Articles

Marissa Haque protes Pilkada Banten, ingatkan Fauzi Bowo harus mundur

Perspektif Online
11 January 2007
oleh Hayat Mansur
 
Calon Wagub Banten dari PKS, Marissa Haque dengan pasangannya calon gubernur, dinyatakan kalah, padahal lawannya adalah incumbent atau orang memegang jabatan. Menurut peraturan, seorang incumbent (seperti Wakapolri atau Wagub) harus mundur dulu jika menjadi calon Gubernur atau Wagub. Adang Daradjatun sudah mundur, Fauzi Bowo belum melakukannya.

Aktris dan mantan anggota DPR RI Marissa Haque menjadi tamu dalam acara Gubernur Kita Kamis Malam (11/1) yang mengangkat tema “Belajar dari Pilkada Provinsi Tetangga.” Namun Marissa hadir dalam kapasitas sebagai calon wakil gubernur Banten dalam Pilkada daerah tersebut pada November 2006.

01marissa.JPG

Marissa Haque

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kasus kekisruhan Pilkada Banten. Kecurangan dalam pendaftaran merupakan salah satu tuduhan Marissa pada KPUD Banten. Masalah penting lainnya adalah adanya calon gubernur Banten yang masih menjabat di sana (incumbent) dan tidak mundur dulu. Sekarang ini menjadi bahan protes semua calon yang kalah. Proses hukum sedang ditempuh para calon itu sampai ke PTUN, Pengadilan, Mahkamah Agung. Hari Senin depan hakim akan memutuskan perkara gugatan ini. Tapi Gubernur Banten sudah dilantik. Marissa mengatakan, “ada sinetron Pilkada Banten.” Kata Marissa Haque selanjutnya, politik tanpa bingkai hukum tidak akan menciptakan demokrasi. Yang ada hanyalah democrazy karena hukum rimba yang berlaku.

Ini keterangan Marissa Haque sebagai calon dari PKS. Pihak yang dimenangkan (PDIP dan Golkar) dan KPUD dipersilakan datang ke 'Gubernur Kita' jika ingin memberikan ceritera versi mereka.

Marissa menyatakan, Wakil Gubernur DKI Fauzi Bowo harus mundur bila menjadi calon gubernur Jakarta. Penelpon Oktav dari Bekasi bertana, mengapa Marissa tidak mengajukan gugatan sejak awal terhadap Calon yang tidak mengundurkan diri dari jabatan? 

Pakar politik dan otonomi daerah Ryaas Rasyid yang juga menjadi panelis menyatakan berdasarkan peraturan memang incumbent harus mundur ketika yang bersangkutan mendaftarkan diri ke KPUD.

Marissa menyatakan pihaknya telah memprotes dengan meminta Pilkada mundur enam bulan setelah incumbent akhirnya mundur, tetapi tidak digubris. Karena itu kini pihaknya menggugat KPUD Banten terhadap perbuatan melawan hukum karena incumben tidak mundur. Dasarnya judicial review terhadap PP No.6/2005 Jo pasal 32 UU Otonomi Daerah yang menyatakan bahwa incumbent harus mundur enam bulan sebelum pelaksanaan Pilkada.

Sebagai penutup Wimar mengingatkan bahwa Marissa dulu mau maju dari PDIP yang merupakan partainya, tapi gagal dan ketika maju bersama partai lain juga gagal dikalahkan proses. Kalau begitu, apakah Marissa punya keyakinan good guy akan menang dalam Pilkada?

Jawab Marissa, menegakan keadilan adalah bukan soal menang-kalah tapi proses yang membuat kita menjadi cerdas. Ini juga menegaskan pernyataan sebelumnya bahwa sosialisasi Pilkada berbagai media akan membuat masyarakat menjadi cerdas dan good guy yang cerdas itu mengerikan bagi bad guy.

Print article only

34 Comments:

  1. From Bebas Siregar on 12 January 2007 08:53:12 WIB
    Ah enggak aneh lah kalau sudah kalah protes. Yang aneh kalau sudah menang protes.
    Ibu Marisa kan calonin diri lewat PKS karena ada Mentan yg dari Banten itu yang PKS juga. Dan beliau di komisi IV jadi mudah2an didukung banyak pendukungnya. Eh taunya enggak, soalnya dia aslinyakan dari PDI-P. Yang kalau menang pasti diterima lagi di PDI-P, kayak pak JK gitu lho.....lebar-lebarin jaring supaya nangkep banyak ikan kata nelayan.
  2. From Yon Cahyadi on 12 January 2007 10:11:46 WIB
    Dalam suatu permainan,memang jarang ada pihak yang kalah itu mengaku kalah terlepas sportif atau tidaknya permainan tersebut.

    Untuk hal ini juga berlaku untuk kasus pilkada banten,pihak yang kalah tidak bisa menerima kekalahannya begitu saja. Walaupun jika mendengar dan melihat langsung keberatan yang dilakukan oleh pihak Marissa memang terlihat adanya kecurangan - kecurangan yang sifatnya mencolok sekali.

    Hal ini juga akan berlaku sebaliknya jika pihak atau kubu Ratu Atut yang kalah, bisa dipastikan pihaknya akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan pihak Marissa Haque sekarang ini.

    Sebenarnya yang dibutuhkan dalam suatu permainan itu sikap SIAP KALAH, karena walaupun kita yakin kita akan menang namun ada beberapa hal NON - TEKNIS yang bisa mengganjal kemenangan tersebut.

    Tetapi saya setuju dengan Marissa, bahwa menegakan keadilan bukan melulu hanya urusan menang - kalah tetapi membuat semua menjadi cerdas, tetapi masalahnya sekarang adalah banyak pihak pihak yang MERASA DIRINYA SUDAH SANGAT CERDAS.

    JADI JALAN MENUJU KEADILAN NAMPAKNYA MASIH TERJAL DAN BERBATU.

    Regards,
    Yon
    (bukan simpatisan yang kalah ataupun yang menang)
  3. From wimar on 12 January 2007 10:34:31 WIB
    cerita ini menarik karena kisah nyata, jadi melibatkan calon, partai, kpud, media, masyarakat dalam proses dimana tidak jelas siapa yang kadar kesalahanna paling besar. tidak bisa disimpulkan kecuali dari subyektivitas masing-masing. itulah yang kita pellajari, tidak ada obyektivitas, yang ada adalah subyektivitas masing-masing. karena ini politik? tidak hanya dalam politik, dalam kehidupan memang begini. "Who is the slayer? Who is the victim? Speak." dulu sering diucapkan oleh kakak saya. kutipan dari sandiwara Sophocles, Antigone.
    Atau kutipan yg lebih populer dari wakil Partai Demokrat di 'Gubernur Kita': "Kalau terus terang, namana bukan politik."
    Kami membahas, anda bersikap. hehe.
  4. From Kahar Zakir on 12 January 2007 10:39:51 WIB
    Terlepas dari hiruk-pikuk pilkada, saya merindukan pemuda-pemuda seperti yang saya alami pada awal-awal kemerdekaan, maju dengan tegar, cerdas, menyadari dan menghayati arti kemerdekaan untuk nusa dan bangsa. Negeri ini terlalu dikendalikan oleh mereka yang telah dan pernah menikmati kekuasaan consequently kekayaan, dengan ikut menjadi kroni atau pasukan abs selama orba.
  5. From chamel on 12 January 2007 10:48:11 WIB
    Saya nonton acara Gubernur kita dari episode pertama sampai saat ini..

    Acara tadi malam menurut saya dijadikan pelajaran bagi kita Warga jakarta untuk Pro aktif, misalnya dalam pendataan, kritis melihat kegiatan money politik dan kecurangan-kecurangan yang lain. Kalau kita aktif maka mudah-mudahan yang tersaring untuk Pilkada DKI adalah Good Guy, sebaliknya jika kita belajar dari tetangga sebelah(Banten) maka sama saja kita terperosok ke Lubang yang sama yaitu kekecewaaan serta rasa tidak puas terdapat hasilnya Nanti.

    Satu lagi nich.... saya mau tuh sebenarnya kenal dengan para Calon Gubernur, tapi kok sampai sekarang belum semua BALON yang muncul malah yang belum mucul asyik sosialisasi lewat iklan dan kegiatan sosial.. Datanglah wahai BALON... Kalau anda gak datang yang pasti (1 suara)saya tidak akan memilih Gub yang saya anggap pengecut karena tidak berani berbicara langsung dengan publik Lewat acara ini. Thanks
  6. From berlin simarmata on 12 January 2007 12:49:45 WIB
    tidak selalu calon yang masih menjabat pasti menang,buktinya megawaty dikalahkan mantan menterinya yang pada saat pemilu tidak menjabat menteri lagi.fauzi cuman wagub,kuasa ada ditangan gubernur yg tidak ikut pilkada lagi.kalau marissa kalah,karena orang nggak respek aja,sebentar pdip,lari ke pks,kelihatannya kok ambisius.menurut saya sih fauzi tidak harus mundur,toh rakyat jakarta tau siapa yg akan mereka pilih.pasti terpilih yg tidak banyak janji,tapi mampu bekerja dan memimpin rakyat jakarta.
  7. From Satya on 12 January 2007 14:49:23 WIB
    Detail yang menarik dalam UU Otonomi Daerah mungkin berguna dalam rangka belajar dari tetangga, tapi semua juga tahu PKS Jakarta jauuuh lebih kenceng dari PKS Banten. Dan Adang Daradjatun pasti punya "strategi" beda dari Marissa Haque.
  8. From japri on 12 January 2007 14:51:23 WIB
    Kita memang bangsa yang harus terus belajar dan berbenah diri.
    Kalau mulai dari sekarang banyak orang yang terus menerus melecehkan hukum maka bisa kita banyangkan kapan negara ini akan maju.

    Malah bangsa ini akan semakin terpuruk dan jatuh.

    Banten adalah daerah yang begitu dekat dengan Jakarta
    Bisa dibayangkan bagaimana suasana dengan daerah lainnya.

    Semoga para pejabat,politikus dan pengamat kita bisa lebih jeli dan terus menerus memperjuangkan kebenaran dan keadilan supaya kita semakin maju dan jaya bukan semakin rusak dan ambruk menjadi terpecah belah
  9. From Anton on 12 January 2007 16:20:08 WIB
    Dulu Machiavelli bilang sama saya Bung Wimar waktu dia ngebahas Pangeran Medici "Ton, dalam politik seseorang harus bisa suatu saat berhati mulia bagai seorang malaikat dan disatu saat bisa berhati setan"
    "lalu?" tanya saya sambil melihat ke kastil Soderini
    "Yah, dia harus bisa memiliki dua sifat berhati domba di satu saat dan berhati serigala di saat yang lain"
    "apakah baik menjadi seorang seperti Savonarola"
    "tidak" jawab Machiavelli sambil memutari meja bundarnya yang terbuat dari kayu jati buatan negeri India
    "seperti siapa politisi yang sejati"
    "Seperti Charles VII raja Perancis"
    "wah tua amat"
    "yah kalo sekarang seperti Suharto lah, biar salah tapi di jaman kekuasaannya tetap dianggap bener"
    "kok kamu tahu Suharto, Mac?"
    "Ya, lha wong Suharto itu murid terbaikku, ....Stalin, Mao, Napoleon dan Hitler sih lewat"
    "Maksudnya?"
    "Biar cuman bacaan Suharto itu Serat Centhini tapi dia jauh lebih memahami teoriku ketimbang murid-muridku yang lain"
    "oh" sahutku sambil menatap wajah cekung Mac
    Lalu Machiavelli menghampiriku dan membisikkan sesuatu
    "dalam politik tak ada kawan atau lawan abadi yang ada hanyalah kepentingan abadi"
    "Wah Golda Meir itu"
    "yah Golda Meir nyuri kalimat itu dari Anwar Sadat"
    "Wah baru tau saya"
    "Mangkanya sekarang Marissa Haque nyebrang sana nyebrang sini, dia sudah jadi politisi sejati"
    "Oh"

    Gitu dongengan saya Bung Wimar tentang Kawan Florence saya ini....

  10. From Sarmin on 12 January 2007 16:34:23 WIB
    Iya sih PKS Jakarta pasti lebih kenceng daripada PKS Banten. Pasti seluruh daya dan upaya dikerahkan untuk memenangkan Pilkada DKI, seperti kencengnya ngebantuin Depok. Sumbangan pasti akan lebih kenceng lagi ditarikin nih dari yang sudah didudukan. Bukan nggak rela tapi dari mana? korupsi? masa sih. Memang gengsi sih kalau sampai kalah di DKI.
  11. From Ludjana on 12 January 2007 17:17:27 WIB
    Who who who
    who the slayer, who the victim ?
    who is on my side ?

    Marisa, lawan politiknya yang terpilih, WW maupun pembaca PO tidak akan tahu kepada siapa suara saya diberikan.

    Jadi "good loser" memang susah, tapi memang ada gunanya barangkali untuk mempersoalkannya.

    Apakah seimbang dengan usaha/biayanya ?


  12. From riris on 12 January 2007 17:48:57 WIB
    Marissa kalah, sudah bisa diprediksi sejak awal, tanpa pandang siapa pesaingnya. Walau seperti kata kawan Pak Anton dari Florence, dalam politik tujuan halalkan cara, "kesan" moralis, etis, tampaknya tetap dibutuhkan.

    Marissa jelas kalah dalam konvensi. Ga siap kalah, malah nyebrang di kubu yg di atas kertas pun bakal kalah. Saya juga ga yakin, PKS yg sangat maskulin mau legowo terima pimpinan perempuan. Ya kembali lagi, kepentingan di atas segalanya. Disini terjadi saling manfaatkan untuk satu tujuan ...kekuasaan!

    Sayang, Marissa walau masih 'merah' dan masih hijau dalam politik, kurang ciamik bermain. Terlalu ambisius, shg orang jadi ragu motivasinya. Sabarlah sedikit, toh selama ini citranya OK, sambil belajar, lagian di PDIP ga terlalu banyak saingan (ga seberat di GOLKAR misalkan). Bingung, kan sekarang mo kemana. Sayang banget misi yg selama ini disimpannya malah jadi buyar.

    Untuk urusan politik, tampaknya Marissa masih perlu banyak sekali belajar. Kalo perlu dari Akbar Tanjung yg lihai dan ciamik dlm berpolitik!
    Thanks untuk WW, tampilkan terus CAGUB biar ntar ga pilih kucing dalam karung!
  13. From WiLLy Da\' KiD on 12 January 2007 19:37:27 WIB
    Wehehehe,LUCU....!!!
    para pembaca yang terhormat,apakah anda tahu sifat manja anak kecil seperti apa?kalo menang dengan bangga memperlihatkan diri,tapi kalo kalah,yah...ngadu,mewek,ngerengek,trus protes deh ke mama atau papanya.

    asumsi saya diatas hanya pemikiran saya secara subjektif aja kok,jangan dimasukin hati yah....Tapi,yang bener aja,masa orang disuruh mundur?mana ada yang mau melepas kesempatan duduk dikursi jabatan yang enak cuma karena disuruh ama saingannya..??lucu juga,ketawa dulu ah, HA HA HA....mungkin Mba "MH" jengkel lantaran sudah sempat mempromosikan banten lewat salah satu stasiun TV dibidang Pariwisata (pada waktu itu acara tentang kuliner dimana Mba "MH" dan sang suami ada disana bersama dengan Host-nya).yah,namanya juga manusia,mana ada yang gratis.Pasti,walaupun hanya secuil,juga mengharapkan imbalan,ya sekedar ucapan terima kasih.hehehe,ga tau juga sih bener atau tidak.Tapi yang juelas,menurut saya sebenarnya tindakan Mba "MH" tidak perlu dilakukan,harus terima keputusan dan melihat kinerja bang "FB" di hari yang akan datang.kalau bagus,ya sudah nikmati saja apa yang ada,nah kalau jelek,baru deh Protes,suruh mundur kalau perlu sampai demo besar-besaran....

    YoWes,udahan Dulu ya,kalau agak tidak nyambung,ya dimaklumi,Baru liat komputer jam 10 malam.uda keburu tiwas mataqu

    Wasalam,Tuhan MEmberkati.....
  14. From angga on 12 January 2007 23:29:26 WIB
    marissa haque memang dikenal berani dalam bersikap apalagi bertutur, berani banget,,, sering kali beliau lost control sampai2 ada pihak yang merasa dirugikan. dalam persaingan yang sehat seyogyanya diatur secara hukum agar semua pihak sama tinggi atau sama rendah, jadi kekisruhan pemilu atau pilkada bisa diperkeci, sedikit sekali pilkada yang bersih dari gugatan calon yang kalah,, mreka mrasa sudah invest banyak dan merasa punya konstituen masak gak menang,, Tanya Kenapa???? aturan harus lepas jabatan saat mengikuti pemilihan memang ada,, sebaiknya ya kita taati dengan konsisten,, mau maju kita harus memulai taat aturan,, jadi semua tindakan kita didasari oleh dasar yang jelas. tapi bangsa ini dikuasai oleh kekuatan2 lama, jadi prediksi penguasa2 bangsa ini ya gak jauh2 dari temen2 pohon besar plus antek2nya yang makin menggila,, kalau gak ada yang kalah gak bakal ada yang menang, itu kenyataan. malahan pejabat2 makin berani memakai umat sebagai tameng sperti zaenal ma'arif saat dialog di Today's dialoque gak ada malunya itu wakil rakyat, udagh didekrit aja itu parlemen,, ganti partai orang biasa,,,
  15. From dimas on 13 January 2007 16:13:43 WIB
    kalo di tingkat atas keliatannya cukup bersih. tapi di tataran mahasiswanya kok kader-kader pks "main"nya jorok ya? kontras.
  16. From frans on 13 January 2007 21:08:17 WIB
    bung dimas maksudnya apa sih dg mahsiswa kader pks "main"nya jorok???? maksudnya suka ngupil??? yg jelas dong..

    org2 yg masuk kategori gut gai (setidaknya pendapatku bung feisal dan sarwono..ada lagi??) aja sampe saat ini masih belum merapatkan barisan.. biar satu hati, aksi dan harap2 bisa bareng2 dalam satu paket cagub dan cawagub... why not??? ato yg satunya di bapeda dls...simpelnya ojo kesusu... semua mau jd gub...

    nah bg yg kenal dan bisa dekati para gut gai tsb, mbok ya dibisikin dan disemangatin biar mau bareng.. AYO AYO SIAPA YG BISA???
    kalo bisa dekatin tim suksesnya jg... karena mereka ini cukup "berkuasa" jg lohh... lo kok??? :)

    sehat selalu buat oom ww.. gebrak terus dg pertanyaannya...
  17. From Arwat Marbun on 15 January 2007 21:05:52 WIB
    Orang Indonesia mah emang gitu, kalo kalah baru diributin kalo menang ya diem ajah, kalo gak gitu mah bukan orang Indonesia namanya, Gak seru kan??!! Kan seharusnya udah tau dong segala sesuatu pasti ada resikonya, sekarang kembali ke orangnya aja, mau diterima dengan besar hati atau ya apalah..???
  18. From GUE!! on 15 January 2007 21:16:59 WIB
    Seorang anak kecil, iseng-iseng nyobain buah pare yang ada didapur tanpa bilang sama ibunya,"pahit"...kata tu bocah, "wah...berarti yang ijo-ijo tu pahit ya rasanya..." kesimpulannya sederhana..

    Keesaokan paginya, tu bocah diajak ibunya kepasar. Terus ibunya mo beli dua kilo apel malang yang kebetulan warnanya ijo...
    "jangan mah!! ade ngga mau buah itu..rasanya pahit.Pahiiit banget...kemaren ade udah cobain soalnya" tu anak protes sama ibunya.
    "Pahit??...duuh...anak mama yang satu ini..." sang ibu tersenyum.


    Inti ceritanya??....

    Jangan sotoy pak!!
  19. From Adnan on 16 January 2007 13:41:15 WIB
    Setuju.. Fauzi Bowo harusnya mundur, untuk menunjukan dia tidak menggunakan jabatannya sekarang untuk kepentingan kampanyenya. Rakyat Jakarta akan melihat dia lebih gentle sebagai politisi.. Kalau gak mundur.. berarti Fauzi Bowo pengecut!..

    Untuk Jakarta yang lebih baik
    Salam
  20. From Biho on 17 January 2007 08:54:37 WIB
    iya lah sudah seharusnya sang calon yang masih pegang jabatan harus mundur dulu atuh...
  21. From rikardo on 18 January 2007 12:53:23 WIB
    di era iklim politik di negeri kita saat ini, untuk mengukur mana yang salah dan mana yang benar seperti pekerjaan mendulang asap. dan ironisnya yang berkompetisi (bersaing dan menjadi bertengkar) itu memiliki latar belakang dan kapasitas nggak jauh beda (berdasarkan penciuman jarak jauh), nah yang tersisa dari masyarakat hanya satu harapan kecil buat mereka-meraka, yakni jangan periikaian itu menjadikan iklim kondusif di tengah masyarakat menjadi terabaikan. yang terjadi diterima sajalah apa adanya, jangan hitung-hitung kerugianlah. kalau di amrik ada arnold schwarz..(wah payah nulisnya) dari artis menjadi gubernur, kan tidak mesti di indonesia ada artis jadi gubernur juga (walau sudah usaha,..)

    akan menjadi beda nuansanya kalau peserta FFI yang mengembalikan pialanya sebagai wujud protes, karena tidak seharusnya ada upaya politicking disana, yang kita tahu orang-orang profesional yang berhimpun mencoba melawan upaya-upaya kapitalis yang bisa berdampak kepada degradasi kualitas perfilm indonesia.

    komentar ini disampaikan dengan merujuk pemberitaan di tv dan media lainnya, serta mengukurnya melalui saringan yang ada di nurani

    salam
    rbm-medan
  22. From gambler on 19 January 2007 13:02:31 WIB
    Saya setuju Fauzi Bowo harus mundur dulu. Sebenarnya apa sih yg telah dilakukan Fauzi Bowo selama ini sbg wakil gubernur? Kok baru akhir2 ini saja kedengaran namanya?

    Kenapa tdk ada sepak terjangnya selama masa jabatannya? Kenapa justru baru muncul, ketika mau jadi gubernur? contohnya: di tempat saya tinggal , banyak tempelan foto2 Bowo menyatakan anti narkoba. Juga banner2 yg menyatakan semboyan2 bagus.

    Saya pesimis Jakarta bisa lebih baik dgn gubernur yg baru, siapapun itu. karena meskipun gubernurnya bagus, belum tentu semua bawahan-nya bekerja baik dan jujur. Sudah terlalu banyak permasalahan di ibu kota ini yg bobrok.

    Tapi saya masih berharap masih ada gubernur yg benar2 bekerja untuk rakyat, tegas, berani & jujur. Karena itu, kalau menurut pak Wimar, siapa sih yg sebaiknya dipilih? krn saya tidak mengenal semua calon gubernur kita ini. tadinya mau golput, tapi kalau ada sumber yg bisa diharapkan , kenapa tidak.
  23. From Remaja peduli bangsa on 20 January 2007 14:07:45 WIB
    bener bgd sharusnya yang mau jadi calon gubernur minggir dulu dri jbatannya , ngga luchu dong pnya double job ???
    gampang aja khan mw jdi gubernur , tinggalin aja pkerjaan yang lama ngga akan rugi skalian bisa naik gaji , kapan lagi ??? naik gaji diwaktu rakyat kecil lagi susah . blum lagi tunjanggan yang lain .....


    he ... he .... he ..


    trima kasih

  24. From Alex Maffay on 22 January 2007 13:12:22 WIB
    Wah, Mbak Marissa memang pejuang tangguh. Tapi inget lho mbak, Bagusnya mbak kembali ke profesi aktris aja. Karena kalo di Politik, orang lebih kenal mbak sebagai aktris. Politik itu kejam lho mbak! Saya ragu, kalo nanti mbak menang jadi Wagub Banten. Yang ada kinerjanya mbak akan mendapat rintangan dari rival Cagub. yang sekarang udah jadi Gub. Banten. Kalo udah gitu, Visi dan Misi Yang dibuat jadi tidak jalan. Lagian Politik itu khan penuh Binatang Buas seperti Srigala misalnya. Sedangkan mbak khan Domba Putih yang lugu yang masuk ke dunia Politik. Jelas aja mbak hanya akan menjadi santapan para Srigala tersebut.
    Met berjuang aja deh mbak.
    Alex Maffay.
    Mahasiswa Fakultas Hukum,
    Universitas Borobudur.
  25. From JaF on 27 January 2007 00:18:05 WIB
    Setuju banget kalau Pak Fawzi Bowo harus mundur. Biar sang incumbent tidak memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan kampanye kayak pilpres kemarin

    Ngomong2 kampanye, saya pikir KPUD juga harus mengatur dong bahwa calon gubernur tidak boleh nongol dalam iklan atau kampanye layanan masyarakat apapun begitu mencalonkan diri. Soalnya agak terganggu nih liat bapak-bapak yang saya kagumi itu nongol di iklan layanan masyarakat di televisi... Biar adil, start bareng dong.. :) Betul nggak Mbak Icha.. bilangin dong temannya itu atau titip pesannya lewat Pak Zulkifliemansyah.. Eh beliau masih di Singapura atau udah pulang ya? ;)

    Let the good guys win!!!
  26. From hanto widaryanto on 23 March 2007 17:22:30 WIB
    Bismillahirrahmaanirrohiim,
    Insya Allah dengan izin Allah, Pilkada di DKI Jakarta, rakyat akan memilih calon Gubernurnya yang penuh dedikasi dan jujur juga cerdas, bukan yang dipilih banyak partai, alias yang pro status quo. Ini berarti Adang Daradjatun vs Status Quo (koalisi 16 partai) yang akan berlangsung di Pilkada DKI bulan Agustus.
    Maju terus Pak Adang, dari situ sudah ketahuan mana yang pro status quo dan yang benar-benar akan membenahi bangsa ini dari cecerut-cecurut politik yang bikin negara ini hancur lebur, seperti di Banten dan Sidoarjo (yang terus menurus di sembur oleh lumpur panas, karena para petingginya atau anggota legislatifnya cuma tahu duit doang, tidak mau mengindahkan norma-norma agama/islam).

    Thank's, buat semua!
    Jangan lupa buat Pilkada DKI mendatang jangan sampai Golput alias Golongan Kriput/pengecut, yang notabene hanya memenangkan pemimpin-pemimpin yang curang/pro status quo.
  27. From maziben on 17 April 2007 16:29:43 WIB
    Sangat setuju sekali kalo incumbent harus mundur sebelum mencalonkan jadi gubernur. sudah banyak contoh calon yang masih duduk dalam kekuasaan menggunakan kekuasaanya untuk suksesi dirinya sendiri. dari penggunaan dana ataupun sarana. kapan yach ada acara pemilihan yang ideal? dalam artian bersih dari segala macam kelicikan untuk pemenangannya. pks maju terus, berikanlah contoh dan pencerdasan politik agar para politisi dinegeri ini bisa cerdas dan menggunakan hati nuraninya, jangan hanya mikirin duit melulu. kapan mikirin rakyat? yang diminta tunjangan, padahal kerjanya belum.
  28. From SALMAN on 29 April 2007 09:37:20 WIB
    kualitas pemimpin tergantung mayoritas masyarakatnya. Jadi saya yakin dengan rata2 pendidikan penduduk jakarta yang memadai maka dengan izin dan kuasa-Nya serta dengan sikap Tawadhu Pasangan "AD" dan "DA" akan FUTUH (sukses) di pilkada agustus nanti. Insya Allah.
  29. From john on 12 March 2008 14:55:13 WIB
    ya terang saja diperjuangkan, wong duit selama jadi anggota DPR semuanya abis ludes untuk biayain kampanye?
  30. From Atut Chosiyah Gubernur Bloon dan Palsu on 16 April 2008 16:08:02 WIB
    Marissa Haque mengadukan Atut dengan tuduhan memiliki ijazah sarjana palsu. Ijasah palsu yang diterbitkan Universitas Borobudur, Kalimalang itu, lanjut Marissa, digunakan Atut untuk ikut pemilihan gubernur sampai Atut terpilih dan duduk di kursi gubernur Banten.

    Atut datang ke Polda Metro untuk ditanyakan 20 buah pertanyaan terkait dengan ijazah palsunya dari FE universitas Borobudur Kalimalang, Jaktim itu didampingi Kaligis. Oleh petugas, Atut diarahkan ke Direktorat Reserse Kriminal Umum, dan dimintai keterangan.

  31. From qwreqwr on 16 April 2008 16:09:05 WIB
    Eh si Atut bau Kentut itu bukan incumbent tahu nggak anda semua!!! Dia itu CARE TAKER alias penjabat atau PLT atau PJS.
  32. From Saifuddin Amin PKS on 01 November 2008 15:34:01 WIB
    Makanya Ukhti Marissa, mendingan dulu gabung deh sama PKS. Kenapa sih harus menolak terhadap poligami. Kan memang kodratnya Poligamis itu milik laki-laki. Lihat tuh si Zul alias Dr. Zulkieflimansyah SE MSC, dia perkasa dan jagoan karena istrinya sudah 2. Bahkan dia mentargetkan punya 4 orang istri di 2009 kalau terpilih lagi jadi anggota DPR RI dari F-PKS.
  33. From gatot on 10 January 2009 11:48:58 WIB
    marisa ini partai-nya apa?
    ppp??? pdi-p?? golkar??? apap pks?
    saya bingung sekali.
  34. From Ririn on 27 February 2010 22:35:39 WIB
    mampaknya Marisa ini sangat ingin jadi pejabat negara. Hanya pada pilkada gubernur Banten, mungkin salah strategi dan tidak memikirkan kesetiakan kepada partainya. Mengikuti pikirannya yang katanya pintar, maka mau ditawari PKS. Namun sayang belum berhasil ....... dan selanjutnya mengungkitngungkit ijasah palsunya lawan politiknya. Sekarang merasa mantap di partai PPP, syukurlah sudah kembali kejalan yang benar. Tapi kenapa mas fauzinya di partai PAN. Mudah mudahan cita-cita menjadi pejabat negara tercapai lewat gerbong PPP.

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home