Articles

SBY Harus Cabut Duri dalam Kabinet

Wimar's World
03 January 2007
Tahun 2006 secara politik dan ekonomi sebenarnya cukup kondusif kondusif bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memenuhi janjinya sewaktu kampanye. Namun itu disia-siakan karena adanya menteri-menteri yang jadi duri dalam kabinet sehingga mengacaukan pengambilan keputusan. Karena itu pada tahun 2007 ini SBY harus berani mencabut duri tersebut. Penilaian ini disampaikan bersama tiga pemimpin redaksi media cetak terkemuka di Indonesia dalam Wimar’s World.

Pada tayangan perdana Wimar’s World secara live di Jak-TV, Rabu malam (3/1), Wimar Witoelar (WW) menghadirkan Pemimpin Redaksi Republika Ikhwanul Kiram Mashuri, Pemimpin Redaksi Jakarta Post Endi Bayuni, dan Pemimpin Redaksi Kontan Yopie Hidayat.

Wimar's World Jak-TV

Terkait kita baru saja memasuki tahun 2007, WW membicarakan “Apa yang akan dihadapi masyarakat pada tahun ini” Pembicaraan mengenai topik ini juga melibatkan pemirsa secara interaktif melalui saluran telepon (021) 5155-111. Bahkan telepon antri masuk. Jadi mohon maaf bagi yang belum bisa masuk dan mudah-mudahan pekan depan telepon Anda yang masuk.

Dalam pandangan WW, sedikitnya ada tujuh topik yang menonjol pada tahun lalu dan perlu menjadi perhatian pada 2007 yaitu kecelakaan transportasi, bencana alam, tanggung jawab pemerintah terutama terhadap korban bencana, penegakan hukum seperti kasus munir, kenyamanan warga karena suksenya pluralisme dan demokrasi, beras dan kemiskinan, kinerja pemerintah.

Pandangan WW tersebut didukung ketiga narasumber. Endi Bayuni menggaris bawahi persoalan beras dan kemiskinan karena ini terkait perbaikan kesejahteraan rakyat yang menjadi janji SBY sewaktu kampanye. Endi mengutip laporan World Bank bahwa kini ada 108 juta penduduk Indonesia yang berada pada batas kemiskinan. Kata WW, “Jangan-jangan ini tidak dipikirkan lagi oleh SBY.”

Joni (penelpon) dari Bogor mengatakan sekarang harga beras sangat tinggi sehingga berdampak besar kepada masyarakat. Karena itu kinerja menteri pertanian perlu diperbaiki.

Menurut Yopie, persoalan beras sangat penting karena 60-70% pendapatan masyarakat untuk membeli beras. Karena itu jangan menjadi komoditas politik seperti sekarang. Mentan anti impor beras tapi Menko Perekonomian ngotot bahwa impor beras penting. Jadi tidak ada kesatuan policy sehingga ketika pintu impor dibuka sudah terlambat.

Ichwanul juga melihat hal yang sama dengan memberi contoh lain yaitu Deptan mendukung petani sedangkan Bulog pro impor. Dia juga mempertanyakan belum terlihat adanya manfaat gelar Doctor bidang pertanian SBY untuk Indonesia yang merupakan negara agraris.

Tidak hanya secara mikro seperti dilihat dari beras, secara makro pun kinerja ekonomi Indonesia belum membaik.

Menurut Yopie yang medianya khusus ekonomi, pada tahun lalu ekonomi Indonesia memang membaik tapi itu baru di atas kertas saja. Contoh dia, cadangan Indonesia mencapai jumlah tertinggi yaitu US$ 41,75 miliar tapi itu separuhnya uang panas atau uang jangka pendek sehingga jika 20% saja kabur lagi ke luar negeri maka akan sangat mempengaruhi nilai rupiah.

Disisi lain, lanjut Yopie, walaupun cadangan devisa meningkat dan kinerja Bursa Efek Jakarta terbaik ketiga di dunia tapi itu tidak dirasakan masyarakat banyak. Masyarakat tetap merasakan susah makan dan susah mendapatkan pekerjaan.

Lalu apa yang harus diperbuat masyarakat terhadap pemerintahan SBY pada tahun ini?

Seorang penelpon mengatakan pemerintah dibiarkan berlanjut dulu, kasih kesempatan. Namun WW mempertanyakan kepada ketiga narasumber apakah pemerintah perlu dikasih kesempatan lagi?

Berikut cukilan pertanyaan dan pendapat mengenai hal tersebut

  • Ichwanul: Sistem demokrasi harus dipertahankan. Jadi jangan sampai diberhentikan di tengah jalan. Selama 1-2 tahun ini rakyat masih bisa memahami. Karena itu 2007 kesempatan pemerintah untuk bekerja
  • Endi: Pada 2006 secara politik dan ekonomi cukup kondusif untuk memenuhi janjinya tapi itu disia-siakan. Jadi 2007 merupakan kesempatan terakhir SBY – JK karena pada 2008 para menterinya yang kebanyakan dari Parpol tentu sudah mulai persiapan kampanye. W
  • W: Bagaimana kalau 2007 disia-siakan juga. Apakah tidak ada tindakan yang dapat dilakukan sehingga harus menunggu lima tahun selesai?
  • Yopie: SBY mempunyai dukungan suara 62% pada Pemilu 2004 sehingga seharusnya menyusun kabinet cukup dari partai Demokrat dan Golkar saja
  • Ichwanul: Kesalahan terjadi sewaktu penyusunan kabinet
  • WW: Bukankah kabinet bisa direshuffle?
  • Ichwanul: Kapan kerjanya kalau direshuffle terus?
  • WW: Sekarang reshuffle dengan benar karena memberi waktu hingga lima tahun sangat toleran.
  • Endi: Iya seperti iklan merek sepatu Just do it (harus dilakukan) karena SBY punya political capital.
  • WW: Apakah ada konflik kepentingan sehingga sulit mencabut menteri?
  • Yopie: Dia ingin baik terhadap semua orang, tidak mau konfrontasi. Padahal kalau jadi presiden harus berani tidak populer.

Terakhir WW menanyakan apa yang harus orang biasa lakukan agar pemerintah bisa melakukan perbaikan? Dijawab Endi, “Kita tetap beri pressure terhadap pemerintah dan DPR untuk melakukan hal-hal yang seharusnya mereka lakukan. Saat ini reshuffle kabinet momentumnya juga baik untuk mencabut duri yang ada di kabinet yang menjadikan kinerja pemerintah tidak perform.


Create polls and vote for free. dPolls.com

Print article only

16 Comments:

  1. From Bebas Siregar on 04 January 2007 08:57:25 WIB
    Ya susah juga ya gimana menterinya mau mendukung presiden orang dia juga sibuk terus untuk 2009. Kluyuran sana sini bantuin supaya pilkada partainya sukses. Belum lagi sibuk resufle di departemen, itu aja kerjanya ganti-gantiin pejabat yang tdk sesuai dengan sistem alur pikir partainya. Kurang sumbangannya bisa berabe.
  2. From Satya on 04 January 2007 09:45:15 WIB
    jadi menteri ngaco yg masih tahan karena sumbangannya gak kurang, ya pak bebas?
  3. From Sudiharno on 04 January 2007 09:54:32 WIB
    dalam kasus "kelaparan" jemaah haji di Aarafah minggu lalu, kenapa SBY harus akan membuat TEAM INVESTIGASI, sepertinya SBY gak punya nyali untuk menindak menteri agama dan kroni-kroninya yang jelas bertanggung jawab atas kesalahan itu.. sekali lagi SBY memang takut tidak populer.
    BERSAMA KITA MENDERITA"
  4. From berlin simarmata on 04 January 2007 13:05:58 WIB
    Presiden SBY itu,patut diacungin jempol,karena memang pintarnya luar biasa bermain kata-kata.Pintar berwacana dan membuat pendengarnya suka bermimpi.SBY tidak salah,yang salah adalah pendengarnya karena keburu berharap yg muluk-muluk.
  5. From Ramli Sihaloho on 05 January 2007 04:23:51 WIB
    sudah sangat telat kalau sby mau melakukan reformasi di tubuh kabinetnya dan itu tidak akan memperbaiki keadaan dan kinerjanya dan juga itu bukan sesuatu yg mudah untuknya dilakukan yg mengacu pada jalan fikiran, profile dan format pemerintahannya dgn segala latarbelakangnya.

    lebih daripada itu , sebetulnya sby sangat tidak siap untuk jadi orang nomor satu di republik ini, paling tidak untuk masa sekarang. fakta dan realitas sudah bicara bahwa beliau sudah FAIL meletakkan pondasi pemerintahannya dan dari awal strategynya sudah ancur2an dan mengecewakan para pendukung yg sekaligus kekuatannya. bodoh2an aja , sebelum terpilih oleh kekuatan reformasi dan kekuatan wong cilik , beliau itu bukan siapa2 bila dilihat dari peta atau kacamata perpolitikan. berangkat dari latarbelakang seperti ini , mestinya beliau dapat straight dan tegas sejak awal untuk kepentingan nation. sayangnya , grand strategynya out dan yg ada ya seperti yg sekarang ini. so ini dosa siapa dan apakah sby masih masuk klassifikasi cerdas/pintar/yg punya kemampuan lebih !

    politik itu bau.....busuk dan memuakkan. jadi kalau terjadi PEMBUSUKAN di arena perpolitikan , ya itu adalah lumrah dan tdk perlu kaget2an. jalan fikiran bisa sesat dan kaget kalau kita tdk punya pengertian tentang politik. semoga saya swalah dalam hal ini....
  6. From Satya on 05 January 2007 11:16:57 WIB
    yg udah nyerah, silakan nyerah.. atau bikin revolusi..
    atau memang inginnya ngedumel, ya silakan ngedumel..

    tapi kita yg ingin lihat perbaikan memilih untuk DUKUNG SBY dalam membersihkan tim-nya. what's the worst thing that can happen kalo dia pecat, misalnya BAKRIE? pecat doang lho, bukan soal ditangkap-diadili-dipenjara.

    sayang amat kalau ceritanya SBY orang baik, banyak menteri baik, tapi orang lewat teriak pemerintah FAIL, BUSUK, BAU, GAGAL, padahal cuman karena beberapa personil busuk yang di partainya sendiri udah dianggap liability.

    DUKUNG SBY! (untuk bersihkan pekarangan rumah)
  7. From febianto on 05 January 2007 14:32:12 WIB
    pertama2, sebagai penggemar pak WW saya ingin mengatakan kalau saya menyesal tidak melihat wimar's world di tayangan perdana rabu malam kemarin dan melewatkannya dengan menonton tukul dengan kembali ke laptop-nya. :)))
    Lucu memang tapi it's about nothing. Pasti beda dgn anda lebih wholesome.

    Saya sangat setuju dengan isu reshuffle kedua ini. Menurut saya (mohon maaf) mentri-mentri bidang energi, kehutanan dan juga perhubungan adalah yang harus terkena reshuffle karena bidang yang mereka tangani begitu mewarnai media kita dengan derita dan keresahan.

    Mungkin untuk mengurangi keraguan SBY, pak WW dapat mulai memajukan nama2 yang pantas untuk mengganti mereka. Bagaimana menurut anda?.

    BTW, saya setuju dgn komentar bahwa acara anda perlu bigger audience seperti pada TV nasional.thx
  8. From pengamat on 07 January 2007 06:27:08 WIB
    Pengamat tidak punya calon Presiden lain yang lebih baik dari SBY pada saat ini.
    Jusuf Kalla ? Pensiunan ABRI yang lain ?

    Memang pr4siden SBY mengecewakan (barangkali sangat), karena harapan kita membumbung. Dia itu dipilih bukan karena dia itu ABRI, atau karena dia dari PBR, tetapi dia pribadi dipilih dengan majoritas mutlak, dan berhak untuk bikin kabinet “sekemauan” sendiri.
    Yopie Hidayat tepat sekali bilang bahwa keadaan ini adalah karena kesalahan SBY sendiri waktu bikin kabinet, kenapa harus berkeinginan mengakomodasi keinginan partai partai. Jadinya dia lebih loyal kepada “lawan lawannya” daripada ke pendukung pendukungnya sendiri (Marsillam, Todung dll). Kalau dia waktu itu bikin kabinet menurut judgment dia sendiri, bisalah kita ini dibagi dua: yang pro dan yang tidak setuju dengan kabinet tersebut.
    Begitu juga DPR: barangkali bisa jadi pelopor dari sistim bicameral..

    Tentu SBY punya alasan sendiri, barangkali karena dia tidak mau “rock the boat sehingga bisa bercapsize”.
    Ini sudah terjadi, tgterimalah keadaannya..
    Jadi: janganlah seperti dikatakan seseorang komentator diatas.
    “udah nyerah, silakan nyerah.. atau bikin revolusi..
    atau memang inginnya ngedumel, ya silakan ngedumel”
    Jalan terbaik adalah mensukseskan SBY, dan mendoakan dia jangan segan untuk memberhentikan yang tidak becus, tetapi terutama yang tidak beritikad baik.

    Mau contoh ?
    Yang tidak becus sih banyak, yang tidak beritikad baik ialah :yang menggunakan kesempatan sebagai anggota kabinet untuk kepentingan business nya sendiri.
    Harus sebut nama ?
    Satu saja yah.
    Aburizal Bakrie yang dalam saat saat kritis malahan sengaja ketemu Taksin di Bali.
    Jusuf Kalla pun harus dicabut sebagian besar wewenangnya. Dia tidak bisa dipecat karena dia sudah termasuk satu package waktu dipilih.

    Taun 2007 tahun pembuktian.

    Acara Wimar’s World hendaknya bisa diteruskan, bisa bisa suksesnya menyamai siaran SCTV tempo hari, dimana bung WW pertama melaksanakan talk show, the first of its kind.


  9. From Ramli Sihaloho on 07 January 2007 11:13:15 WIB
    thanks berat pengamat.......tidak salah kalau anda berlabel "pengamat".opini anda sangat berisi,factual dan memperkaya dllsb.

    hal yg ingin dan perlu saya sampaikan disini, sampai thn 2009 negeri ini masih milik sby. saya berani mengatakan tidak akan ada penurunan thdp penguasa sekarang karena memang di negeri ini belum ada dan belum lahir yg namanya oposisi yg sifatnya legal.

    kedua, kita harus ada will dan mau melirik second option kandidat yg bisa dan layak untuk menakhodai republik ini. tidak benar itu seperti yg dikatakan beberapa nara sumber via media bahwa negeri ini dilanda krisis kepemimpinan. yg benar adalah sulitnya menyamakan persepsi untuk mendapatkan dan menjatuhkan pilihan pada figur yg bisa diterima semua pihak khususnya dari kalangan yang masih mampu berfikir secara waras dan mampu untuk memilih.

    pada kesempatan ini saya juga ingin mengatakan sekaligus ingin menggaris bawahi bahwa kita2 ini tidak perlu terperangkap.....terjebak dengan pendapat seperti itu yaitu adanya "krisis kepemimpinan". itu sama artinya kita mengkerdilkan dan underestimate dengan kapasitas dan kemampuan para anak bangsa ini. kalau yg di fokus adalah MORAL, saya sangat setuju itu bahwa bangsa ini sedang dilanda "KRISIS MORAL".
  10. From anton on 09 January 2007 18:00:56 WIB
    Ada calon yang lebih baik dari SBY :
    1.Sutiyoso
    2.Rano Karno

    Dukung Bang Yos jadi Presiden RI, Dukung Rano Karno jadi Gubernur DKI.

    ANTON
  11. From rachman on 10 January 2007 15:09:42 WIB
    Wimar World's,
    wow ! ini satu acara lagi yang menurut saya bisa bikin pinter orang di negeri ini. Tapi sayang, jam tayangnya menurut saya terlalu malam, apalagi bagi saya yang harus berangkat kerja pagi-pagi banget. Kok kagak pada 'prime-time' ? sayangkan ? sayang juga kan kalo pada prime-time justru kita nonton sinetron yang justru bikin kita jadi "bodo". Bung itu satu usulan lho dari saya. Satu usulan lagi, bagaimana kalau 'tema' untk acara minggu berikutnya disampaikan pada penutup kata bung Wim ? dan juga disampaikan siapa mitra bicara bung Wim yang akan tampil.
    doa saya semoga WW berlangsung sampai akhir khayat, amin !
  12. From Aruwat Effendy Marbun on 10 January 2007 15:11:09 WIB
    Saya setuju kalau politik itu bauu..dan busuk. Apalagi pada pemerintahan sekarang ini, busuknya kelewatan begitu juga baunya sangat menyengat hidung dan menyayat hati masyarakat. Sebaiknya Pak SBY segera mengubah sikap dan merontokan duri-duri yang ada.
    Setuju dengan Pak WW, hidup terus "perspektif"
  13. From supri on 10 January 2007 23:29:40 WIB
    Presiden SBY lebih baik bekerja ya sebagai presiden, seperti Jamannya pak harto dulu, Sebagai kepala negara, ya sebagai kepala pemerintahan... jangan seperti sekarang ini keliatannya sebagai presiden hanya kekuasaannya separuh saja. yang separuhnya untuk wakilnya.. untuk itu dalam menangani menteri yg tidak becus, ya pakae aja kekuasaan penuh, itukan memang hak prerogatif presiden, bukan haknya wapres... Itu sesuai undang-undang (mohon pakar hukum menjelaskan.

    kalo seperti ini terus maka akan susah arah kebijakannya...

    Kalo memang takut atau susah mengambil kekuasaan penuh sebagai presiden, ya usul saya si, mending bagi kekuasaannya berdua, dengan sistem pembagian. presiden S mengurus 15 propinsi, sementara presiden Y mengurus juga 14/15 propinsi. nantinya, DPR tinggal mengevaluasinya, mana yang lebih baik di antara keduanya... setelah itu memberikan piala penghargaan

    sekian saja, terima kasih
  14. From Willy on 11 January 2007 19:07:36 WIB
    Kalau berani berkecimpung di dunia politik,harus berani mati Hati dan rela tertancap hantaman-hantaman.Bagi saya,Politik itu adalah senjata penghancur Massal yang abstrak dan dapat dikendalikan oleh siapapun.jadi kalau bisa pakai dengan efisien,yah.... sukur deh.tapi kalau terlalu bangga pegang senjata, bisa kemakan peluru sendiri.

    Yang namanya duri ya harus dicabut,adik saya juga tahu.tapi gimana nyabutnya itu yang susah dan kayaknya durinya sudah keburu mendarah daging.Susah deh,tapi kalo ada sosok yang memiliki pandangan lebih baik dalam menyongsong masa depan,ya buru-buru keluar aja yah.soalnya durinya uda masuk dalem banget,harus orang yang "Jago Operasi Duri".hehehe.....tapi belum tentu dokter maksud saya....saya jadi ingat masa2 pak harto masih menjabat sebagai presiden,kayaknya tentram2 aja dan tidak ada masalah,walau sebenarnya (MUNGKIN) ada pisau dalam daging pada pemerintahan waktu itu,tapi lebih baik seperti itu,Less Word More Action...
    harapan saya....
    Semoga Indonesia Menjadi Lebih Baik Dari Masa Ke Masa......

    Maaf kalau ada kata2 yang kurang berkenan,sekian dulu,nanti kalau ada artikel,hehehe,baca lagi ah........

    Wasalam,Tuhan MEmberkati.......
  15. From Fajar Indra on 21 March 2007 15:43:08 WIB
    Well... Ketika Sebuah Permasalahan Sosial Telah Terpolitisir...

    OK... Kalo Menurut Saia... Nggak Ada Kata Terlambat Buat Memperbaiki Kesalahan... Seenggak-enggaknya itulah yang harus dicamkan oleh Yang Terhormat Soesilo Bambang Yudhoyono... Publik Telah Sama-sama menilai kegagalan kabinetnya dalam bekerja selama beberapa waktu terakhir ini... tapi... kenapa Mr SBY nggak dengan tegas me-reshuffle kabinetnya...???

    Ada banyak hal yang "mungkin" dipikirkan oleh bapak presiden kita yang terhormat... masalah siapa penggantinya misalnya... saat ini harus diakui kalo politik dagang kebo di Endonesa memang masih kental... "U sudah menang, I yang dukung U, kasih dikit lah rotinya ke I"...

    parah sih kalo ngeliat kenyataan bahwa mereka yang mengajukan ide re-shuffle ternyata dibumbui dengan kepentingan politis dengan membawa "penggantinya"... lantas akankah usaha itu akan memperbaiki kinerja pemerintahan kalo UUP (ujung-ujungnya politik) aja...

    saia sangat sepakat kalo menteri diisi oleh kawula profesional saja. yang nggak pake partai-partaian... mereka justru akan semakin fokus karena nggak ngurusin tetek bengek kepentingan partai di pemerintahan...

    Well... kalo seandainya boleh mengusulkan... berikut adalah daftar hitam para menteri yang harus didepak... URUTAN MENCERMINKAN PRIORITAS :

    1) Aburizal Bakrie, Menko Kesra
    2) Hamid Awaluddin, Menteri Hukum & HAM
    3) Maftuh Basyuni, Menteri Agama
    4) Anton Apriyantono, Mentan
    5) Sri Mulyani Indrawati, Men Keu
    6) Hatta Radjasa, Menhub
    7) Adhyaksa Dault, Menpora


    NB : Kalo Perlu, Tambah Nurdin Halid "OUT" juga dari PSSI
  16. From hasan on 08 May 2007 17:18:29 WIB
    Duri memang harus dicabut,
    tapi apalah artinya kalo tidak
    langsung disembuhkan,....
    parahnya duri diganti dengan kawat berkarat
    makin sakit negeri ini...

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home