Articles

Malu!

Area Magazine
20 December 2006
Teman saya Arni selalu punya cerita aneh-aneh. Pengalamannya banyak walaupun jauh lebih muda dari saya. Pernah kerja di gedung tinggi mewah memakai blazer dan makeup. Sekarang kalau lewat tempat kerjanya dia nostalgia. Sedih sekali, ruang kerjana sekarang sudah jadi gudang berisi papan dan brosur berdebu. Tapi dia bangga mengenang bahwa pada usia yang muda, baru selesai kuliah, ia bisa dapat job dengan gaji lumaan. Tugasnya kecil tapi ia melakukannya dengan penuh tanggung jawab.

Arni bekerja pada perusahaan dekoder televisi. Tugasnya mengumpulkan berkas dan menjepretnya sebelum dimasukkan kedalam amplop besar. Dekoder itu laku sekali jadi tiap hari Arni tiada hentinya menyusun dokumen, kadang-kadang jarinya tersayat halus sebab kata Arni kertas itu seperti pisau tipis. Suasana kerja juga kadang-kadang keras sebab bos-bos disana sangat sibuk. Salah satu bos menjadi direktur di banyak perusahaan dalam grup. Jadi hanya datang ke kantor Arni sekali seminggu. Selama Arni bekerja disitu dia belum pernah dengar suara bos ini, sebab dia hanya bicara dengan personal assistant. Sekarang Arni sudah kerja tujuh tahun. Beberapa kali pindah jabatan dan pindah perusahaan dan sekarang jarinya hanya dipakai untuk memainkan keyboard computer dan hand phone, disamping sekali-sekali menggaruk jerawat.

Arni sudah menjadi Direktur dan dia tidak seperti bosnya dulu. Ia selalu menyapa rekan kerja dan tidak kelihatan sibuk kecuali kalau pembantu pulang kampung tidak balik lagi. Arni punya bos lagi yang ramah. Seringnya bos besar tidak menimbulkan masalah kecuali kebanyakan cerita.

Arni sendiri banyak cerita, antara lain tentang temannya semasa kuliah, Tuti atau Dewi namanya, lupa lagi. Btw Arni ini punya teman-teman yang aneh namanya. Ada yang Oknum Suhardi, Budapest Hongaria dan Mataram Siti. Tapi itu cerita lain. Kembali pada temannya, katakanlah namanya Tuti. Satu hal mengenai Tuti, dia itu malu pakai payung sendiri. Kalau hujan Tuti suka ngajak Arni sama-sama pakai payung. Kalau berdua, dia tidak merasa malu. Tapi begitu berpisah tujuan, Tuti tidak mau pakai payung sendiri. Lebih baik basah kuyup, dan payungnya dititip untuk dibawa Arni atau teman lain. Kenapa dititip? Satu, karena dia juga malu kalau kehujanan sedangkan di tangannya ada payung. Dua, karena takut dimarahin ibunya kalau pulang basah kuyup sedangkan payung ada dalam genggamannya. Lebih aman kalau dikatakan payungnya ketinggalan di tempat teman.

Aneh sekali. Waktu cerita ini dibahas, ada teman lain yang nyambung bahwa temannya bernama Karpus juga begitu, malu pakai payung. Tapi alasannya lain. Mungkin karena Robert itu cowok, dia merasa kalau pakai payung itu kurang macho. Seperti dulu anak-anak malu pakai jas hujan. Saya sendiri dulu malu pakai sepatu karet waktu SD di Bogor, karena orang lain kalau hujan malah nyeker ke sekolah, sepatunya dibungkus plastik. Rasa malu itu sampai membuat sengsara kehidupan sekolah, dan minta dipindah ke Jakarta yang kosmopolitan dan menerima gaya aneh orang-orang.

Orang bilang rasa malu itu penting, karena hanya mahluk luhur yang bisa merasakan malu. Kata penulis humoris Mark Twain, "Man is the only animal that blushes. Or needs to." Orang yang punya nilai etika rendah tidak bisa merasakan malu. Ada pejabat tinggi yang kantornya ditimbun lumpur karena perusahaannya mengorbankan penduduk setempat. Pejabat itu tenang saja tidak merubah sikap. Ia hanya bicara waktu harus bayar ganti rugi. Koruptor besar tidak malu, orang jujur malu kalau salah sedikit. Orang poligami tidak merasa malu sebab katanya itu lebih bagus dari TTM, orang selingkuh tidak malu sebab katanya itu lebih bagus dari poligami. Orang yang tidak tahu malu, selalu bisa membenarkan tindakannya.

Orang yang berperasaan halus, berbudaya tinggi, gampang malu. Walaupun Arni bercerita mengenai Tuti yang malu memakai payung, Arni juga sering malu oleh hal-hal yang bukan merupakan hal yang memalukan. Tidak perlu diberikan contoh disini, nanti dia malu. Menurut pengakuannya sendiri Arni suka takut pada hal yang tidak perlu ditakuti. Istilahnya "parno" dari paranoiac (btw Arni punya klien juga yang namana Parno). Bagaimana menghilangkannya? Susah, tapi biar saja, asal bisa cerita.

Print article only

10 Comments:

  1. From Mini on 09 January 2007 14:08:40 WIB
    Kalau saya bilang sih, yang penting seorang pribadi itu harus punya rasa malu berbuat jahat (HIRI) dan takut berbuat salah (OTAPA). Untuk yang lainnya sih tidak perlu takut dan tidak perlu malu. :)
  2. From bov on 11 January 2007 11:17:00 WIB
    menurut saya malu itu punya dua sisi, yaitu sebagai power dan weakness. malu dan pengecut itu beda tipis sekali.

    malu bisa menjadi power dalam mengingatkan untuk jangan merugikan orang lain dan diri sendiri, untuk mempertimbangkan konsekwensi akan action yang akan kita ambil. malu juga bisa menjadi weakness, ketika kita ragu untuk membantu orang lain, mengambil resiko dalam hidup, dan menunjukan kejujuran perasaan dan pikiran.

    contoh nyata: jenna jameson tidak akan jadi pornstar sukses, kalo dia punya rasa malu. majalah playboy tidak akan laku keras, kalo hugh hefner dan para model2nya punya rasa malu. hugo chavez tidak akan terpilih lagi menjadi presiden,kalo dia malu atau takut mengkritik bush.
  3. From Nina on 13 January 2007 03:09:35 WIB
    jadi makin banyak saya malu, makin berbudaya pula saya. apa saya mesti bangga dengan banyaknya malu saya atau malah berubah jadi orang yang tidak tau malu?

    pada akhirnya wacana soal malu atau tidak ini tetap bikin saya keblinger...
  4. From Satya on 13 January 2007 09:42:02 WIB
    kalo bingung gini deh..

    pernah dengar ungkapan "dasar, ga tahu malu" ?

    kalo ga ngerti maksudnya apa, ya udah ga usah dipikirin. percuma :)
  5. From bov on 15 January 2007 00:29:24 WIB
    hehhee...coba bayangin deh. kalo arnold schwarzenegger, stallone, ian thorpe, ade rai, mohammad ali dan chris john pada malu telanjang dada, mereka skrng jadi apa ya?
  6. From Ria Wibisono on 10 March 2007 21:54:28 WIB
    kata pepatah bijak :
    orang yang bertanya, mempermalukan dirinya 5 menit
    tapi orang yang tidak tahu dan tidak mau bertanya, mempermalukan dirinya seumur hidup.

    malu sih boleh2 aja kalau pas, misalnya malu berbuat jahat. dan yang pasti karena kita semua pasti pernah malu, ada baiknya berusaha supaya nggak mempermalukan orang lain...
  7. From dwipurnomo on 08 September 2007 07:07:01 WIB
    malu??atau malu malu kucing??lihat situasi dulu.kalo untuk maju,ngapain kita harus malu??kalo bikin tetangga,bangsa kita sengsara,terpuruk trus,,,negeri koruptor raksasa knapa ya kita tak malu??malu,katanya tanda kemuliaan,katanya tanda keimanan.gimana??setuju kan...
  8. From dyah on 05 March 2008 13:51:16 WIB
    malu? penting ya? penting jg lah trgantung sikon nya adja


    utk kmajuan yg brguna g prlu malu ah ngungkapin opini...

    nyablak adja
    hohohoh
  9. From daniel on 29 October 2008 08:44:00 WIB
    namanya malu itu macem-macem lho pren. apalagi malu dalam budaya timur (sebut saja budaya jawa) namanya malu itu, I.ada yang malu untuk kesopanan. misal, ada acara resepsi di rumah tetangga baru. disana dihadiri oleh banyak orang, ada yang tua, muda, besar dan kecil ada. maklum kan beberapa orang jawa suka makannya tapi gak suka acaranya. disana ketika sudah waktunya jam makan bersama, coba perhatikan fenomena yang ada. kalau mereka ditawari makan: 1.'ah mari bapak/ibu duluan,..monggo. 2. anak2 muda yang tadinya datang "hanya"cari makan akan kelihatan "mlempem". dan lainnya.
    II. ada juga jenis malu yang artinya ia ingin menyembunyikan diri dari orang lain karena suatu perbuatannya telah menyalahi norma yang ada. misal, ada seorang wanita paruh baya, ia anak seorang tokoh masyarakat. karena pergaulannya yang terlampau bebas (gaul dengan laki-laki)akhirnya. dia hamil diluar nikah. karena malu sama orang tua, saudara dan teman akhirnya ia nekat bunuh diri atau minggat. nah ini malu yang dekat dengan rasa salah.
    III.beda lagi sama yang terakhir ini, malunya jenis malu-maluin. apalagi penulis message ini. udah panjang tapi gak ada isinya.
  10. From arni ria wulansari on 03 February 2012 21:56:41 WIB
    i like it...hhehehee

« Home