Articles

Tolerir poligami dan ijinkan selingkuh merugikan peran wanita

AREA Magazine
10 January 2007
STAND BY YOUR MAN 
...but not if he's a creep
 
oleh Wimar Witoelar
 
Dua cerita heboh menguasai layar televisi dan halaman tabloid. Satu adalah cerita tentang orang yang dianggap suci dan banyak memberikan ceramah mengenai budi pekerti halus serta kehidupan keluarga yang harmonis. Ternyata dia melakukan poligami (setelah mundur maju selama lima tahun dengan tiga calon obyek yang berbeda) karena katanya poligami masih lebih bagus daripada TTM. Satu lagi adalah cerita tentang anggota DPR dan pimpinan partai besar, bidang keagamaan. Dia tidak melakukan poligami tapi tyer-ekspose dalam rekaman video melakukan adegan seks. Tokoh pria yang ini tidak banyak bicara, tapi rupanya dia menganggap seks bebas masih lebh bagus dari poligami. Orang yang tidak melakukan poligami dan tidak merekam seks bebas di video tidak masuk berita. Jadi sampai sekarang, perhatian masyarakat terpusat pada dua kejadian ini dan dua orang ini. Berarti perhatian teralih dari soal lain yang sedang melanda kehidupan orang.
 
Satu hal yang menarik adalah, pada awalnya orang sibuk memberitakan dua kejadian itu. Tapi lama-lama orang lebih banyak memperhatikan orangnya yang terlibat. Muncul selebriti baru di acara infotainment, atau selebriti lama dengan peran baru. Penceramah agama yang kondang dan kaya, istrinya yang setia dan pasrah bersama tujuh anaknya, istri muda yang sekarang hidup enak, bekas model dan masih cantik. Dalam cerita yang satu lagi, fokus terpusat pada anggota DPR yang kemudian diberhentikan, istrinya yang juga setia dan sabar. Semua membuat kita prihatin terhadap para korban, kaum perempuan yang disia-siakan oleh lelaki yang menyalahgunakan kepercayaan mereka. Dalam cerita ini ada juga pemeran lain yaitu partner adegan video "DPR-RI" yang sangat rajin menyambut publisitas, dalam semangatnya untuk - yes! - menjadi selebriti instan.
 
070110po.jpg
 
Yang tersisa bukan wawasan yang lebih maju mengenai dua gejala pelanggaran sosial. Tapi justru yang mencuat adalah cerita kelahiran beberapa superstar media. Betul juga kata orang bahwa gosip lebih mengasyikkan daripada mikir. Lebih asyik bicara tentang orang-orang yang mendadak terkenal ini daripada membahas gejala poligami dan gejala tokoh politik yang tidak bermutu. Semula dua laki-laki bernafsu itu boleh dikatakan berjasa sebab mengangkat dua masalah kepermukaan, masalah poligami dan masalah politikus asalan. Kebetulan dua masalah itu masalah sosial. Artinya, merugikan orang yang memberikan kepercayaan. Tapi apakah wacana mengenai pelanggaran sosial akanb berlanjut?
 
Waktu kecil, kakak saya pernah menerangkan: "Great minds discuss issues, average minds discuss events, small minds discuss people."  Kalau Orang Biasa sih, kadang-kadang punya small mind, kadang-kadang punya great mind.  Kemarin ada teman kerja saya mengutip ilmiawan sinar radioaktif Marie Curie: "Be less curious about people and more curious about issues."   Iya lah, memang betul, tapi mana bisa? Kalaupun banyak yang senang nonton bola, masih banyak lagi yang senang gosip pertengkaran pemain dan pelatih, atau gaji dan gaya hidup, kehidupan pribadi bintang sepakbola. Banyak orang mengikuti politik, tapi lebih banyak yang megikuti gosip tentang orang politik.
 
Di negara maju semacam Amerika Serikat sekalipun, pemenang pemilihan umum banyak ditentukan oleh profil pribadi sang calon, ketimbang sikap calon dalam berbagai issue. Jadi walaupun Madame Curie dan orang pandai mengingatkan kita dari dulu, tetap saja orang lebih ingin tahu gosip pribadi seseorang daripada permasalahan yang membuat orang itu terkenal. O.J.  Simpson bisa populer lagi walaupun ia diduga melakukan pembunuhan, Soeharto tetap dikagumi walaupun melakukan kejahatan negara. Pembunuh lebih terkenal daripada orang yang dibunuhnya.
 
Seorang webmaster memberikan komentar pada konten blog dimana orang menanggapi dua peristiwa pelecerhan perempuan yang kita bahas disini, khususnya soal poligami dan soal pengkhianatan: "Di luar masalah pribadi, di luar masalah agama, ada krisis besar untuk kaum perempuan Indonesia. Daripada kasihan sama dua perempuan yang tidak ada harga diri dan  mencari kenyamanan finansial (hello, golddiggers! we love for money!) , kasihanlah sama citra perempuan lain yang berjuang terus, punya harga diri, dan berani tegas pada orang sekitarnya yg melakukan kejahatan atau sekedar malu2in. Shame on perempuan yang pakai istilah "Berbakti pada suami " (walaupun dia kotor?)  dan "Stand by your man " (even if he's a creep?) seakan-akan itu kegunaan  wanita di dunia. Padahal wanita itu mulia. Kebanyakan wanita diluar dua contoh ini sangat tegar dan tidak murahan. Hidup perjuangan peran perempuan! Jangan mau diinjak-injak lelaki, jangan mau disamakan dengan yang murahan.
 
Siapa yang menulis kata-kata keras itu? Tidak penting siapa, yang penting sikapnya terhadap masalah, dan masalah itu sendiri. We deal with issues.

Baca juga:

Print article only

42 Comments:

  1. From bov on 15 January 2007 08:30:09 WIB
    kalo kita mencoba untuk think globally, polygami itu jadi masalah hanya di indonesia saja. di negara2 lain yang sudah jauh lebih maju dan pintar tidak ada terdengar ribut2 soal hal2 printilan seperti ini.

    menurut saya hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman tentang agama islam karena umat islam indonesia yang ada skrng ini dulunya tidak di didik secara benar dan transparan tentang hukum polygami di bangku sekolah. mayoritas masih keluaran produk sistem pendidikan masa orde baru, dimana sejarah itu bisa di "modifikasi" oleh pemerintah (contoh nyata: G 30 S PKI) dan mereka di "blind-fold" oleh materi2 pendidikan masa itu.

    demikian juga dalam dalam agama. khususnya issue polygami tersebut, sehingga mereka seolah memandang polygami itu adalah sesuatu yang "baru" dalam Islam dan bagian dari gaya hidup. kita harus sadar diri, kalo kita ini bangsa yang baru merdeka 61 tahun, sementara negara2 di arab sana udah ada semenjak kerajaan samudera pasai perletakan batu pertama. jadi sebaiknya kita tidak menghakimi seenaknya atas baik atau tidaknya berpoligami.

    Bagi kaum wanita, sebaiknya jangan sejajarkan ajaran Islam dengan ajaran Majalah Gaya Hidup Wanita, karena isi keduanya banyak yang bertolak belakang.
  2. From japri on 15 January 2007 13:28:56 WIB
    Poligami itu memang enak buat pihak lelaki dan melecehkan wanitanya.
    Coba kalo ada poliandri wah itu baru seimbang.
    Kebudayaan poligami itu adalah kebudayaan kuno jaman bahela dimana beberapa alasan untuk membenarkan diri para pria.

    Jadi kalo diterapkan jaman sekarang itu adalah kemunduran.

  3. From bov on 15 January 2007 14:58:11 WIB
    setuju, boss! tapi yang ironisnya, jika dibandingkan dengan negara2 islam yang lebih maju (yang tidak mempermasalahkan urusan polygami), kok kita yang kualitas muslimnya paling "kuno" dan "bahela" yah?
  4. From riris on 15 January 2007 20:39:13 WIB
    Sungguh tidak masuk akal kalo poligami lebih baik drpd selingkuh,TTM.Agar ga selingkuh,TTM,dkk,ya hindari saja. Kalo parameternya agama,kan sdh ada resepnya;jangan berkhalwat,jaga pandangan ato puasa sekalian!
    Kalo mau bantu, ya bantu, ikhlas.Ga usah pamrih (memperisitri).

    Sungguh tidak adil alasan agar mencintai Tuhan 100%,jangan cintai suami dg utuh (krn cinta suami juga dibagi).Logika darimana?!Beri neraka pd istri, agar kelak jd bidadari surga?!Kenapa ga berikan surga dunia sekaligus?Kan lebih berpahala!

    Persoalan perempuan adalah persoalan ketidakadilan,krn ada pihak yg menilai perempuan pantas diperlakukan tidak adil.Bahkan ada juga perempuan yg punya pendapat senada!
    Yakinlah, jiwa-jiwa yg alami ketidakadilan,tidak akan mampu berkembang sebagai manusia scr optimal.
    Oleh sebab itu, hanya ada satu kata: LAWAN!
  5. From Arwat on 15 January 2007 20:56:02 WIB
    Poligami..?? sah-sah saja kalo kedua pihak suami dan istri sepakat dan menikmatinya. Ngapain juga kita meribitkan hal orang berpoligami ria kalo orang tersebut malah gak mikirin hal tersebut. Lebih baik urus diri sendiri saja, banyak-banyak instropeksi.
  6. From esti on 16 January 2007 12:12:15 WIB
    comment buat "BOV"
    saya rasa poligami bukan urusannya agama, karena poligami hak bagi orang yang akan melaksanakannya.
    Bahkan menurut gue pelaku poligami harusnya dikasih bintang jasa karena mereka memberikan jaminan sosial bagi para perempuan yang tidak mampu mandiri secara financial, maklum negara kita ngga bisa memberikan jaminan sosial bagi rakyatnya.
    sebenarnya.....ngga ada perempuan yang ridho untuk dipoligami kalo ngga terpaksa (lihat aja Teh Ninih yang harus memikirikan masa depan 7 anaknya, atau mbak Rini yang cantik dan eks pragawati yang juga gamang terhadap jaminan financial dirinya dan 3 anaknya.)di Negara yang sudah mapan, rakyatnya mendapat jaminan sosial yang setidaknya bisa untuk makan, sekolah anaknya terjamin, napa harus ribut soal poligami.
    Kalo pria mapan mau jujur dengan hati nuraninya, dia tahu koq bahwa di Indonesia tercinta ini lahan yang cocok untuk mengumbar nafsunya dengan segala alasan, termasuk agama, sosial dan lainnya.............ember..bok..!!!!
  7. From WiLLy Da\' KiD on 16 January 2007 18:29:55 WIB
    Wah,ngomongin soal poligami nih.Sebenarnya saya kurang setuju dengan adanya Poligami,knp?Karena buat saya Poligami adalah salah satu bentuk pengkhiatan cinta yang dimana dan sudah pasti merugikan pihak perempuan.ingatkah "Para PoligamiERz" ini pada masa2 pacaran mereka dengan istri pertama mereka,pada saat mereka menyatakan CINTA dan "KESEDIAAN" mereka menjadi suami yang akan "SETIA" dan "MENJAGA" istrinya?Hehehe,menurut saya "Para PoligamiERz" ini mengingkari dan bahkan lupa karena telah terbuai oleh "Belaian" sang istri Muda.Memang sebenarnya Poligami itu adalah Perbuatan yang Sah jika dipandang secara Agama Muslim,akan tetapi (Menurut saya)itupun akan "BENAR-BENAR SAH 100%" jika memang "BENAR-BENAR" mendapat izin dan restu istri tua...

    mungkin ada opini bahwa Poligami juga salah satu bentuk Ibadah dimana "Sang PoligamiERz" memberi nafkah juga kepada istri muda jika memiliki nafkah berlebih.Kalau begitu,kenapa tidak "Menikahi"(Memberi sedekah) orang-orang Miskin dan Kelaparan yang ada di Indonesia saja yah??khan mereka lebih membutuhkan.Dari pada harus membuang-buang uang untuk membuat pesta pernikahan dan beli rumah Baru,mendingan untuk memberi makan orang-orang kelaparan,memberi tempat tinggal para gelandangan dan membantu dalam bidang yang lain...

    Apa mungking dengan berPoligami,Pihak Laki-laki dapat menunjukan Sifat Kejantanannya yang sebenarnya??Jika dari pandangan seorang "WiLLy Da' KiD"(hehehe,itu saya sendiri lho),Seorang laki-laki dapat dikatakan jantan jika dia dapat benar-benar setia,menjaga(Jiwa dan Raga) dan mencintai HANYA pada satu orang Wanita,walau terdapat kekurangan dan ketidak-sempurnaan,tetapi yang benar-benar telah dipilih dan pantas untuk menjadi pendamping hidup, dan menutup "Gerbang Cinta"nya untuk wanita lain.mungkin pendapat saya ini akan tertepis oleh Badai-Badai yang dihembuskan oleh para awan yang tinggi dilangit sana,tetapi inilah yang tetap saya pegang dan saya ilhami hingga saat ini.

    Pada awal Artikel, ada ilustrasi dari salah satu kasus yang beberapa waktu lalu membuat geger para ibu2 dikompleks rumah saya.Saya dengar dari Mereka,"Masak seorang yang dianggap sebagai Ahli agama melakukan Poligami??Ga malu apa dia??emank kurang puas ya sama istrinya atau istrinya yang tidak bisa memuaskan dia??"yah,saya sih hanya bisa geleng-gelengkan kepala saja dan tersenyum sebelah bibir.kok hari gini masih mempermasalahkan poligami??ya biarkan saja,itu urusan mereka.khan nanti kalau ada masalah,khan mereka yang akan menanggung akibatnya.

    Sebenarnya Masalah ini bisa hilang dan tidak dipermasalahkhan,jika Dari diri kita sendiri memiliki Prinsip atau Pegangan Hidup yang kuat akan dalam memahami arti sebuah Cinta dan Kasih sayang.sebenarnya saya cukup perihatin pada bangsa kita,bahwa bangsa kita hanya dapat mengomentari kesalahan yang ada dan tetap melakukan kesalahan yang sama juga.Mulailah memperbaiki mental dalam diri kita masing-masing,belajar dari pengalaman orang lain dan tetap berpilir positif,serta belajar dan tanamkanlah rasa Cinta dan kasih sayang pada diri kita sendiri,keluarga,orang lain dan "Calon Pendamping Hidup"Masing-Masing.Mungkin dengan saran saya ini jika dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan menimbulkan permasalahan tentang poligami...

    Wasalam
    Tuhan MEmberkati....
  8. From bov on 17 January 2007 01:00:04 WIB
    hehehe...kayaknya banyak yg ngga setuju yah dengan poligami. sebenarnya soal setuju, atau tidak setuju. itu semua bukan HAK kita dalam menentukan mana yang benar dan mana yg salah. mau ngomong ampe berbusa pun, polygami akan tetap boleh dan legal.

    saya tidak dukung polygami, saya cuma menekankan bahwa polygami itu BOLEH. itu 2 hal yang berbeda. hampir sama dengan jika agama islam indonesia memperbolehkan merokok, padahal jelas2 tidak ada gunanya dan merusak kesehatan diri dan orang sekitarnya.

    harap dicamkan, kita dilarang meralat, merivisi atau lebih parah lagi memodifikasi ajaran agama islam. jika polygami itu salah, seolah2 apa yg dilakukan Nabi Muhammad dan mayoritas umat islam di belahan dunia lain itu salah. emang kita ini siapa?

    jika tidak setuju, tolong tunjukan bukti2 secara ilmiah. jika alasannya hanya sekedar "perasaan"...itu alasan yang lemah sekali. bukankah semua masalah di dunia ini juga berawal dari yang namanya perasaan? dengan demikian, apakah perasaan itu sendiri layak dijadikan indikator sesuatu yg benar dan salah? orang berbohong, membunuh bahkan memfitnah juga dilatar belakangi oleh yg namanya perasaan kok. nampaknya lebih banyak orang yg peduli pada perasaan, ketimbang harus berpikir lebih dalam lagi dalam memecahkan suatu masalah.

    tolong, jangan seret2 istilah "CINTA" ke topik ini. perlu saya ingatkan, bahwa cinta itu dalam islam TIDAK HIGHLY RECOMMENDED untuk menjalin suatu pernikahan. orang2 yang PAHAM benar soal CINTA harusnya tau, kalo cinta yang sesungguhknya itu hanya kepada Allah swt, sisanya itu bersifat sementara, karena semua yang ada dimuka bumi ini tidak kekal.

    perlu saya ingatkan lagi, dalam ajaran islam, Polygami itu dapat TOLERANSI, perceraian itu DIBENCI. sedangkan yang terjadi di indonesia, Polygami itu DIBENCI dan perceraian di TOLERANSI. ini menunjukan, sudah jelas sekali ada yang salah dalam pola berpikir rakyat kita.




  9. From iburp on 20 January 2007 15:55:05 WIB
    bung bov menulis: cinta yang sesungguhknya itu hanya kepada Allah swt, sisanya itu bersifat sementara,

    kasihan amat orang tuamu
    kasihan amat (calon) istrimu
    kasihan amat anak-anak dan cucu-cucumu
  10. From Marsha on 20 January 2007 19:08:43 WIB
    "Berbakti pada suami" dan "stand by your man" boleh saja, asal kita tidak dibuat buta karenanya.
    Selamat menemukan kebahagiannmu - hope you find what you're looking for, right where you look for it! :))
  11. From donna on 21 January 2007 01:00:57 WIB
    Guys,
    sebagai perempuan, kalo udah ngga cinta ngomong aja. susah gitu, secara akyu adalah perempuan berhati sensi dan mellow. Akyu kasih angin deh to find another one. ga peduli lebih bagus atow lebih jelek. cumaa..., putusin dong yang bener, masih mau ataw ngge dengan dirikyu ini.
    Jangan mau akyu tapi mau dia na juga...
  12. From Raiguru on 22 January 2007 17:02:31 WIB
    Kalo saya setuju saja sama polygami, ga ada ruginya kok, sama seperti perkawinan perkawinan yang lain kalo memang satu sama lain merelakan dan mengerti why not, teman saya yang warga negara lain pun melakukan polygami (dia bukan Islam), di thailandpun banyak orang yang melakukan polygami, dan kalo ada yang mengatakan polygamy menyengsarakan perempuan itu perlu di lihat case by case banyak pasangan yang tidak berpolygamipun yang berakhir perceraian, karna mereka tidak mengerti atau tidak merelakan satu sama lain, masyarkat kita yang sekarang mengangap polygamy hal yang tabu dan cenderung lebih mentolerir orang yang jajan di luar, freesex, kumpul kebo, dan selingkuh, majalah majalah dewasapun banyak yang mengupas kegiatan freesex di ibukota seakan kegiatan itu sudah menjadi kebudayaan di indonesia, saya tanya teman saya yang anti polygamy "bagaimana sebaiknya untuk menghindari polygami?" jawabanya "kita harus puas puasin masa muda dulu,.." jawaban yang sudah saya duga, soo buat saya kalo yang haram saja dibilang OK, kenapa harus bilang engga sama yang halal,...
  13. From Denise Rose M on 25 January 2007 10:07:44 WIB
    Pada mulanya Tuhan menciptkan manusia untuk hidup berpasangan, laki-laki 1 perempuan 1, kalau laki-lakinya 1 perempuannya 2,3,4 dst itu bukan berpasangan, (jadi disebut apa ya????).
    Dan itu artinya bertentangan/kontradiksi, di satu sisi Dia menciptakan manusia berpasangan tapi di sisi lain Dia juga yg membolehkan laki-laki menikahi perempuan lebih dari 1 (dlm islam).
    Seandainya semua lak-laki menghargai& menghormati perempuan seperti mereka menghargai & menghormati ibunya, dan seandainya semua perempuan menghargai, menghormati, mengerti dan merasakan perasaan sesama perempuan dijamin tidak akan pernah terjadi yg namanya POLIGAMI.
  14. From syahrul on 25 January 2007 15:02:21 WIB
    Apapun dasar opini yang digunakan oleh setiap individu terhadap poligami sudah pasti tidak dapat merepresentasikan kebenaran yang hakiki akan norma, budaya, apalagi agama selama opininya tsb tidak mereferensi kepada hukum dasar akan boleh tidaknya poligami dan hukum yang mengatur kehidupan poligami.
    Sesorang bisa saja berdalih macam2 utk menyatakan bahwa poligami merupakan sesuatu yang buruk dll, atau bahkan mengarahkan opini publik sehingga mereka percaya bahwa poligami hanyalah sebuah sebuah produk budaya, bahkan lebih parah sebagai penjajahan kaum pria atas kaum wanita.

    Namun, jika anda seorang muslim (non muslim tdk perlu berkomentar karena ini bukan debat agama) semestinya menyadari bahwa segala sesuatu yang kita perbuat, ucapkan bahkan fikirkan sekalipun ada konsekwensinya.
    Maka jika anda ingin mendapatkan konsekwensi yang baik dan bermanfaat ketika berfikir apalagi berbicara ttg poligami, saya menganjurkan : marilah kita bersama-sama meningkatkan ilmu kita tentang ajaran Islam.
    Karena Islam sudah mengatur hukum dasarnya yaitu : "poligami boleh dilakukan oleh suami (bukan istri)" juga hukum yg mengatur tata cara berpoligami baik dari sisi syariah maupun akhlaq beserta konsekwensi hukum di dunia dan balasan (pahala/dosa) di akhirat.

    Maka berhati-hatilah dalam berbuat, berbicara bahkan berfikir yang mengarah kepada xxxxxtaan hukum poligami yang sudah diatur oleh ajaran agama Islam.
    Karena anda sudah tidak sedang berbicara tentang kebiasaan, budaya apalagi yang menurut pendapat anda sebagai kejahatan manusia (pria), tapi anda sedang berbicara tentang hukum Islam.
    Jika demikian, sebelum berpendapat bertanyalah lebih dulu kepada diri anda sendiri :
    1. "Apakah anda memiliki kapabilitas & Ilmu ttg hukum2 Islam dan kualitas Keimanan yang memadai sehingga dapat berpendapat ttg poligami seakan anda adalah sentra kebenaran?".
    2. " Apakah anda sudah cukup sadar untuk dapat memahami bahwa jika anda berbicara apalagi berpendapat thd sebuah hukum yang sudah diatur di dalam ajaran Islam terlebih lagi sudah dinyatakan oleh Allah akan keabsahannya berarti anda sedang membicarakan dan memberi pendapat bukan hanya thd hukum tsb bahkan juga terhadap Allah yang menciptakan anda?".

    Namun semua terserah anda untuk kembali sadar bahwa kita hanya manusia yag diberi akal untuk digunakan sesuai peruntukan yang benar atau sebaliknya.

    Kebenaran bukan berasal dari hawa nafsu buruk, emosi, sentimen pribadi, kedengkian, solidaritas gender, ingin bahagia, tidak ingin disakiti, merasa diri paling benar dan hal apapun yang bersumber hanya dari diri seorang individu saja.

    Jika anda mau berfikir jernih untuk mencari kebenaran, semoga Allah memberi hidayah dan taufiq kepada anda.
    Namun jika anda tetap bersikukuh menganggap andalah sentra kebenaran, tunggu saja waktunya dimana anda akan melihat kebenaran yang sesungguhnya.

    Dalam bahasa Al-Qur'an ada tantangan dari Allah thd siapa saja yang menganggap apa yang berasal dari dirinya adalah kebenaran padahal bertentangan dengan kebenaran dari Allah yaitu :
    " Inginkanlah mati jika kamu sekalian adalah orang-orang yang benar"! (merasa sebagai orang yang benar).

    Kurang lebih mohon maaf
  15. From Phanzoes on 28 January 2007 18:58:19 WIB
    Untuk Iburp, yang dimaksud cinta sementara oleh bung bov adalah bahwa dunia ini tidak kekal selamanya... begitu juga istri, anak dan cucu kita... akan tetapi Allah akan tetap kekal abadi selamanya... Bukankah alangkah indahnya ketika kehidupan kita berakhir di dunia ini, kita tetap bersama Kekasih kita tercinta selamanya? dan hanya Allah lah Sang Maha Kekasih bagi umatnya yang tulus mencintainya baik di dunia maupun di akhirat...

    Wallahu'alam...

    mengenai poligami,sebaiknya tidak perlu diributkan...
    saya tidak akan membahas hal itu... namun,
    1.kepada para wanita yang tidak ingin dimadu, silakan pilih suami yang tidak mungkin melakukan hal tersebut...
    2.bagi para wanita yang cinta sejatinya hanya kepada Allah,tentu dia juga akan memilih suami yang cinta sejatinya hanya kepada Allah...

    Saya yakin wanita jenis kedua tidak akan memilih suami yang mencintai dirinya melebihi cintanya kepada Sang Maha Pencipta... Ia akan mencari suami yang mencintai dirinya karena Allah...

    Sehingga mereka berdua akan hidup bahagia dalam bimbingan dan lindunganNya... karena mereka berdua saling mencintai karena Allah... Betapa bahagia dan indahnya hidup mereka...

    Wallahu'alam...
  16. From chem105 on 29 January 2007 12:01:00 WIB
    Berapakah perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan di dunia ini? Yang pasti jumlah perempuan lebih banyak...Percaya ga?
    Anggap saja jumlah laki-laki di dunia ini ada 1 milyar, lalu jumlah perempuan 3 miliar. Lalu seperti tulisan Denise Rose M, kalau 1 laki-laki berpasangan hanya dengan 1 perempuan, bagaimana nasib 2 milyar perempuan sisanya?
    Saya membayangkan kalau seluruh laki-laki di dunia ini ga ada yang mau berpoligami...
    Kasihan banget ya perempuan yang ga dapet jodoh...
    Hehehehehehehe.......
  17. From rissa on 31 January 2007 19:05:26 WIB
    setuju bangEt!!!!
    Seharusnya poligami itu udah gak berlaku lagi buat jaman kita yang sekarang ini......
    Karna kita juga harus menghormati dan mestinya harus SETIA....
    so,, pliz SAY NO TO POLIGAMI,,,, hehehehe.....
  18. From Ando Songan on 05 February 2007 21:32:04 WIB
    apakah Tuhan kita Tuhan yang menurunkan hukum yang membingungkan ditengah-tengah mahkluk ciptaannya ? atau kita sendiri yang menciptakan kebingungan tersebut ?
  19. From nina on 08 February 2007 11:54:31 WIB
    setuju,,,makanya sekarang para perempuan2 harus dibuka pikiran dan hatinya,,kalo ada yang ngajak poligami jangan mau, karena keadilan dalam poligami itu bullshit, mana ada orang bisa buat adil,,,
  20. From blonty on 13 February 2007 15:59:51 WIB
    poligami, menurut saya tetep jahat. apapun dalihnya, tetap merugikan perempuan. karena itu, saya menyebut pelaku membuat akronim Poligami secara agak norak dan 'keluar' dari pakem gramatikal. POLIGAMI: portrait of libido gap and man's intolerant =>
    http://blontankpoer.blogsome.com/2007/01/01/poligami-yes-tapi/
  21. From Ria Wibisono on 01 March 2007 00:26:14 WIB
    Tiap perempuan pasti mencari Mr.Right dalam hidupnya : laki-laki yang menghormati harkat dan martabatnya sebagai seorang perempuan. Salah satu aplikasinya adalah dengan menjaga kesetiaan dalam pernikahan dengan konsep istri sebagai mitra hidup yang sejajar. Jika memang Mr.Right sudah tidak ada lagi di dunia ini, mari kita ciptakan. Caranya, dengan tegas menyatakan penolakan terhadap tindakan yang merendahkan perempuan seperti perselingkuhan, pengkhianatan, penipuan, poligami, kekerasan rumah tangga dst. Juga dengan mendidik putra-putra kita untuk menempatkan perempuan pada posisi yang terhormat sebagai makhluk yang melahirkan kita semua.
    Poligami bagi saya merupakan bentuk kekerasan dalam rumah tangga karena menyakiti hati perempuan. Ada pepatah bilang, hati perempuan bagaikan porselen, begitu retak, memang bisa ditutup-tutupi tapi tidak bisa dikembalikan menjadi mulus seperti semula. Istri yang mengizinkan suaminya poligami saja mengakui kok kalau hatinya tetap terluka....
  22. From MEL on 12 March 2007 13:23:11 WIB
    apapun alasannya polygami hanyalah utk memuaskan kaum pria dgn kedok agama dan membodohi wanita dgn dalih spy masuk surga. Mana ada surga bgt murah. Kl dgn polygami kaum wanita akan masuk surga, tentunya banyak yg akan melakukan, tapi apa sdh ada buktinya?
    Yg pasti membuat orang lain menderita, si istri, anak, mertua, saudara si istri dan jg teman2 akan kecewa.
    Yg senang cuma yg pria dan istri muda yg tdk perduli kepedihan hati wanita lainnya.
    Benar2 konyol adanya hukum yg mengijinkan polygami ini.
  23. From daulay on 19 March 2007 12:25:55 WIB
    yahya zaini memang jelas salahnya, karena ia melakukan hal yang dilarang agama. tentang Aa Gym, kita tidak bisa memvonisnya dengan jelas bersalah, apalagi alasan agamanya yang interpretatif. keduanya tidak bisa disamakan. walau masyarakat tidak menyetujui poligami, tapi kita tidak bisa memvonis Aa Gym salah, karena bukan manusia yang mengatakan sesuatu itu benar apa salah. apa lagi dengan tindakannya kita sesakan-akan mecopot statusnya sebagai kyai dan menggolongkannya sebagai penghina wanita. apa iya dengan poligami keluarga jadi tidak tentram.. apa iya monogami jelas membuat rumah tangga tentram? bukan di situ masalahnya. Agama nasrani tidak membolehkan poligami, tapi banyak dari mereka yang selingkih. pastur dilarang menikah, tapi banyak hubungan gelap dan perzinahan yang mereka lakukan.. Dan yang lebih penting, dalam kasus ini saudara wimar memang tidak terlibat.. tapi jangan kita memojokkan orang lain (khususnya Aa Gym karena poligaminya) karena kita sendiri banyak kesalahan.. walau saudara wimar tidak poligami, tapi saya belum melihat (mungkin karena saya kurang informasi) peran kemasyarakatan saudara yang berarti bila dibanding peran sosial Aa Gym... wallahu a'lam
  24. From rzl on 09 September 2007 12:50:55 WIB
    poligami!!!!! mmm..... saya sangat setuju..... dengan poligami wanita akan terangkat harkat dan martabatnya. statusnya bisa lebih baik, jika dibandingkan dengan status sebagai wanita tuna susila, masih lebih terhormat kalo sebagai status istri orang meskipun yang kedua, ketiga dst.... bukankah dengan begitu wanita tidak dilecehkan....
    poliandri.!!!!!!! mmmmm..... tidak setuju, parah banget kalo perempuan bersuami banyak, ya gak ada bedanya tuh sama wanita tuna susila, lagian kalo punya anak susah nuntutnya ini anak siapa yaaa??????? jadi terima aja deh poligami yang memang udah ada sejak dulu.... yang pasti poligami itu masih lebih baik daripada para lelaki maen ke tempat prostitusi, bisa kena penyakit lagi,.... jadi.... direnungkan dong jangan pakai perasaan dan emosi..... ;-)
  25. From Agus Palembang on 01 October 2007 02:32:18 WIB
    Poligami:
    Alasan tak setuju, karena berdasarkan perasaan wanita...!!!
    Kok perasaan jadi alasan sih.
    Yang membedakan kita dengan Bin**ang itu kan bukan perasaan tapi Pemikiran.
    Tapi kalo memilih perasaan lebih utama dibandingkan dengan pemikiran, apa bedanya dengan Bin**ang itu.

    Sapa yang tahu perasaan (dalm hal ini) perasaan teh Nini dengan adanya Poligami Aa'...? menjadi lebih sakit dll... itu kan cuma prasangka saja. Adakah yang tahu persis perasaanya, atau hanya merasa kasihan dengan semua propaganda penentang Poligami karena 'kebodohan dan ketidaktahuan mereka'...???

    Komentar: japri

    "Poligami itu memang enak buat pihak lelaki dan melecehkan wanitanya.
    Coba kalo ada poliandri wah itu baru seimbang.
    Kebudayaan poligami itu adalah kebudayaan kuno jaman bahela dimana beberapa alasan untuk membenarkan diri para pria.
    Jadi kalo diterapkan jaman sekarang itu adalah kemunduran."

    Coba berfikir lagi deh....Kalau istri 'Maaf' saudara Poliandri punya anak, mau gak lo ngakui itu anak lo, padahal kan benihnya bukan hanya dari Lo...??

    Apakah itu yang lo anggap Adil...???

    Sapa yang harus jadi Walinya, kan Bapaknya ada banyak....??

    Saya lelaki, saya tidak berniat Poligami, tapi tidak menutup kemungkinan untuk melakukannya.

    Saya lebih merasa terhormat Punya 2 istri daripada saya harus Ke PSK utk memuaskan Birahi saya.

    Kita harusnya Berfikir lebih dewasa, dan menimbang juga dengan Logika, bukan hanya dengan Perasaan belaka.
  26. From onlylove on 11 February 2008 12:03:34 WIB
    Saya rasa hukum Islam memang memperbolehkan poligami, tapi smua itu kn ada aturan. Kalau toch mereka yang mengatakan "Nabi aja boleh poligami, pasti kita juga boleh dunkz". Itu salah. Muhammad itu kn menikahi perempuan yg memang tidak mampu secara finansial ataupun lainnya. Nah, kenyataan yg ada saat ini. Cowok-cowok menikahi wanita" yg masih mampu untuk menafkahi hidupnya, masih mampu untuk bersuami. Apalagi klo tujuannya bukan buad senang". Saya lihat disini ada yg pro dan kontra. Saya tidak menolak dan juga tidak menyetujui. Untuk menghindari hal itu, wanita kedua harusna juga bisa menolak, jangan mau aja diajak poligami!!!!
    Tapi itu smua jg tergantung orgna. So...bagaimana kita menyikapinya ajach d...



    ComPLiCaTeD
  27. From benny on 26 March 2008 10:29:47 WIB
    Polygami...kita kembalikan pada diri kita.., bagaimana apabila pasangan kita melakukannya juga bagaimana perasaan kita.., pasti sakit kan..., begitu juga mungkin para wanita-wanita yang suaminya melakukan polygami tentu merasakan sakit yang teramat sakit..!Mustahil...alias ga mungkin banget seorang istri merelakan dengan setulus-tulusnya suaminya berpolygami...!Polygami menurut saya adalah lambang keegoisan seorang laki-laki...!
  28. From NANANG ZAKHARIAH on 20 April 2008 00:50:10 WIB
    POLYGAMI ITU PRODUK UNTUK MASA DAHULU KALA KETIKA TIDAK ADANYA CIVIL SOCIETY DAN ADA KEPENTINGAN POLITIS DALAM KAITAN PERANG ANTAR SUKU ATAU KEPENTINGAN LAIN2 PD ZAMAN ITU . TAPI UNTUK SEKARANG ITU ADALAH HAL YG TDK ADA ADAB NYA KARENA ZAMAN SDH BERUBAH DAN KESETARAAN JENDER SDH SANGAT MAJU DAN INI PASTI ADALAH RANCANGAN ALLAH SWT , YG KALAU DI CERMATI PASTILAH BELIAU TDK MERIDHOI KARENA DICIPTAKANNYA TATANAN YG MAKIN RESISTAN TERHADAP POLYGAMI DARI KALANGAN PEREMPUAN PADA KHUSUSNYA . MAKIN TINGGI TINGKAT PENDIDIKAN AKAN MAKIN MENENGGELAMKAN ISU POLYGAMI DAN ITU DAPAT TERCERMIN BAHWA YG RAMAI POLYGAMI ADALAH DI KALANGAN PEDESAAN YG TINGKAT PENDIDIKANNYA MASIH RENDAH , UNTUK KALANGAN KOTA YG TINGKAT PENDIDIKANNYA MAKIN BAIK MAKA TERLIHAT ISU POLYGAMI DAPAT TENTANGAN YG KUAT .
  29. From Bientono Soedjito on 21 April 2008 10:04:18 WIB
    Wah kalau mau dibicarain kayanya sich kagak ada habisnya, ada yang setuju ada yang kagak dan ada yang abstain semua mengatas namakan kepentingan masing2. Jadi terserah aja dech pendapatan masing2 kayanya sih kagak ada yang baku mana yang benar dan mana yang salah, ...... sepertinya halnya dengan Yasin yang diartikan sebagai hanya Tuhanlah yang tahu artinya.
  30. From Yose Rizal on 06 August 2008 08:49:32 WIB
    Kalau memang benar masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang agamis...topic poligami sama sekali bukan sebuah topic yang patut diangkat dan dibicarakan secara nasional, karena topik poligami ini adalah topik yang dipolitisir...! sama halnya jika kita ber-argumen berdasarkan ajaran agama kita masing-masing...so, forget it!
  31. From www.andymse.soloraya.net on 29 August 2008 00:49:32 WIB
    Sungguh sulit... saya pelaku poligami.
    Itulah sebabnya saya tidak ambisi jadi erte, erwe, lurah, camat, bupati, walikota, gubernur, presiden, atau jadi anggota legislatif.
    Karena poligami masih dianggap cacat sosial. Kalau selingkuh enggak (asal tidak ketahuan orang banyak)... Hehehe
  32. From jamal on 21 October 2008 18:31:10 WIB
    sajak jaman nabi dhl sudah ada poligaminya.kalau sekarang ada sejuta umat muslim yg berpoligami,berapa banyak wanita tuna susila yg tertinggal,dan berapa banyak kemaksiatan yg terhindar dan berapa bnyak anak-anak yg lahir tanpa bapak dan berapa banyak wanita mukmin yg tercgh dari menjual diri krn memenuhi kebutuhan makannya?
    Kalo wnt menuntut poliandri berapa banyak anak yg lhir tanpa tahu benih dari siapa?dan betapa kacaunya penerapan hukum warisnya dan apakah sanggup wanita melayani sehari itu empat suami sekaligus?Dan tdklah sanggup laki-laki itu membiarkan satu lubang rame-rame melainkan terjdnya pertikaian keempat suami.
    Memang hanya wanita yg mukminlah yg benar-benar sanggup utk memauki tahap keimanan pd ayat tersbt,krn semakin sempurna keimanan kita pd ALLAH SWT maka akan memasuki fase tersbt...next
  33. From jamal on 21 October 2008 18:36:15 WIB
    Cuma yg pasti isteri kedua dstnya hendaklah hrs lebih baik dari segi keimanan,dan tdk menuntut berlebihan.Jangan mencari istri kedua yg lahir dari sudut negatif!Sebaik-baik wanita a jaman sekarang ini sangat langka dlm mengimani ayat tersbt.Karena prianya juga hrslah yg terbaik dlm hal agama dan sbgnya.
  34. From yahmidi on 05 November 2008 10:02:40 WIB
    Saya bukan pelaku poligami, tapi menurut saya orang berpoligami gak masalah. Berpoligami adalah sebuah pilihan. Orang yang melakukan pasti tahu untung ruginya. Orang lain saya rasa gak perlu ribut2, itu namanya sok urusin urusan orang lain, biarpun atas nama membela perempuan.Apa yang dibela? la wong berpoligami itu ada peran perempuan juga kok. Emang istri kedua itu laki2? Emangnya istri kedua itu dikawin dengan ancaman? Untuk poligami, istri kedua, atau ketiga itu pasti perempuan. Perkawinan mereka atas dasar cinta. Perkawinan atas dasar yang lain, saya juga gak setuju. Apabila sudah atas dasar saling cinta (saya tidak mengartikan cinta = pemenuhan kebutuhan sex), kenapa kita yang di luar meributkan pilihan hidup orang, atas nama moral? Emang moral kita yan di luar ini udah baik? Apa hak kita ngomongin orang yang sudah jatuh cinta?

    Saya tidak berpoligami, karena saya menghargai istri saya. Kalau saya berencana berpoligami, akan saya katakan pada istri saya sebelum dia mau saya nikahin. Biar dia berpeluang untuk memilih, terus sama saya atau putus. Karena dulu saya tidak minta ijin untuk berpoligami sebelum menikah, maka konsekwensinya sekarang saya tidak berpoligami.

    Kita yang diluar selalu menganggap, bahwa perempuan yang dimadu itu tersiksa. Apa benar? apa gak ada yang merasa bahagia? Menurut saya justru yang membuat perempuan dimadu tersiksa itu yang dominan ya gara-gara komentator anti poligami itu. Memposisikan mereka sebagai korban. Menempatkan mereka sebagai perempuan-perempuan yang lemah. Propaganda yang demikian akhirnya malah meminggirkan mereka. Apa gak kasihan tuh perempuan? Padahal banyak diantara mereka ada yang dengan tulus menjalaninya.

    Memberi kesempatan mendapatkan pendidikan yang sama antara laki-laki dan perempuan (justru ini yang harus kita perjuangkan bersama)akan memberikan kepada kita semua pemahaman tentang hak seseorang. Mau berpoligami? silahkan. Gak mau, ya gak usah dan gak usah ribut. Mau dimadu? silahkan. Gak mau, cari lain. Perempuan sekarang kan sudah kuat (masih adakah yang menganggap bahwa perempuan itu lemah?.


  35. From Arie on 21 January 2009 05:05:23 WIB
    Bagi saya diuntungkan atau dirugikannya peran wanita tidak ditentukan oleh poligami atau ijinkan selingkuh, karena kewajiban mereka akan tetap sama (guru hrs tetep ngajar, rumah harus dipelihara, anak2 harus dididik) bahkan mungkin bertambah setelah poligami atau selingkuhan terjadi, dan saya yakin berbagai usaha telah dilakukan para wanita dengan ilmu yang mereka miliki untuk menghindarinya tapi itu adalah konsekuensi bagi mereka yang memiliki pasangan bahwa secara psikologis cinta manusia itu fana, yang penting sejauh mana hukum befihak ketika cinta itu hilang dan ingat, wanitapun bisa hilang cintanya sama pria loh (dengerin saja lagu -lately- Stevie Wonder haha). Jadi menurut saya judul diatas tidaklah relevan but at least it provokes some thoughts.

    No one wins against the will of nature is my only reason. Ada waktunya dimana poligami akan jadi alternatif yang dianjurkan/dipaksakan dan selingkuh menjadi part of crime (atau bisa jadi sebaliknya, hukum yang memutuskan). Contoh saja aturan legislasi di Cina mengharuskan keluaga baru hanya beranak satu, kenyataan yang sulit bagi mereka yang ingin berkeluarga besar, tapi harus diterima. -Kondisi- bisa memungkinkan hal itu terjadi dan akan terjadi juga dengan poligami & selingkuhan, misalnya anjuran berpoligami karena negara ingin memperbaiki kondisi ketimangan gender, atau menghukum yg berselingkuh karena effek selingkuhan yang mengakibatkan perang antar negara misalnya.

    Contoh kondisi pada kasus lain. Berapa banyak upaya telah dilakukan untuk menekan angka saudara-saudara kita dari menjadi lesbian dan homoseksual? jumlah mereka bukan terus berkurang tapi malah terus bertambah (hanya berdasarkan keyakinan, belum tahu jika ada hasil survey), padahal tekanan sosial terhadap mereka begitu besar. Perkawinan sesama jenis bahkah sekarang telah diakui dibeberapa negara.

    Istri saya memang tidak setuju saya berpoligami, dan lebih memilih bercerai, satu sikap yang saya hargai karena itu berarti dia cinta pada saya walaupun sejatinya it\'s all about her hehe. Tapi saya katakan kepadanya suatu hari nanti kondisilah yang menentukan, akan ada hukum buatan manusia yang \'menganjurkan bahkan mengharuskan\' karena kondisi tertentu, oleh karenanya mindset harus disiapkan untuk kemungkinan itu. Saya yakin suatu hari nanti banyak istri yang akan menyarankan untuk memperbesar ikatan keluarga dengan mendorong suami berpoligami atau karena alasan lain. Dan suatu saat mereka yang berselingkuh akan memiliki konsekwensi hukum, yang setuju dengan saya silahkan mulai bikin draft hukumnya.

    Bagusnya dari issue ini, berpolemik tentang sesuatu yang \'pasti\' terjadi, itu malah lebih menguatkan \'kepastian\' dari kejadian itu sendiri, apalagi kita tahu sejarah itu pasti berulang.








  36. From andre on 23 January 2009 12:16:22 WIB
    saya paling setuju dengan pendapat saudara arie. sekuat apapun engkau melawan apa yang sudah tersurat dan tersirat dalam alquran, itu mustahil. poligami ada dan akan terus ada sampai akhir dunia. walau poligami bertambah persentasenya, namun tidak akan mengalahkan bertambahnya persentase orang yang melakukan seks bebas dan selingkuh. terserah anda mau ikut yang mana??? ini pengalaman pribadiku. Dulu aku paling anti poligami, namun saat berjalannya waktu, aku memandang lebih terhormat poligami dari pada aku harus selingkuh dengan rekan kantorku atau seks bebas. padahal jujur nih nafsu seks ku gak akan habis buat seorang & aku butuh buannyakkk.....kasih sayang. pusing kan?!?!?! ha..ha... akhirnya ku nikahi seorang janda yang ilmu agamanya & keimanannya jauh diatasku. sekarang aku jadi lebih terarah, melek agama & takut dosa. apakah ini kemajuan & kemunduran buatku??? buat keluargaku???? skrng aku lebih sering di rumah kumpul dengan anak-anakku & istri-istriku, dari pada kelayapan gak tentu arah seperti dulu. hidup poligami he...he..... Allah Maha Tahu & Maha Penyayang umatNya.
  37. From ahmad sobirin on 29 May 2009 07:38:08 WIB
    setuju atau tidak setuju dengan poligami adalah hak pribadi masing-masing.

    hanya saran,coba telusuri leluhur masing-masing, apakah anda adalah anak hasil dari poligami? (anak dari istri ke 2 atau ke 3 dan seterusnya?)

    kalau iya, jangan banyak bicara...kalau tidak ada konsep poligami, anda adalah hasil dari hubungan terlarang. anak hasil zina.

    kalau tidak, kok kayaknya gak mungkin yaa dari sekian puluh atau ratus generasi keatas gak ada yang poligami.

    kita semua kemungkinan besar adalah manusia dari hasil produk poligami.
  38. From miss on 24 June 2009 11:31:31 WIB
    ummhh...
    poligami emank dibolehin agama kok..
    tapi gmn caranya bagi pihak wanita supaya rela suaminya berbagi ama wanita lain???
  39. From neilhoja on 26 October 2009 03:48:23 WIB
    mmm maaph, nubie mo tanya:

    yang bikin hukum itu... manusia apa Tuhan?
    siapa yang lebih tahu apa yang baik bagi manusia, Tuhan atau manusia?

    kalau manusianya ga ngerti maunya Tuhan, dia harus nyalahin Tuhan, atau perlu belajar?

    kalo manusia NGERASA dia lebih pinter dan lebih tahu hukum yang lebih baik bagi dia, berarti...

    secara fikih a.ka. aturan Tuhan, poligami itu boleh.

    \"ihdinashshirotol mustaqim...\"
  40. From Heslan on 08 February 2011 22:21:42 WIB
    Terlepas dari masalah Nabi, Tuhan, apapun itu..saya hanya berfikir dari prinsip keadilan saja...kalau memang pihak suami meminta keiklasan kepada pihak istri untuk menerima jika Mr.\"P\" suaminya nya dipakai ramai-ramai(sah/arti formil).....seharusnya logikanya ...pihak suami juga harus menerima ..jika Mrs.\"V\" istrinya untuk dipakai ramai-ramai(dalam arti formil)...itu cukup adil bukan...?, jadi kalau pihak2 yang tidak setuju dengan pendapat saya..berarti anda sebenarnya..tidak menyetujui Poligami....Hargailah orang lain..terlebih istri anda sendiri...cukup jelas....
  41. From ahmad dimyati on 30 April 2011 10:53:16 WIB
    bahasan yang rumit...besok juga q persentasi makalahq judulnya terkait bahasan diatas...
    terus belum lagi dialog penyiaran dapet lagi topik to..ma temen-temen....
  42. From wahyudi on 05 July 2011 06:22:39 WIB
    artikel menarik, walaupun issue yg diangkat sensitif..
    menambah wawasan

    salam kenal
    wahyudi
    www.whjobs.co.cc

« Home