutup.JPG

 

Hadar N. Gumay kembali mengingatkan kepada para pemilih pemula untuk menggunakan suara mereka. Points yang disampaikan:

  1. Suara pemuda sangat penting karena berdasarkan data, jumlah pemilih pemula di DKI lebih besar dari perolehan suara PDIP dan juga suara gabungan Partai Golkar dan PPP.
  2. Penting untuk memilih 'good guy' karena pilihan yang tidak tepat akan merugikan pemilih sendiri.
  3. Paling penting dari semua, orang harus mendaftar. Tanpa mendaftar, anda tidak bisa memilih.
 

Print article only

20 Comments:

  1. From Ramli Sihaloho on 29 December 2006 07:15:23 WIB

    ini adalah suatu tantangan sekaligus ujian untuk para good guys yg sudah muncul di public maupun yg belum. kalau memang mereka2 serius dan merasa terpanggil untuk tugas itu, harus ikutin aturan main PILKADA yg ada apa dan bagaimanapun kondisinya. ya nggak mungkinlah walapun itu very very good guy dan punya kapasitas lebih dapat muncul kalau tidak mau muncul alias tidur. do something to get your dream and get luck in the real world .
  2. From Bebas Siregar on 29 December 2006 10:41:51 WIB
    OK saya dukung Fauzi Bowo deh, mudah2an golkar juga dukung Bang Fauzi.
    Sekarang kita perlu kembali ke tiga partai saja seperti dulu. Golkar PPP dan PDI. Ini sudah lebih dari cukup. Saya mendukung Golkar. Berjayalah Golkar. We shall return.
  3. From Baskoro on 29 December 2006 11:41:30 WIB
    Kalo pak AD terpilih, nasibnya bakalan nggak jauh beda dengan Nurmahmudi.
    Kalo bang Foke terpilih, Beliau akan pusing untuk bagi-bagi kekuasaan (karena banyak partai yang mendukung).
    Dan kalo om-WW mulai menyebut Foke, sebentar lagi muncul deh di Gubernur Kita, berarti tambah satu partai lagi yang dukung Foke.
    Om-WW kok cepet ya banting stirnya? Kasihan deh FB.
  4. From Satya on 29 December 2006 12:19:52 WIB
    2006: PARTAI MENENTUKAN
    sambil sebagian orang baik mempermasalahkan "netralitas" (padahal sendirinya cela calon yang berani tampil dg program dan bela calon yg ga punya program), partai sudah bisa menentukan orang lain sama sekali yg mereka suka dan tidak suka tanpa bantuan suara kita.

    2007: KITA MENENTUKAN?
    teorinya begitu. hak suara sudah diberikan. tapi kalau kita masih mau seminar mengenai "netralitas" dan tidak ambil pendirian, sementara bad guys sudah melaksanakan demokrasi dalam cara yg benar yaitu berkampanye, apa yg bisa kita harapkan?

    on the other hand, KALAU semua partai udah koalisi, untuk apa memilih? paling tidak untuk vote against calon yang lebih korup. another case of lesser of two evils. mengecewakan :(
  5. From pengamat on 29 December 2006 15:57:27 WIB
    Jadi suara buat Sarwono dan Faisal Basri akan merupakan "suara mubazir".
    Sayang sekali !!
    Kesan yang diberikan kepada saya (termasuk oleh moderator) adalah bahwa kita harus milih yang paling sedikit kejelekannya dari calon calon yang tidak cocok.

    Kapan kita akan bisa milih dari yang betul betul good people ?
  6. From wimar on 29 December 2006 16:52:25 WIB
    Wah Pak Baskoro perlu lebih teliti. Saya tidak mendukung Fauzi Bowo. Di acara Gubernur Kita jelas-jelas saya katakan, saya tidak mendukung Fauzi Bowo. Saya mendukung Faisal Basri karena dia good guy. Saya selalu mendukung Sarwono Kusumaatmadja karena dia good guy. Saya menduung Marsillam Simandjuntak, Sri Mulyani. Tapi kalau nant calon Gubernur hanya ada Fauzi Bowo dan lawannya adalah 'bad guy' orang korup dan main uang politik, kalau orang itu lebih jelek dari fauzi Bowo, saya akan pilih yang kurang jelek.
    Partai yang menentukan calon, kita orang biasa memilih yang terbaik - atau yang kurang jelek - diantara calon.Nggak kurang jelas, mudah-mudahan haha.
  7. From baskoro on 01 January 2007 20:00:25 WIB
    Om, saya cuman bilang menyebut.
    Ya syukur deh kalo belum banting stir.
    Saya masih berharap pada Sarwono or Faisal Basri.
    Let's fight for them. Too early kalo kita ancang2/ bicara Foke.

    Anyway om WW punya data/ track recordnya Foke or AD?
    Sejenis kata om WW on 13 October 2006 09:25:56 WIB: "Kelasnya bukan parsel tapi transfer atau voucher otomal, atau paling nggak cincin berlian, jam tangan atau sepatu ekslusif" (Case of Sutiyoso).

    Hari Sabtu saya lihat om WW di parkiran mall PI dalam mobil warna orange. Nice too see you.
  8. From .:nien:. on 01 January 2007 21:01:34 WIB
    well well ... sbg warga luar jkt, nampaknya kok udah kliatan soft campaign nya.
  9. From wimar on 02 January 2007 06:43:46 WIB
    pengelola acara gubernur kita memang campaign, tapi kampanye untuk 'cast your vote', pilih 'good guy', tidak untuk orang tertentu. justru penonton/pemilih yang diharapkan bersuara untuk pilihan mereka, bukan menyesalkan orang lain yang bersuara. kalau good guy nggak campaign, yang menang bad guy kan?
  10. From Satya on 02 January 2007 09:18:01 WIB
    sbg warga jkt, campaign memang udah keliatan! banner udah dimana2 lho!
    tinggal kampanye good guy-nya yang orang masih malu..

    haha 2 orang kira WW pendukung fauzi bowo karena nyebut namanya.
    yg laen sih tahu banget WW bukan.
  11. From angga on 03 January 2007 00:54:01 WIB
    wah makin seru nih bursa pilkada dki,,, semua mulai nongol dengan terang2an, tugas kita harus lebih teliti seperti om ww bilang,,, pilih good guy for better life,, gubernur jakarta harus berani dan punya sikap,,, dulu masih malu2 nongol tapi skarang iklan dimana-mana,, tinggal minta recordnya aja,,
  12. From imel on 04 January 2007 16:27:17 WIB
    Saya malah mengangap soft campaign atau apalah namanya...
    Yang penting bagi saya saatnya kia warga Jakarta tahu siapa wakil kita.. Tau dalam hal (good Guy kah dia).

    Jadi suatu saat kalo pilihan kita mengecewakan yang disalahkan diri sendiri Kenapa gak tonton acara Gubernur Kita, Nonton or Baca koran donk.. Paling enak sich baca laporan WW and team :).

    Pokoknya acara ini membuat kita mempelajari sedikit politik dan strateginya Bad Guy yang punya peralatan perang dan amunisi uang miliar rupiah... Good Guy dengan misi dan visi cerah membangun Jakarta....

    Mau tahu nonton Gubernur kita donk... bebas kasih pendapat.. sangat demokratis
  13. From hengky on 18 January 2007 10:24:55 WIB
    Wah..akhirnya bung Wimar ngaku dia dukung Faisal Basri he he..kalo gitu mending Adang gak usah datang deh.Saya sangat menyayangkan pernyataan anda Bung Wimar, yang terang-terang an membela salah satu calon, seharusnya anda sebagai moderator "netral", walaupun di hati kecil anda berpihak kepada salah satu calon, biarlah itu menjadi rahasia anda, saya kira itu lebih elegan. Dengan bersikap berat sebelah seperti ini, anda sudah mengecewakan saya, anda Tidak Professional.Mohon maaf jika ada kata-kata yang salah, saya suka dengan kritis anda, tapi rasanya sedikit terkikis dengan tidak ke-professional-an anda.
  14. From Alex Maffay on 30 January 2007 11:38:42 WIB
    Saya tidak terlalu ingin dipusingkan dengan Good Guy atau Bad Guy yang akan terpilih nanti. Bagi saya, uang kuliah bisa dibayar dan bisa makan sehari-hari sudah lebih cukup. Toh bukan mereka yang membiayai semua kebutuhan saya. Yang saya ingin dari mereka hanyalah indah,aman,nyaman, tentram, dan tertibnya kota Jakarta. Sehingga saya dapat beraktivitas dengan lancar.Mungkin ini juga yang diharapkan oleh masyarakt Jakarta yang lainnya.
    Dan kalo bisa, jangan dari Polri atau TNI yang menjadi Gubernur. Karena Gubernur yang dulu sih, udah dari sana.
    Mereka itu kan masih didikan dari Orba, yang notabene masih mementingkan Partai dan Golongan mereka saja.
    Semoga saja, Gubernur Jakarta kali ini lebih dan lebih lagi memperhatikan Keluhan dari masyarakatnya. Tidak hanya akan Kampanye saja berteriak:"Perduli Rakyat Kecil". Namun setelah menjabat, mereka cuma bilang "Siapa suruh jadi Rakyat Kecil".
    75+25= Cepek deh, jadi Rakyat Kecil.
    Alex Maffay,
    Mahasiswa Fakultas Hukum
    Universitas Borobudur.
  15. From ahmad on 18 March 2007 21:10:42 WIB
    saya to the point setuju aja deh fauzi bowo, karena pesaingnya sudah lama jadi pejabat tinggi dan sudah terlalu kaya karena pernah sampai masuk cover majalah orang-orang kaya, indonesia tatler. yang berarti high profile, sementara yang kita butuh sekarang yang lkow profile high contribution.
  16. From Izzat on 05 May 2007 11:46:30 WIB
    Saya sepakat dengan Om WW yang bilang bahwa setiap masyarakat harus menanggung resiko dari pilihannya,so pasti seharusnya setiap masyarakat sadar kalo dia harus kenal dulu siapa yang dia pilih, dan melihat dan mengenal tidak hanya dengan mata tapi juga dengan hati. bukannya hati kita bakalan gak srek klo milih suatu yang salah. ok. dan himbauan buat setiap masyarakat sekali lagi melihat dan mengenali cagu dan cawagub dengan hati nurani. karena sudah saatnya kita berbenah. berbenah pola fikir, berbenah diri, keluarga, masyarakat, dan negara. dan saatnyalah sekarang kita Benahi Jakarta ! Bersama !

    terima Kasih
  17. From betawi palmerah on 11 May 2007 15:10:10 WIB
    Bos WW, PKS jadi merasa TERSANJUNG tuch.. karena partai sekecil itu dikerubutin beramai - ramai ama PDIP, Golkar, dll. Kok partai gede itu takut banget sich.. Apa takut dibongkar yah KORUPSI-NYA... ngaku aja....
  18. From ricky ayyasy on 25 May 2007 22:49:50 WIB
    Asw Om WW, kalo saya mah gubernur dki siapa aja asalkan punya akhlak yang baik, berani berantas korupsi, peduli rakyat kecil, dan tentunya komitmen menegakkan kebenaran. Setuju?
    Wass
  19. From remo on 31 July 2007 16:15:28 WIB
    Wimar: ...Tapi saat pemilihan, saya akan melihat siapa pesaing dari Fauzi Bowo

    Itu kan kata lain dari mendukung

    Wimar: ...Jika good guy tidak memilih, maka bad guy akan terpilih lagi.

    alternatif jawaban: jika good guy memilih, maka bad guy yg didukung banyak partai terpilih
  20. From Sri Widiati on 06 August 2007 13:19:23 WIB
    Siapapun yang terpilih harus konsisten dengan janjinya.
    Masyarakat sudah bosan dengan janji-janji. Biasanya dalam kampanye, semuanya sibuk menciptakan program yang aduhai dan idealis. Tetapi apabila sudah duduk di kursi empuk, LUPA DEH!!! Jadi tunjukkan kalau anda adalah GUBERNUR yang tidak hanya pandai berpromosi.

« Home