Articles

Cabe Rawit dan FFI

Perspektif Online
09 January 2007

Oleh Maro Alnesputra

Saya tidak suka cabe rawit. Kenapa? Karena makan cabe rawit selalu bikin saya sakit perut. Saya memutuskan untuk tidak akan pernah lagi mengkonsumsi cabe rawit karena tidak mau sakit perut lagi. Toh, saya selalu punya pilihan, makan atau tidak. Saya memutuskan amit-amit kalau saya sampai memakan cabe rawit lagi. Tapi di lain pihak, saya tidak pernah menjelek-jelekkan penjual cabe rawit, apalagi memaksa orang untuk tidak berjualan cabe rawit.

Saya tidak pernah mengatakan mereka orang yang tidak mampu mengerti suasana perut atau orang yang menjual produk yang merusak perut. Prinsip saya satu: Tidak ada seseorang pun yang bisa memaksa saya untuk dapat memakan cabe rawit, namun saya tidak akan meminta penjual cabe rawit untuk dilarang berjualan atau agar kedainya dibubarkan.

Saya tidak suka film Ekskul yang ilustrasi musiknya persis sama dengan film dari korea bisa sampai menang di FFI 2006. Saya tidak suka kalau jiplakan bisa menang. Saya benci aksi penjiplakan, tapi selalu berharap suatu saat nanti ada yang akan menjiplak karya saya. Tanda bahwa karya saya dianggap bagus sampai-sampai bisa dijiplak hehehe. Ketidak sukaan saya dengan karya jiplakan sama dengan ketidak sukaan saya pada cabe rawit. Dua-duanya bikin sakit perut.

Saya setuju dengan para sineas muda, film Ekskul yang setelah diteliti cermat memang menjiplak mentah mentah bagian ilustrasi musik dari sebuah film korea. Cek dan bandingkan di infotainment-infotainment yang sering menayangkan dan membandingkan langsung film korea tersebut dengan film Ekskul. Fakta bahwa film itu bisa masuk nominasi film terbaik saja sudah mencencangkan. Tidak ada excuse apapun, film yang mempunyai unsur-unsur jiplakan jelas tidak layak masuk nominasi. Silahkan saja kalau mau dibuat dan diberikan ke masyarakat tapi jangan sangat memalukan kalau sampai bisa masuk nominasi Film Terbaik. Saya ancungkan jempol kepada sineas-sineas muda yang berniat membuat festival film sendiri dan menolak mengirimkan karyanya ke FFI 2007.

Tapi ketika sineas muda mulai menjelek-jelekkan dewan juri dan kapabilitas serta selera juri dalam menentukan pemenang dan menuntut agar FFI serta lembaga-lembaga film lainnya dibubarkan, saya jadi agak agak bingung. Sakit perut berikutnya mulai melanda saya.

Kalau saya seorang sineas, saya tidak akan suka Ekskul menang di FFI. Kenapa? Karena ilustrasi lagunya tidak original dan menjiplak dari sebuah film Korea. Tapi dalam menyatakan sikap ketidaksukaan saya ini, daripada mengata-ngatai kapabilitas tim juri FFI, saya akan memilih untuk tidak mengirimkan lagi karya saya ke forum tersebut. Bersama teman-teman sutradara lain, saya akan buat festival lain yang lebih sesuai dengan standart saya. Festival dimana tidak akan ada karya yang mengandung unsure jiplakan atau pun selera kampungan akan bisa masuk ke dalam.

Dalam kasus cabe rawit, saya akan bersikap menolak memakan cabe rawit, tanpa merasa perlu untuk menjelek-jelekkan mereka yang menjualnya. Buat apa saya mengata-ngatain penjual cabe rawit? Buat apa saya memaksa orang untuk yakin bahwa cabe rawit itu produk jelek? Saya tidak suka ya saya tidak akan makan. Selesai.

Apabila saya jadi orang perfilman saya akan menolak untuk mengirimkan film lagi ke festival ini, saya akan buat festival sendiri dan orang akan tau berapa hebatnya standart festival saya. Buat apa saya capek-capek membubarkan lembaga FFI, mungkin standart kemampuan mereka memang seperti itu, dan selera mereka memang jenis film-film yang seperti itu. Selera beda itu biasa, biarkan masyarakat yang menentukan mana yang cocok buat mereka. Saya tidak setuju standart mereka ya sudah. Saya tidak akan kirim lagi ke mereka!

Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik kisruh FFI? Apakah para sineas muda memang arogan? Atau malah yang generasi ‘tua’ yang keras kepala? Siapa yang tidak mau diajak kerja sama? Yang tua? Yang muda ? Yang jelas saya punya sikap. Untuk tidak memberikan penghargaan kepada sebuah karya jiplakan tanpa perlu menjelek-jelekkan selera dan kemampuan mereka yang bisa dengan anehnya memenangkan suatu karya jiplakan.

-dari seseorang yang anti akan cabe rawit, penjiplakan, dan sikap tidak sportif-

Maro

 


 

Update: Wimar’s World di Jak-TV 10 Januari 22.00
Tayangan ulang: Senin 15 Januari jam 15:00

Wimar's World di Jak-TV

oleh Maro Alnesputra

Catatan: tulisan ini ditulis dari kacamata subjektif seseorang yang memang tidak terlahir untuk menjadi orang yang objektif

Dan ketika saya sudah siap mencatat sindiran-sindiran dan kritik-kritik tajam dari seorang Mira Lesmana, bantahan sengit dan teguran dari seorang Noorca M. Massardi, serta penjelasan boring dan penuh teori dari seorang Hinca Panjaitan, saya hanya bisa melengos kecewa... tidak ada satu pun yang terjadi pada episode Wimar's World kali ini. Sebuah Episode yang sangat menarik dan membenarkan banyak hal yang sudah melenceng.

Karena semua pembicara di acara tersebut menggunakan kacamata subjektifitasnya , maka saya pun memutuskan untuk menonton dengan kacamata subjektif andalan saya.
 
Ya inilah kacamata yang paling mudah untuk mengkomentari, kacamata paling mudah untuk menilai, kacamata paling  muda untuk mencela, dan kacamata paling mudah untuk menyimpulkan.

Wimar's World
Mira Lesmana, Noorca Massardi, Hinca Panjaitan dan ??
Foto lengkap Wimar's World ep.02

 

Dari kacamata subjektif Mira Lesmana (MFI):

Mira Lesmana
  • Jadi sebenarnya ada salah persepsi mengenai MFI. Kami sebenarnya tidak pernah menganggap bahwa Juri itu tidak kompeten atau menganggap bahwa juri yang bersalah di sini. Yang kami anggap tidak kompeten di sini adalah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, serta lembaga dan instansi yang menjalankan ini semua, termasuk yang menjalankan acara ini. Ada sebuah system yang salah yang  membiarkan ini terjadi. Lebih jauh lagi protes-protes sudah banyak terjadi sejak FFI 2004, tahun ketika FFI untuk pertama kalinya kembali digelar setelah vakum untuk periode yang lama
  • Hal terpenting yang akan dilakukan adalah menuntut pencabutan Ekskul sebagai film terbaik. Film ini telah melanggar hak cipta , dan buat kami ini presiden buruk. Sekaligus juga pembubaran FFI karena merupakan cerminan bahwa ada sebuah system yang tidak berjalan. Kita tidak bisa memberikan excuse pada sesuatu yang benar-benar melanggar hak cipta. Karena ini adalah buruk bagi generasi muda ke depan dan intropeksi buat kita pembuat film bahwa kita ga boleh memasukkan karya jiplakan
  • Yang menjadi issue dan protes dari MFI adalah bukan apakah Ekskul itu bagus atau tidak, tapi yang diprotes adalah bahwa di film Ekskul ada pelanggaran hak cipta
  • Setuju bahwa Dewan Juri tidak mengetahui , dia hanya diberi film di hadapannya dan kemudian menilai bahwa penyelenggara tentunya sudah menjamin visi festival seperti apa seharusnya sudah menjamin keaslian karyanya.   Kami tidak berusaha menjelekkan atau menyudutkan siapapun, tapi tugas seorang produser adalah mengclearkan segala sesuatu.
  • Proses hukum untuk mencabut gelar film terbaik dari Ekskul sudah berjalan dan pembicaraan yang tidak jelas dan kemana mana sebaiknya dihentikan
  • Agenda berikutnya yang akan difokuskan MFI adalah menghapuskan UU N. 8 tahun 92 tentang perfilman karena ini sumber masalah dari semuanya serta Lembaga Sensor Film agar diubah menjadi Lembaga Klasifikasi Film
  • Kami merasa Depdikbud dan lembaga-lembaganya mulai ikut campur dan menghambat kreatifitas dan perkembangan ketika produksi film malah mulai semakin banyak.. Sebagai contoh LSF merupakan lembaga tertinggi yang menentukan suatu film bisa diputar atau tidak. Tanp surat LSF film tidak bisa beredar
  • Yang paling MFI inginkan adalah suatu cultural policy yang bisa melindungi

 

Dari kacamata subjektif Noorca M Massardi (Sekretaris Dewan Juri):

Noorca Massardi di Wimar's World
  • FFI Masih bingung kenapa para sineas muda ribut di saat terakhir? Padahal ketika diumumkan 30 film pesertanya, film Ekskul ada di dalamnya. Bulan Oktober, FFI umumkan 10 Film pilihan seleksi, di dalamnya masih ada Ekskul, tetap tidak ada yang bereaksi. Lalu tanggal 12 November FFI umumkan lima film terbaik versi Dewan Juri tetap tidak ada yang bereaksi. Tapi setelah pengumuman 28 Desember, besoknya ribut tentang jiplakan dan seterusnya
  • Keputusan Juri sudah mutlak. Sesama juri saling menghormati persepsi masing-masing. Tidak perlu kita menyamakan persepsi, tidak boleh! Tetap persepsi masing-masing!
  • Pendapat orang kontra harus dihormati, tidak perlu dimarahi. Orang protes itu wajar. Saya kira wajar kalau orang tidak menang memaki-maki jurinya. Dikatain goblok tidak apa-apa, toh kalau memang bukan goblok ngapain marah
  • Ada lagi pendapat dari sineas muda yang mengatakan bahwa dirinya sangat menghormati dewan juri seperti Rima Melati, Remi Silado dll, tapi malah berkata kenapa bisa memilih film Ekskul. Ini kan berarti tidak benar benar percaya pada dewan juri.
  • Ada terjadi pembunuhan karakter pada Ekskul dan sutradaranya Nayato sementara Filmnya itu ga punya dosa apa apa, yang bisa dianggap berdosa itu Juri.
  • Tahun 1983, karena ada kontroversi plagiarism, diwajibkan mengisi   formulir di atas materai yang mewajibkan persyaratan bahwa seluruh isi film adalah original , apabila tidak, maka akan dibatalkan. Tapi sejak tahun 2004 sudah tidak ada lagi formulir itu.
  • Dewan Juri tidak menilai plagiarism, yang dinilai adalah nilai seni
  • Jangan mengatakan ada penjiplakan sebelum hasil dari proses hukum yang berjalan keluar

 

Dari kacamata subjektif Hinca Pandjaitan (Aktivis Hukum Media dan Film):

Hinca Pandjaitan di Wimar's World
  • Gus Dur sudah mulai melakukan langkah bagus dengan membubarkan Departemen Penerangan
  • Kejadian ini hanya merupakan akumulasi dari kejadian-kejadian sebelumnya, sama seperti jerawat yang akhirnya pecah
  • Sebaiknya MFI langsung datang ke Mahkamah Konstitusi untuk meminta agar UU No. 8/92 ini segera dicabut, karena prosesnya jauh lebih cepat
  • Jangan dianggap sepele, masalah ini harus segera ditanggapi secara serius karena orang mau berkarya, jangan diatur-atur

 

Dari kacamata subjektif Maro Alnesputra:

Maro Alnesputra Kalau memang intinya hanya pelanggaran hak cipta yang diprotes, kenapa FFI musti dibubarkan? Kenapa harus dewan jurinya dikata-katai tidak kompeten dan lain-lain ? Kenapa ada yang bilang selera juri tidak bisa itu jelek dan lain lain? Cukup cabut aja gelar film Ekskul, tanpa perlu membubarkan FFI bukan? Usulkan saja pengembalikan system pemakaian formulir garansi keaslian Film seperti tahun 1983 mungkin?

Salut untuk seorang Mira Lesmana, yang bisa menjelaskan semua secara tenang, konsisten, dan tanpa emosi   yang meledak-ledak seperti kebanyakan rekan-rekannya kepada pemirsa Wimar's World tentang apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh MFI.

Salut untuk MFI yang mengingatkan orang bahwa tidak ada excuse untuk hasil karya jiplakan. Hak cipta adalah suatu karya yang patut dihargai dan dihormati oleh semua orang di dunia. Dan pelanggaran hak cipta adalah hak terburuk yang bisa diajarkan pada generasi muda.

Salut untuk Noorca M Massardi yang mengingatkan kita bahwa persepsi dalam menilai sesuatu tidak perlu sama dan memang tidak boleh disamakan. Itulah demokrasi!
 
Dan terakhir, untuk siapapun yang bertanggung jawab di balik penjiplakan dari lagu film korea pada film Ekskul. Siapapun Anda, perbuatan mengingatkan saya pada sebuah kalimat yang pernah dikatakan seorang Woody Allen
 
"If my film makes one more person miserable, I've done my job."

You've done your job,
SHAME ON YOU!

 


 

SMS yang masuk selama siaran Wimar’s World 10 Januari 2007:

+62216883xxxx
Standard budgeting utk feature film tdk ada d negeri ini.Jd prod.2 film yg profit oriented mmbutakn mtanya dgn case sprt ekskul.Mana ada yg bkn film dgn bjt ftv

+628131133xxxx
Bwt sineas FOKUS aja dEh buat bikin film yg bagus.TUnjuk aja satU orang yg kompeten buat ngomong.Jangan semuanya ngomong, malah jadi runyam.Kaya sutradara "RS" tUh oMonganya bikin PANAS suasana.

+6281117xxxx
Soal menang kalah tdk terkait dgn perpu. Jadi jgn meluas. Seolah kalah gara2x perpu

+628180892xxxx
Boo! Sore loosers! "Dana kemana? Ga ada transparansi! Lembaganya mandul!" Kenapa merasa keren ngembaliin piala dr lembaga yg korup kalo ga malu nerimanya in the first place? Plis d!

+6281815xxxx
Mira ok2 aja karna saya tau kualitasnya sbagai sekampus dgn saya.. Tolong dkontrol teman2 artisnya yg gak tau apa2 tentang seni ngomong sok tau apresiasi sebuah karya -pras

+6281881xxxx
Kok anak muda jd nggak demokratis sih? Nggak kepilih filmnya trus membunuh filmnya bahkan lembaganya ! Omong kosong,krn film mrk juga nggak  semuanya bagus !

+62817608xxxx
Ah barisan skit hati kali ya. Kalo ga setuju pranata n sistem, knapa jg hrs piala citra dipulangin, itu agak childish. Artinya kalian ga hargai diri sndiri. IaN

+62219882xxxx
Menurut saya FFI skr kesannya tdk berkelas.Artis2 makin gampang aja dpt citra pdhal actingnya biasa banget

+6281180xxxx
Di buku panduan, panitia bs menganulir keputusan dewan juri..ada koq, dewan juri aja yg tdk berjiwa besar..

+6281180xxxx
Juri disogok kali, kan kgk punya dana panitia ffi, makanya cr dana di luar..

+62812272xxxx
dr. Ivon 27th Bogor.Bagi gw itu suatu proses pembelajaran yg hrs disikapi semua pihak dgn bijaksana & gak emosional,dunia perfilman nsnl dan segala masalahnya dah waktunya digarap dgn serius dgn undang2 yg melindungi & membangun,buat Mira dkk keep on fighting but dont be emotional,buat para juri FFI mari berpikir jernih,berani ngaku salah & beritikad baik untuk make it beter,buat pemerintah ayo serius dong,jgn tar-sok,tar-sok mulu,do something & do it now

+628138932xxxx
Sbagai ortu,pilihan dewan juri thn ini adalah benar,Ekskul punya tema yg bagus kita dpt bnyk pelajaran darinya.ga perlu kekanakan,iri&munafik.

+62812918xxxx
Apakah dunia perfilman kita sdh demikian parahnya? Dunia luar saja memberikan penghargaan kpd film kita yg bagus2 kok kita sendiri tdk menghargai?

+628138961xxxx
Saya si stuju dng juri bhw film ekskul tu bagus dan memang layk dpt piala citra..sebaiknya kl emang ada masalh, jgn ngorbanin karya sendiri!

+62812810xxxx
Akan lebih bijak kalau pihak yg menerima piala citra untuk film ekskul untuk mengembalikan piala yg telah diterima. Hal ini saya rasa dapat sedikit meredakan situasi yg terbentuk tanpa memojokkan posisi dewan juri.

+62816141xxxx
Orang2 dikalangan perfilman selalu telmi (telat mikir) shg akan selalu ada protes pemenang. Ini menunjukkan  insan film sangat tdk prof dan ada itikad tdk baik

+628151973xxxx
Mira, Riri, rudi cs, mending buat film dg judul "si sirik kecewa" sapa tau th 2007 menang..

+628151073xxxx
Mira tahu kaga peran gay 3x dp citra apa?

+628151073xxxx
Saya tdk prn nonton flim indo ? Citra kan jipal oskar mrk tak pantas dpt citra

+62856110xxxx
Sy pernah mendengar bahwa kriteria film utk menang di FFI adalah mencerminkan kebudayaan Indonesia. Apakah film Ekskul mencerminkan kebudayaan kita? Anak SMA bawa2 pistol ke sekolah. Bukankah film jg hrs ada unsur pendidikan ke masyarakat? Inikah yg hendak kita ajarkan ke anak2 kita? Budaya dendam?
-Iponk

+62856213xxxx
harusnya film nya mira lesmana yang menang..jadi ga akan rame kaya skarang.

+62856163xxxx
Saya setuju bila badan sensor dirubah menjadi badan klasifikasi film. Bukan filmnya yg tdk blh beredar, namun ada batasan mengenai siapa yg blh menonton.

+62856788xxxx
Bang wimar, saya jadi penasaran niy.Kapan bikin diskusi dgn eric dewantoro si penata musik film ekskul.Barangkali ada alasan2 tertentu kenapa dia memakai musik dari film lain,atau mungkin ada campur tangan produser,atau jangan2 budget u musik kecil sekali hingga ambil musik dari tempat lain..

+62811985xxxx
Bner2 eskul harus dicabut dr kt pmenang.bnyak skali film yg jauh....lebih baik tl0ng smua pihk yg menilainy buka mata lebar2 trhdp film2 Ind0nesia

+62815165xxxx
Saya stuju sama MFI,nominasinya aja banyak yg ga layak,apalagi sampe menang ffi..Ternyata juri2 yg udah kawakan lebih milih film plagiat...

+628588078xxxx
Dwn jri jngn t'pngrh  org2 yg dengki. Pmrnth jg hrs tgs, jgn biarkn msrkt bngung. Utk Miles dkk SIRIK tnda TAK MAMPU!

+628151022xxxx
Sineas muda jngm lupa bnyk ide film anda yg plagiat..cnth:aadc, jalangkung 1/2. Sensor film harus ada agar film indonesia tdk merusak anak bangsa..iqbal

+62815161xxxx
kenapa para sineas muda tdk mempersoalkan film2 indonesia di tv (sinetron2)? bukankah banyak skenario2 jiplakan di film/sinetron2? bukankah skenario lbh substansial drpd musik dlm film/sinetron? (verdi)

+62812107xxxx
Menurut saya orang Indonesia itu msh penuh dg ke iri an dan ga mau mengakui kekalahan alias msh bnyk yg berpikir terbelakang dan sampai kapanpun negeri ini akan terpuruk dan ga akan maju kl isinya hanya orang2 yg munafik,ga mau kalah, sok merasa benar dan sukanya aksi demo.citra yg dibalikin dibuang aja!

+628138163xxxx
 ffi tdk profesional,hrsnya menghargai kreativitas semua film yg diunggulkan bkn saling menjatuhkan,kompetisi itu wajar,hargai yg menang!

+628151165xxxx
SAYA MAU  TAHU BAGAI  MANA  CARA MEMILIH  JURI

 

 

Print article only

39 Comments:

  1. From Arul Arista on 10 January 2007 11:37:45 WIB
    Watch For Film Indonesia;
    Piala Citra dan Piala Oscar.....

    Kalau saja saya yang memperoleh piala Citra tersebut bisa jadi bukan piala Citranya yang saya kembalikan saat saya protes sebagai penyelenggara. Tapi, mungkin 'ngotot' jadi pejabat BP2N dulu atau 'belajar' jadi tim dewan juri yah...?
    Peristiwa pengembalian ini akhirnya menjadi sejarah dan kubu Riri Reza Cs berhasil menjadi pelaku sejarah. Ada yang khawatir kayaknya ? Antara lain pihak penyelenggara Film Indonesia atau dunia. Jangan-jangan nanti piala yang diberikan akan dikembalikan lagi yah ?
    Apabila kita sedikit berkiblat pada referal maka Piala Oscar pernah dikembalikan oleh aktornya, itupun karena diskriminasi rasial orang Indian. Hanya 1 dan itu sudah lama sekali.
    Sepertinya susah menjadi pihak otoritas atau penyelenggara di Indonesia kalau tidak nonton film Indonesia yah....

    Selamat Nonton Film Indonesia......!!! Ada baiknya sebelum berkomentar sempatkan diri untuk datang ke bioskop dan nonton film Indonesia.
    Lumayan khan bisa berkomentar dengan fakta ? Jadi tidak asbun yah...He....he..he...


    Arul Arista
  2. From Zaenal Imanudin on 10 January 2007 13:01:54 WIB
    Ibarat pabrik mie, suatu karya hanya akan bermutu jika raw material nya bagus.

    Suatu karya film merupakan produk dari suatu cerita, misal roman atau novel. Mutu suatu novel ditentukan oleh aliran si pembuat cerita. Ada aliran kapitalis/liberal, ada pula aliran sosialis.

    Biasanya, menurut alm. Pramudya Ananta Toer, alur cerita yang picisan memang datang dari aliran kapitalis. Mereka kurang menjiwai, sehingga alur cerita cenderung (maaf) borjuis, bahkan cenderung paranoia.

    Sikon FFI memang berada dalam aliran kapitalis, sehingga karya bermutu seperti teather KOMA kurang bisa berkembang di pasaran. Tentunya hal ini akan dipengaruhi juga oleh kapasitas team penilai alias juri yang tidak dapat dipungkiri lagi, masih kental bau orbanya....
  3. From Paman Tyo [blogombal.org] on 10 January 2007 14:06:13 WIB
    Membuat alternatif. Bikin tandingan. Itulah cara yang sehat. Selanjutnya biarlah masyarakat yang menilai dan memilih.
  4. From lan on 10 January 2007 14:08:38 WIB
    sama kayak film indonesia yang dimainkan oleh tora sudiro, musiknya dan alur ceritanya pun sedikit ngikutin indiana jones..

    duh, duh, kreatip dikit napa?
  5. From Triyatni on 10 January 2007 14:53:42 WIB
    Kenikmatan menjiplak karya orang lain untuk mendapatkan prestasi semu membuat bangsa ini miskin idea. kita menjadi mati rasa akan apa yang kita nilai sebagai prestasi.
    Penjiplak bagi saya tak beda dengan koruptor, menari di atas keringat orang lain.
  6. From Darsis on 10 January 2007 15:57:08 WIB
    Sudah betul sikap sineas2 muda mengembalikan piala citra dan tidak mau kirim lagi untuk kontes tahun depan. Bikin award tandingan juga sudah betul itu. Mereka mewakili generasi baru yang ,walaupun sedikit, masih punya idealisme. Soal melecehkan juri atau minta FFI dibubarkan, itu kan cuma datang dari energi mereka yg muda dan meledak2. Itu mah biasa anak muda begituan. Nanti makin tambah umur pasti wisdom itu akan tumbuh dengan sendirinya. Jadi kita dukung saja anak2 muda cerdas itu. Aku terus terang sakit perut berat dan mual2 lihat sinetron2 Punjabi yg melanda TV dan film kita.
  7. From Sei on 10 January 2007 16:45:35 WIB
    Lama-lama satu sutradara bikin festival sendiri. Ya nominasi sendiri, ya menang sendiri.

    Sesuatu itu salah bukan lalu tindakan kita selalu benar.
  8. From Willy on 10 January 2007 19:54:12 WIB
    Menurut saya sikap para sineas yang mengembalikan piala citra sudah cukup membuktikan bahwa FFI dinilai kurang dalam segi kualitas penilaian dan pemberian piala kepada para sineas.yah,kalo dikasi sesuatu yang ga pantes kan,ga enak rasanya.lagi pula lebih baik punya ide yang orisinil kan dari pada menjiplak karya orang dalam bentuk sekecil apapun,,Ya Toh???emank dari sekitar 200juta penduduk indonesia tidak ada yang memiliki idea baru untuk membuat karya yang asli/orisinil yah???mungkin para seniman baik dari segala macam aliran sebaiknya berhati2 dalam mencari inspirasi juga agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi....hehehe,maaf ya kalo ada kata2 yang kurang sedap,baru pemula dalam memberi comment....

    Terima Kasih Untuk bung WW yang uda menyediakan tempat untuk menampilkan opini masyarakat,SukSEs TrUs....

    btw,ada yang punya obat cadel???hehehe....
  9. From Kiki on 10 January 2007 22:25:28 WIB
    Alah, paling itu cuman politiknya Miles aja. Kan mereka mau bikin film tentang orang nyimeng. Takut dibredel kayak Pocong tuuuhhhh... Jadi mendingan keroyokan aja nyerang. Hehe...
  10. From citra on 10 January 2007 22:45:19 WIB
    just wondering kenapa untuk aksi protes pertama mba mira dkk memilih untuk mengembalikan piala nya?? menurut saya sih terlalu emosional...
  11. From atri on 11 January 2007 00:03:59 WIB

    Buat saya tidak nyambung antara argumen masyarakat MFI dengan cara protesnya. Kalau argumennya pelanggaran hak cipta, ada jalur hukum yang bisa ditempuh, dibandingkan rame2 mengembalikan piala citra. Kalau argumen mengembalikan piala karena protes sistem yang tidak transparan dsbnya (bahkan katanya sudah berlaku sejak tahun 2004 dan 2005), mengapa tidak dikembalikan pada tahun2 tersebut, ketika masyarakat MFI memenangkan piala?

    Saya sangat menyayangkan cara yang tidak sesuai dengan tujuannya ini, karena tindakan masyarakat MFI tsb terlanjur memberi KESAN (meskipun sekarang sudah diluruskan), mereka kurang bijak dalam menyikapi perbedaan pendapat. Kurang baik untuk pendidikan demokrasi di masyarakat.

  12. From toto on 11 January 2007 00:04:19 WIB
    Piala Citra

    Kenapa si kita mau menangnya sendiri saja?kalo dikit-dikit kalo tdk sesuai kehendak kita, terus ngumpulin orang2 terus protes emosional, sampe yang dulu-dulu juga kebawa-bawa... Negara ini mau dikemanakan. Mbok belajarlah legowo menerima kekalahan.. Toh sebelum diadakan FFI 2006 para sineas sudah tahu siapa Jurinya, Mbok memang kalau jurinya dirasa kurang krdibel, kurang mumpuni, saat itu penentuan Jurinya di 'Protes' jangan sekarang, setelah sudah terjadi baru di Protes..

    Kalau dianggap jurinya tidak kredibel, logikanya yg diprotes bukan ekskul saja dong? Nirina sebagai artis terbaik, ada Berbagi suami juga dapat piala citra...dsb.. Harusnya yang Protes, bukan hanya ngembalikan pialanya saja tetapi lebih dari itu... bilang, contoh Nirina bilang lah saya tidak pantas mendapat piala citra, karena jurinya tidak kredibel. dan diikuti yg lain....
    yang saya liat, keliatannya yang meraih piala citra 2006 (selain ekskul) tidak di protes.... ini yang tidak adil, padahal kan yang menilai sama. Harusnya ekskul di protes ya nirina juga di protes dst... Dari segi matematis kita bisa hitung kan, ada puluhan piala citra yang dihadiahkan, dan hanya 1 yang diprotes 'kelayakannya'. menurutku ini masih kredibel karena hanya 1 yang diprotes.

    Kalau yang di protes karena Ekskul menjiplak, menurutku ya karena itu keterbatasan Juri, juri kan tugasnya hanya menilai, (kalau tidak salah para sineas disuruh mengisi formulir dulu kan tentang ke absahannya)... nah disini jika memang menjiplak ya tuntut saja ke pengadilan Nanti jika terbukti baru nominator ke dua yg mengganti mendapatkan Piala citra.. bukan jurinya yang salah dan di protes boikot...

    Menilai Baik buruk suatu film, itu relatif kan? nah karena relatif itu makanya kita tidak bisa memaksakan kehendak kita.


    terimakasih
  13. From JaF on 11 January 2007 00:22:43 WIB
    Yup, dari awal emang terasa ada yang 'nggak pas' dengan aksi protes anti FFI itu.. Mungkin anda benar bahwa yang nggak pas itu adalah karena mereka menjelek-jelekkan orang lain sehingga perjuangan mereka kelihatan 'jorok'. :)

    FFI buat saya sudah melambangkan establishment masa lalu. Upaya menghidupkannya kembali buat saya lebih terkesan sebagai 'romantisasi' sejarah saja. Biarkan FFI tidur dengan tenang.

    Bikin festival baru sebanyak mungkin kalau perlu dan biarkan rakyat menyeleksi. Tapi lakukan dengan 'cakep'.
  14. From Donna on 11 January 2007 00:32:04 WIB
    Woro...woroo...
    Silahkan berdebat. hari ini rame sekali talkshow yang ngebahas FFI. Piala citra dikembalikan? Ya berarti masa sewanya telah habis. iya toh? Kalo tidak dikembalikan, nanti di denda lagi....

    BagUSSSSS buat MFI, Trusss bergerak!! Bongkar pemikiran katak dalam tempurung!!!
  15. From KEMENTERIAN DESAIN REPUBLIK INDONESIA on 11 January 2007 01:14:00 WIB
    Karena sudah terlanjur dikembalikan ke menteri budpar, kami setuju sama usul mas deddy mizwar untuk dijadikan piala - piala itu monumen bangkitnya sistem perfilman indonesia yang lebih baik...(itupun kalo memang jadi baik he he)

    Kalo saran kami.. bikin monumennya di gedung direktorat perfilman..di bagian lobbynya..

    salam hangat
    KEMENTERIAN DESAIN REPUBLIK INDONESIA
  16. From pengamat on 11 January 2007 03:55:01 WIB
    Baru saja disiarkan tadi malam, sekarang sudah ada 14 comments di PO.
    Berarti amatan pengamat betul: Wimar's World "bermasa depan" di JakTV (dan akan bisa turut ngangkat JakTV)
    Saya juga bertambah pengetahuan (yang minim sekali) mengenai perfilman Indonesia
    Saya tidak beri komentar mengenai isinya, diatas sudah banyak (termasuk yang bagus)

    Saya berniat mengikuti terus siaran ini
  17. From Aruwat on 11 January 2007 10:06:20 WIB
    Ngak film gak sinetron punya indonesia sama jeleknya, ancur banget. Ada siih yang bagus dan bermutu tapi cuma beberapa. Yang salah tuuh bukan filmnya tapi orang2nya, budaya indonesia kan memang budaya menjiplak.
  18. From galar asmoro on 11 January 2007 10:25:12 WIB
    film sekarang mah ngk ada yang bisa di ambil pelajarannya..film yang mengenai kekerasan...dan film hantu aja...(entar yang terkenal malah hantunya)..hhiihihihi..mending film kolosal aja..yang lebih seru...itu dah...sekrang tinggal gimana para pembuat film itu lebih kreatif lagi..sehingga bisa di tonton oleh kalayak umum dan bisa di jadikan pelajaran hidup...thx.
  19. From Dewa Ekayana on 11 January 2007 10:37:12 WIB
    memenangkan suatu karya film yang merupakan penjiplakan jelas-jelas merupakan suatu kesalahan. Pada situasi seperti ini Produser film (jiplakan), juga ngga bisa 100% disalahkan. Ini merupakan kesalahan Dewan Juri FFI yang memenangkan karya jiplakan. Dewan Juri seharusnya punya referensi film yang banyak.
    Keputusan Juri sangat bisa diperdebatkan sebagai bentuk negara demokratis, jangan dianggap mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
  20. From Bolon on 11 January 2007 13:10:30 WIB
    Yang perlu diperhatikan adalah akar permasalahannya. Apalagi pihak-pihak yang bertentangan datang dari komunitas yang sama. Jiwa besar perlu dikedepankan demi perbaikan jangan karna merasa lebih pintar dan berkuasa (juri dan pelaksana ffi) sehingga membutakan mata hati. Demi perbaikan semua sendi negri ini perlu terobosan yang berani tidak cukup hanya dengan tindakan sopan dan bersahaja. Sekali lagi tidak perlu sakit hati (pake elsa syarief segala) demi perbaikan film Indonesia.
  21. From Giok on 11 January 2007 13:41:07 WIB
    Mira minta lembaga sensor dihapus, katanya kreatifitas tidak boleh dipasung. Boleh saja dia minta begitu asal lebih dulu harus ada Undang2 yang melindungi masyarakat dari tayangan berbau kekerasan dan porno. Kalau tidak nanti banyak muncul film2 sampah sebagaimana kita lihat sehari2 di TV kita. Isinya cuma lendir dan darah melulu.
  22. From riris on 11 January 2007 14:27:50 WIB
    Kisruh FFI mestinya bisa direspon dg jernih.Peraih Citra lain ga perlu kembalikan piala. Cukup kirim surat n bukti ilustrasi musik film Korea yg dijiplak. Yah, kayak model pembuktikan yg konon dilansir infotainment.Dewan Juri,cq Jero Wacik, saya pernah baca, OK2 saja koq tinjau kembali. FFI ga perlu dibubarin sbg salah satu bentuk penghormatan kita pd pelopornya (Usmar Ismail), yg tujuannya juga make-up mutu.Cuma aturan2nya dilengkapi, ya, spt pernyataan orisinilitas.Tambah unsur dewan juri yg tau musik,kostum, dll.Singkat kata cegah plagiat n make-up mutu.
    Buat yg ga puas dg FFI, bikin festival sendiri spt usulan Mira.Biar masyarakat nilai sendiri kualitas festival dan hasilnya. Ada Fest.Film Bandung, Fest.Film Indie, FFI, FFMFI etc. Itu saya pikir lebih sehat.

    Tentang LSF atau lembaga semacamnya yg lindungi masyarakat tetap perlu.Dalam seminar ttg kekerasan thd perempuan, yg juga dipertontonkan film2 yg belum kena gunting sensor LSF, rasanya mayoritas sepakat, adegan pornografi,kekerasan yg ga pernah kebayang kita konsumsikan pd publik yg ngakunya Timur,relijius.

    Thanks u Wimar's World, ditunggu topik2 menarik yad.Salaam.
  23. From anton on 11 January 2007 15:15:26 WIB
    Jangan sampai dunia perfilman kita jatuh ke tangan oligarki pimpinan Mira Lesmana, kalo ndak suka bikin aja tandingannya ndak usah pake aksi mengembalikan segala, kalau itu yang mereka lakukan berarti mereka tidak menghargai karya mereka sendiri dan menghina FFI sebagai institusi perfilman Indonesia paling dihargai. Kalau film Eskul itu dianggap plagiat buat saja polemiknya melalui sidang budaya atau debat budaya yang cerdas sehingga masyarakat bisa melihat mana benar mana salah. Sejauh ini masyarakat masih melihat idealisme di tangan Miles cs tapi siapa tahu di lain waktu Miles cs jadi diktatur dalam dunia perfilman Indonesia dengan kekuatan opininya.Apakah film seven magnificent itu tidak meniru the seven samurai? trus magnificent seven di tiru film-film lain?
    Apakah film 'ada apa dengan cinta' bukannya agak-agak niru Gita Cinta dari SMA, nya Rano Karno...?
    Kalo mau 100% orisinil sih ya susah....
    hanya saja kalo memang ada plagiat dan pelanggaran hak cipta mustinya tuntutan datang dari pihak yang merasa dilanggar kalo itu tidak digubris barulah protes. Tapi ya jangan menghina begitu...

    Buat Miles : Wise dikit napa....

    ANTON

  24. From Devi Girsang on 11 January 2007 15:49:35 WIB
    Saya cukup terkejut mendengar beritanya. Ada2 aja. Yg heboh FFI 2006, tapi pemenang2 FFI 2004 & 2005 ikut2an mengembalikan piala mereka. Mungkin mereka memang terlalu emosional dan tidak bisa berpikir dengan bijak. Yg ada hanya "pembunuhan karakter" FFI, juri, LSM sampai ke departemennya, dengan berkata2 yg kurang pantas di media massa. Setuju dengan #7 "Sesuatu itu salah bukan lalu tindakan kita selalu benar."

    Mungkin yg protes itu sudah yakin bakal menang tp ternyata salah kali ya? Jadi marahnya ga bisa dikontrol lagi..Memalukan.
  25. From Handika Aditya on 11 January 2007 20:09:16 WIB
    Saya termasuk salah satu orang yang merasa salah pilih film waktu pertama kali menonton Ekskul, lucunya dari hampir 50-an orang yang kala itu berada satu studio dengan saya, hampir semuanya kecewa dengan suguhan Ekskul yang nyaris tidak ada bedanya dengan sinetron-sinetron di televisi.

    Lebih lucunya lagi, ternyata film yang saya anggap tidak menghibur itu malah menang di ajang festival film no.1 di tanah air. ha ha ha Edan...

    Saya memang tidak terlalu perduli mengenai kisruh antara masyarakat perfilman yang mempertanyakan legalitas musik yang ada di film itu, karena bagi saya, tanpa perlu "dijelek-jelekan" melalui pembajakan musik pun sebenarnya film itu memang sudah jelek, tidak menghibur, membosankan & tidak layak masuk nominasi FFI apalagi jadi juaranya...

    Solusinya mungkin bukan FFI yang harus dihentikan, melainkan ke depan, kualitas juri harus lebih diperhatikan baik dari segi independensi maupun kematangannya. biarkan masyarakat yang menentukan siapa yang pantas menjadi juri, sehingga kejadian-kejadian yang memalukan seperti ini tidak perlu terjadi lagi.

    Maju terus perfilman Indonesia.
  26. From angga on 11 January 2007 21:58:52 WIB
    banyak hal yang bisa kita lakukan dalam menyelesaikan perbedaan pendapat, saya pribadi melihat film2 terbaik di jajaran FFI selama 3 tahun ini tidak menampakan ciri jelas kearah mana festival ini menilai suatu film itu baik dan layak mendapat penghargaan, nominasi2 yang masuk juga diluar dugaan, film yg laku belum tentu jadi yang terbaik di FFI, sehingga dari kacamata saya standart di FFI tergantung moodnya juri aja, tapi ini merupakan seni dalam kompetisi siap menang siap kalah juga, protes rasanya wajar tapi caranya harus diplomatis agar tidak terlihat kekanak-kanakan. festifal fil di indo harus tetap ada hanya saja harus selektif memilih jurinya, jangan cuma punya nama beken tapi ternyata seleranya agak unik,, kita tonton terus film indonesia biar festival kita bisa makin kompetitif.
  27. From chamel on 12 January 2007 10:21:30 WIB
    Acara WW sangat menghibur plus meluruskan informasi yang sembraut seputar FFI belakangan ini..

    Sebaiknya tim MFI perlu jubir (juru bicara) sehingga gak ada artis yang sok seleb jawabnya ngasal dan gak tau ujung pangkal permasalahan atau samakan visi dan misi jadi gak sampai keluar koridor yang ada. Misalnya dari MFI jubirnya Mira Lesmana. dan FFI perlu Good PR untuk mengkomunikasikan segala macam informasi secara persuasi kepada sineas muda dan masyarakat umum.

    Ketidak setujuaan saya adalah jika Lembaga Sensor dibubarkan, karena jujur masyarakat kita belum siap dilepas begitu saja. Belum ada kesadaran memaknai film. Yang ada nanti malah dicontoh aksi gulat, pembunuhan, pemerkosaan, dll. Sekarang saja ada Lembaga sensor masih terdapat kasus-kasus pemerkosaaan, perampokan bahkan pembunuhan yang idenya berawal dari film yang mereka tonton..
  28. From firdaus on 12 January 2007 12:12:05 WIB
    Saya rasa FFI harus memeriksa bahwa semua film yang masuk harus memenuhi aspek legal.
  29. From esti on 12 January 2007 15:31:42 WIB
    Kalo mo lihat sinetron ABG di RCTI akhir-akhir ini cerita-ceritanya sekarang cukup lumayan, mo tahu napa ? karena ngejiplak film korea, jepang dan taiwan. Nah...sebel kan ? jangan-jangan diproduksi oleh kelompok yang sama dengan produser "Eskul"

    Salut bagi para sineas yang bertekad untuk menerbitkan karya aslinya (yang heboh mengembalikan piala citranya, saya akan dukung penuh dengan nonton film mereka di bioskop. Percayalah publik akan memberikan penilaian. Mengembalikan piala ya boleh lah, untuk menunjukkan sikap kita dan mendapat perhatian.

    Selanjutnya sibuklah berkreasi ngga usah sibuk mengumpat juri atau membubarkan suatu lembaga, kalau nga kredibel lembaga apapun oleh publik pada akhirnya akan direndahkan, kalau ngga bisa dihilangkan ya dianggap invisible githu aja koq repot....ya ngga mas Wim.
  30. From Nina on 13 January 2007 02:04:13 WIB
    setuju banget kalo LSF kudu dibubarin.... masalahnya kadang sensor yang dibuat itu ngga ngeliat jalan cerita alhasil potong sana sini dan sangat amat mengurangi kenikmatan menonton. ceritanya jadi ngga jelas dan ngga nyambung. oke lah ada sensor, tapi jangan sampe sensor itu mengurangi kejelasan isi cerita! setuju banget, kalo LSF diganti lembaga klasifikasi film!

    tapi... rasanya masalah ini udah ada dari zaman baheula.... kenapa baru sekarang dimasalahkan? apa cuma sekalian protes? ini yang rasanya agak janggal buat saya....

    trus... sinetron2 segudang yang notabene rata2 nyontek itu jg ngga ditindak lanjutin ya? padahal ini bener2 menandakan tidak adanya kreatifitas. bisanya jiplak doang. lebih dari 20 sinetron(30 ada kali) yang mengudara di perfilman indonesia ngga ada yang murni karya anak bangsa. bagaimana coba?
  31. From hans on 13 January 2007 19:37:47 WIB
    kalau dengan seenaknya memindahkan karya org lain tanpa izin lalu bisa menang,apa kabar perasaan org2 yg capek2 bikin perfilman indo bisa bangun lagi kayak sekarang dan tidak menang?memang bukan masalah menag atau kalah,tapi ini masalah moral yang bobrok,dengan gampang menikmati hasil jerih payah teman2 sineas dari zaman skuldesak lalu tiba2 mempermalukan bangsa sendiri dengan pemindahan itu.Pada akhirnya Shanker dan Elsa syarif keliatan kayak BADUT!!!!xxxxx..
  32. From rievees on 13 January 2007 22:14:01 WIB
    Mulai dari awal hingga akhir pertunjukkan, mulut saya tidak berhenti 'bekerja' menunjukkan 'keterpesonaan' saya akan film tersebut ('keterpesonaan' ini tertuang dalam salah satu postingan saya di blog saya, rievees(dot)blogspot(dot)com). Dan mulut saya pun (beserta seluruh indera lainnya) kembali 'bekerja' ketika film ini 'berhasil' memenangkan film terbaik di FFI 2006. Sungguh merupakan event komedi terbaik sepanjang tahun.
    Dukungan saya untuk Mira Lesmana dkk yang bersemangat tinggi ingin mereformasi sistem perfilman (dan juga pertelevisisna) kita yang carut marut.
  33. From Imam on 14 January 2007 14:36:28 WIB
    Dua saran buat persoalan film (di) Indonesia dan FFI:
    1. Penyelenggaraan FFI jgn se-thn sekali. Gak byk dan gak cukup film nasional yg capable untuk festival dlm periode 1 thn. Cobalah dua atau tiga tahun atau 30 tahun sekali, atau tiap kali presiden RI lengser he he! (Btw, festival bukannya lbh mirip dengan lebaran? That is, sarana buat nonton abis film2 --yang katanya-- pilihan? Yg emang jelek harus siap2 dipecundangi para kritikus film di media massa; Film2 bagus hrs siap2 disirikin pegiat2 film lainnya. Ah.. Bagus itu Relatif bukan? Dan Jelek itu ya.. Mutlak!)
    2. Mari kita hancurkan bersama-sama produksi2 film milik Punjabi dkk di layar kaca ataupun lyr lebar. Mereka bkn jual film tapi jual pakaian2 kodian imporan (celakanya, pakaian2 kodian itu tiruan dr barat eh.. ditiru lagi sama kita haduuuuh..). Kalo ga sanggup ngancurin, ya kembalilah ke jalan kaum minoritas: buatlah label indie, bikin festival film indie sblm atau sesudah penyelenggaraan FFI. Galang massa apresiatornya. Sebarkan 'kebenaran' film2 alternatif (yg emang mutunya bagus dan bertanggung jwb ya!). Semangat indie baru dpt porsinya saat ini karena emang sdh jelas lawannya.


  34. From yudho raharjo on 15 January 2007 18:56:07 WIB
    mungkin ketika sineas hollywood memproduksi "Seven Magnifecent" dengan mengadopsi "Seven Samurai"-nya Akhira Khurosawa bisa jadi contoh buat kita semua. tidak cuma para sineas lho, tapi juga penonton film seperti saya...
  35. From dmitri on 17 January 2007 21:52:41 WIB
    mas yudho raharjo! 7 magificent dan 7 samurai itu tidak menang di Indonesia. dan kalau betul demikian, bukan berarti pantes ditiru juga. Dan Brown juga kebetulan lolos kasus penjiplakan. terus, kita mau endorse plagiarism juga? choicenya gampang kok buat FFI. apakah sebuah lembaga yang mewakili perfilman nasional mau memenangkan film jiplakan atau tidak. kalau tidak, kan bisa secara resmi menjamin atau minta konfirmasi 'bukan jiplakan' dari produsen korea/jepang/whatever itu? lha, FFI aja enggak peduli sama imagenya sendiri... apa itu yang disebut idealis? justru karena sikap FFI kayak begitu makanya pantes dibubarin. dan kalau next FFI-substitute masih begitu, bubarin lagi. btw, jangan anggap FFI mirip oscar atau golden globe, karena FFI bawa nama negara. kalo mau disamain, sama Bafta. langsung deh terasa flavour 'national pride'nya. yang penting kita sadar, pilihan kita itu selalu membawa dampak dan konsekuensi. kalau rakyat Indonesia menghargai penjiplakan secara demikian, apakah RI itu masih pantas ada? kita kan bukan a Nation of Pirates, kan? ataukah....
  36. From prast on 19 January 2007 09:15:27 WIB
    tentang hasil FFI 2006 memang mengecewakan tapi bukan berarti FFI 04 dan 05 juga tidak mengecewakan.. masa arisan menang.. padahal itu cuma cerita sinetron yang dipadatkan dan juga tora sebagai best actor, mengejar matahari dan winky wiryawan seharusnya layak menang.. tapi ok.. yang protes harusnya juga bercermin tentang karya mereka, mungkin aja ekskul adalah the best from the worst..
    ingat tahun 93 seluruh media di amerika menjagokan pulp fiction nya quentin tarantino dan actor john travolta tapi yang menang forest gump dan tom hanks.. kita percaya aja sama juri karna ini kan baru permulaan dan perlu proses pengembangan.. tapi jangan protes dangan cara arogan.. gak pantas lah di tv rudi jarwo, tora, nia dinata bahkan luna maya menyangsikan juri macam remy silado dll yang merupakan tokoh sastrawan dari tahun 60an juga juri lainya.. berilah mereka masukan positif tentang perspektif seni, karna seni bukan hal yang apresiasinya subjektif tapi objektif dengan menggunakan prinsip dan teori seni.. saya kebetulan adalah sarjana seni jadi cukup mengerti kalo seni itu bukan hanya ekspresionis dan aesthetic aja tapi memerlukan teori komposisi yang benar untuk menghasilkan karya bagus.. jadi kalo belum tau tentang seni jangan asal ngomong..
  37. From Bohemian on 04 March 2007 11:37:25 WIB
    Budaya menjiplak memang udah parah di negeri ini, jangankan film, lagu aja banyak, contohnya lagu dangdut bisa di bilang sebagian besar hasil jiplakan semua.
    TANYA KENAPA?
  38. From agung satria on 06 June 2007 22:46:02 WIB
    sebenarnya saya cuma iseng buka web ini, karna lagi ada tugas tentang matkul Haki, intinya saya sangat mendukung tentang pemberantasan penjiplak sebuah karya. Karna saya adalah seorang mahasiswa jur. pertelevisian di ISI jogja, saya juga kecewa kalau suatu saat nanti saya berkarya, karya saya tersebut di langgar.
  39. From tommy on 31 August 2007 19:27:41 WIB
    mas saya bisa minta no telp or hp sutradara2 kaya mira lesmana ma rudi cos ada yang mw aku bicarakan sama dia,,,uia kalo ada

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home