Dua calon Gubernur masih ngumpet?
Perspektif Online
05 January 2007
Catatan dari Maro Alnesputra dan team
Episode kali ini dihadiri PDI Perjuangan dan Partai Demokrat. Sedangkan PKS semula confirm, tapi cancel pada saat terakhir. Takut cuaca buruk? Walhasil tidak ada update pencalonan, hanya mengumpulkan aspirasi warga, yang terpenting dari Kelompok Pemilih Penyandang Cacad dan seperti sebelumnya, Pemilih Pemula.
PDIP menyatakan akan memilih di antara 6 bakal calon, Partai Demokrat akan memilih di antara 5 bakal calon. Ini membuat mahasiswa bertanya, "mana calonnya?" dan WW memberi komentar: "Ini satu-satunya acara televisi yang memberikan kesempatan pada para bakal calon Gubernur untuk bisa hadir dan mengkomunikasikan visi misinya, makanya aneh kalau ada bakal calon yang mukanya ada dimana mana, ada di spanduk, di iklan, di banner, tapi tidak muncul disini. Dan kalau sampai menang, itu lebih aneh lagi!" Fenny Rose nyeletuk: "Mungkin karena diam itu emas Pak Wimar, makanya cuma muncul di spanduk atau gambar saja…."
Lengkapnya bagian dialog ini:
Audy Tambunan (PDIP): Jadi calon kami adalah Agum Gumelar, Fauzi Bowo, Sarwono Kusumaatmadja, Bibit Waluyo, Edi Waluyo, dan Faisal Basri
WW: 4 sudah muncul, 2 lagi kemana ya???!!!???
Sahat Saragih (Partai Demokrat): Calon dari partai kami hampir sama yaitu, Agum Gumelar, Fauzi Bowo, Sarwono Kusumaatmadja, Dr. Abdul Razak, Fauzi Bowo... yang tidak ada itu Faisal Basri dan Bibit Waluyo.
WW: Nah, makanya 4 sudah muncul, 2 lagi kemana????!????
Memperjuangkan kepentingan penyandang cacad
kelompok pemilih penyandang cacad - lihat foto lain
Mengenai kepentingan penyandang cacad, banyak kata-kata bagus dari kedua wakil partai. Seperti ucapan tegas Partai Demokrat, UUD 45 menjamin hak penuh penyandang cacad, jadi Partai Demokrat akan mengusahakan asuransi kesehatan yang memadai. Karena ini pertama kali panelis mendengar bahwa ada calon gubernur yang berjanji akan mengadakan asuransi khusus, langsung ditanyakan kepada wakil PD: "Apakah asuransi bisa diatur pada tingkat daerah, dan bukan tingkat nasional atau bahkan internasional?" Jawabnya penuh nuansa perjuangan: "Tidak perlu internasional, sebab Indonesia adalah negara yang kaya dengan segala macam sumberdaya." Tanya lanjut: "tapi apakah Gubernur punya wewenang untuk mengatur asuransi?" Jawabnya mantap: "Dimana ada tekad, pasti kita berhasil."
Hmm pertanyaan beralih pada hal yang sangat praktis. Begitu terbengkalainya hak penyandang cacad, tempat parkir khusus sekalipun susah dicari. Di negara yang manusiawi, tempat parkir terdekat dalam suatu gedung (misalnya shopping mall), diperuntuk penyandang cacad. Di Jakarta, misalnya di Pondok Indah Mall, banyak tempat parkir yang selalu kosong dekat pintu tapi tidak boleh dipakai penyandang cacad. Untuk mobil penyandang cacad disediakan parkir khusus, tapi jauh di halaman luar, susah dicapai oleh kursi roda.
"Kalau to the point, bukan politik namanya"- wakil Partai Demokrat pada acara Kamis lalu
Audy Tambunan (PDIP) yang rupanya penggemar lagu, menyatakan: Banyak orang yang mempunyai Lidah Tidak Bertulang, jadi harus diusahakan supaya Tidak Ada Dusta Di Antara Kita. Kita dari DPP PDIP akan lebih kritis dalam menyikapi ini. Terutama untuk para penyandang cacat seperti yang diceritakan Pak Wimar tadi, kita akan pastikan akan ada program-program yang memberikan bantuan pada orang cacat. Kalau sampai nanti tidak ada program untuk membantu kaum ini, ya sekali-sekali saya akan demonstrasilah.
WW (sambil berpikir, 'kenapa harus demonstrasi?'): Sebenarnya yang perlu pembuatan peraturannya saja, seperti misalnya tempat yang dekat pintu masuk diprioritaskan untuk penyandang cacat.
Audy Tambunan: Ya pasti, kalau perlu saya akan dudukin disitu, lebih gampang daripada demo soalnya!
Lucu, lucu.
Program makin jelas atau makin kabur?
Lain lagi Sahat Saragih (PD): Calon gubernur dari partai kami harus bisa mengerti tiga hal:
- Jakarta harus merupakan satu system economic distribution
- Jakarta harus merupakan satu digital system
- Jakarta harus merupakan satu growth economic system
WW: Agak susah dimengerti sepertinya ya, bagaimana caranya orang bisa mengerti ini untuk memilih gubernur? Jangan-jangan calonnya nanti juga ga ngerti lagi???!????
Sahat Saragih: Inti sederhananya, Jakarta harus bisa membantu daerah-daerah sekitarnya dan jangan egois! Untuk masalah Jakarta sebagai satu digital system, misalnya kalau ada penjahat dari daerah Banten masuk Jakarta, seharusnya semua Polda di Jakarta sudah bisa melacaknya melalui system identifikasi.
WW: Lah yang dulu penjahat malah bisa jadi Gubernur!
Hehehehehehe, ya begitulah setidaknya beberapa hal yang diinformasikan pada acara Gubernur Kita malam ini. Setidaknya janji-janji yang diberikan oleh para anggota partai ini harus kita ingat, sehingga pada saat calon dari partainya itu terpilih, kita bisa melihat hasilnya.
Penelepon memberikan beberapa saran penting.
Eva: Para calon Gubernur harus bisa mempunyai program untuk mengatasi masalah Banjir dan Sampah
Parlin: Datanglah semua calon gubernur ke acara Gubernur Kita ini, karena dengan begitu kami semua akan dapat mendengar langsung dan berinteraksi langsung dengan si bakal calon itu ! Kalau calon gubernurnya tidak bisa, silahkan calon wakil gubernurnya yang datang!
Ibu Sri: untuk semua program yang diciptakan untuk para penyandang cacat, libatkanlah para penyandang cacat karena kamilah yang paling mengerti apa yang kami butuhkan!
Buka proses Pilkada, pilih good guy
Di akhir acara, panelis WW menghimbau para calon bakal Gubernur yang belum datang dan menonton acara ini, agar mau datang untuk bisa memperkenalkan diri kepada masyarakat melalui acara ini. WW menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk takut datang ke acara ini.
Effendi Ghazali: Apa pesan Pak Wimar untuk para pemilih muda??
WW: Simple aja dan cuma 3 kata pun bisa…PILIH GOOD GUY!




10 Comments: